Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman. Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Keputusan itu akhirnya dibuat. Setelah berhari-hari bergulat dengan pikiran sendiri, Indri menyadari bahwa ia tidak bisa terus hidup dalam ketakutan.
Ia tidak ingin menjadikan Riko sebagai pelarian. Namun ia juga tidak ingin menutup pintu terhadap seseorang yang datang dengan niat baik.
Malam itu, Indri duduk bersama Cinta di teras rumah. “Aku sudah memutuskan, Kak.”
Cinta menatapnya. “Riko?”
Indri mengangguk. “Aku akan menerima lamarannya.”
Cinta terdiam beberapa saat. “Kamu yakin?”
“Tidak seratus persen.”
Cinta mengerutkan kening.
Indri tersenyum tipis. “Tapi aku yakin satu hal. Aku ingin mencoba.” Ia memandang langit. “Riko tidak pernah memaksaku melupakan masa lalu. Dia hanya ingin berjalan bersamaku.”
Cinta menggenggam tangannya. “Dan soal perasaan?”
Indri menghela napas. “Dia bilang cinta bisa tumbuh seiring waktu.”
Cinta tersenyum lembut. “Mungkin benar.”
“Aku juga ingin mempercayainya.” Indri menunduk. “Aku ingin memulai hidup baru.”
...
Keesokan paginya, Indri menghubungi Riko.
“Riko.”
“Ya?”
“Aku sudah memikirkannya.”
Jantung Riko berdebar. “Dan?”
“Aku menerima.”
Untuk beberapa detik, Riko tidak bersuara. Seolah memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.
“Bu Indri... serius?”
“Iya.”
Suara Riko terdengar bergetar karena bahagia. “Terima kasih.”
Indri tersenyum. “Tapi aku ingin kamu tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku belum bisa menjanjikan cinta.”
“Saya tahu.”
“Perasaanku mungkin membutuhkan waktu.”
“Saya bersedia menunggu.”
Indri memejamkan mata. “Kalau begitu... mari kita belajar bersama.”
Riko tersenyum di seberang telepon. “Saya akan datang menemui Pak Haris.”
Tidak butuh waktu lama. Sore itu juga Riko benar-benar datang ke rumah Haris.
Tidak ada rombongan besar. Tidak ada keluarga yang mendampingi. Hanya dirinya. Ia membawa sebuah kotak kecil dan buket bunga sederhana.
Haris yang membukakan pintu sempat terdiam. “Riko?”
“Maaf datang mendadak, Pak.”
Haris tersenyum. “Masuklah.”
Cinta dan Indri kemudian keluar dari ruang tengah.
Riko tampak gugup. Ia berdiri di hadapan Haris dan Indri. “Saya datang untuk menepati ucapan saya.”
Haris mengangguk.
Riko kemudian menghadap Indri. “Bu Indri, saya tahu saya bukan lelaki pertama yang pernah hadir dalam hidup Ibu.”
Indri terdiam.
“Saya juga tahu masa lalu tidak bisa dihapus.” Riko membuka kotak kecil di tangannya. Ia mengeluarkan sebuah cincin sederhana. “Saya hanya meminta kesempatan untuk menjadi bagian dari masa depan Bu Indri.”
Indri menahan napas.
“Apakah Bu Indri bersedia menjadi istri saya?”
Air mata Indri menggenang. Ia menoleh kepada Haris. Papanya tersenyum. Kemudian Indri kembali menatap Riko.
“Iya.”
Riko mengembuskan napas lega. Ia tersenyum lebar. “Terima kasih.”
Cinta ikut menitikkan air mata.
Haris berdiri dengan dada penuh haru. Tidak ada pesta besar. Tidak ada keluarga Riko yang datang. Riko memang tidak memiliki siapa-siapa. Ia seorang yatim piatu. Namun justru kesederhanaan itu membuat momen tersebut terasa semakin dalam.
Haris mendekatinya. “Mulai hari ini, jangan anggap dirimu sendirian lagi.”
Mata Riko berkaca-kaca. “Terima kasih, Pak.”
Haris menepuk bahunya. “Kalau nanti kalian menikah, kamu bukan hanya mendapatkan istri.” Ia tersenyum. “Kamu juga mendapatkan keluarga.”
Riko menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan haru.
"Riko," panggil Indri.
Riko menatapnya. "Ya, Bu?"
"Mulai sekarang, jangan panggil saya Ibu lagi."
Riko menahan senyum, masih sedikit canggung. "Baik, Indri..."
Semuanya tertawa pelan.
Kabar pertunangan itu menyebar dengan cepat. Tanggal pernikahan mulai dibicarakan. Haris mengurus berbagai persiapan. Cinta membantu Indri mempersiapkan segala sesuatu. Laura kecil bahkan sangat antusias ketika mendengar bahwa Tante Indri akan menikah.
“Tante nanti pakai baju pengantin?”
Indri tersenyum. “Iya.”
“Pasti nanti cantik banget.”
Indri tertawa pelan.
Laura kecil memeluk Indri. “Tante harus bahagia.”
Kalimat sederhana itu membuat Indri terdiam. Ia kemudian balas memeluk anak kecil tersebut erat. “Iya.” Indri menahan air mata. “Tante akan berusaha.”
Kabar itu akhirnya sampai kepada seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya.
Rio menelepon Evan. “Pak.”
“Ya?”
“Saya ingin menyampaikan sesuatu.”
“Katakan.”
“Bu Indri menerima lamaran Riko.”
Tidak ada jawaban.
Rio menunggu. “Pak?”
“Aku dengar.” Hanya itu yang dikatakan Evan.
“Pernikahannya kemungkinan akan segera dilaksanakan.”
Evan menatap kosong ke luar jendela. “Bagus.”
Rio mengernyit. “Pak?”
“Bukankah itu yang seharusnya terjadi?” Suara Evan terdengar tenang. “Indri berhak bahagia.”
Namun setelah sambungan berakhir, wajahnya berubah. Evan menekan kedua telapak tangan ke wajah. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
Bukankah ia sendiri yang menginginkan Indri bebas?Bukankah ia sendiri yang memilih berpura-pura mati agar Indri bisa menjalani hidup tanpa rasa takut? Lalu mengapa kabar pernikahan itu terasa seperti sesuatu yang menghancurkan dirinya?
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela. “Kenapa?”
Tidak ada jawaban. Ia menatap langit yang mulai gelap. “Bukankah seharusnya aku tidak peduli tentangnya?”
Namun dadanya justru semakin sesak. Bayangan Indri muncul dalam pikirannya. Senyumnya. Tatapan matanya. Bahkan pertengkaran mereka.
Semuanya kembali muncul satu per satu.
Ia mencoba duduk. Tapi itu tetap tidak membuatnya tenang. Pikirannya kembali kepada Indri.
Teringat senyum perempuan itu.
Teringat percakapan mereka di lift. Teringat semua kesalahan yang pernah ia lakukan. Kemudian pikirannya tertuju pada malam dimana ia mengambil sesuatu yang sangat berharga dalam diri Indri sebagai balasan dendamnya.
Evan menghela nafas berat. Selama ini ia mengira yang ingin ia lepaskan adalah Indri. Ternyata yang paling sulit ia lepaskan adalah perasaan yang tumbuh setelah dendamnya mati.
Semakin ia mengingat semua itu, semakin gelisah dirinya. Ada sesuatu yang terasa salah. Sesuatu yang membuatnya tidak mampu berdiam diri.
Akhirnya Evan kembali mengambil ponsel. Ia menelepon Rio.
“Rio.”
“Ya, Pak?”
“Siapkan tempat.”
Rio terdiam. “Tempat apa?”
“Tempat yang tidak diketahui siapa pun.”
“Bapak mau melakukan apa?”
“Aku akan pulang.”
Rio langsung terdiam. “Pak, kondisi Bapak belum sepenuhnya pulih.”
“Aku bisa diatasi nanti.”
“Tapi—”
“Aku tidak meminta pendapat.” Nada Evan tegas. “Aku ingin tempat yang aman. Tidak ada satu pun orang yang tahu aku masih hidup.”
Rio menghela napas. “Baik.”
Panggilan berakhir. Evan kemudian duduk. Tatapannya kosong. Ia tahu keputusan ini berbahaya. Jika ia pulang, semua kebohongan yang selama ini dibangun bisa runtuh. Namun ia juga sadar bahwa dirinya tidak sanggup hanya duduk diam sementara Indri bersiap menikah dengan pria lain.
Bukan karena ia ingin kembali menguasai hidup Indri Indri. Setidaknya itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri. Ia hanya ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja. Hanya ingin melihatnya dari jauh.
Hanya itu. Namun jauh di dalam hati, ada suara yang terus mengganggunya.
Bagaimana jika sebenarnya kau belum rela kehilangan dia?
Evan membuka mata.
Ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Di Indonesia, Indri menatap cincin di jarinya. Cincin itu sederhana. Namun terasa begitu berat. Ia menatapnya lama.
“Aku akan mencoba,” bisiknya.
Mencoba mencintai Riko. Mencoba melupakan luka. Mencoba membangun keluarga. Mencoba menjadi ibu yang baik. Namun di dalam hati kecilnya, ada satu ruang yang belum benar-benar kosong.
Ruang yang masih menyimpan nama Evan. Indri mengusap perutnya. “Semoga keputusan Ibu benar.”
Ia tidak tahu bahwa lelaki yang dianggapnya telah meninggal masih hidup. Dan lelaki itu kini sedang menghadapi perasaan yang paling tidak ingin ia akui.
Cemburu. Bukan karena Indri akan bahagia. Melainkan karena untuk pertama kalinya Evan sadar bahwa kebahagiaan Indri mungkin benar-benar tidak lagi membutuhkan dirinya. Dan kesadaran itu membuatnya semakin tenggelam dalam rasa kehilangan yang tidak pernah ia persiapkan.
Evan sudah saatnya kamu keluar dari persembunyian hadapi dengan jentel ..jgn jadi banci kau ..,, selesai masalah mu dgn Indri jgn buat kesalahan lagi kasihan calon anakmu Van nanti tumbuh tanpa sosok mu , jgn sampai kamu menyesal Indri jadi milik Royco...
Belum pernah di bahas deh thor hubungan Cinta dan Indri 🩵
jujur ajah masih teka teki sama Riko dia itu emang cinta sama Indri atau ada maksud lain 🤔