Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatngan Yuna

Suasana pasar pagi itu begitu hidup dan berwarna-warni. Deru kendaraan bercampur dengan suara tawar-menawar pembeli dan penjual, aroma sayuran segar, buah-buahan, serta bumbu dapur yang beragam menyatu menjadi satu, menciptakan ciri khas yang tak tergantikan dari pasar tradisional itu.

Di antara kerumunan orang yang lalu-lalang, Rania berjalan dengan langkah ringan, menuntun tas kain anyamannya yang sederhana namun rapi. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya, membalas setiap sapaan hangat warga desa yang mengenalnya sepanjang jalan menuju pasar.

Tak lama kemudian, sampailah ia di sebuah lapak sayuran yang cukup luas dan tertata rapi di sudut pasar. Di sana, di antara tumpukan sayuran hijau yang masih meneteskan embun segar, berdiri seorang wanita paruh baya yang wajahnya tampak ramah dan penuh semangat. Itu adalah Bu Rahma, pemilik lapak sayuran yang kemaren dengan tulus memberi kesempatan pada Rania untuk membantu dan mendapatkan penghasilan yang halal.

"Assalamualaikum, Bu Rahma.." sapa Rania lembut, melangkah mendekat dengan senyum yang merekah manis.

Bu Rahma yang sedang menyusun ikat kangkung seketika menoleh, wajahnya seketika bersinar gembira melihat kedatangan gadis itu.

"Waalaikumsalam, Rania... Anak baikku! Kamu datang di waktu yang tepat sekali" sambut Bu Rahma hangat, menyeka peluh di pelipisnya dengan ujung kain daster yang ia kenakan.

"Tadi saja saya sempat berpikir apakah kamu akan datang lagi? Tapi saya berharap semoga Rania datang pagi ini, karena sayurannya banyak sekali dan pembeli sudah mulai berdatangan sejak tadi" ucap bu rahma.

Rania tersenyum penuh pengertian, segera meletakkan tas anyamannya di sudut tempat yang aman dan bersih. Tanpa banyak bicara lagi, ia pun melipat lengan bajunya sedikit, bersiap untuk membantu.

"Tenang saja, Bu. Aku sudah siap" ucap Rania dengan semangat.

"Mau aku bantu apa dulu? Menyusun sayuran, menimbang, atau melayani pembeli?" Tanya rania.

Bu Rahma tersenyum haru melihat ketulusan dan kerajinan yang terpancar dari wajah gadis muda itu.

"Kamu bantu menyusun sayuran yang baru datang itu dulu, ya. Tumpukannya sudah menumpuk di belakang. Lalu kalau sudah selesai, kamu bisa bantu melayani pembeli juga. Saya yakin kamu sudah hafal harganya sekarang" ucap bu rahma yang percaya penuh pada rania.

"Siap, Bu!" jawab Rania ceria.

Ia pun segera bergerak. Dengan telaten dan cekatan, Rania mulai mengangkat keranjang-keranjang berisi sayuran segar yang baru saja diantar. Satu per satu ia susun dengan rapi di atas meja panjang, memisahkan jenis sayuran agar terlihat menarik dan mudah dijangkau pembeli. Bayam, kangkung, sawi, wortel, kentang, tomat, cabai... semuanya ia tata berderet rapi, seolah sedang menyusun bunga-bunga yang indah. Keringat perlahan mulai menetes di pelipisnya, namun Rania tak mengeluh sedikit pun. Justru sebaliknya, hatinya terasa hangat dan puas melihat hasil kerjanya yang tertata rapi dan bersih.

Bu Rahma yang sesekali melirik ke arah Rania tak bisa menahan kekagumannya. Gadis ini begitu lembut dan sopan, namun tangannya begitu cekatan dan kuat. Ia bekerja dengan hati, bukan sekadar kewajiban.

"Rania..." panggil Bu Rahma pelan di sela-sela melayani pembeli.

"Iya, Bu?" jawab Rania tanpa berhenti bekerja, tangannya tetap lincah menyusun tomat-tomat merah yang mengkilap.

"Kamu ini benar-benar anak yang rajin dan baik hati" ucap Bu Rahmadi tulus.

"Banyak anak muda zaman sekarang yang malu bekerja di pasar seperti ini, merasa itu pekerjaan yang rendah. Tapi kamu... kamu melakukannya dengan kepala tegak dan senyum yang tak pernah pudar" puji bu rahma.

Rania berhenti sejenak, menatap Bu Rahma dengan senyum lembut.

"Terima kasih, Bu. Bagiku, bekerja itu bukan hal yang memalukan. Justru dengan bekerja, aku bisa mandiri dan tidak menyusahkan orang lain. Mama selalu mengajarkanku, selama tangan kita bersih dan kerja kita halal, tak ada yang perlu kita malu-maluin" ucap rania.

Mendengar itu, hati Bu Rahma terasa tersentuh. Ia mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca terharu. "Benar sekali kata Mamamu. Kamu anak yang beruntung dididik dengan begitu baik. Itulah sebabnya saya selalu senang kalau kamu datang ke sini. Kehadiranmu membawa berkah, Rania" ucap bu rahma.

Tak lama kemudian, pembeli mulai berdatangan lebih banyak lagi. Rania segera beralih membantu melayani mereka. Dengan sopan dan ramah, ia menyapa setiap ibu-ibu yang datang, menanyakan apa yang mereka butuhkan, lalu menimbang dan membungkus sayuran itu dengan teliti.

Ia melakukannya dengan cepat namun tetap akurat, tak pernah salah hitung dan tak pernah kurang timbangan. Para pembeli pun menyukainya, banyak yang memuji keramahan serta kejujuran gadis itu.

"Nak Rania pintar sekali melayani orang" kata seorang Ibu sambil tersenyum.

"Sopan, jujur, dan cekatan. Ibu Rahma beruntung ada yang bantu seperti kamu" tambah ibu itu lagi.

Rania hanya tersenyum malu-malu. "Terima kasih, Bu. Aku hanya membantu Bu Rahma, dan aku senang bisa membantu" ucap rania.

Seiring berjalannya waktu, lapak sayuran Bu Rahma menjadi yang paling ramai di antara lapak-lapak lain di sekitarnya. Rania dan Bu Rahmadi bekerja sama dengan sangat serasi, seolah mereka adalah ibu dan anak sendiri. Satu menyusun, satu menimbang, satu menerima uang... semuanya berjalan lancar dan penuh kehangatan.

Saat keramaian itu sedikit mereda, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Rania duduk sejenak di bangku kayu kecil di belakang lapak, menyeka keringatnya dengan sapu tangan bersih yang ia bawa. Tubuhnya terasa lelah, namun hatinya terasa begitu ringan dan bahagia.

Bu Rahma menghampirinya dengan segelas air putih dingin dan sebungkus nasi goreng yang masih hangat.

"Sini, Nak... minum dan makan dulu. Kamu sudah bekerja sangat keras hari ini" ucap bu rahma.

"Makasih banyak, Bu Rahma.." ucap Rania menerima dengan kedua tangannya, merasa sungkan namun sangat berterima kasih.

"Makanlah, jangan sungkan" ucap Bu Rahma sambil duduk di sebelahnya.

"Karena kerjamu yang rajin tadi, hari ini penjualanku jauh lebih banyak dari biasanya. Terima kasih ya, Rania".

Bu Rahma kemudian merogoh saku celemeknya, mengeluarkan sejumlah uang yang dilipat rapi, lalu menyodorkannya kepada Rania.

"Ini upahmu hari ini. Jumlahnya sedikit lebih banyak dari kemaren, karena kamu benar-benar bekerja dengan sangat baik hari ini dan pendapatan kita juga sedikit lebih banyak" ucap bu rahma.

Rania menatap uang itu sejenak, lalu menatap Bu Rahma dengan mata yang berbinar-binar bahagia. Bukan karena jumlahnya, melainkan karena itu adalah hasil keringatnya sendiri—uang yang ia dapatkan dengan kerja keras dan kejujuran. Uang ini nantinya akan ia berikan kepada Mamanya, untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka yang sederhana namun penuh kasih sayang.

"Terima kasih, Bu..." ucap Rania dengan suara yang bergetar haru.

"Terima kasih sudah memberi aku kesempatan ini. Aku janji akan bekerja lebih giat lagi" ucap rania.

Bu Rahma mengusap kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.

" Nak, Yang penting kamu sehat dan bahagia. Ingat, hargai dirimu sendiri, karena kamu jauh lebih berharga daripada sekadar uang yang kamu hasilkan di sini" ucap bu rahmadi.

Rania mengangguk pelan, menyimpan uang itu dengan hati-hati di dalam tas anyamannya, tersimpan rapi bersama rasa syukur yang mendalam di dadanya. Sambil meneguk air putih yang menyegarkan itu, ia menatap ke arah keramaian pasar yang perlahan mulai menipis. Di sana, di tengah hiruk-pikuk dan kesederhanaan ini, Rania menemukan kebanggaan yang tak pernah ia rasakan saat masih berada di rumah mewah itu—kebanggaan menjadi dirinya sendiri, mandiri, dan berguna bagi orang lain.

Ia berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi di masa depan, ia akan tetap berdiri tegak dengan kakinya sendiri. Ia adalah Rania, gadis sederhana yang memiliki hati yang besar, dan ia akan terus melangkah maju membawa harapan serta doa Mamanya ke mana pun ia pergi.

Sore pun perlahan tiba, matahari mulai merendah di ufuk barat, menyisakan semburat jingga keemasan yang melukis langit dengan indahnya. Rania berjalan pulang dengan langkah ringan, tas anyaman yang kini terasa lebih berat berisi hasil jerih payahnya tergantung di bahu. Hatinya tenang, damai, dan penuh rasa syukur. Namun langkahnya perlahan terhenti begitu ia mulai mendekati rumah kayu kecilnya.

Di teras depan, di atas lantai semen yang bersih, terlihat sesosok gadis muda duduk bersandar pada tiang teras. Lututnya ditekuk, kedua tangan melingkar memeluknya, dan wajahnya tampak begitu cemberut, bibirnya mengerucut dalam dan alisnya berkerut rapat. Itu adalah Yuna, sahabat karibnya. Pintu rumah Rania tertutup rapat, dan Rania tahu betul, saat ini Mamanya pasti sedang berada di ladang, merawat tanaman sayur mereka yang baru saja ditanam.

Melihat kehadiran Yuna dengan wajah yang begitu muram, Rania segera mempercepat langkahnya. Ia melangkah lebih cepat, hampir berlari kecil menuju teras, hatinya sedikit cemas melihat sahabatnya yang tampak menunggu dengan raut wajah kesal dan kemarahan yang meluap-luap.

Sesampainya Rania di depan teras, Yuna beranjak berdiri perlahan dari tempat duduknya. Kedua tangannya ia lipat rapat di dada, menatap Rania dengan tatapan yang bercampur antara kesal dan kekhawatiran.

"Darimana saja kamu? Sudah satu jam aku menunggumu di sini!" ucap Yuna dengan nada yang meninggi, suara itu penuh dengan ketidaksabaran, matanya menatap tajam ke arah Rania seolah menuntut penjelasan yang sangat penting.

Rania tersenyum tipis, berusaha menenangkan suasana yang terasa sedikit panas itu. Ia meletakkan tas anyamannya di samping kaki, lalu menyisir rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sore.

"Aku habis dari pasar, Yuna..." jawab Rania lembut, suaranya tenang tanpa sedikit pun terpancing emosi sahabatnya.

"Hah... pasar?" Yuna membelalakkan matanya, alisnya makin berkerut, nada bicaranya terdengar tak percaya sekaligus heran. "Ngapain kamu ke pasar?" cecar Yuna lagi, pertanyaannya terlontar begitu cepat seolah tak memberi jeda bagi Rania untuk bernapas.

Rania menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan, menatap lekat wajah sahabatnya itu dengan senyum yang tulus namun tegas.

"Aku bekerja di pasar, Yuna..." ucap Rania pelan namun jelas, setiap kata yang terucap terdengar begitu mantap dan penuh keyakinan.

Mendengar jawaban itu, Yuna seketika terperangah kaget. Kedua matanya terbuka lebar, mulutnya sedikit ternganga seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tangan yang tadi terlipat di dadanya perlahan turun ke samping, tubuhnya sejenak terasa kaku membeku di tempat. Kata-kata Rania itu seolah memukulnya dengan lembut namun sangat kuat, membuat segala pertanyaan yang sempat bersarang di kepalanya seketika berhenti berputar.

"Bekerja... di pasar?" ulang Yuna pelan, suaranya berubah drastis dari yang tadinya tegas dan penuh kemarahan menjadi lirih dan penuh keheranan.

"Maksudmu... kamu bekerja di sana? Kerja apa?" tanyanya lagi, kali ini nadanya jauh lebih lembut, seolah ia takut salah mendengar.

Rania mengangguk pelan, lalu menarik tangan Yuna agar keduanya duduk bersama di teras. Ia bercerita dengan tenang, menjelaskan bahwa ia membantu Bu Rahma di lapak sayurannya—menyusun sayuran, melayani pembeli, menimbang barang, dan membungkus pesanan. Ia juga bercerita tentang keramahan orang-orang di pasar, tentang rasa lelah yang terbayar lunas dengan senyuman pembeli, dan tentang rasa bangga yang menjalar di dadanya saat menerima upah hasil keringatnya sendiri. Wajah Rania bersinar saat bercerita, matanya berbinar bahagia, dan setiap kata yang terucap membawa kehangatan yang perlahan meresap ke dalam hati Yuna.

Yuna mendengarkan dalam diam, perlahan-lahan raut wajahnya yang cemberut berubah menjadi lembut. Kekesalannya yang tadi masih terasa begitu kuat kini luruh seketika, digantikan oleh rasa kagum yang tumbuh perlahan namun pasti di hatinya. Ia menatap sahabatnya itu dengan pandangan yang berbeda—bukan lagi sebagai gadis yang lemah dan butuh belas kasihan, melainkan sebagai seorang wanita muda yang tegar, mandiri, dan memiliki keberanian yang besar untuk memulai sesuatu yang baru.

"Jadi... Kamu berkerja menjual sayuran?" tanya Yuna pelan, matanya kini berkaca-kaca, menyadari betapa salahnya ia menuduh Rania tanpa tahu apa-apa.

Rania tersenyum lembut, mengangguk sekali lagi. "Iya, Yuna. Aku ingin membantu Mama. Aku ingin bisa berdiri di atas kakiku sendiri. Bekerja bukan hal yang memalukan, kan?"

Yuna menggeleng pelan, lalu meraih tangan Rania dan menggenggamnya erat. "Tidak... sama sekali tidak memalukan, Rania. Justru aku... aku malu pada diriku sendiri. Aku menunggumu dengan marah, padahal kamu sedang berjuang mencari nafkah dengan cara yang begitu mulia" Air mata penyesalan mulai menetes di pipi Yuna. "Maafkan aku, ya... Aku tidak tahu apa-apa dan langsung memarahimu" ucap yuna.

Rania tersenyum hangat, lalu memeluk sahabatnya itu erat. "Tidak apa-apa, Yuna. Aku tahu kamu khawatir. Terima kasih sudah menungguku" ucap rania.

Di bawah langit sore yang kian menggelap, di teras rumah kayu yang sederhana itu, dua sahabat itu saling berpelukan, menyadari bahwa persahabatan mereka kini tumbuh lebih kuat—dibangun di atas rasa saling percaya, pengertian, dan kebanggaan atas perjuangan masing-masing.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!