Arga Danendra, CEO muda pemegang kendali kerajaan bisnis terbesar, memiliki hati sedingin es. Dikhianati dan dicampakkan oleh wanita yang sangat dicintainya di masa lalu saat ia belum bergelimang harta, Arga kini memandang sinis semua wanita. Baginya, mereka hanyalah makhluk serakah yang memuja kekayaan.
Namun, takdir berkata lain ketika sebuah insiden penyerangan memaksanya bersembunyi di permukiman pinggiran kota. Dalam kondisi terluka parah dan kehilangan memori sementaranya, ia diselamatkan oleh Senja Kirana, gadis yatim piatu yang hidup miskin namun memiliki senyum secerah matahari. Tanpa memandang status atau harta, Senja merawat pria asing itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Kepolosan, keluguan, dan kehangatan Senja perlahan meruntuhkan dinding es di hati Arga, mengembalikan warna hidupnya yang telah lama sirna.
Ketika ingatan Arga kembali dan mantan kekasihnya muncul lagi demi mengincar posisi nyonya besar, sang CEO muda bersumpah akan menggunakan seluruh kekuasaannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Mata-mata dalam Bayangan dan Senyum Sang Iblis Korporat
Di lantai enam puluh Gedung Danendra Group, napas dunia bisnis metropolitan terus berdenyut tanpa henti, tidak peduli meskipun sang raja penguasa sedang menghilang dari singgasananya.
Raka Narendra memijat pangkal hidungnya yang berdenyut menyakitkan. Di atas meja kerja marmer di hadapannya, bertumpuk dokumen-dokumen bernilai triliunan rupiah yang harus ia seleksi sebelum ia palsukan tanda tangan Arga menggunakan stempel digital khusus.
Sudah berhari-hari Arga menghilang dan bersembunyi di distrik kumuh selatan. Selama itu pula, Raka harus bekerja gila-gilaan, menggunakan segala tipu muslihat, pesona, dan ancaman yang ia miliki untuk menenangkan dewan direksi. Ia harus mengarang cerita bahwa CEO mereka sedang melakukan inspeksi rahasia ke Eropa Timur untuk mengakuisisi perusahaan teknologi baru, sehingga tidak bisa dihubungi.
Sejauh ini, sandiwara itu berhasil. Ditambah lagi, manuver Raka untuk menghancurkan anak perusahaan Wijaya Group melalui skandal pajak—sesuai perintah Arga kemarin—telah membuat musuh bebuyutan mereka itu kalang kabut dan tidak lagi fokus mencari keberadaan Arga.
Namun, sebagai seorang sahabat yang telah tumbuh bersama Arga sejak mereka masih menjadi pemuda tak berpunya, Raka tidak bisa menekan rasa khawatirnya.
Raka melirik jam Rolex di pergelangan tangannya. Pukul enam sore. Langit di luar jendela kaca raksasa itu mulai menggelap, dihiasi awan mendung abu-abu yang menjanjikan rintik gerimis.
"Bos gila itu... luka tusuknya belum sembuh total, dan dia bersikeras diam di tempat kumuh tanpa pengawasan medis," gerutu Raka pada udara kosong. Ia menatap layar ponsel satelit terenkripsinya. Tidak ada panggilan masuk dari Arga sejak kemarin siang.
Rasa penasaran dan kekhawatiran akhirnya mengalahkan kepatuhan Raka pada perintah bosnya. Ia harus melihat sendiri kondisi Arga. Ia harus memastikan bahwa sahabatnya itu tidak mati membusuk akibat infeksi di dalam gubuk reot yang atapnya bocor itu.
Raka segera berdiri. Ia melepaskan jas mahalnya, melonggarkan dasi sutranya, dan mengganti pakaiannya dengan sebuah hoodie hitam polos yang sudah pudar serta celana jeans robek-robek peninggalan masa kuliahnya dulu. Ia menyembunyikan pistol glock kecil di balik pinggangnya untuk berjaga-jaga, lalu memakai topi baseball hitam yang ditarik rendah menutupi wajah tampannya.
Meninggalkan mobil sport mewahnya di basemen kantor, Raka memilih meminjam motor matic usang milik salah satu petugas kebersihan cleaning service (dengan kompensasi uang jutaan rupiah yang membuat petugas itu pingsan kegirangan).
Dengan motor butut itu, Sang 'Bayangan Iblis' Danendra Group membelah kemacetan ibu kota, meluncur menuju perut distrik kumuh di wilayah selatan.
Udara di permukiman padat penduduk itu terasa lengket dan berbau campuran antara tanah basah, asap pembakaran sampah, dan selokan yang mampat. Raka memarkirkan motor bututnya di dekat sebuah warung sembako yang sudah tutup, tepat di persimpangan Gang Beringin, sesuai dengan titik koordinat yang pernah ia lacak dari sinyal ponsel Arga beberapa hari lalu.
Ia menarik tudung hoodie-nya hingga menutupi kepala, lalu melangkah dalam diam menyusuri lorong sempit yang minim penerangan tersebut. Sepatu kets usangnya melangkah tanpa menimbulkan suara. Insting pembunuh dan mata-mata yang telah dilatih bertahun-tahun di dunia bawah membuat Raka mampu menyatu dengan bayang-bayang.
Mata tajam Raka menyapu deretan rumah-rumah petak yang berdempetan, mencari sebuah rumah dengan ciri-ciri khusus.
Ketemu.
Langkah Raka terhenti di balik sebuah tiang listrik beton yang gelap. Dari jarak sekitar lima belas meter di depannya, ia melihat sebuah rumah kontrakan kecil. Di antara deretan pintu tripleks yang sudah rapuh dan berjamur milik tetangga sekitarnya, pintu kontrakan itu terlihat sangat mencolok. Pintu itu terbuat dari kayu jati solid berwarna gelap, lengkap dengan engsel baja tebal dan sebuah jendela berkaca tebal anti-peluru tingkat tiga.
Raka mendengus geli dalam hati. Hanya orang gila obsesif seperti Arga yang akan memasang kaca anti-peluru seharga ratusan juta di rumah kontrakan sewa bulanan yang dindingnya nyaris runtuh.
Raka bersandar di tiang listrik, menajamkan pendengaran dan penglihatannya. Lampu kuning redup menyala dari balik jendela tersebut, namun gorden kain motif bunga yang murah menutupinya, sehingga Raka tidak bisa melihat ke dalam.
Ia berniat maju untuk mengintip, namun tiba-tiba, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah belakangnya, mendekat menuju gang.
Raka segera menyusut lebih dalam ke dalam kegelapan bayang-bayang tiang listrik, menahan napasnya.
Seorang gadis muda berjalan melewatinya. Gadis itu mengenakan seragam pegawai kedai roti berwarna cokelat yang pinggirannya sedikit kotor oleh sisa tepung. Tubuhnya mungil, rambut panjangnya diikat ekor kuda dan bergoyang seirama dengan langkah kakinya yang riang. Di tangannya, ia menenteng sebuah tas kain usang dan sekantung kecil berisi sayuran segar.
Raka mengamati profil samping gadis itu saat ia berjalan melintas di bawah lampu jalan yang redup. Wajahnya tidak memancarkan kecantikan glamor khas supermodel atau sosialita yang biasa mengelilingi Arga. Wajah gadis itu polos, tanpa riasan make-up sedikit pun, namun memancarkan sebuah aura cerah yang sangat menyegarkan—seperti melihat bunga matahari yang tumbuh mekar di tengah-tengah tumpukan barang rongsokan.
Apakah itu... gadis yang diceritakan Arga? batin Raka penuh selidik.
Gadis itu—Senja—berjalan mendekati pintu kayu jati tersebut. Sebelum Senja sempat mengetuk atau mengeluarkan kunci, pintu tebal itu sudah lebih dulu terbuka dari dalam, seolah orang di baliknya memang sudah menunggu kedatangannya.
Raka mencondongkan kepalanya sedikit dari balik tiang. Dan pada detik itulah, napas asisten jenius itu benar-benar tercekat di tenggorokan.
Di ambang pintu, berdirilah sang CEO tiran, Arga Danendra.
Pria yang ditakuti oleh seluruh mafia bisnis di negara ini, pria yang julukannya adalah 'Raja Iblis Tak Berperasaan', kini berdiri mengenakan kaus oblong murahan berwarna abu-abu dan celana training kebesaran.
Namun, bukan pakaian gembel itu yang membuat Raka syok hingga nyaris menjatuhkan rahangnya ke tanah. Melainkan... ekspresi di wajah Arga.
"Kau pulang terlambat lima belas menit dari biasanya, Nona Koki," suara bariton Arga terdengar mengalun lembut membelah keheningan gang, diiringi oleh sebuah nada menggoda yang sangat asing di telinga Raka.
Senja tertawa pelan, suara tawanya begitu renyah dan merdu. "Maaf, Kak Arga! Tadi di kedai ada pelanggan rombongan anak sekolah yang memborong roti manis, jadi aku harus membantu Pak Yanto membersihkan sisa remahan di meja lebih lama."
Arga melangkah keluar dari ambang pintu. Pria raksasa itu menunduk sedikit, dan dengan gerakan yang sangat natural—seolah ia telah melakukannya ribuan kali—tangan besarnya terulur untuk mengambil kantong sayuran dan tas kain dari tangan Senja, mengambil alih beban gadis itu.
"Tidak apa-apa. Masuklah, di luar udaranya mulai dingin," balas Arga.
Saat Senja hendak melangkah masuk, Arga menahan bahu gadis itu pelan. Tangan Arga yang bebas terangkat, dan dengan menggunakan ibu jarinya, pria itu mengusap lembut sebuah noda putih—sisa tepung—yang menempel di pipi Senja.
Gerakan itu begitu intim, begitu penuh dengan pemujaan dan kelembutan, hingga membuat wajah Senja merona merah di bawah cahaya lampu teras.
Dan kemudian... terjadilah hal yang mustahil itu.
Arga tersenyum.
Bukan senyum sinis yang biasa ia berikan saat menghancurkan perusahaan lawan. Bukan senyum palsu yang ia pasang saat menghadiri perjamuan makan malam. Bukan pula seringai arogan yang merendahkan.
Itu adalah senyuman yang tulus. Sangat lebar, sangat hangat, hingga mencapai kedua mata elangnya yang menyipit membentuk lengkungan bulan sabit. Senyuman seorang pria biasa yang tengah dimabuk kepayang oleh kehadiran wanita yang ia cintai. Senyuman yang mengisyaratkan kedamaian, seolah beban seluruh dunia telah terangkat dari pundaknya hanya dengan melihat gadis itu pulang dengan selamat.
Di balik tiang listrik beton, lutut Raka Narendra mendadak terasa lemas. Ia mengusap kedua matanya dengan kasar, mencoba memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi atau terkena guna-guna dari dukun distrik selatan.
Tuhan... apa yang baru saja kulihat? Raka membatin dengan histeris. Bosku tersenyum? Tersenyum tulus seperti manusia normal?!
Ingatan Raka seketika terlempar ke masa lalu. Tujuh tahun yang lalu, saat mereka masih merintis usaha dari nol. Ia ingat betul hari di mana Arga pulang dengan kemeja basah kuyup oleh hujan, wajahnya hancur lebur, dan matanya kosong tanpa nyawa. Itu adalah malam di mana Natasha, wanita yang sangat dicintai Arga, mencampakkannya dengan kejam karena kemiskinan.
Sejak malam laknat itu, Raka tidak pernah lagi melihat Arga sebagai seorang manusia yang utuh. Arga berubah menjadi mesin. Mesin pencetak uang yang digerakkan oleh dendam dan keangkuhan. Arga membangun tembok es yang begitu tebal dan mematikan di sekeliling hatinya, menolak memercayai siapa pun, memandang kebaikan sebagai sebuah kelemahan, dan memandang cinta sebagai transaksi murahan.
Bahkan Raka, sahabat terdekatnya yang telah berdarah-darah menemaninya membangun Danendra Group, tidak pernah bisa menembus tembok es tersebut. Ia hanya bisa mendampingi sang raja iblis itu dalam kesepiannya yang dingin.
Namun kini, di sebuah gang kumuh yang bau dan kotor, tembok es raksasa itu hancur tak bersisa. Dilelehkan begitu saja oleh seorang bidadari pembuat roti yang bahkan tidak memiliki uang untuk membeli pakaian yang bagus.
Raka terus menatap dalam diam saat Arga dan Senja akhirnya masuk ke dalam rumah. Pintu kayu jati itu tertutup rapat dengan suara klik yang halus, mengunci dunia luar dan menyisakan dua insan itu di dalam surga kecil mereka.
Raka menyandarkan punggungnya ke tiang listrik, mengembuskan napas panjang yang menghasilkan kepulan uap di udara malam yang dingin. Dada pria humoris itu tiba-tiba terasa sesak oleh sebuah perasaan haru yang luar biasa besar.
Ia memejamkan mata, membiarkan gerimis mulai turun menetes membasahi hoodie-nya.
[Pesan Tersembunyi untuk Pembaca:]
(Kita sering kali berusaha keras mengubah seseorang yang berhati dingin dan tertutup dengan menggunakan logika, perdebatan, atau bahkan memaksakan kebaikan kita kepada mereka. Kita bertanya-tanya, mengapa orang yang terluka sangat sulit untuk kembali tersenyum tulus? Mengapa mereka membalas kepedulian dengan sikap defensif dan sinis?
Jawabannya tersembunyi dalam apa yang disaksikan Raka malam ini. Manusia yang hatinya hancur berkeping-keping akibat pengkhianatan masa lalu, tidak akan pernah bisa disembuhkan oleh harta, kekuasaan, atau argumen yang logis. Mereka hanya bisa berubah ketika mereka menemukan sebuah "Rumah". Bukan rumah dalam bentuk bangunan megah, melainkan rumah dalam wujud seseorang.
Seseorang yang membuat mereka merasa aman untuk kembali menurunkan senjata dan melepaskan baju besi pelindung mereka. Seseorang yang menerima mereka di saat mereka terlihat paling lemah, paling miskin, dan paling hancur. Ketulusan sejati tidak memaksa bunga untuk mekar; ketulusan sejati hanya memberikan sinar matahari dan kehangatan yang konsisten, hingga akhirnya bunga itu memilih untuk mekar dengan sendirinya di tengah badai sekalipun.)
Raka membuka matanya. Ia tersenyum, sebuah senyuman tipis yang dipenuhi oleh kelegaan dan rasa hormat yang mendalam.
Tanpa harus berkenalan atau berbicara satu patah kata pun dengan gadis bernama Senja itu, Raka telah mengambil sebuah sumpah setia di dalam hatinya.
Sebagai tangan kanan Arga, Raka telah bersumpah untuk melindungi kerajaan bisnis pria itu. Namun malam ini, sumpahnya bertambah satu. Raka bersumpah, ia akan menggunakan nyawanya sendiri sebagai taruhan untuk melindungi senyuman Arga yang telah kembali, dan melindungi gadis mungil yang telah mengembalikan kewarasan sahabatnya itu.
Kau memenangkan jackpot kehidupan, Bos, gumam Raka dalam hati, melirik sekali lagi ke arah gorden rumah kontrakan yang memancarkan cahaya hangat itu. Nikmatilah kedamaianmu. Tinggallah di sana selama yang kau mau. Biar aku yang mengurus anjing-anjing liar yang mencoba menggonggong di depan pintu istanamu ini.
Raka membalikkan badannya. Ia kembali merapatkan tudung hoodie-nya, menyembunyikan wajahnya ke dalam bayang-bayang.
Dengan langkah ringan yang tak bersuara, Sang Bayangan Iblis itu berjalan menjauh dari tempat suci tersebut. Ia harus kembali ke neraka dunia bisnis. Masih banyak direktur korup yang harus ia bungkam, dan masih ada Wijaya Group yang harus ia ratakan dengan tanah agar kelak, saat Arga kembali ke singgasananya sambil menggandeng tangan bidadari kecil itu, tidak ada satu pun kerikil tajam yang berani melukai kaki mereka.
Di dalam rumah kontrakan itu, Arga baru saja meletakkan tas kain Senja ke atas meja. Tiba-tiba, mata elangnya melirik sekilas ke arah jendela yang tertutup gorden. Insting pembunuhnya yang tak pernah mati sempat menangkap sebuah presensi yang kuat dari arah tiang listrik di luar sana. Presensi yang sangat familiar.
"Kak Arga? Ada apa?" tanya Senja saat melihat Arga terdiam menatap jendela.
Arga menoleh, menatap Senja dengan kelembutan yang kembali memancar. Ia tersenyum tipis. "Tidak ada apa-apa. Kurasa hanya ada seekor anjing penjaga yang kebetulan lewat untuk memastikan wilayah ini aman."
"Anjing penjaga?" Senja mengerutkan kening lucu. "Di gang ini tidak ada yang memelihara anjing besar, Kak. Hanya kucing-kucing liar."
"Begitukah?" Arga terkekeh pelan, tawa yang menggetarkan dada bidangnya. "Kalau begitu, abaikan saja. Ngomong-ngomong, kau bawa sayur apa hari ini? Biar aku yang memotongnya."
"Eh! Jangan! Orang sakit tidak boleh pegang pisau dapur!"
Malam itu, diiringi suara rintik hujan yang kembali menderas, kehangatan di dalam rumah kecil itu semakin tak tertembus, dijaga oleh sang Tiran dari dalam, dan dilindungi oleh Sang Bayangan dari luar. Sebuah benteng tak kasat mata telah terbentuk, bersiap menghadapi badai intrik raksasa yang menanti di ujung waktu.