**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.
Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.
Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.
Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**
Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*
Dan itu baru permukaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Pengakuan di Depan Umum
Lima hari setelah Keira meminta waktu, ujian akhir semester akhirnya selesai.
Teman-teman sekelasnya merayakan kebebasan sementara itu di Rhythm KTV. Ruang karaoke penuh cahaya warna-warni, suara musik yang terlalu keras, dan piring camilan yang berpindah tangan tanpa aturan.
Nana menyodorkan mikrofon kepada Keira. "Giliranmu."
"Aku nggak hafal lagunya."
"Kamu sudah mengatakan itu untuk empat lagu."
"Berarti pilih lagu kelima."
Fely dari sisi lain sofa tertawa. "Biarkan saja. Keira sedang menunggu pesan seseorang."
Keira spontan membalik ponselnya. "Siapa yang menunggu?"
"Kalau nggak menunggu, kenapa layar diperiksa tiap tiga puluh detik?"
Keira memasukkan ponsel ke tas. Sejak pengakuan di atap, Reynard sama sekali tidak menanyakan jawabannya. Malam ini ia datang ke acara kelas karena beberapa temannya di Computer Science juga ikut bergabung, tetapi menjaga jarak sesuai keinginan Keira. Ia duduk di ujung ruangan bersama kelompok laki-laki, sesekali tertawa, seolah keberadaan Keira tidak menarik seluruh perhatiannya.
Padahal setiap kali Keira menoleh, pandangan mereka bertemu.
Ia meminum segelas minuman buah untuk menutupi kegugupan. Gelas kedua datang dari Nana. Setelah beberapa teguk, tubuhnya terasa sedikit ringan, tetapi pikirannya tetap jelas.
Jonathan duduk di kursi seberang dan mendorong sepiring kentang goreng ke arahnya. "Kamu belum makan dari tadi."
"Terima kasih."
Keira baru mengambil satu ketika piring itu bergeser lagi. Reynard telah datang dari ujung ruangan dan meletakkan semangkuk mi goreng di meja.
"Makan yang ini dulu, Ci Kei. Lambungmu nggak kuat kalau cuma minum."
Jonathan mengangkat alis. "Kamu hafal juga urusan lambungnya?"
"Aku tinggal di seberang unitnya," jawab Reynard.
"Pantas lengket terus."
Reynard tersenyum tipis. "Pantas aku tahu apa yang dia butuhkan."
Nana menutup mulut untuk menahan tawa. Keira menendang ujung sepatunya dari bawah meja, tetapi Reynard hanya menggeser mangkuk lebih dekat sebelum kembali ke tempat duduk.
"Apa itu?" bisik Fely.
"Adik sahabatku," jawab Keira terlalu cepat.
"Aku nggak bertanya siapa. Aku bertanya ada apa."
Keira memasukkan mi ke mulut agar tidak perlu menjawab. Dari seberang ruangan, Reynard masih memperhatikannya sampai ia benar-benar menelan suapan pertama.
"Kamu harus memberi jawaban kepada orang itu," bisik Nana.
"Orang mana?"
"Yang membuatmu menghela napas sebelas kali sejak kita datang."
Keira hendak membalas ketika musik berhenti. Jonathan berdiri di depan layar sambil memegang mikrofon. Beberapa teman bersiul, mengira ia akan menyanyi solo.
Namun Jonathan tidak melihat layar. Ia menatap Keira.
"Sebelum lanjut lagu berikutnya, aku ingin mengatakan sesuatu."
Keributan di ruangan perlahan mereda. Keira merasakan firasat buruk ketika Jonathan berjalan mendekat.
"Keira, kita saling kenal sejak tahun pertama," katanya. "Aku sudah lama menunggu waktu yang tepat, tapi mungkin waktu yang sempurna nggak pernah ada. Jadi malam ini aku akan jujur."
Nana menahan napas di samping Keira. Fely menurunkan gelas.
"Aku menyukaimu," lanjut Jonathan. "Bukan baru-baru ini. Sejak tahun pertama, kamu selalu jadi orang pertama yang kucari di kelas. Kalau kamu bersedia, aku ingin kita mencoba lebih dari teman."
Ruangan hening selama dua detik, lalu meledak oleh sorakan. Seseorang memukul meja. Teman lain meneriakkan agar Keira menerima. Cahaya merah dari mesin karaoke melintas di wajah Jonathan yang menunggu dengan gugup.
Keira berdiri. Ia tidak pernah membenci Jonathan. Laki-laki itu baik, cerdas, dan selama ini menjaga batas. Justru karena itu ia ingin menolaknya dengan jelas tanpa mempermalukan.
"Jonathan, aku..."
"Dia sudah menyukai orang lain."
Suara Reynard memotong dari ujung ruangan.
Semua kepala menoleh. Ia berdiri dari sofa dan berjalan ke arah Keira. Wajahnya tenang, tetapi rahangnya mengeras. Setiap langkahnya membuat sorakan mereda menjadi bisik-bisik.
Jonathan menurunkan mikrofon. "Aku bertanya kepada Keira."
"Dan dia hendak menolakmu."
"Biarkan dia menjawab sendiri."
Reynard berhenti di sisi Keira. "Ci Kei?"
Panggilan itu terdengar lembut, tetapi tatapannya menyimpan badai. Keira tahu ia seharusnya menegur Reynard karena ikut campur. Namun kalimat yang terucap justru ditujukan kepada Jonathan.
"Maaf," katanya. "Reynard benar. Aku nggak bisa menerima karena memang ada orang lain yang kupikirkan."
Wajah Jonathan kehilangan sedikit warna. Ia mencoba tersenyum dan mengangguk. "Boleh tahu siapa?"
Beberapa teman yang tadi bersorak kini berbisik. Seseorang menyebut nama Reynard cukup keras untuk terdengar. Jonathan melirik tangan laki-laki itu yang nyaris menyentuh punggung Keira.
"Apa orangnya ada di sini?" desaknya, mungkin karena berharap jawaban lain.
Keira membuka mulut. Reynard tidak berkata apa-apa kali ini, tetapi seluruh tubuhnya menegang. Keira bisa merasakan panas dari lengannya meski mereka tidak bersentuhan.
"Aku belum siap membicarakannya di depan semua orang," jawab Keira. "Tapi jawabanku kepadamu tetap sama. Maaf."
Jonathan mengangguk lebih pelan. "Setidaknya aku sudah mencoba."
Keira melihat keberanian yang terluka di wajahnya dan merasa bersalah. Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu yang lebih baik, Reynard sudah menggenggam pergelangan tangannya.
Sebelum Keira menjawab, tangan Reynard menutup pergelangan tangannya. Genggamannya kuat, tetapi tidak menyakitkan.
"Kami perlu bicara," ujarnya.
"Rey, tunggu."
Reynard sudah menariknya melewati meja. Teman-teman membuka jalan dengan ekspresi terkejut. Nana dan Fely bertukar tatapan yang terlalu penuh arti untuk diabaikan.
Keira sempat menoleh kepada Jonathan. "Maaf. Kita bicara nanti."
Pintu ruang karaoke tertutup di belakang mereka. Musik kembali menyala, disusul riuh pertanyaan yang tidak lagi bisa didengar jelas.
Reynard berjalan sampai ujung koridor sebelum melepaskan tangan Keira. Di sudut yang lebih sepi, lampu redup memantulkan warna biru di dinding.
"Apa yang kamu lakukan?" Keira mengusap pergelangan tangannya.
"Mengeluarkanmu dari sana."
"Aku bisa menolak sendiri."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa kamu menjawab untukku? Semua orang sekarang akan berpikir aneh-aneh."
"Biarkan."
"Kita bahkan belum..." Keira menghentikan kalimatnya. "Aku belum memberimu jawaban."
"Itu masalahnya."
Reynard berbalik. Ketenangan yang ia pertahankan selama beberapa hari akhirnya pecah. "Kamu minta waktu dan aku memberikannya. Aku nggak mengganggu, nggak menuntut, bahkan pura-pura nggak melihatmu setiap hari. Lalu malam ini aku harus duduk di sana dan mendengar laki-laki lain mengatakan dia sudah menyukaimu sejak tahun pertama."
"Itu bukan salah Jonathan."
"Aku nggak bilang itu salahnya."
"Wajahmu bilang kamu ingin melempar dia keluar jendela."
"Nggak ada jendela di ruangan itu."
"Reynard!"
"Baik." Ia mengusap wajah kasar-kasar. "Aku cemburu. Aku bertindak bodoh. Puas?"
Keira melipat tangan. "Tidak. Kamu mempermalukan Jonathan dan menyeretku keluar seperti aku nggak punya suara."
"Aku salah karena menarikmu." Reynard menunduk sebentar. "Maaf. Tapi aku nggak menyesal mengatakan kamu menyukai orang lain."
"Bagaimana kalau kamu salah?"
Pertanyaan itu membuat Reynard diam.
Keira menyesal begitu melihat perubahan di matanya, tetapi harga dirinya menahan kata-kata berikutnya.
"Mungkin aku memang belum yakin," lanjutnya. "Mungkin aku sedang mempertimbangkan semuanya."
"Termasuk Jonathan?"
"Kamu nggak berhak menuntut jawaban seperti itu."
"Jadi kamu mempertimbangkannya?"
Suara Reynard merendah. Bukan marah, melainkan terluka. Ia mundur satu langkah, seolah bersiap menerima penolakan yang selama ini ditakutinya.
"Dia seumuran denganmu," katanya. "Teman-temanmu mengenalnya. Vanessa nggak akan terkejut. Keluargamu juga mungkin lebih mudah menerima dia. Semua alasan yang membuatmu ragu kepadaku nggak ada pada dirinya."
Keira menatap laki-laki di depannya. Selama lima hari, ia terus memikirkan perbedaan usia, status mahasiswa, dan pendapat semua orang. Reynard ternyata memikirkan hal yang sama, tetapi dari sisi yang jauh lebih menyakitkan.
"Aku memang takut," ujar Keira lebih pelan. "Aku takut Vanessa menganggapku aneh. Aku takut hubungan kita nggak seimbang. Aku takut suatu hari kamu sadar bahwa kamu mengubah terlalu banyak hal untuk seseorang yang sebenarnya biasa saja."
"Kamu nggak biasa saja bagiku."
"Itu karena kamu melihatku dari jauh terlalu lama."
"Aku tinggal berseberangan denganmu. Aku tahu kamu mendengkur kalau kelelahan. Nggak ada lagi yang kulihat dari jauh."
Keira membelalak. "Aku nggak mendengkur."
"Sedikit."
"Itu fitnah."
Ketegangan retak sesaat. Namun ketika tawa singkat mereka hilang, Reynard kembali menatapnya dengan serius.
"Aku bisa menunggu lebih lama," katanya. "Tapi jangan suruh aku berpura-pura nggak peduli saat seseorang ingin mengambil tempat yang selama bertahun-tahun kuusahakan."
"Mengambil? Aku bukan barang."
"Aku tahu." Reynard mengembuskan napas. "Itu terdengar buruk. Maksudku, aku takut kehilangan kesempatan sebelum kamu benar-benar memberikannya."
Kejujuran itu menghapus sisa kemarahan Keira. Ia teringat catatan makan, kentang goreng yang ditinggalkan di depan pintu, dan tatapan Reynard dalam foto lama.
"Kamu benar-benar bodoh," katanya.
"Aku tahu."
"Aku bahkan belum sempat menolak Jonathan."
"Aku juga tahu."
"Dan orang yang membuatku ragu selama ini bukan Jonathan."
Reynard terdiam.
Keira merasakan wajahnya memanas, tetapi kali ini ia memaksa diri tidak lari.
"Orang yang membuatku bingung, membuatku pulang terlalu larut, dan membuatku memeriksa ponsel tiap tiga puluh detik itu kamu," katanya. "Aku mempertimbangkanmu. Sejak awal, memang kamu. Jadi kamu cemburu pada apa?"
Untuk beberapa detik, Reynard seolah lupa cara bernapas.
"Ulangi," pintanya.
"Tidak."
"Ci Kei."
"Kamu dengar dengan jelas."
Reynard maju. Keira mundur refleks sampai punggungnya menyentuh dinding. Laki-laki itu meletakkan telapak tangan di sisi kepalanya, tidak menyentuh tubuh Keira, tetapi menutup jarak di antara mereka.
"Aku cemburu," bisiknya. "Kamu tahu nggak?"
Napas mereka bertemu. Pandangan Reynard turun ke bibir Keira, lalu kembali ke matanya, menunggu izin yang belum diucapkan.
Ia menunduk perlahan, menyisakan jarak setipis keberanian Keira untuk memilih.