Indonesia
NovelToon NovelToon
KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

KIDUNG KINANTI UNTUK PANGLIMA KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Kirana Paramitha terbangun dari Peti Kaca Rembulan menghadapi Hukum Sumpah Sejiwa: wanita berusia dua puluh tahun wajib bersuami. Saat tunangannya kabur demi adik angkatnya, Kirana menjumpai Rangga Adinata, Panglima Kabut yang dilanda Krisis Api Darah. Dengan kidung dan ramuan ia menenangkannya, lalu bersumpah sejiwa. Tersembunyi sebagai penyanyi "Kinanti", Kirana membangun rumah tangga, melahirkan tiga anak bertalenta naga, dan bersama Rangga menyatukan ras-ras Cakrawala dalam Majelis Sejagat.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34 - PANGLIMA YANG BERPURA-PURA TIDAK ADA

Kapal terbang yang dikemudikan Guruh meluncur tenang menembus hamparan awan sore.

Di dalam kabin, Kirana menyandarkan kepalanya ke jendela sambil memikirkan sesuatu yang kurang menyenangkan: bagaimana nanti kalau ayahnya kembali mengangkat soal pengelolaan cabang Kedaton?

Ia sudah berkali-kali mengalihkan pembicaraan, tetapi hari ini Bawono mengirimkan pesan agar ia datang ke rumah makan setelah kelas usai.

Kirana menghela napas.

Ia belum memutuskan bagaimana menyampaikan semua itu tanpa membuat ayahnya tersinggung.

Di tengah lamunan itulah, sebuah wajah tiba-tiba muncul di cermin gema yang tergantung di depan kabin, membuatnya terlonjak kaget!

Wajah tampan yang dingin itu tentu saja milik Rangga Adinata.

Kirana mengatur napasnya, lalu bertanya dengan suara agak gugup, "Panglima, bukankah Tuan sedang rapat?"

"Sudah selesai." Rangga menatapnya yang duduk dengan kaku, merasakan bahwa gadis kecil itu masih takut padanya, lalu mengerutkan kening.

Pria di dalam cermin itu tidak banyak bicara; wajah tampannya dingin, matanya tajam, dan Kirana merasa udara di seluruh kabin menjadi tipis.

"Sungguh aneh, wajah ini jelas Rangga," katanya dalam hati, "Rangga yang semalam masih menangis di pelukanku." Tetapi entah mengapa, ia tetap takut pada sosok dewasa di hadapannya.

Setelah mempertimbangkan beberapa saat, Kirana memutuskan untuk mengambil inisiatif lebih dulu.

"Panglima, aku dengar dari Guruh bahwa Tuan ingin aku pindah ke kediaman Tuan?"

"Kita menikah."

Kirana tersedak. "Tetapi... aku masih harus pergi ke sekolah."

"Nanti, kau bisa pergi ke sekolah dengan kapal terbang. Kalau perlu, kau boleh sesekali tinggal di asrama."

Kirana terkejut, dan selalu merasa ada yang tidak beres.

Ia menatap pria berseragam militer yang dingin itu melalui cermin, lalu mengertakkan gigi dan berkata, "Panglima, alasan Tuan tidak setuju bercerai dan kini menyuruhku pindah — apakah karena Masa Api Darah Tuan?"

Meski agak takut pada Rangga, Kirana tetap ingin memperjelas semuanya.

Jika pada awalnya pernikahan mereka terjadi karena keinginannya yang mendadak, maka sekarang keduanya harus saling mengerti; ia tidak ingin menjadi Ramu Sejiwa milik orang lain begitu saja!

Layar di samping cermin gema itu tampak membeku.

Kirana sempat bertanya-tanya apakah denyut gemanya terganggu.

Hasilnya, detik berikutnya, terdengar beberapa bunyi berderak, dan sambungan itu terputus begitu saja?!

"Guruh, Guruh, ada apa?"

Pada saat itu, Guruh sangat jengkel.

Ia tidak pernah mengira pemiliknya berani melakukan hal seperti itu — berpura-pura terputus sambungan begitu saja?!

Sebagai roh dengan catatan data paling stabil di seluruh Kekaisaran, mungkinkah ia mengambil kesalahan?

"Maaf, Nyonya," ujar Guruh kemudian dengan sopan, "tadi aku terganggu oleh denyut gema yang sangat kuat.

Jika Nyonya ada urusan dengan Panglima, apakah aku boleh yang mengambil alih sambungannya?"

Kirana mengangguk. "Pergi."

Tetapi satu menit kemudian, Guruh berkata dengan nada menyesal, "Panglima baru saja beristirahat sebentar, lalu kembali ke rapat lagi. Setelah rapatnya selesai, biar beliau yang menghubungi Nyonya, boleh?"

Kirana merasa sedikit aneh, tetapi Rangga pasti benar-benar sibuk, sehingga ia tidak bisa terus mengganggu urusan itu.

Pada saat itu, kapal terbang sudah berhenti di depan rumah makan keluarga Wijaya, dan Guruh bertanya dengan cemas, "Nyonya, kapan aku datang menjemput?"

"Tunggu kabar dari Panglima dulu, nanti kita bicarakan."

Dengan pemikiran yang sangat cerdas, Guruh sampai pada sebuah kesimpulan: Nyonya sangat mungkin telah menembus kebohongan pemiliknya!

Sebenarnya, Kirana mungkin sudah bisa menebak bahwa Rangga tidak benar-benar ingin menjawab pertanyaannya.

Tetapi ia juga tidak menyesal telah menanyakannya.

Lagipula, setelah mengungkapkan keraguan yang menggantung di hatinya, ia merasa jauh lebih lega.

---

Setelah rapat yang tertunda itu usai, para perwira keluar dari markas dengan langkah tergesa.

Salah seorang di antaranya, perwira muda berambut gandum yang baru beberapa tahun bertugas, menyusul Lanang yang berjalan lebih dulu.

Ia menyisir rambutnya dan bertanya dengan berbisik, "Lanang, menurutmu tadi itu pesan dari Nyonya Panglima untuk sang Panglima?"

Lanang menjawab tanpa ekspresi, "Aku tidak tahu. Kalau ingin tahu, kau bisa bertanya sendiri kepada Panglima."

Ekspresi perwira muda itu runtuh seketika. "Dia pasti berani."

---

Dengan langkah rileks, Kirana berjalan masuk ke rumah makan keluarga Wijaya yang sebentar lagi dibuka.

Rumah makan ini mengkhususkan diri pada hidangan langka yang bersumber dari catatan Alam Kuna, sehingga dekorasinya juga mengikuti gaya arsitektur Kuna sebagaimana digambarkan dalam kitab-kitab lama: dinding merah, genteng hijau, meja dan kursi yang seluruhnya terbuat dari kayu, lukisan kuno yang menggantung di dinding, dan vas-vas porselen yang ditata rapi di dalam lemari.

Setiap cabang memiliki gaya dekorasi yang seragam.

Karena itu, para tamu ternama yang datang ke sini tidak hanya bisa mencicipi berbagai hidangan lezat, tetapi juga menikmati keindahan arsitektur Alam Kuna; Keping Surya yang mereka keluarkan benar-benar sepadan.

Kirana berjalan melewati lobi, menyusuri koridor yang panjang, lalu langsung menuju ruang istirahat kecil di bagian belakang.

Ki Ageng duduk di kursi guru besar sambil minum teh, sedangkan Bawono duduk di kursi sebelahnya bersama seorang pria berjubah putih, tengah membicarakan sesuatu.

Sekar berdiri patuh di sisi mereka, sesekali mengisikan teh ke dalam mangkuk.

Pria berjubah putih itu adalah Paman Prayoga, sepupu Bawono sekaligus paman Kirana.

Ia berumur tiga puluh lima tahun dan belum menikah.

Ia begitu terobsesi pada penelitian resep-resep ramuan, hampir sampai pada taraf keterpesonaan, dan banyak peracik di rumah makan keluarga Wijaya adalah murid-muridnya.

Kirana juga tahu bahwa Prayoga sangat mengagumi Sekar, menganggap gadis itu cerdas, dan berniat menjadikannya murid untuk diajari peracikan ramuan.

Selama bertahun-tahun ini Sekar memang sibuk membangun jejaringnya sendiri di rumah makan keluarga Wijaya.

Seorang anak angkat yang begitu aktif, tetapi hanya Bawono — yang bodoh itu — yang tidak bisa melihat ambisi Sekar sama sekali.

"Kakek, Ayah, Paman kecil." Kirana masuk dan memberi salam kepada para sesepuh dengan patuh, lalu menatap Sekar.

Melihat wajah ayah dan yang lainnya, ia memperkirakan pengaduan itu sudah diajukan.

Ternyata benar.

Begitu melihatnya, Bawono mengerutkan kening dan berkata, "Rara, bukankah aku mengirimimu pesan agar kau datang setelah kelas? Bagaimana kau bisa tiba dengan kapal lain? Kau bilang ingin mengelola cabang, lalu bagaimana caramu mengelolanya?"

Mata indah Kirana membulat.

"Ah, itu karena Sekar tidak menungguku, akhirnya aku menaiki kapal lain ke sini."

Sekar segera berkata dengan nada terluka, "Kakak, aku pergi menemuimu dan bertanya kapan kelasmu selesai agar kita bisa berangkat bersama. Tetapi kau mengabaikanku, menutup pintu langsung, sampai-sampai mengenai ujung hidungku." Sambil berbicara, ia mengusap ujung hidungnya, seolah baru saja terkena daun pintu.

Kirana mengerjapkan mata.

"Aku ingat hidungmu, bukankah itu palsu? Kenapa, bengkok?"

"...Tidak."

"Untung tidak bengkok. Soalnya, kupikir kau sudah pergi setelah selesai bicara, tak kusangka kau masih menunggu di sana." Sudut bibir Sekar berkedut.

Bawono mengerutkan kening.

"Rara, bagaimana aku mendengar kau tidak pulang tadi malam, tidak ada di asrama? Kau pergi bermain ke mana? Kau datang ke Akademi Militer Kekaisaran untuk belajar, bukan untuk bermain-main!"

Kirana terkekeh.

"Heh, Sekar memang cepat mengadu. Tetapi, apakah kalian ingin tahu ke mana aku pergi tadi malam?" Sekar tiba-tiba merasa tidak nyaman.

Tetapi Prayoga berkata dari samping, "Rara, apa yang kau lakukan misterius begitu? Kenapa, ada masalah, atau memangnya kami para tetua tidak boleh tahu?"

Ki Ageng tidak berkata-kata; ia hanya menikmati tehnya dengan santai.

Kirana menatap mereka satu per satu, lalu berkata dengan tenang, "Oh, kemarin aku pergi ke istana menemui Baginda dan Permaisuri."

Prayoga dan Bawono terdiam sejenak, heran.

1
Xlyzy
Jangan jangan itu jadi salah satu spot kesukaan lagi🤭
Xlyzy
Alah usia itu bisa menipu, ada yang masih muda tapi wajah nya sudah tampak lebih dewasa dari pada usia nya
Miu.Nuha
mungkin ... em...
sebuah menyatuan gitu 🤔☺
Miu.Nuha
loh? namanya tidak diralat 🤔
entar denandra donk yg tercantun namanya dan terikat sumpah pernikahan...
Miu.Nuha
dan Kirana begitu teguh dan percaya diri ya
semoga acaranya tetep lancar 🤧
Filan
kok malah nampar sih? Jangan-jangan Sekar anak haram bapaknya.
Filan
parah nih ayahnya
Filan
baiklah apa nih?
btw, paras cantik/ganteng selalu menguntungkan 😌
-Thiea-
mungkin ada unsur kesengajaan biar kamu gagal nikah Kirana.
-Thiea-
jangan-jangan dia ada hubungan dengan sekar. makanya dia lebih mentingin Sekar daripada Rara..🤨
Myz Pena
berarti panas donk...bisa angus itu kirana kalau panasnya kayak tungku kayu bakar nggak sih 🤣🤣🤣
Myz Pena
akhirnya rangga dan kirana resmi menjadi pasangan sejiwa 🤭
Myz Pena
ini ceritanya di kiss kah ?? 🤣
Myz Pena
astaga rangga harus cepat di tangani.. 🤧
Kartika Candrabuwana
ini pengobatan yang membara ya
Myz Pena: unik banget cara pengobatannya... 🤭
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
seleaai juga acara ritual pernikahannya. rangga perlu dibantu tuh
Kartika Candrabuwana
iya cepat.. rangga sepertinya dalam kondisi yang aneh
Kartika Candrabuwana
hahaha...para hadirin terbengong semua...pengantin prianya beda
Kartika Candrabuwana
akhirnya acara dimulai juga dan tentu penuh fengan kejutan
ginevra
mau cari pria dimana? cari pasangan itu sulit loh 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!