Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Maunya Syahrul?
Sementara itu, Abbas memunguti satu persatu kertas yang berserakan di atas lantai. Hingga tangannya berhenti pada satu data yang menunjukkan tabel dan urutan nama perusahaan, matanya menyipit beberapa detik.
"Ini?" Abbas segera berdiri, membawa satu kertas itu, dan membuka tabletnya segera untuk mengecek sesuatu.
"Nyonya! Maaf, sepertinya ada informasi tambahan yang belum saya sampaikan," celetuk Abbas. Ia menatap punggung Anjani.
Anjani mengusap air matanya cepat. Membalik badan ke arah Abbas dan bertanya, "Apalagi?"
Abbas menaruh kertas itu ke atas meja, lalu tabletnya juga ia sandingkan dengan data tersebut, "Perusahaan Larasati Couture tidak berdiri sendiri, dan saya rasa ada beberapa nama yang sempat menolak bekerja sama dengan Anda, tetapi justru menjadi investor tetap di sana."
Anjani berjalan mengelilingi meja hingga sejajar langsung dengan Abbas. Ia menatap seluruh nama perusahaan yang telah Abbas kumpulkan, tak ada satupun nama yang terlewatkan.
Sejak tadi Anjani berpikir, Syahrul mendirikan perusahaan untuk Yeshika dalam waktu singkat itu sangat mencurigakan, karena membangun sebuah gedung dan juga mengumpulkan dana untuk memulai bisnis tidak bisa hanya dilalui dalam waktu tiga bulan.
"Sekarang masuk akal bila Syahrul mengirim uang sebanyak itu delapan bulan lalu. Dengan nominal besar untuk menyenangkan seorang selingkuhan sangat berlebihan, tetapi kalau untuk mendirikan perusahaan?" Anjani menatap Abbas dan mengambil pena merah yang ada di saku sekretarisnya dengan gesit.
Abbas sedikit terkejut dengan gerak tangan Anjani. Ia pikir akan mendapatkan serangan tinju hingga melindungi dadanya sendiri dengan telapak tangan, ternyata Anjani hanya mengambil pena.
"Apa maksud Nyonya, Tuan Syahrul menggunakan Yeshika sebagai jalur dana gelap?" tebak Abbas.
Anjani tidak langsung menjawab. Tangannya melingkari tiga nama perusahaan yang sangat ia kenal dan tahu, ketiganya adalah orang penting yang ingin ia ajak bekerja sama, tetapi justru menolaknya mentah-mentah tanpa mendengarkan seberapa besar nilai presentase keuntungan proyeknya. Itu sangat tidak masuk akal, biasanya orang akan melihat keuntungan, baru menolak. Mereka bertiga tidak.
"Tidak begitu. Syahrul pasti berpikiran matang, makanya dia bergerak untuk mengumpulkan beberapa investor untuk mempercepat proyeknya. Aku tidak tahu persis latar belakang pembuatan ini dan apa rencananya, tetapi waktu pengumpulan investor ini persis dengan tanggal aku mencari mitra untuk proyek saat ini. Kamu tahu apa yang aku maksud, kan?" Anjani melempar pena merah itu ke Abbas, menyeret kertas yang sudah ia lingkari tiga nama itu ke depan Abbas.
Abbas menangkap lemparan pena dari Anjani, lalu berucap cepat, "Tuan Syahrul berencana menyerang Nyonya?"
Abbas tidak habis pikir dengan jalan pikir Syahrul. Sudah menyelingkuhi Anjani, sekarang akan menyerangnya juga, sungguh pria tak diuntung.
"Kita tarik kesimpulan itu nanti. Selidiki saja dulu, sama sekalian pergerakan para investor di sana," putus Anjani cepat, yang langsung membuat Abbas segera mengambil seluruh berkas dan tabletnya sebelum pergi.
"Apa yang sedang ada di dalam otakmu, Syahrul? Ini bukan sekedar perselingkuhan biasa, ya?" Anjani menatap sebuah proposal yang ditinggalkan Abbas di atas meja.
Kepala Anjani rasanya seakan-akan mau meledak. Ia pikir hanya sebatas hubungan mereka yang retak, ternyata jauh dari itu, bahkan dalam jalinan bisnis pun suaminya sudah tidak memihaknya.
"Lalu untuk apa aku dulu memberikan jalan padamu, Syahrul?" Mata Anjani menajam, menatap lurus ke depan, jauh pada gedung-gedung tinggi yang terlihat dari balik kaca gedung perusahaannya.
Hatinya tidak hanya sakit karena pengkhianatanan cinta, tetapi juga kecewa yang disebabkan hal lain dalam bisnis. Bila Syahrul menganggap dirinya adalah seorang yang perlu dikalahkan dalam berbisnis, meski dia lupa bahwa yang membuat pria itu ada di posisi sekarang adalah dirinya, Anjani lantas berbisik sinis, "Maka aku juga akan menatapmu sebagai peluang bisnis yang gagal, Syahrul."
Sedetik kemudian Abbas menelepon melalui telepon interkom kantor, segera ia menarik gagang telpon dan berbicara, "Hal buruk apa lagi yang akan kau bicarakan?"
Batas sabar Anjani sudah diambang batas, ia tidak bisa memperkirakan seberapa jauh Syahrul membawa rumah tangga mereka, entah ke kehancuran atau ke mana!
Abbas terdengar minta maaf di seberang sana, mungkin alasan dia menelpon tanpa mengatakan di sini karena takut Anjani melempar komputer padanya.
"Nyonya, sepertinya salah satu Majesty juga menjadi bagian mereka,"
"Selidiki lebih lanjut, cari tahu kelemahan mereka, dan untuk dia berhati-hatilah. Jangan sentuh terlalu jauh orang itu," putus Anjani cepat, kemudian menutup panggilan segera.
"Pantas Abbas memilih memberitahuku menggunakan telepon kantor, ternyata ada orang hebat di balik Syahrul, ya?" Anjani menatap telepon kantor dengan tatapan datar.
Abbas pasti sudah mengira bila berbicara secara langsung bisa saja ada orang yang menguping, bisa jadi ada mata-mata di kantor ini. Membicarakan salah satu Majesty secara langsung cukup berbahaya, hanya menggunakan telepon kantor yang jauh dari perangkat penyadap.
"Siapa?" gerutu Anjani sambil merapikan meja kerjanya yang berantakan bak kapal pecah.