Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwa Kaisar yang Turun ke Dunia Fana
Langit di atas Dunia Dewa atau disebut Immortal Realm, tidak pernah seterang ini, namun saat itu, seluruh cakrawala berwarna kelabu pekat seolah-olah akan runtuh kapan saja. Awan hitam tebal bergulir di angkasa, dihiasi kilatan petir ungu keemasan yang menyambar-nyambar seperti naga yang sedang mengamuk. Di tengah lautan awan itu, berdiri seorang pria yang pakaiannya telah lama hancur menjadi debu. Tubuhnya yang tegap dan perkasa kini penuh luka bakar, kulitnya retak-retak mengeluarkan cahaya keemasan yang perlahan memudar, namun matanya yang tajam dan agung masih memancarkan tekad yang tak tergoyahkan.
Dia adalah Kaisar Dewa Xuan Ling, penguasa satu wilayah luas di Dunia Dewa, sosok yang disegani ribuan tahun, kekuatannya mendekati puncak dunia abadi. Hari ini adalah hari penentu nasibnya — Tribulasi Penyucian Alam, ujian terakhir yang harus dilalui untuk melangkah naik ke Dunia Dewa Kuno atau disebut Divine Realm, tempat tempat para makhluk tertinggi bermukim. Selama ribuan tahun ia berkultivasi, menumpuk kekuatan, menaklukkan musuh, dan mempersiapkan diri demi satu langkah ini. Jika berhasil, ia akan menjadi sosok yang setara dengan dewa-dewa purba; jika gagal… pemikiran itu tak pernah berani ia bayangkan, sampai detik ini.
“Apakah langit pun tak mengizinkanku naik?” serunya, suaranya menggelegar bagaikan guntur, namun terputus karena rasa sakit yang membakar setiap inci tubuhnya.
Petir ketiga puluh enam, yang dikatakan sebagai petir penghakiman tertinggi, turun. Bukan lagi cahaya ungu, melainkan cahaya putih menyilaukan yang melampaui cahaya matahari. Saat menyentuh tubuhnya, Xuan Ling merasa seolah-olah seluruh keberadaannya dihancurkan menjadi partikel terkecil. Dantian-nya yang telah ia bangun selama ribuan tahun retak, merembes keluar seluruh kekuatan yang ia miliki. Tubuhnya yang perkasa mulai berubah menjadi abu, ditiup angin kencang yang berhembus dari kejauhan. Kesadaran yang tersisa hanya satu: aku… gagal…
Dan kemudian, kegelapan total.
Di Dunia Fana atau disebut Mortal Realm, Hawa Sejuk menghempas di langit senja berwarna merah muda pucat, seolah-olah tak ada yang istimewa terjadi di atas sana. Kota Awan, kota yang cukup makmur di wilayah selatan Kerajaan Langit, mulai hidup di malam hari. Di sudut kota itu berdiri sebuah bangunan besar yang dihiasi lentera-lentera merah merona, tempat para wanita cantik menyambut tamu dengan senyum manis — Rumah Bunga Indah. Di salah satu ruangan paling mewah di lantai atas, seorang pemuda terbaring di tempat tidur yang dilapisi selimut sutra tebal.
Pemuda itu berusia sekitar dua puluh tahun, wajahnya tampan namun terlihat pucat dan lesu, matanya terpejam rapat seolah sedang bermimpi buruk. Tiba-tiba ia membuka matanya dengan kasar, napasnya memburu, dan tangannya segera mencengkeram kepalanya yang terasa seperti akan pecah.
“Argh!” erangnya, suara yang terdengar asing namun sekaligus miliknya sendiri.
Rasa sakit itu bukan berasal dari luka fisik semata, melainkan dari dua aliran kesadaran yang saling bertabrakan di dalam kepala — satu miliknya, Kaisar Dewa Xuan Ling, dan satu lagi milik tubuh yang kini ia tempati: Ye Hu, putra sulung Marquis Ye Ba.
Selama beberapa saat, Ye Hu hanya diam, mencoba menyusun potongan-potongan ingatan yang berantakan itu. Perlahan, semuanya menjadi jelas.
Ye Hu, putra pertama dari Keluarga Ye, salah satu keluarga bangsawan terhormat di Kota Awan. Tiga tahun lalu, dantian-nya hancur dalam sebuah kecelakaan saat sedang berkultivasi — atau setidaknya, itulah yang dikatakan orang-orang. Sejak hari itu, Ye Hu yang dulu berbakat dan menjadi kebanggaan keluarga berubah menjadi sampah yang tak berguna. Tanpa dantian, seseorang tak bisa lagi menyerap qi langit dan bumi, tak bisa lagi berkultivasi, selamanya hanya akan menjadi orang biasa yang lemah. Sejak saat itu, ia menyerah pada nasibnya, menghabiskan hari-harinya dengan minum anggur hingga mabuk dan bermain wanita di Rumah Bunga Indah, membuang-buang waktu dan nama baik keluarga. Dan malam ini, tubuh asli ini — Ye Hu — dikabarkan meninggal karena kelebihan minum anggur, lalu jiwa Xuan Ling yang gagal menembus ke Dunia Dewa Kuno masuk menggantikannya.
“Sampah…?” gumam Xuan Ling — atau kini ia harus memanggil dirinya Ye Hu — dengan nada yang bercampur bingung dan amarah yang meluap-luap. “Aku, Kaisar Dewa yang mendekati ranah Divine Realm, kini jatuh ke Dunia Fana Mortal Realm… dan mendapatkan tubuh yang dantian-nya telah hancur?!”
Ini bukan sekadar penurunan. Ini adalah jatuh dari puncak gunung tertinggi ke dasar jurang yang paling dalam. Dari makhluk yang bisa mengubah bentuk sungai dan membalikkan gunung, menjadi manusia biasa yang bahkan tak bisa mematahkan sebatang pohon kecil dengan kekuatan sendiri. Rasa kesal dan marah membakar dadanya. Jika bukan karena takdir yang kejam ini, ia pasti masih berdiri di langit Dunia Dewa, berjuang atau bahkan mati dengan terhormat, bukan hidup kembali dalam tubuh yang tak berguna ini.
Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur, matanya menatap gelas anggur yang masih tersisa setengah di meja kayu jati di depannya. Tanpa sadar, ia mengambilnya dan mencium sedikit sisa cairan di dalamnya. Hidungnya yang masih mempertahankan sedikit kepekaan dari jiwa kaisar dewa langsung menangkap bau samar yang aneh — bau yang tak seharusnya ada di dalam anggur biasa.
Wajahnya berubah dingin. “Racun?”
Bukan mabuk yang membunuh Ye Hu yang asli. Dia diracun.
Seseorang menginginkan kematiannya. Dan orang itu kemungkinan besar tak akan berhenti sampai di sini. Tubuh ini memiliki musuh, dan sekarang, ketika ia baru saja kembali dari kematian dan belum memiliki kekuatan apa-apa, ia berada dalam bahaya besar.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendekat dari luar pintu. Langkah kaki itu pelan, namun tegas, seolah-olah orang yang berjalan di sana yakin akan apa yang akan dilihatnya.
Mereka datang untuk memastikan aku sudah mati.
Tanpa ragu, Ye Hu segera melompat berdiri. Meski tubuhnya lemah, insting bertahan hidup dan kecepatan berpikirnya sebagai seorang kaisar dewa masih utuh. Ia bergegas menuju jendela yang terbuka menghadap ke halaman belakang bangunan itu, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Saat pintu ruangan baru saja terbuka, ia sudah melompat turun, mendarat dengan perlahan di atas tumpukan rumput di bawah, lalu segera berlari menghilang ke dalam kegelapan malam, meninggalkan tempat itu tanpa meninggalkan jejak yang jelas.
Perjalanan kembali ke kediaman Keluarga Ye terasa panjang dan melelahkan. Setiap langkah terasa berat, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi dahi — hal yang dulu tak pernah ia rasakan selama ribuan tahun hidup sebagai dewa yang abadi. Namun setiap langkah itu juga mengingatkannya pada kenyataan pahit: ia kini lemah, dan harus bersabar sampai menemukan cara untuk berdiri kembali.
Kediaman Keluarga Ye berdiri di kawasan paling elit Kota Awan, luas dan megah dengan pintu utama yang besar dan dihiasi ukiran naga yang rumit. Para penjaga di gerbang tampak terkejut melihat Ye Hu kembali pada jam yang tidak wajar, apalagi dengan pakaian yang berantakan dan wajah yang pucat pasi. Namun tak satu pun dari mereka berani menegur. Bagaimanapun juga, ia adalah putra sulung tuan rumah, meskipun kini dianggap sampah.
Ye Hu berjalan lurus menuju halaman tempat kediamannya sendiri — sebuah bangunan kecil di sudut timur kediaman keluarga, yang terlihat jauh lebih sederhana dibandingkan tempat tinggal adik-adiknya. Ini menunjukkan betapa jauhnya posisinya di dalam keluarga sejak dantian-nya hancur. Selama tiga tahun dantiannya hancur dan selama itu pula dirinya disingkirkan Ini adalah kenyataan dunia kultivasi, yang kuat menindas yang lemah.
Saat ia mendorong pintu kamarnya dan masuk, ia melihat sosok seorang wanita yang sedang menunggunya di dalam. Wanita itu berpakaian sederhana namun rapi, wajahnya cantik namun kini dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. Itu adalah Nyonya Liu, ibunda kandung Ye Hu — wanita yang berasal dari keluarga biasa dan menikah dengan Marquis Ye Ba karena perjodohan. Di dalam kediaman besar ini, ia hanya memiliki satu orang pendamping: putranya sendiri.
“Hu’er…” panggil Nyonya Liu pelan, matanya segera berkaca-kaca saat melihat keadaan putranya. “Ke mana saja kau? Aku mendengar kabar… katanya kau jatuh sakit di Rumah Bunga Indah… aku…”
Ia berjalan mendekat, tangannya yang lembut menyentuh lengan Ye Hu dengan penuh kasih sayang dan kekhawatiran. “Kau kembali dengan selamat… syukurlah… Tapi lihatlah dirimu, setiap hari kau begitu… Apa yang harus kulakukan agar kau kembali seperti dulu?”
Ye Hu terdiam, menatap wanita di depannya. Dari ingatan tubuh asli, ia tahu bahwa di seluruh Keluarga Ye, hanya ibunya yang benar-benar peduli padanya. Ayahnya, Marquis Ye Ba, memandangnya sebagai aib sejak kecelakaan itu. Adik keduanya, Ye Du, selalu menatapnya dengan tatapan merendahkan dan senyum mengejek setiap kali mereka bertemu, merasa senang karena kakaknya yang berbakat kini tak berguna. Adik ketiganya, Ye Gan, lebih berbahaya — ia licik, pandai bicara, dan selalu tersenyum manis sambil menyembunyikan niat buruk di baliknya. Dan yang bungsu, satu-satunya putri, Ye Hua, masih terlalu kecil untuk mengerti apa yang terjadi di sekitarnya, namun ia juga mulai menjauh perlahan.
Di rumah besar ini, penuh dengan orang-orang yang menunggu kejatuhannya lebih dalam. Dan racun yang diminumnya malam ini… mungkinkah salah satu dari mereka yang melakukannya?
“Ibu,” kata Ye Hu pelan, suaranya jauh lebih tenang dan dewasa dibandingkan biasanya, yang membuat Selir Liu sedikit tertegun. “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit lelah.”
“Tapi wajahmu pucat sekali,” Selir Liu menghela napas panjang, mengusap punggung tangan putranya dengan lembut. “Hu’er… Ibu tahu kau kecewa. Dantianmu… itu bukan keinginanmu. Tapi tolong, jangan hancurkan dirimu sendiri. Di dunia ini masih ada jalan lain, bukan?”
Ye Hu mengangguk perlahan, namun di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang hangat — perasaan yang hampir lupa ia rasakan sejak ribuan tahun lalu: kasih sayang seorang ibu.
“Ibu, istirahatlah. Aku janji… mulai sekarang, aku tak akan lagi membiarkan siapa pun menginjak-injakku,” ucapnya dengan nada tegas yang membuat Selir Liu tertegun.
Malam itu, setelah ibundanya pergi dengan perasaan sedikit lebih tenang dari sebelumnya, Ye Hu duduk bersila di atas tempat tidur, menatap ke arah jendela yang terbuka, menatap bulan yang tergantung di langit malam Kota Awan.
Dunia Fana… tubuh yang rusak… musuh di dalam rumah sendiri… pikirnya. Sebuah senyum tipis namun dingin terukir di bibirnya. Xuan Ling sudah mati saat tribulasi itu. Mulai hari ini, aku adalah Ye Hu. Dan aku akan kembali naik. Entah berapa lama, entah betapa sulitnya… Aku akan memperbaiki dantian ini, berkultivasi kembali, dan mencapai puncak yang lebih tinggi dari sebelumnya. Siapa pun yang berani menghalangi jalanku… akan kubasmi tanpa ampun.
Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan tirai kamar. Di sudut ruangan yang remang-remang, bayangan Ye Hu tampak seolah-olah perlahan memancarkan aura yang berbeda — bukan aura orang yang putus asa, melainkan aura seorang kaisar yang baru saja terbangun dari tidur panjang dan siap merebut kembali apa yang menjadi miliknya.
Catatan Penulis
Tingkat Alam Kultivasi terbagi Lima
1. Dunia Fana - Mortal Realm, Dimana Xuan Ling ber transmigrasi menjadi Ye Hu.
2. Dunia Roh - Spirit Realm
3 Dunia Dewa - Immortal Realm, dimana Xuan Ling hidup terakhir kali.
4. Dunia Dewa Kuno - Divine Realm, Dimana Xuan Ling hendak menerobos namun gagal.
5. Dunia Kekosongan, - Void Realm