Indonesia
NovelToon NovelToon
Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Namamu Di Mata Yang Salah (Remake Storm)

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Kyushine / Widi Az Zahra

Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.

Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.

Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

“Katanya, cinta yang paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi. Melainkan ketika ia masih ada di hadapanmu, tetapi bukan lagi milikmu.”

--

Hujan turun begitu deras malam itu. Butiran air menghantam kaca jendela rumah sakit tanpa henti, dan menyisakan suara gemuruh yang bercampur dengan langkah-langkah yang terburu-buru para tenaga medis di sepanjang lorong. Bau antiseptik memenuhi udara menusuk hingga ke dada seolah ikut mengingatkan bahwa tidak semua orang yang ke tempat itu akan pulang dengan senyuman.

Alina Maheswari berdiri membeku di depan ruang perawatan intensif. Tangannya dingin, tetapi bukan dingin yang diciptakan akibat cuaca maupun AC yang berada dirumah sakit tersebut, melainkan dingin yang diakibatkan karena adanya rasanya takut yang memenuhi hati serta pikirannya.

Jemari Alina pun gemetar dan napasnya terasa berat seolah seseorang tengah meremas paru-parunya dengan paksa. Ia tidak tahu apa yang tengah terjadi di dalam sana saat ini dan apa yang tengah dilakukan para tenaga medis di dalam sana.

Beberapa meter darinya, tubuh Birendra Adhyaksa masih dipenuhi oleh bercak darah yang bukan miliknya. Kemeja putih yang biasa selalu rapi kini kusut, basah oleh hujan, dan ternoda merah di bagian lengannya.

Sejak menerima telepon yang mengabarkan kecelakaan kakaknya, mereka berdua berlari tanpa sempat berpikir apapun. Alina bahkan masih mengenakan pakaian yang sama ketika mereka makan malam bersama beberapa jam sebelumnya. Dalam perjalanan pun, pikiran Alina terasa sangat kosong.

Malam yang seharusnya dipenuhi oleh tawa, dan menjadi salah satu kenangan terindah harus dihadapkan oleh suatu fakta bahwa hidup mereka akan berubah selamanya, hingga pintu ruang operasi terbuka dan seorang dokter keluar dengan langkah yang pelan seraya melepaskan masker yang dikenakan sebelumnya.

“Keluarga pasien Keira Maheswari?” Mendengar itu membuat Alina langsung berdiri.

“Saya.. saya adiknya, dok.” Alina lekas menghadap sang dokter dan dokter tersebut menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.

“Pasien berhasil kami selamatkan.” Kalimat itu membuat kaki Alina hampir lemas karena lega. Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. “Tapi…” Satu kata itu terasa lebih mengerikan dari pada suara petir yang mengguncang langit. “… suaminya tidak berhasil kami selamatkan.” Terangnya lebih lanjut lagi.

Dunia mendadak menjadi sunyi, Alina bahkan tidak lagi mendengar suara hujan yang masih mengguyur dengan deras diluar sana. Isak tangis ayahnya yang perlahan jatuh terduduk di lantai pun tidak terdengar ditelinganya, karena yang ia rasakan saat ini hanyalah sebuah kekosongan.

Raka Pradana—Kakak iparnya, lelaki yang beberapa hari lalu masih sempat bercanda dengannya, lelaki yang berjanji akan menjaga Keira sampai tua kini telah pergi untuk selamanya. Air mata Alina menetes dan membuat Birendra memeluknya dengan erat, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di bahunya.

“Aku disini,” bisiknya lirih.

Kalimat sederhana itu selalu berhasil membuat Alina tenang, namun mereka tidak tahu bahwa beberapa hari lagi, kalimat itu justru akan menjadi alasan mengapa cinta mereka di uji dengan cara yang paling kejam, karena ketika Keira membuka matanya nanti, ia tidak akan mencari suaminya, ia akan memanggil nama lelaki yang sedang memeluk Alina saat ini.

Sejak detik itu, Alina akan dipaksa merelakan orang yang paling ia cintai demi menyembuhkan orang yang paling ia sayangi. Tidak ada perselingkuhan maupun berhenti mencintai bagi keduanya. Terkadang, takdir tidak membutuhkan orang ketiga untuk menghancurkan sebuah hubungan, ia hanya membutuhkan luka dan memilih orang yang salah untuk dijadikan tempat pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!