Indonesia
NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian

Malam itu, langit Amsterdam seolah ikut memikul beban yang menindih pundak Victor Thorne. Hujan turun rintik-rintik, membasahi jalanan aspal yang memantulkan pendar lampu jalanan berwarna kuning keemasan. Namun, badai yang sesungguhnya tidak berada di luar sana, melainkan berkecamuk hebat di dalam kepala sang CEO.

Gebrakan pintu kayu mahoni berukir di kediaman utama keluarga Thorne masih terngiang jelas di telinganya. Setengah jam yang lalu, ruang kerja Nyonya Valen menjadi saksi bisu dari pertengkaran paling hebat yang pernah terjadi antara ibu dan anak itu. Cangkir teh porselen dari era Dinasti Ming hancur berkeping-keping di lantai, menjadi korban dari amarah yang tak lagi bisa dibendung.

"Sampai kapan kau akan mempermalukan keluarga ini, Victor?!" Suara melengking maminya masih menggema di sudut pikirannya bak kaset rusak yang terus berputar. "Annelise adalah masa depanmu! Perusahaan kita, warisan ayahmu, semuanya bergantung pada aliansi ini! Menyingkirlah dari fantasi konyolmu di hutan itu dan kembalilah ke dunia nyata!"

Victor mencengkeram kemudi mobil sport Aston Martin hitamnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, menampilkan urat-urat halus di lehernya yang menegang. Selama tiga puluh tahun hidupnya, ia telah menjadi boneka sempurna. Ia membangun Thorne Enterprises dari perusahaan multinasional menjadi kerajaan bisnis yang ditakuti di seluruh Eropa. Ia mengorbankan masa mudanya, kebebasannya, dan hatinya di altar ambisi keluarga.

Namun malam ini, batas toleransinya telah hancur. Tekanan demi tekanan, manipulasi demi manipulasi—semuanya terasa mencekik lehernya bak tali tambang yang ditarik dari dua arah. Ia merasa kesulitan bernapas, meskipun udara dingin dari pendingin mobil menerpa wajahnya.

Satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini hanyalah satu nama.

Freya.

Pedal gas diinjak semakin dalam. Mesin V12 itu mengaum membelah keheningan jalanan pinggiran kota yang mengarah ke kawasan hutan pribadi. Pepohonan pinus yang rapat berkelebat bagai bayangan hitam di sisi kanan dan kirinya. Victor butuh pelarian. Ia butuh tempat di mana ia bukan lagi "Tuan Thorne" yang dituntut sempurna, bukan lagi putra mahkota dari kerajaan bisnis yang dingin. Ia hanya ingin menjadi Victor—pria biasa yang hancur, lelah, dan mendamba kehangatan.

Ban mobil berdecit keras saat ia membelok tajam memasuki pelataran penthouse kaca yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

Tanpa memedulikan hujan gerimis yang membasahi setelan jas seharga ribuan euro miliknya, Victor melangkah keluar, membanting pintu mobil, dan berjalan cepat menuju pintu utama. Pemindai retina di sisi pintu berbunyi pelan, lalu pintu baja berlapis kayu itu bergeser terbuka, menyambut tuan rumahnya.

Keheningan seketika menyergapnya begitu ia melangkah masuk. Lampu-lampu ruangan meremang otomatis, memberikan nuansa hangat yang kontras dengan dinginnya malam. Victor membuang jasnya sembarangan ke atas sofa kulit di ruang tengah, lalu menarik paksa dasi sutranya hingga terlepas dan melemparkannya ke lantai. Tiga kancing teratas kemejanya ia buka dengan napas memburu.

Pikirannya kacau balau. Dadanya naik turun dengan ritme tidak beraturan. Ada gemuruh kecemasan dan kemarahan yang bercampur aduk, mendesaknya untuk mencari penawar.

"Freya..." panggilnya parau. Suaranya terdengar serak, memantul di dinding kaca penthouse yang luas.

Tidak ada jawaban.

Victor melangkah tergesa-gesa menyusuri lorong yang mengarah ke kamar utama. Saat ia mendekat, sayup-sayup terdengar gemercik air yang jatuh membentur ubin dari arah kamar mandi dalam. Cahaya keemasan tipis menyelinap dari celah bawah pintu kaca buram kamar mandi tersebut.

Sesuatu di dalam diri Victor seolah meledak. Akal sehatnya, kesopanannya, serta kontrol diri yang selama ini menjadi senjata utamanya di dunia bisnis, menguap begitu saja. Ia dikuasai oleh insting primitif, oleh kebutuhan absolut untuk merasakan kehadiran wanita itu, untuk memastikan bahwa di tengah dunia yang perlahan runtuh ini, Freya masih ada bersamanya.

Tanpa mengetuk, tanpa ragu, Victor mendorong tuas pintu kamar mandi.

Di dalam, kepulan uap hangat langsung menyapu wajahnya, membawa aroma chamomile dan vanilla yang sangat ia kenal—aroma Freya. Di balik bilik pancuran kaca yang luas, air hangat mengucur deras dari shower head raksasa di langit-langit, menyerupai hujan buatan yang lembut.

Freya sedang berdiri membelakanginya, membiarkan aliran air membasahi rambut panjangnya yang menempel pada lekuk punggungnya yang mulus. Kulitnya yang putih tampak kemerahan karena suhu air yang hangat. Suara deru air meredam langkah kaki Victor yang berat, sehingga wanita itu sama sekali tidak menyadari kehadiran tamu tak diundang yang kini menatapnya dengan tatapan kelaparan dan keputusasaan.

Dengan napas yang semakin berat, Victor melangkah masuk ke dalam bilik pancuran. Ia bahkan tidak peduli bahwa kemeja putih, celana panjang, dan sepatu kulitnya kini basah kuyup tersiram air.

Sentuhan pertama terjadi begitu cepat. Victor melingkarkan kedua lengannya yang kekar di pinggang ramping Freya dari belakang, menarik tubuh wanita itu dengan gerakan posesif yang mengejutkan, hingga punggung Freya menabrak dada bidangnya yang terbalut kemeja basah.

Freya terkesiap hebat. Matanya membelalak, dan bibirnya terbuka untuk menjerit karena kaget. Namun, sebelum suara kepanikan itu sempat keluar, Victor memutar tubuh wanita itu ke arahnya, mencengkeram tengkuknya dengan lembut namun tegas, dan langsung menunduk untuk meraup bibir Freya dalam satu ciuman yang mendesak.

Ciuman itu bukan sekadar sentuhan bibir. Itu adalah hantaman ombak badai. Ada keputusasaan, kemarahan yang tertahan, rasa frustrasi dari pertengkarannya dengan sang mami, dan kerinduan yang membara. Victor melumat bibir Freya dengan rakus, menuntut balasan, seolah ia sedang mentransfer seluruh rasa sakit dan beban pikirannya kepada wanita itu.

Freya, yang awalnya meronta karena syok, perlahan menyadari siapa pria yang kini menahannya di bawah guyuran air. Matanya yang terpejam mengenali aroma musk khas Victor yang bercampur dengan bau hujan dan kepanikan. Menyadari pria itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, perlawanan Freya melebur. Tangannya yang gemetar perlahan naik, merayap di dada Victor yang keras dan basah, sebelum akhirnya mengalung di leher pria itu.

Mendapat respons yang menyambut, Victor semakin kehilangan kendali. Erangan pelan dan berat keluar dari tenggorokannya, menyatu dengan suara derasnya air. Ia memojokkan Freya hingga punggung wanita itu menyentuh ubin dinding pualam yang basah, namun tangan kirinya dengan cepat menyangga bagian belakang kepala Freya agar tidak terbentur.

Bibir mereka saling bertaut dengan intensitas yang memabukkan. Air hangat mengalir membasahi wajah mereka, menyatukan napas yang menderu. Freya membuka bibirnya lebih lebar, membiarkan lidah Victor menginvasi dan mendominasi, merengkuh setiap inci kehangatan yang bisa ia berikan.

"Victor..." bisik Freya dengan suara terputus-putus saat pria itu akhirnya melepaskan tautan bibir mereka untuk meraup oksigen.

"Ada... ada apa? Kenapa kau..."

"Jangan bicara," potong Victor parau, suaranya bergetar hebat. Matanya yang biasanya sedingin es kini menyala gelap oleh gairah dan emosi yang memuncak. "Kumohon, Freya... biarkan aku merasakanmu. Hanya kau. Tolong..."

Permohonan rapuh dari pria yang biasanya selalu angkuh itu meruntuhkan sisa-sisa kewarasan Freya. Tidak ada lagi kata-kata yang diucapkan. Victor kembali menyerang, kali ini ciumannya turun menyusuri rahang Freya, menghisap lembut lekuk leher wanita itu, memberikan sensasi hangat yang menjalar cepat ke seluruh aliran darah Freya.

Desahan kenikmatan tanpa sadar lolos dari bibir Freya ketika ciuman Victor semakin dalam. "Ah..." Suara lembut itu bagaikan bensin yang disiramkan ke dalam kobaran api di dalam diri Victor.

Tangan kanan Victor bergerak gelisah, menyusuri lekuk tubuh Freya dengan kepemilikan mutlak. Ia mengusap pinggangnya, naik menuju punggung, lalu turun ke paha, memastikan bahwa wanita ini nyata, bahwa wanita ini adalah miliknya seutuhnya di luar segala paksaan dunia. Sentuhan tangan Victor yang besar dan hangat di atas kulitnya yang basah membuat Freya memejamkan mata, membiarkan dirinya terseret ke dalam badai gairah yang diciptakan pria itu.

Sambil terus menghujani leher dan pundak Freya dengan kecupan-kecupan basah, tangan Victor dengan sigap membuka sisa kancing kemejanya sendiri yang terasa menempel tidak nyaman, membuangnya ke lantai pancuran yang menggenang. Dadanya yang telanjang, keras, dan berotot kini bersentuhan langsung dengan kulit lembut Freya yang polos. Suhu tubuh mereka berdua seakan melampaui panasnya air pancuran yang terus mengguyur.

"Kau luar biasa," bisik Victor di telinga Freya, suaranya parau dan berat oleh hasrat, membuat bulu kuduk wanita itu meremang.

Freya membalas tatapan gelap Victor dengan pandangan sayu.

Jari-jemari lentiknya menyusuri otot bahu pria itu, meremasnya lembut untuk memberinya kekuatan. Di tengah uap yang menebal dan air yang terus mengalir, penyatuan itu terjadi secara alami, didorong oleh kebutuhan emosional dan fisik yang tak tertahankan.

Ketika Victor akhirnya menyatukan diri mereka, sebuah erangan panjang lolos dari bibirnya, sementara Freya mendongak, menggigit bibir bawahnya saat gelombang kenikmatan dan kepenuhan menghantamnya. "Victor..." desahnya tertahan, tangannya mencengkeram erat bahu pria itu.

"Aku di sini, Freya. Aku di sini," balas Victor terengah, ritmenya dimulai dengan perlahan, penuh kehati-hatian, seolah ia sedang menyembah satu-satunya dewi yang bisa memberikan kedamaian di hidupnya yang kacau balau.

Air yang jatuh dari atas menciptakan melodi yang menyamarkan rintihan dan desahan napas mereka yang saling memburu. Ubin pualam yang dingin berpadu dengan panasnya sentuhan kulit mereka. Setiap gerakan Victor adalah pelampiasan dari rasa frustrasinya terhadap sang ibu, rasa muaknya terhadap Annelise, dan deklarasi bisu bahwa ia hanya menginginkan Freya.

Freya membalas setiap dorongan dengan lenguhan lembut yang memicu naluri terdalam Victor. Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Victor, memeluk erat tubuh besar yang sedang mencari pelarian di dalam dirinya. Keduanya terhanyut dalam tarian yang memabukkan, di mana batas antara rasa sakit psikologis dan kenikmatan fisik melebur menjadi satu. Keintiman itu terasa begitu dalam, mengukir luka dan obat secara bersamaan.

Hingga pada satu titik klimaks yang membutakan, ritme napas mereka mencapai puncaknya bersamaan. Victor memeluk erat tubuh Freya, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu sambil meneriakkan namanya dalam erangan tertahan. Tubuhnya bergetar pelan, melepaskan segala beban, segala stres, dan segala tuntutan yang mencekiknya sejak ia meninggalkan mansion keluarga Thorne.

Mereka berdua terdiam untuk waktu yang lama dalam posisi itu. Guyuran air hangat masih membasahi tubuh mereka yang berpelukan erat. Tangan Victor perlahan membelai rambut basah Freya yang menempel di punggungnya. Napas pria itu perlahan mulai teratur, degup jantungnya yang tadinya liar berangsur tenang seiring dengan usapan lembut tangan Freya di punggungnya.

Perlahan, Victor menjauhkan sedikit wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Freya yang teduh dan dipenuhi kasih sayang. Tidak ada penghakiman di sana, hanya penerimaan yang tulus. Victor menyandarkan dahinya di dahi Freya. Ia memejamkan mata, merasakan kedamaian yang aneh merayap kembali ke dalam rongga dadanya.

"Maafkan aku," bisik Victor akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh suara air. "Aku masuk seperti orang gila. Aku... aku hanya tidak sanggup lagi berada di sana."

Freya tersenyum tipis, matanya memancarkan pengertian yang mendalam. Ia mengangkat satu tangannya, menyentuh pipi basah Victor, mengusap rahang tegas pria yang selalu terlihat tak tersentuh di mata dunia, namun begitu rapuh di hadapannya.

"Kau tidak perlu meminta maaf," jawab Freya lembut. "Aku tahu kau sedang terluka. Dan aku ada di sini. Kau tidak sendirian, Victor. Di sini, di tempat ini, kau aman bersamaku."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan terakhir Victor benar-benar runtuh. Pria yang tak pernah meneteskan air mata sejak kematian ayahnya belasan tahun lalu itu, kini membiarkan matanya memanas. Air matanya jatuh, tersamarkan oleh derasnya air pancuran, namun Freya bisa merasakannya.

Victor kembali memeluk Freya, kali ini bukan dengan gairah yang menuntut, melainkan dengan kelembutan yang sangat rapuh. Ia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Freya, membiarkan wanita itu menjadi jangkar di tengah badai kehidupannya yang siap memporak-porandakan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!