Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem Kultivasi Sandera

Sistem Kultivasi Sandera

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!

Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Jauh di kedalaman tebing belakang Sekte Pedang Langit, keheningan Gua Larangan pecah oleh suara jeritan tertahan.

Song Pojun yang sedang duduk bersila di atas batu giok tiba-tiba mencengkeram leher kirinya dengan kedua tangan.

Rasa panas menyengat bagai disiram minyak mendidih membakar kulit leher sang Leluhur. Cairan merah kehitaman merembes deras dari sela-sela jari tuanya, menodai jubah abu-abu yang ia kenakan.

“Urat… urat leherku…” Suara Song Pojun bergetar liar, matanya membelalak dipenuhi bayangan maut. “Bocah itu… ada yang sedang memotong leher bocah itu!”

BOOOOM!

Dinding batu Gua Larangan meledak hancur berkeping-keping.

Sosok Song Pojun melesat keluar menembus kepulan asap, meluncur di udara membelah kecepatan suara menuju gerbang luar perbatasan.

Di padang rumput perbatasan, Jenderal Tie Lang masih menggenggam tombak apinya dengan seringai puas.

“Kau pemuda yang aneh,” ucap Tie Lang sambil mengerahkan tenaga ke otot lengannya. “Tapi keberanianmu berakhir di sini!”

Ujung tombak api itu mulai bergerak maju untuk menembus tenggorokan Gu Ran.

Tepat di saat ujung logam runcing itu hendak merobek daging leher lebih dalam, langit di atas kepala mereka mendadak gelap gulita.

Tekanan udara yang luar biasa berat menekan turun dari angkasa, membuat serigala hitam tunggangan Tie Lang seketika menjerit melolong ketakutan dan ambruk mencium tanah.

“Apa yang—”

Tie Lang mendongakkan kepalanya ke atas.

Sebuah bayangan pedang raksasa bercahaya keemasan sepanjang seratus meter tampak menghujam turun dari balik lapisan awan.

Hawa pedang yang begitu pekat meremukkan udara di sekitar lembah, menimbulkan suara dengungan memekakkan telinga yang membuat ratusan prajurit terdekat memegangi kepala mereka sambil menjerit kesakitan.

“ANJING KEPARAT! BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUH LEHERNYA!”

Raungan penuh amarah mengguncang seluruh lembah perbatasan.

Sebelum Tie Lang sempat mengangkat tombaknya untuk menangkis, pedang raksasa emas itu menghantam bumi tepat di depannya.

BLAAAAR!

Gelombang kejut ledakan spiritual menyapu padang rumput sejauh ratusan meter.

Tanah padang rumput terbelah menjadi jurang menganga sedalam puluhan depa. Suhu udara melonjak drastis, membakar rumput basah menjadi abu hitam dalam sekejap mata.

Jenderal Tie Lang, serigala raksasanya, beserta sepuluh komandan perang lapis baja yang berdiri di barisan depan musnah seketika. Zirah baja mereka meleleh dan tubuh mereka lenyap menjadi serbuk abu tanpa sempat melepaskan satu jeritan pun.

Angin kencang menerbangkan sisa-sisa debu panas ke segala arah.

Gu Ran berdiri tenang di tepi jurang yang baru terbentuk, hanya berjarak lima langkah dari titik hantaman pedang raksasa.

Rambut putihnya berkibar ditiup hembusan angin ledakan. Ia mengibaskan sedikit abu hitam yang menempel di ujung lengan jubah sutranya dengan gerakan malas.

Di depannya, Song Pojun mendarat berlutut di tanah berdebu dengan napas tersengal-sengal.

Janggut putih sang Leluhur berlumuran darah hitam yang masih menetes dari lehernya sendiri. Jubahnya robek di beberapa bagian, memperlihatkan kulit tuanya yang pucat pasi.

Leluhur agung berusia tujuh ratus tahun itu tidak memedulikan sisa tiga ribu pasukan musuh yang masih tersisa di seberang jurang.

Ia merangkak mendekati Gu Ran, lalu mengangkat kedua tangannya yang gemetar hebat untuk memeriksa leher pemuda itu.

“N-Nak… cucu emasku…” Suara Song Pojun tercekat parau, air mata panik menggenang di kelopak matanya. “Lehermu… lehermu tidak putus, kan? Tolong katakan pada kakek tua ini bahwa lehermu masih menempel utuh!”

Gu Ran menyentuh garis merah tipis di lehernya dengan ujung jari, lalu melirik santai ke arah sang Leluhur.

“Hanya tergores sedikit,” kata Gu Ran datar. “Tapi pedangmu barusan terlalu berisik. Telingaku jadi agak berdenging.”

Di seberang jurang yang membara, sisa ribuan prajurit Sekte Serigala Besi membeku dalam kengerian total.

Mereka menatap sosok dewa pedang tua yang baru saja membantai panglima perang terkuat mereka dalam satu kedipan mata, kini sedang berlutut di tanah meratapi goresan kuku di leher seorang pemuda kurus.

“I-Iblis…” bisik seorang prajurit dengan lutut gemetar lemas. “Leluhur Sekte Pedang Langit sudah gila!”

“LARI! CEPAT LARI!”

Jeritan histeris meledak serentak dari ribuan prajurit musuh.

Tiga ribu prajurit koalisi membuang tombak, perisai, dan panah mereka ke tanah, lalu berbalik arah lari tunggang langgang menaiki bukit dalam kekacauan tanpa sisa martabat.

1
Selarik Syarah
system model baru, menarik utk di baca
Rayzent
🔥👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!