SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: BATAS YANG DIPERIKSA DAN RAFI DARI MASA LALU
Pagi hari menjelang akhir pekan disambut oleh langit biru yang bersih. Sisa-sisa hujan semalam meninggalkan hawa sejuk yang menyegarkan di area parkiran SMA Garuda. Riuh suara kendaraan dan gelak tawa siswa-siswi yang baru tiba memadati area depan gedung sekolah.
Aluna turun dari jok belakang motor Devan dengan gerakan yang sudah jauh lebih tenang dibanding hari-hari pertama. Setelah merapikan seragam abu-abunya, ia menyerahkan helm bogo krem yang diterimanya kembali ke tangan Devan.
"Makasih, Kak," kata Aluna pelan, memastikan suaranya hanya terdengar di antara mereka berdua.
Devan mengangguk singkat. Jarinya merapikan kerah kemeja putih Aluna yang sedikit terlipat—sebuah sentuhan wajar yang tampak seperti perhatian seorang kakak di mata siswa lain yang lewat, tetapi memberikan getaran manis yang merayap di dada Aluna.
"Belajar yang bener hari ini. Nanti siang aku ada latihan basket tambahan, mungkin agak sore barangkali bisa pulang bareng," ujar Devan tenang.
"Iya, Kak. Aku juga mau ke perpustakaan dulu nanti bareng Maya."
Baru saja Devan hendak berbalik membawa helmnya menuju loker tim basket, sebuah suara panggilan ramah terdengar dari arah gerbang sekolah.
"Aluna!"
Aluna menoleh. Seorang cowok berbadan tinggi dengan jaket kets berwarna biru tua melangkah lebar mendekati mereka. Cowok itu membawa tas olahraganya di satu bahu, tersenyum lebar hingga menampilkan lesung pipi di kedua wajahnya.
"Rafi?" gumam Aluna, matanya membelalak kaget sekaligus tak menyangka.
Rafi adalah teman sekelas Aluna waktu SMP dulu—sekaligus sosok yang pernah menjadi sahabat dekat tempat Aluna biasa berbagi cerita sebelum Rafi pindah sekolah ke luar kota dua tahun lalu.
"Beneran Aluna!" seru Rafi antusias begitu sampai di depan Aluna. Tanpa ragu, Rafi menepuk pelan bahu Aluna dengan keakraban yang begitu lepas. "Wah, makin tinggi aja kamu, Na! Aku baru pindah lagi ke sini minggu lalu, masuk kelas 11 IPA 1. Nggak nyangka bakal se-sekolah lagi sama kamu!"
Aluna tersenyum canggung, melirik sekilas ke arah Devan yang mendadak diam membisu. "O-oh... iya, Raf. Selamat ya udah balik lagi ke Jakarta. Aku kelas 11 IPS 2."
"Kapan-kapan kita harus ngobrol banyak, Na. Banyak banget cerita pas aku di Bandung yang mau aku curahkan ke kamu," kata Rafi heboh, sama sekali tidak menyadari ketegangan dingin yang mulai mengudara di antara mereka.
Devan berdiri kaku di tempatnya. Postur tubuhnya tegak, pandangan matanya yang semula teduh mendadak meredup keras. Manik mata cokelat gelap Devan mengunci sosok Rafi dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan raut wajah yang sepenuhnya tak tersentuh.
Sensasi aura dingin yang dipancarkan Devan membuat Rafi akhirnya menoleh, menyadari keberadaan kakak kelas berbadan tegap di samping Aluna.
"Eh... halo, Kak," sapa Rafi sopan, sedikit terintimidasi oleh tatapan Devan.
Devan tidak langsung menjawab. Ia sengaja mengulur keheningan selama beberapa detik, membiarkan suasananya terasa canggung sebelum akhirnya bersuara dengan nada rendah dan sangat datar.
"Devan. Kelas 12 IPA 1," Devan memperkenalkan diri singkat. Ia melangkah satu senti lebih dekat ke samping Aluna, menyisipkan presensinya secara tidak langsung sebagai pelindung gadis itu.
"Oh, Kak Devan kapten tim basket ya? Salam kenal, Kak. Saya Rafi, temen lamanya Aluna pas SMP," balas Rafi ramah, mencoba mencairkan suasana.
"Temen lama?" Devan mengulang kata itu dengan intonasi dingin yang terselubung. Pandangannya bergulir pada tangan Rafi yang baru saja lepas dari bahu Aluna. "Bagus kalau gitu. Aluna mau masuk kelas sekarang. Ada ulangan."
Aluna tersentak. "Eh? Iya... Rafi, aku masuk kelas dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi."
"Sip, Na! Nanti jam istirahat aku samperin ke kelasmu ya!" jawab Rafi ceria sebelum berbalik melangkah menuju gedung IPA.
Sepeninggal Rafi, suasana di sudut parkiran itu berubah mencekik. Devan tidak melangkah pergi. Pria itu berdiri menatap lurus ke arah koridor yang dilewati Rafi tadi, jemari tangannya yang menggenggam helm mengeras hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kak Devan..." bisik Aluna cemas. Ia bisa merasakan gelombang cemburu yang teramat pekat menguar dari tubuh Devan.
Devan memutar tubuhnya, menatap Aluna dari atas. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, melainkan sebuah dominasi protektif yang dingin dan menekan.
"Siapa dia?" tanya Devan rendah, suaranya menusuk langsung ke mata Aluna.
"Cuma temen SMP, Kak... dulu kita sekelas," aku Aluna jujur, menyatukan kedua telapak tangannya di depan tubuh demi menutupi rasa gugupnya.
Devan merendahkan badannya sedikit, mendekatkan wajahnya ke telinga Aluna hingga helaan napas hangatnya yang memburu terasa di leher gadis itu.
"Aku nggak suka cara dia megang bahu kamu tadi, Aluna," bisik Devan tajam, penuh ketegasan yang tak menerima bantahan. "Dan aku lebih nggak suka denger dia janjian mau nyamperin kamu pas istirahat."
Aluna menahan napasnya. Jantungnya berdesir hebat—antara takut kalau rahasia mereka terganggu, dan rasa hangat terlarang karena melihat betapa Devan tidak rela membagi perhatian Aluna pada laki-laki lain.
"Aku cuma temenan sama dia, Kak Devan..."
"Aku nggak peduli status kalian dulu," potong Devan tajam, kembali menatap mata Aluna dengan tatapan kepemilikan mutlak. "Inget peraturan kita. Kamu cuma punya aku. Di sekolah atau di mana pun."
Devan menegakkan tubuhnya kembali, mengacak rambut Aluna pelan dengan sentuhan yang lebih tegas dari biasanya, lalu melangkah pergi tanpa menunggu balasan Aluna.
Aluna mematung di parkiran, memegangi dadanya yang berdegup kencang. Ia tahu, kehadiran Rafi dari masa lalunya mungkin akan memicu ombak baru di dalam hubungan rahasianya dengan Devan. Namun melihat Devan menunjukkan rasa cemburunya secara telanjang seperti tadi justru membuktikan satu hal: Devan tidak akan pernah membiarkan siapapun merebut Aluna darinya.