Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Glitch Pada Sistem
Hamparan angka dan baris kode hijau yang biasanya memenuhi penglihatanku hilang tanpa bekas, menyisakan pandangan mataku yang sepenuhnya normal.
Bibir Sakti perlahan menjauh dari bibirku. Pria itu menempelkan keningnya di keningku, menarik napas panjang untuk menstabilkan emosinya yang baru saja meledak.
Aku membuka kelopak mataku perlahan. Jantungku masih berdegup dengan ritme yang sangat liar.
Tatapanku langsung tertuju pada kemeja hitam Sakti, lalu beralih menatap dasbor mobil. Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Aku menunggu antarmuka sistem A.U.R.A kembali menyala dan memberikan laporan analisis fisiologis seperti biasa.
Kosong.
Tidak ada teks peringatan. Tidak ada kotak analisis. Tidak ada indikator detak jantung atau persentase emosi yang melayang di udara. Pandanganku benar-benar bersih layaknya penglihatan manusia biasa pada umumnya.
Kepanikan perlahan merayap naik dari ujung kakiku.
Aku menarik tubuhku menjauh dari Sakti, menyandarkan punggungku sepenuhnya ke jok mobil. Tanganku meremas sabuk pengaman dengan sangat kuat.
"Tera?" panggil Sakti pelan. Pria itu menyadari perubahan mendadak pada postur tubuhku.
Sakti menyentuh punggung tanganku. Sentuhannya terasa sangat nyata. Tidak ada lagi baris kode hijau yang menghalangi atau memperingatkanku tentang jarak aman di antara kami.
Aku menoleh menatap wajahnya. Raut kekhawatiran tercetak jelas di wajah keras pria itu.
"Saya tidak apa-apa, Pak Sakti," jawabku cepat. Aku menundukkan kepalaku, menolak menatap matanya terlalu lama.
Aku harus menyembunyikan kepanikanku. Sakti mengira aku merasa canggung akibat ciuman impulsif barusan. Ia sama sekali tidak tahu bahwa aku sedang dilanda ketakutan luar biasa karena kehilangan senjata utamaku.
Sakti menarik tangannya. Ia mengambil kacamata peraknya dari atas dasbor dan memakainya kembali. Pria itu memutar kunci kontak. Mesin sedan mewah itu kembali menderu.
"Kita kembali ke apartemenmu," ucap Sakti mutlak. Pria itu menginjak pedal gas, melajukan mobil meninggalkan jalanan sepi tersebut.
Sepanjang sisa perjalanan, aku terus memusatkan konsentrasiku. Aku memerintahkan sistem di dalam otakku untuk melakukan pemindaian ulang. Aku memanggil nama A.U.R.A berulang kali di dalam kepalaku.
Hasilnya tetap nihil. Sistem itu benar-benar mati total akibat kelebihan beban dopamin.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Cahaya matahari pagi memantul dari dinding kaca gedung Vanguard Corp, menyilaukan mataku saat aku melangkah keluar dari lift di lantai lima puluh lima.
Aku berjalan menuju meja kerjaku dengan langkah pelan. Kakiku terasa sedikit gemetar. Ini adalah hari pertamaku bekerja tanpa bantuan petunjuk melayang dari sistem.
Aku duduk di kursiku dan menyalakan layar monitor.
Biasanya, saat komputer menyala, A.U.R.A akan langsung mengambil alih koneksi jaringan. Sistem itu akan menyorot setiap email penting dengan warna merah menyala dan memberikan draf balasan otomatis di sudut retinaku.
Pagi ini, aku hanya melihat deretan puluhan email di kotak masuk yang terlihat sangat biasa. Huruf-huruf hitam di atas latar putih layar monitor. Tidak ada blok warna. Tidak ada analisis data instan.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Tanganku meraih tetikus dan mulai membuka email pertama.
Aku dipaksa mengandalkan naluri dan kecerdasan murniku sendiri. Mataku membaca baris demi baris laporan keuangan anak perusahaan. Otot mataku harus bekerja ekstra keras untuk menemukan letak kesalahan kalkulasi yang biasanya disajikan A.U.R.A dalam hitungan milidetik.
Luis melangkah mendekati mejaku. Pria berkacamata itu meletakkan sebuah map tebal berwarna biru.
"Selamat pagi, Tera," sapa Luis riang. "Ini daftar pembaruan jadwal rapat direksi minggu ini. Pak Sakti meminta penyesuaian untuk pertemuan dengan tim legal besok siang."
Aku menatap map biru itu. "Baik, Luis. Aku akan menyusun ulang jadwalnya segera."
"Bagus," Luis tersenyum lebar. Pria itu memutar tubuhnya dan kembali ke mejanya sendiri.
Aku membuka map tersebut. Deretan jadwal yang saling tumpang tindih memenuhi lembaran kertas. Biasanya, aku hanya perlu melihat kertas ini sekilas, dan sistem akan langsung menyusun jadwal paling efisien di dalam kepalaku.
Sekarang, aku harus mengambil pena dan buku catatan. Aku menyalin ulang beberapa jadwal penting, mencoret waktu yang bentrok, dan memindahkan jadwal rapat legal secara manual.
Proses ini memakan waktu lima belas menit. Waktu yang terasa sangat lama bagiku, meski bagi asisten normal, itu adalah kecepatan kerja yang luar biasa.
Aku menyadari satu hal penting. Ketajamanku dalam menganalisis data tidak sepenuhnya hilang. Meskipun antarmuka visual A.U.R.A mati, struktur sel sarafku telah beradaptasi dengan kecepatan pemrosesan informasi dari sistem tersebut. Logikaku tetap bekerja dengan sangat tajam.
Aku menyeka keringat dingin di pelipisku. Aku merapikan hasil ketikan jadwal tersebut dan bersiap membawanya ke dalam ruangan Sakti.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Pintu ganda ruang kerja terbuka. Aku melangkah masuk membawa map laporan jadwal dan hasil analisis email pagi.
Sakti duduk di balik meja besarnya. Pria itu tidak sedang melihat layar komputer. Tatapannya langsung terkunci pada sosokku sejak aku melangkah melewati ambang pintu.
Tidak ada lagi kedinginan absolut di matanya. Sorot mata pria itu kini memancarkan kehangatan protektif yang tidak ia tutupi sama sekali. Kejadian di dalam mobil semalam telah menghancurkan dinding pembatas di antara kami.
Aku berjalan mendekati mejanya dan meletakkan map biru tersebut di hadapannya.
"Jadwal pertemuan dengan tim legal sudah saya sesuaikan, Pak," laporanku dengan suara profesional. "Saya memindahkannya ke pukul dua siang agar tidak berbenturan dengan evaluasi divisi pemasaran."
Sakti menatap map itu sekilas, lalu kembali menatap wajahku.
"Bagaimana tidurmu semalam, Tera?" tanya Sakti, mengabaikan sepenuhnya laporan jadwal yang kuberikan.
"Saya tidur dengan sangat nyenyak, Pak Sakti," jawabku mempertahankan postur tegak.
Sakti menyandarkan punggungnya ke kursi. Jemarinya mengetuk permukaan meja dengan ritme pelan. Pria itu mengamati wajahku dengan sangat teliti.
Tanpa A.U.R.A, aku tidak bisa melihat persentase emosinya. Aku tidak tahu apakah ia sedang mengujiku atau sekadar memperhatikan penampilanku. Aku hanya bisa membaca pergerakan matanya menggunakan observasi murni.
"Kau terlihat sedikit tegang pagi ini," komentar Sakti lugas. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apakah ada pihak dari direksi yang mengganggumu sebelum aku datang?"
"Tidak ada, Pak," bantahku cepat. "Semua staf bersikap sangat kooperatif. Saya hanya sedang menyesuaikan diri dengan beberapa tumpukan data baru."
Sakti tidak langsung merespons. Ia membuka map biru yang kuberikan dan mulai membaca susunan jadwal yang kubuat secara manual.
Mata elang pria itu menyapu baris demi baris ketikanku. Ia mencari kesalahan atau celah efisiensi. Aku menahan napas, khawatir ada jadwal bentrok yang terlewat oleh mataku sendiri.
Sakti menutup map itu. Pria itu mengambil pena emasnya dan memberikan tanda tangan persetujuan di sudut kanan atas dokumen.
"Susunan jadwal yang sempurna," puji Sakti. Pria itu mengulurkan map tersebut kembali ke arahku.
Saat aku menerima map itu, jari Sakti sengaja menyentuh jari telunjukku. Sentuhan singkat itu mengirimkan aliran listrik kecil yang membuat jantungku kembali berdetak lebih cepat.
Aku segera menarik tanganku dan mendekap map itu di depan dada.
"Terima kasih, Pak," ucapku menundukkan kepala.
"Kembali ke mejamu," titah Sakti pelan. "Fokus pada penyelesaian laporan audit internal. Aku tidak ingin ada gangguan apa pun hari ini."
Aku memutar tubuhku dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan perasaan sedikit lega. Aku berhasil melewati rintangan pertama tanpa bantuan sistem. Logika dan kecerdasanku sendiri ternyata cukup tangguh untuk mengimbangi standar kerja CEO Vanguard Corp.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Aku baru saja duduk kembali di kursiku selama sepuluh menit. Tanganku baru mulai mengetik draf laporan audit saat suara dering telepon darurat memecah kesunyian koridor.
Telepon di atas meja Luis menyala merah. Pria berkacamata itu segera mengangkat gagangnya. Wajah Luis berubah tegang dalam hitungan detik.
Pintu lift khusus di ujung koridor terbuka dengan kasar.
Khan melangkah keluar dari dalam lift. Postur Kepala Keamanan itu terlihat sangat kaku. Langkah kakinya sangat lebar dan terburu-buru, meninggalkan kesan tenang yang selalu ia pertahankan.
Tangan Khan menggenggam sebuah map merah berlambang peringatan darurat perusahaan.
Luis membanting gagang teleponnya dan berdiri dari kursi. Kedua asisten pria itu saling bertukar pandang dengan wajah sepucat kertas.
Aku segera berdiri dari kursiku. Sesuatu yang sangat buruk baru saja terjadi.
Khan tidak berhenti di meja Luis. Pria bertubuh baja itu melangkah lurus menuju mejaku. Ia melempar map merah tersebut tepat di atas keyboard komputerku. Bunyi hantaman map tebal itu membuat benda-benda di atas mejaku sedikit bergetar.
"Baca itu," perintah Khan dengan nada suara berat yang mendesak. "Tim keamananku kehabisan akal. Kau harus menemukan pola serangannya sebelum terlambat."
Aku segera membuka map merah tersebut. Mataku melebar melihat isinya.
Itu bukan laporan keuangan atau jadwal direksi. Lembaran-lembaran kertas itu berisi cetakan log server utama Vanguard Corp. Ratusan halaman yang dipenuhi oleh baris kode akses masuk, alamat IP acak, dan rekam jejak kerusakan data mentah.
"Apa ini?" tanyaku menatap Khan.
"Indikasi peretasan data skala masif," jawab Khan cepat. Rahang pria itu mengeras. "Seseorang dari luar sedang mencoba menjebol server pertahanan lapis ketiga kita. Jika mereka berhasil menembus lapis keempat, seluruh data rahasia investor Vanguard akan bocor ke publik."
Aku menatap kembali lembaran kode di atas mejaku.
Mataku bergerak liar ke kiri dan ke kanan. Aku berusaha membaca pola alamat IP yang tertulis di sana. Jutaan angka dan huruf berdesakan di atas kertas putih.
Ini adalah situasi krisis yang membutuhkan pemrosesan paralel tingkat tinggi. Situasi di mana A.U.R.A selalu mengambil alih dan memberikan koordinat peretas dalam hitungan menit.
Aku memejamkan mata sesaat. Aku memberikan perintah mutlak di dalam otakku.
Bangunlah. Aku membutuhkanmu sekarang. Nyalakan sistemnya.
Tidak ada respons. Ruang pandanganku tetap kosong.
Kepanikanku meledak. Tanganku mulai gemetar memegang ujung lembaran kertas. Laporan darurat mengenai indikasi peretasan data server Vanguard mendarat di mejaku tepat saat Sistemku belum kembali beroperasi. Aku harus menghadapi perang siber ini hanya dengan kemampuan otak manusianya.
TERA itu ......
T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?