Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Mulai Terlihat

Zevanna masih berdiri di koridor sambil menatap orang tersebut.

Ia ingin bertanya kenapa proyek lama itu tidak boleh dicari tahu.

Namun orang tersebut pergi meninggalkan Zevanna tanpa menjelaskan alasannya.

Zevanna mengernyitkan dahi. "Aneh banget. Gue cuma ngerapihin dokumen doang, kenapa malah dibilang jangan mencari tahu?"

Ia mulai merasa bahwa proyek tersebut memang menyimpan sesuatu.

"Jangan-jangan proyek itu ada sesuatu tapi apa ya?!" Gumam Zevanna. "Udah lah, mau pulang gue."

Zevanna akhirnya memilih pulang, tetapi ucapan itu terus terngiang di kepalanya.

Zevanna berjalan dan bertemu Tisha setelah jam kerja.

Tisha langsung menyadari wajah Zevanna yang terlihat banyak pikiran.

"Zev, lo kenapa?" Tanya Tisha.

Zevanna menatap Tisha. "Tadi gue dilarang nggak boleh mencari tau proyek dokumen lama! Padahal gue cuma rapiin dikit!"

"Serius lo, Zev?" Kata Tisha kaget.

"Iya, tadi juga gue nemu nama Meisya pas gue masuk ke ruang arsip pusat buat cari dokumen." Jawab Zevanna.

Tisha mulai khawatir. "Zev, jangan-jangan ada yang mulai curiga sama lo?"

Zevanna menggeleng. "Nggak tau. Tapi gue makin yakin ada sesuatu yang aneh sama kematian kak Zoyya."

"Zev, lo harus hati-hati jangan sampai lo ketahuan sama semua orang di sini." Kata Tisha memperingatkan nya.

"Ya terus gue harus gimana? Gue bingung sama semua ini, Tis!" Ucap Zevanna frustasi.

Tiba-tiba tatapan Tisha melirik sesuatu. "Zev.”

“Hm?”

“Kita harus pulang.”

Zevanna mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Ada yang liatin kita.” jawab Tisha.

Zevanna langsung menoleh. "Hah? Siapa?"

"Udah ayo pulang!" Tisha menarik tangan Zevanna keluar dari lobby Verion Group.

Sesampainya di parkiran kantor.

"Aduh, Tisha pelan-pelan dong." Keluh Zevanna.

Tisha berhenti dan melepaskan tangan Zevanna.

Zevanna menatap Tisha. "Lo tadi liat siapa sih?"

"Tadi gue liat seseorang, tapi gue nggak tau siapa. Dia berdiri di pojok lobby dan kelihatannya memperhatikan kita.” Jawab Tisha.

Zevanna tersentak. "Yang bener, Tis?"

Tisha mengangguk. "Iya beneran, Zevanna! Kayaknya dia juga denger sedikit omongan kita deh!"

Zevanna terdiam sejenak. "Ck, gawat dong ini?! Gue bisa ketahuan!"

"Lo sih, Zev!" Tisha menyalahkannya.

"Loh, kok lo nyalahin gue sih?"

"Ya kan lo salah. Untung gue cepet-cepet narik lo keluar dari lobi." Kata Tisha.

Zevanna mendengus dan berdecak. "Ya udah. Kita pulang. Gue capek, mau istirahat!"

Tisha mengangguk. “Oke, hati-hati di jalan.”

Mereka kemudian masuk ke mobil masing-masing dan meninggalkan Verion Group.

Dari kejauhan, seseorang yang sejak tadi memperhatikan Zevanna masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya mengikuti mobil Zevanna yang semakin menjauh.

"Jadi... lo mulai mencari tahu tentang Zoyya?" gumamnya pelan.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Menarik. Kita lihat sejauh apa lo bisa mencari tahu semuanya, Zevanna Lyana Oliver."

***

Di perjalanan pulang, Zevanna mulai memikirkan langkah berikutnya.

Ia sadar kalau terus bertanya kepada karyawan bisa membuat orang curiga.

Namun ia memikirkan ucapan Tisha barusan.

Seseorang? Siapa?

"Arghhhh! Siapa orang itu? Apa jangan-jangan orang itu yang tadi larang gue nggak boleh cari tau dokumen tersebut?!" Gumam Zevanna.

Tidak lama kemudian, mobil Zevanna sampai di rumah.

Ia keluar dengan wajah kelelahan dan melangkah masuk.

"Zevanna, kamu udah pulang?" Tanya mama Liona.

Zevanna menoleh. "Iya, ma. Aku capek banget seharian kerja."

"Wajar itu, namanya juga kerja!" Kata Liona.

"Tapi aku pusing, Ma. Banyak dokumen yang belum diperbaiki, ini kayaknya aku di sengaja dapat bagian dokumentasi!" Keluh Zevanna.

Liona geleng-geleng kepala. "Kamu ini, baru kerja udah banyak ngeluh. Di suruh kerja di perusahaan papa nggak mau."

"Ya nggak mau, aku mau belajar mandiri kayak kak Zoyya. Ma!" Jawab Zevanna.

Liona mengangguk. "Iya Mama tau. Udah sana kamu masuk kamar habis itu kita makan malam."

"Papa belum pulang ma?" Tanya Zevanna.

Liona menggeleng cepat. "Belum, mungkin bentar lagi pulang."

Zevanna manggut-manggut. "Oh, ya udah aku mau mandi dulu ya, Ma."

Liona mengangguk. "Iya."

Zevanna kemudian masuk ke kamarnya.

Di kamar mandi, ia kembali memikirkan sosok misterius yang di bilang Tisha.

"Anjir jadi kepikiran siapa dia kan?" Gumam Zevanna kesal.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Zevanna turun ke ruang makan.

Di sana sudah ada mama Liona dan papa Yovandra.

"Ayo, sayang sini makan malam dulu." Ucap Liona.

Zevanna mengangguk dan duduk di kursi.

Zevanna makan malam bersama Liona dan Yovandra.

Hening hanya suara dentingan sendok dan garpu.

Lalu Zevanna berdehem kecil dan menatap kedua orang tuanya.

"Ma, Pa!"

"Kenapa, Nak?" Tanya Yovandra.

"Aku mau nanya, kak Zoyya dulu kerja di Verion Group sampai kapan?" Tanya Zevanna.

"Setahu Mama, dia masih bekerja di sana sampai sebelum kejadian itu." Jawab Liona.

Zevanna terdiam. "Berarti Kak Zoyya nggak pernah bilang mau resign?"

Liona dan Yovandra saling berpandangan.

"Nggak pernah," jawab Liona. "Kenapa kamu tanya begitu?"

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Aku cuma penasaran.”

Zevanna terdiam.

Berarti Kak Zoyya memang nggak pernah bilang mau resign…

“Tapi…” Zevanna kembali membuka suara.

"Kalau di perusahaan katanya Kak Zoyya mengundurkan diri, berarti siapa yang mengurus status resign Kak Zoyya?"

Yovandra mengerutkan kening. "Papa juga nggak tahu. Yang Papa tahu, Kakakmu memang sudah meninggal sebelum sempat menjelaskan banyak hal."

Zevanna semakin diam. Ia tidak melanjutkan pertanyaan itu.

Setelah beberapa saat, Zevanna bertanya lagi.

“Kalau soal HP kak Zoyya?”

Yovandra menggeleng. "Papa nggak tahu ponselnya di mana. Kan waktu itu kamu juga sudah pernah nanya."

Zevanna terkekeh kecil. "Hehe… aku cuma nanya aja, Pa. Soalnya aku penasaran kenapa HP kak Zoyya bisa hilang.”

"Udah jangan terlalu dipikirin!” Kata Liona lembut. “Kak Zoyya sudah tenang di sana."

Zevanna menunduk. "Iya, Ma!"

Ia kembali makan dengan pelan.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai makan malam. Zevanna kembali ke kamar.

Ia mengambil ponselnya dan membuka catatan yang ia simpan dari kantor.

Di sana terdapat dua hal:

Nama Meisya dan nomor proyek yang berkaitan dengan Zoyya.

"Meisya? Siapa dia ya?” Gumam Zevanna.

"Apa temennya kak Zoyya?"

Zevanna berpikir sejenak.

Kalau ingin mengetahui lebih banyak, ia harus mengetahui tempat dulu Zoyya bekerja.

"Kalau gue masuk ke ruangan tempat kak Zoyya kerja, mungkin gue bisa nemuin sesuatu.”

Ia berniat menanyakan kepada Fika keesokan pagi.

Tapi kemudian ia teringat perkataan Fika bahwa ruangan lama Zoyya sekarang sudah menjadi gudang.

"Ck, caranya masuk ke sana gimana ya tanpa orang lain tau?"

Zevanna terdiam.

Beberapa detik kemudian, sebuah ide muncul di kepalanya.

"Nice, ide yang mantap!”

***

Pagi hari, Zevanna datang ke Verion Group.

Suasana kantor cukup kondusif.

Zevanna berjalan menuju meja kerjanya. Ia duduk dan menyalakan komputernya, tangannya bergerak di atas keyboard.

Belum lama duduk, Elsa memanggilnya.

"Zevanna, tolong antarkan berkas ini ke lantai eksekutif."

Zevanna mendongak. "Kenapa harus aku, Mbak?"

Elsa tersenyum tipis. "Karena kamu yang paling dekat. Sekalian belajar mengenai area perusahaan. Udah sana cepet antarkan."

Zevanna menghela napas. "Iya, Mbak."

Zevanna berdiri dan meraih berkas dari tangan Elsa, lalu berjalan menuju lift.

Sepanjang koridor Zevanna berdecak kesal. "Kenapa harus gue yang anterin coba? Kenapa nggak orang lain aja?"

Pintu lift terbuka. Saat Zevanna keluar, ia berpapasan dengan Arvin.

Arvin langsung mengenalinya. "Eh, Zevanna, kan?"

Zevanna menoleh. "Pak Arvin?"

Arvin menatap Zevanna. "Jangan panggil pak, panggil kak atau mas aja. Soalnya saya juga masih terlihat muda."

Zevanna mengangguk. "Iya, Mas Arvin."

Arvin melirik berkas yang ada di tangan Zevanna. "Kamu mau kemana bawa berkas itu?"

"Oh ini, saya disuruh buat anterin ini ke ruangan eksekutif." Jawab Zevanna.

Arvin tertawa kecil. “Karyawan baru udah disuruh jadi kurir kantor.”

Zevanna melotot, mendengar kata-kata Arvin.

Ini orang kok kalau ngomong nggak di filter dulu, apa? batin Zevanna.

Arvin menunjuk ke arah koridor. "Kalau kamu mau anterin berkas itu, orangnya ada di dalam.”

Zevanna langsung menghela napas. "Kenapa harus ketemu dia lagi sih?"

Arvin mengangkat alis. "Kenapa kalau ketemu dia lagi?"

Zevanna menggeleng. "Nggak papa, Mas."

Arvin tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh ya, saya baru ingat.”

Zevanna menatapnya. "Ingat apa?"

"Motor kamu yang dulu nyerempet mobil Pak Ravenzo, kan?"

Mata Zevanna langsung membesar. "Jangan diingetin lagi, Mas!"

Arvin tertawa.

Zevanna buru-buru berjalan menuju ruangan Ravenzo.

Arvin hanya menggeleng. "Lucu juga anak ini.”

Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.

Zevanna sampai di ruangan CEO. Lalu ia mengetuk pintu.

Tok. Tok. Tok.

"Masuk."

Ia masuk dan menyerahkan berkas.

Ravenzo yang sedang bekerja mengangkat pandangannya. "Kamu lagi."

Zevanna balik menatapnya. "Saya juga nggak minta ketemu sama lo."

Ravenzo mengangkat alis kemudian mengambil berkas tersebut.

"Jangan panggil saya 'lo' di kantor." Ucap Ravenzo datar.

Zevanna mendengus. "Iya, Pak CEO."

Ravenzo memeriksa berkas yang diberikan Zevanna.

Ada satu bagian yang belum ditandatangani.

"Ini belum lengkap."

Zevanna melihatnya. "Lah, itu bukan bagian saya. Saya cuma disuruh anterin berkas ini!"

Ravenzo menatapnya dingin. "Saya tidak menyalahkan kamu."

Zevanna terdiam. "Oh."

Ravenzo kemudian memberikan kembali berkas tersebut.

"Kembalikan ke bagian Administrasi."

Zevanna mengambilnya. "Siap, pak."

Zevanna hendak keluar. Namun suara Ravenzo kembali terdengar.

"Dan jangan terlalu sering berjalan tanpa tujuan di lantai ini."

Zevanna menoleh. "Saya kan kerja, bukan jalan-jalan. Kalau mau jalan-jalan juga saya pilih tempat. Pak."

Ravenzo hanya menatapnya datar.

Zevanna mendengus lalu keluar.

Setelah pintu tertutup, Ravenzo kembali melihat layar laptopnya.

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

Beberapa saat kemudian, Arvin datang ke ruangan Ravenzo sambil membawa laptop.

"Rav."

Ravenzo menoleh. "Ada apa?"

"Bagian IT tadi kasih kabar. Ada beberapa data lama perusahaan yang nggak sinkron sama sistem sekarang." jawabnya.

Ravenzo mengerutkan kening. "Data lama?"

"Iya. Beberapa data proyek lama nggak muncul lengkap di sistem."

"Sudah diperiksa?"

"Sudah. Tapi mereka masih mencari tahu penyebabnya."

Ravenzo bersandar di kursinya.

"Suruh mereka periksa lagi. Jangan sampai ada data penting yang hilang."

Arvin mengangguk. "Oke. Nanti gue koordinasi sama bagian IT."

Arvin hendak pergi.

"Vin."

Arvin menoleh. "Ya?"

"Pastikan data lama itu tetap tersimpan. Jangan ada yang menghapus atau memindahkan apa pun sebelum masalahnya jelas."

Arvin mengangguk. "Siap."

Arvin kemudian keluar dari ruangan.

***

Saat jam istirahat tiba, Zevanna mulai menjalankan rencananya. Ia berjalan menuju area yang dulu digunakan Zoyya.

Ia menghampiri seorang karyawan.

"Permisi, Mbak, mau tanya. Gudang dimana ya?"

"Oh gudang? Di lantai empat, Mbak."

Zevanna mengangguk dan tersenyum. "Makasih ya, Mbak."

“Sama-sama.”

Zevanna kemudian menuju lift.

Lalu Zevanna berjalan menuju gudang.

Semakin jauh ia berjalan, suasananya semakin sepi.

Zevanna menatap sekeliling, tidak ada banyak karyawan yang berlalu-lalang.

Zevanna mulai merasa sedikit tidak nyaman.

"Kok jadi merinding gini ya?"

Zevanna sedang menuju gudang.

Tiba-tiba dari arah koridor terdengar suara langkah seseorang yang cukup cepat.

"Tunggu dulu."

Zevanna berhenti.

Ia melihat dua orang sedang berbicara dari kejauhan.

"Berkas itu sudah dipindahkan?"

"Sudah."

"Pastikan nggak ada yang masih menyimpannya di tempat lama."

"Tenang. Semuanya sudah dibereskan."

Zevanna mengernyitkan dahi. "Berkas apa?"

Salah satu dari mereka tiba-tiba melihat ke arah Zevanna.

Zevanna langsung berpura-pura sibuk melihat ponselnya.

Kedua orang itu kemudian pergi.

Zevanna menatap punggung mereka. "Aneh..."

Lalu dia melihat pintu gudang di depannya.

"Jangan-jangan yang mereka maksud..."

Pintunya tidak sepenuhnya tertutup.

Ia ragu sebentar. "Kalau ketahuan gimana ya?"

Namun rasa penasarannya lebih besar.

"Masuk aja lah, nggak ada orang lain juga."

Zevanna membuka pintu perlahan lalu masuk.

Di dalam terdapat berbagai barang lama perusahaan.

Zevanna menyalakan senter dari ponselnya. Ia mulai melihat-lihat rak.

"Gue harus cepet-cepet cari sesuatu."

Ia membuka beberapa kotak.

Tidak ada apa-apa.

"Aduh..."

Zevanna hampir menyerah.

Namun kemudian matanya menangkap sebuah kotak kecil yang terselip di bagian belakang rak.

Ia menariknya perlahan. Kotak tersebut sudah berdebu.

"Ini apaan?"

Zevanna melihat label lama yang tertempel di atas kotak. Matanya langsung membesar.

ZOYYA FIORELLIA OLIVER

"Kak Zoyya...?"

Ia buru-buru membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa barang lama.

Zevanna mengaduk isinya perlahan. Sampai tangannya menemukan sebuah kartu.

Ia menarik benda tersebut keluar. Sebuah kartu akses Verion Group.

Nama yang tercetak di sana membuat Zevanna membeku.

Zoyya Fiorellia Oliver.

"Kok kartu akses Kakak masih ada di sini?"

Zevanna membalik kartu tersebut.

Tidak ada tulisan lain. Kartu itu terlihat sudah lama tidak digunakan.

Zevanna menggenggamnya. "Kalau Kak Zoyya memang udah resign... kenapa kartu aksesnya masih disimpan di sini?"

Ia terdiam.

Pertanyaan itu kembali muncul di kepalanya.

Namun sebelum sempat berpikir lebih jauh—

Tap. Tap. Tap.

Terdengar suara langkah kaki dari luar gudang.

Zevanna langsung membeku. "Aduh gawat ada orang!"

Ia buru-buru menyimpan kembali beberapa barang ke dalam kotak.

Namun kartu akses Zoyya masih berada di tangannya.

Ia berdiri di dekat rak dan mencoba tidak menimbulkan suara.

Langkah kaki semakin mendekat.

Tap. Tap.

Pintu gudang perlahan bergerak.

Zevanna menahan napas.

Pintu terbuka.

Seseorang berdiri di ambang pintu.

Zevanna langsung menatap orang tersebut.

Orang itu juga terlihat terkejut melihat keberadaan Zevanna di dalam gudang.

"Kamu?"

Zevanna tidak menjawab.

Tangannya masih menggenggam kartu akses milik Zoyya.

Orang tersebut kemudian melihat ke arah tangan Zevanna.

"Apa yang kamu pegang itu?"

Zevanna terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.

Orang tersebut menatap kartu itu dengan serius.

Sementara Zevanna semakin gugup.

Mati gue!

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!