"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______
"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______
Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.
Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.
Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.
Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Langkah kaki Arthur menghilang di balik pintu jati Sayap Barat. Pria itu berjalan tegap sembari menggendong Pangeran Ocean dalam pelukan dada bidangnya, membawa sang bayi masuk kembali ke dalam kehangatan kamar.
Snow masih berdiri membisu di koridor terbuka. Pandangan matanya menerawang jauh, bukan menatap daun pintu yang telah tertutup rapat, melainkan tertuju pada sosok Ava di sudut halaman.
Dari kejauhan, pengasuh itu sedang dimaki habis-habisan oleh Savea. Suara bentakan yang samar, gestur tubuh yang merendahkan, serta telunjuk Savea yang menuding-nuding wajah Ava dengan penuh hinaan menjadi pemandangan yang menyayat hati.
Melihat Ava yang tak berdaya dan menunduk dalam kepasrahan, dada Snow serasa dihantam sembilu. Bayangan itu secara instan memicu ingatan pahit tentang mendiang ibunya. Ibunya—seorang pelayan wanita yang sepanjang hidupnya selalu dimaki, diinjak-injak harga dirinya, dan dianggap serendah debu oleh orang-orang berkuasa. Pelayan malang yang bahkan dari rahimnya melahirkan seorang anak perempuan... yaitu dirinya sendiri.
Pikiran Snow melambung jauh melintasi lorong waktu, kembali ke malam panas terakhirnya bersama Arthur lima tahun lalu di rumah kayu tengah hutan.
Malam itu, dunia Snow hanya berisi Arthur. Hanya Arthur. Snow muda tidak pernah tahu dari mana Arthur berasal. Ia tak pernah membayangkan, bahkan dalam mimpi terliarnya sekalipun, bahwa pria tampan yang memeluknya hangat setiap malam adalah seorang Pangeran dari dinasti kerajaan terbesar di Inggris—Istana Blackwood.
Pagi hari setelah malam emosional itu, pelayan yang biasa datang membawa bahan makanan dan kebutuhan pokok tidak datang seorang diri. Snow yang terbangun dengan rasa bahagia menyambut kedatangan sosok yang menjenguknya: sang ayah, Silas Hawthorne.
Namun, kedatangan Silas hari itu tidak hanya membawa kehangatan keluarga. Detik itu juga, sebuah kebenaran pahit menghantam Snow, meremukkan seluruh fondasi hidup yang dipercayainya selama 21 tahun.
Hari itu, Snow harus menerima kenyataan tragis bahwa wanita pelayan yang baik hati—yang selalu datang membawakan kebutuhannya selama satu bulan penuh—adalah ibu kandung biologisnya.
Silas Hawthorne, ayahnya yang terpandang, memiliki istri sah lain. Di masa lalu, Silas tak sengaja meniduri pelayan kediamannya sendiri hingga mengandung dan melahirkan Snow.
Tak berhenti di situ, Silas datang membawa kabar buruk lanjutan. Hari itu juga, Snow harus dipindahkan dari tempat persembunyiannya. Hutan tempat rumah kayu itu berdiri mulai sering dilintasi oleh rombongan pemburu atas laporan anak buah Silas.
Silas yang tidak memiliki keturunan dari istri sahnya sangat menjaga Snow. Ia tidak mau keberadaan anak luar nikahnya tercium oleh publik maupun keluarga istrinya. Semua kebenaran pahit itu dijelaskan tanpa ada satu hal pun yang ditutupi.
Snow yang menyandang nama Hawthorne harus pergi detik itu juga. Tanpa sempat meninggalkan selembar surat pun, tanpa pamit pada pria yang amat dicintainya—pria yang telah menemaninya selama satu tahun, tiga bulan, dan sepuluh hari terakhir.
Mengingat masa itu, rasa bersalah sempat menyusup di dada Snow. Ia tak pernah memberitahukan nama aslinya pada Arthur sebagai bentuk baktinya pada sang ayah.
Sejak awal, Silas melarang keras Snow menyebutkan namanya kepada siapa pun. Bahkan sang ibu—yang dulu ia kira hanyalah pelayan—tak pernah memanggil nama aslinya. Di asrama sekolah tempat ia diasingkan dulu, Snow diperlakukan secara khusus tanpa identitas nama resmi.
Hari itu, lima tahun lalu, Snow hanya bisa membisikkan selamat tinggal dalam hati untuk Rumah yang ia tempati Bertahun-tahun–juga kisah cintanya yang tragis dan menyedihkan.
Perpindahan itu membawa Snow ke kehidupan baru yang sunyi. Belum genap satu tahun ia tinggal di kediaman persembunyian yang baru, ibunya yang biasa datang berkunjung hampir setiap minggu untuk menghabiskan waktu bersamanya mendadak berhenti datang.
Rasa khawatir yang membakar membuat Snow nekat keluar. Ia mendatangi mansion mewah milik Silas Hawthorne yang alamatnya pernah diceritakan oleh sang ibu. Namun, kenyataan pahit kembali menamparnya begitu tiba di sana.
Ayahnya–Silas dan Istrinya sudah tidak lagi tinggal di mansion tersebut; mereka telah pindah dan menetap di luar negeri sejak berbulan-bulan lalu.
Saat Snow bertanya dengan nada gemetar kepada pelayan senior di mansion itu mengenai keberadaan ibunya, jawaban yang diterima meremukkan jiwanya.
"Ibumu... telah meninggal tiga bulan yang lalu, Nona," ucap pelayan itu dengan mata berkaca-kaca. "Beliau tewas ditabrak lari. Dan... pelaku yang merupakan anak konglomerat papan atas bahkan sudah dibebaskan dari penjara beberapa hari yang lalu."
"Dibebaskan?!" jerit Snow dengan napas memburu, matanya membelalak tak percaya. "Menghilangkan nyawa manusia dan hanya dipenjara tiga bulan?! Bagaimana bisa?!"
"Tuan Silas tidak mengajukan tuntutan apa pun, Nona... sehingga pelaku bebas tanpa syarat."
Kemurkaan luar biasa membakar jiwa Snow. Menghilangkan nyawa ibunya dan hanya mendekam di penjara selama sembilan puluh hari? Ayah kandungnya sendiri bahkan menelantarkan keadilan demi menjaga nama baik keluarga.
Tekad Snow membulat seketika. Dendam mengubah gadis lugu itu menjadi sosok yang dingin dan penuh perhitungan. Snow menyusun strategi secara matang. Berbekal belas kasihan dari kepala pelayan yang mengenali mendiang ibunya, Snow melamar bekerja sebagai pelayan di mansion mewah itu. Ia telah mengaku sebagai anak dari pelayan yang telah meninggal dan bersedia bekerja tanpa digaji, asalkan diizinkan tinggal di kamar pelayan belakang.
Selama satu tahun bekerja kasar dan menyapu lantai mansion ayahnya sendiri, sembari memendam kerinduan mendalam pada Arthur yang mungkin saja telah melupakannya, penyelidikan mandiri Snow buahnya manis. Ia akhirnya mengetahui identitas pasti sang pelaku penabrakan ibunya: seorang wanita aristokrat bernama Dixie Savea Lopez.
Hingga Satu tahun berlalu, Silas Hawthorne kembali ke tanah air dan terkejut setengah mati mendapati putri kandungnya telah menjadi pelayan berseragam di rumahnya sendiri.
Rasa bersalah dan penyesalan membuat Silas akhirnya mebuka suara pada istri sahnya. Di luar dugaan, sang istri yang memang tidak bisa memberikan keturunan justru menerima keberadaan Snow dengan tangan terbuka dan penuh kasih sayang.
Keluarga Hawthorne yang menguasai bisnis jaringan rumah sakit terbesar di kota itu kemudian melipat gantungkan status Snow. Agar tak memicu skandal publik, Snow diperkenalkan di lingkungan elit dan dewan direksi rumah sakit sebagai keponakan kandung dari istri Silas.
Mendapat wewenang khusus sebagai keponakan direktur rumah sakit besar membuat Snow hidup dalam kemewahan dan fasilitas leluasa. Namun, kasih sayang keluarga barunya tak sanggup memadamkan api dendam di dadanya. Snow terus melancarkan penyelidikan terhadap Savea.
Hingga suatu hari, kesempatan emas yang disediakan oleh takdir berpihak sepenuhnya pada Snow.
Savea, wanita yang telah merenggut nyawa ibunya, datang ke rumah sakit tempat Snow bertugas untuk menjalani proses program bayi tabung.
Melihat berkas medis Savea di mejanya, Snow menyunggingkan senyum dingin yang amat kejam.
"Kau memang tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang ibu dengan mudah, Savea..." bisik Snow malam itu di dalam laboratorium steril, menatap botol sampel medis. "Sebab kau telah membunuh ibu dari seorang anak yang baru saja memeluk hangat kebenaran."
Namun, kejutan paling dahsyat menghantam Snow saat ia membaca nama donor dan pasangan dari prosedur tersebut: Benedictus Arthur Blackwood.
Dan setelah ia selidiki Lebih Lanjut, Itu adalah Arthur–Lordnya.
Pria yang dicintainya... pria yang menghabiskan malam-malam penuh gairah dengannya lima tahun lalu... adalah suami sah dari Savea, wanita pembunuh ibunya.
Dunia Snow serasa hancur berkerak untuk kesekian kalinya. Kenyataan bahwa Arthur telah menikah selama dua tahun dengan Savea membakar dadanya dengan kecemburuan dan rasa dikhianati yang teramat pekat.
Silas Hawthorne berulang kali memperingatkan Snow untuk tidak mengusik Keluarga Besar Blackwood. Silas memohon agar Snow mundur, mengingatkan bahwa keluarga besar Savea disokong oleh firma hukum terbesar di New York yang memiliki kekuasaan tanpa batas. Silas tak berkutik menghadapi benteng hukum itu.
Namun hati Snow yang terluka tidak bisa dihentikan oleh gertakan kekuasaan.
"Nyawa Mommy harus dibalas dengan nyawa, Dad," desis Snow pada ayahnya kala itu. "Dan jika aku tidak bisa mengambil nyawanya... bukankah membuatnya gila adalah hal yang sama? Sama-sama kehilangan jiwa menuju neraka."
Snow tidak sudi benih milik Arthur bersemayam di rahim wanita pembunuh itu. Kecemburuan, cinta, dan dendam menyatu, membutakan logikanya untuk merancang aksi pembalasan paling sempurna.
Memanfaatkan wewenang dan akses khususnya di laboratorium rumah sakit, Snow melancarkan siasat nekat: ia menukar prosedur sampel. Sperma murni milik Arthur justru diinseminasikan ke dalam rahimnya sendiri. Sementara untuk Savea, Snow memerintahkan penggunaan sampel donor acak dari bank sperma.
Janin yang Dilahirkan dari rahim Savea pada akhirnya meninggal. Namun rahim Snow menerima benih Arthur dengan sempurna.
Rencana Snow berjalan tanpa cela. Ia berniat menggunakan anak yang dikandungnya untuk menghancurkan mental Savea, sekaligus merebut kembali Arthur ke dalam pelukannya.
Bukankah Savea akan menggila jika suatu hari nanti mengetahui kebenaran menyakitkan bahwa bayi yang diakuinya sebagai 'Pangeran Ocean' adalah darah daging murni dari wanita lain bersama suaminya?
Dan bukankah ini juga hukuman yang cukup romantis untuk Arthur yang telah 'berani' melupakannya dan menikahi wanita lain?
Selama sembilan bulan, Snow berjuang sendirian di dalam dunianya yang tanpa kehadiran Arthur. Ia mengandung, menjaga, dan membesarkan janin itu dalam diam.
Hingga saatnya tiba, putra yang dikandungnya selama sembilan bulan dengan mudah melangkah masuk ke dalam lingkungan Istana Blackwood, menuju pangkuan ayah kandungnya sendiri melalui skenario penyerahan bayi.
Dan Snow menyusul masuk sebagai syarat ibu susu, merayap di bawah atap yang sama dengan musuhnya.
Flashback Off.
Snow menghembuskan napas pelan, menghentikan deretan kenangan pahit yang berputar di dalam kepalanya. Bening matanya kembali memfokuskan pandangan pada koridor Istana Sayap Barat yang sunyi.
Senyum dingin yang indah terukir di bibir ayunya. Snow membetulkan posisi gaunnya, lalu membalikkan badan dan melangkah mantap menuju kamar Ocean.