Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sinar matahari pagi menyusup lewat celah tirai kamar Anya.

Anya menggeliat pelan dan membuka kedua matanya yang masih terasa berat.

Hoam.

Anya menguap lebar sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.

Hari ini adalah hari keduanya berada di sangkar emas klan Bratadikara.

Pintu penghubung ke kamar Kenji tertutup rapat sejak semalam.

Anya turun dari ranjang dan berjalan mendekati pintu penghubung itu.

Tok. Tok.

Anya mengetuk pintu kayu tebal itu dengan pelan.

"Kenji, kau sudah bangun?" panggil Anya dengan suara pelan.

Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam sana.

Cklek.

Pintu utama kamar Anya tiba-tiba terbuka dari luar.

Nyonya Martha masuk dengan wajah datarnya yang sudah menjadi ciri khas wanita itu.

"Tuan Muda sudah pergi sejak subuh tadi untuk mengurus masalah pelabuhan, Nona."

Nyonya Martha memberi tahu Anya tanpa perlu ditanya lebih dulu.

"Dia menitipkan pesan agar Anda tidak membuat masalah selama dia tidak ada di rumah."

Anya mengangguk pelan mengerti situasinya sekarang.

"Aku mengerti, Nyonya Martha."

"Bagus, sekarang bersiaplah karena Anda harus mengenal tata letak rumah ini."

Satu jam kemudian, Anya sudah berjalan mengekor di belakang Nyonya Martha.

Mereka menyusuri lorong-lorong rumah yang panjang dan membingungkan.

Tap. Tap. Tap.

Suara sepatu pantofel Nyonya Martha berpadu dengan ketukan sepatu hak datar milik Anya.

"Lantai satu sayap timur adalah ruang makan dan ruang tamu utama keluarga."

Nyonya Martha menunjuk ke arah lorong tempat Anya makan malam semalam.

"Lantai dua sayap timur adalah kamar keluarga inti."

"Lalu bagaimana dengan sayap barat?" tanya Anya karena teringat peringatan Kenji semalam.

Langkah Nyonya Martha tiba-tiba terhenti.

Wanita paruh baya itu menoleh dan menatap Anya dengan sorot mata yang sangat tajam.

"Sayap barat adalah area terlarang bagi siapa pun di rumah ini, termasuk Anda."

"Hanya Tuan Muda dan orang yang diberinya izin langsung yang boleh menginjakkan kaki di sana."

Anya merinding melihat ekspresi Nyonya Martha yang mendadak berubah menyeramkan.

"Maaf, aku hanya bertanya karena tidak tahu," ucap Anya mencoba membela diri.

"Rasa ingin tahu yang berlebihan bisa membunuh kucing yang malang, Nona."

Nyonya Martha kembali melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Anya hanya bisa menelan ludah dan terus mengikuti wanita itu dari belakang.

[Pemberitahuan Sistem: Area Sayap Barat terdeteksi memiliki tingkat bahaya misterius.]

Anya menepis layar biru itu dari pandangannya dan fokus pada jalan di depannya.

Setelah berkeliling selama dua jam, Nyonya Martha meninggalkan Anya sendirian di taman belakang.

"Anda boleh bersantai di sini, saya ada urusan di dapur utama."

Taman belakang keluarga Bratadikara sangat luas dan dipenuhi bunga mawar merah yang indah.

Syuuu.

Angin sepoi-sepoi bertiup membuat dedaunan bergesekan menghasilkan suara yang menenangkan.

Anya duduk di sebuah kursi taman dari besi tempa berwarna putih.

Dia menghela napas panjang menikmati udara segar yang jarang dia dapatkan.

"Sendirian saja, Kakak Ipar?"

Suara yang terdengar familier itu membuat Anya langsung menoleh ke belakang.

Leon sedang berjalan santai ke arahnya dengan tangan tersimpan di dalam saku celana kainnya.

Pria berambut pirang itu tersenyum manis, tapi matanya memancarkan niat buruk.

"Tuan Leon," sapa Anya sopan sambil berdiri dari kursinya.

"Duduk saja, tidak usah seformal itu padaku."

Leon mendudukkan dirinya di kursi tepat di sebelah Anya.

Anya kembali duduk dengan perasaan tidak nyaman yang mulai menjalar di perutnya.

"Kak Kenji jahat sekali meninggalkan tunangan cantiknya sendirian di rumah sebesar ini."

Leon menatap wajah Anya dari samping dengan pandangan menilai.

"Kenji sedang sibuk mengurus bisnis klan, itu jauh lebih penting," jawab Anya setenang mungkin.

"Kau sangat pengertian ya."

Leon tertawa pelan mendengarnya.

"Tapi aku jadi penasaran, apa yang membuat Kak Kenji begitu tertarik padamu?"

Leon mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Anya.

"Kau tidak punya latar belakang keluarga yang kuat."

"Bahkan ayahmu adalah seorang pecundang yang kabur membawa uang klan kami."

Kata-kata Leon terdengar santai tapi sangat menusuk hati Anya.

Anya mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas paha.

[Peringatan: Leon sedang memancing emosi Anda.]

[Pilihan Respon Tersedia]

[Opsi 1: Tampar wajahnya karena berani menghina ayahmu.]

[Opsi 2: Diam saja dan menunduk karena ketakutan.]

[Opsi 3: Gunakan Poin Kecerdasan untuk membalikkan serangannya.]

Anya teringat semalam dia baru saja mendapatkan tambahan poin kecerdasan dari sistem.

"Aku pilih opsi tiga," batin Anya cepat.

Seketika kepala Anya terasa sedikit lebih jernih dan sebuah kalimat melintas di benaknya.

Anya menoleh dan menatap langsung ke dalam mata Leon sambil tersenyum tipis.

"Mungkin karena Kenji tidak mencari sekutu dari wanita yang ada di sisinya, Tuan Leon."

Anya sengaja memiringkan kepalanya sedikit untuk menambah kesan polos namun mematikan.

"Dia sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa perlu menumpang kekuasaan dari keluarga istrinya."

Senyum di bibir Leon langsung luntur seketika.

Ucapan Anya barusan secara tidak langsung menyindir faksi Paman Haris dan Leon.

Mereka selama ini selalu mencari dukungan dari luar karena tidak cukup kuat melawan Kenji secara langsung.

"Mulutmu ternyata sangat berbisa ya," desis Leon dengan suara tertahan.

Anya kembali memasang wajah lugunya dengan sempurna.

"Saya hanya mengatakan apa yang saya lihat, Tuan Leon."

"Kenji selalu bilang padaku kalau pemimpin sejati tidak butuh tongkat bantuan untuk berjalan."

Leon mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Pria itu langsung berdiri dari kursi tamannya dengan kasar.

Srek.

Kursi besi itu sampai tergeser sedikit karena gerakan Leon yang tiba-tiba.

"Kita lihat saja berapa lama Kak Kenji bisa melindungi anjing kecilnya ini," ancam Leon dingin.

Leon berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Anya sendirian di taman.

Anya menghembuskan napas yang sedari tadi dia tahan di dada.

Fiuh.

"Syukurlah poin kecerdasan itu benar-benar berguna," gumam Anya lega.

Anya menatap punggung Leon yang semakin menjauh dengan perasaan waspada.

Dia tahu dia baru saja menabuh genderang perang dengan saudara tiri Kenji itu.

Tapi dia tidak punya pilihan lain jika ingin bertahan hidup di rumah ini.

Menunjukkan kelemahan hanya akan membuat para serigala itu semakin ganas menerkamnya.

Anya bangkit berdiri dan berniat kembali ke kamarnya saja.

Berada di luar terlalu lama rupanya sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya.

Anya berjalan menyusuri lorong yang seingatnya adalah jalan menuju kamarnya di lantai dua.

Tapi rumah ini terlalu besar dan lorong-lorongnya terlihat sangat mirip satu sama lain.

"Tunggu, lukisan vas bunga ini, sepertinya aku tidak melihatnya saat berangkat tadi."

Anya berhenti melangkah dan menatap sekeliling lorong yang terlihat sangat sepi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!