Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 21: Perasaan yang Tumbuh di Antara Daun Musim Gugur

Hari-hari setelah festival terasa semakin hangat dan penuh warna. Musim gugur semakin dalam, dan dedaunan di halaman sekolah berubah menjadi hamparan warna keemasan yang menakjubkan. Setiap kali berjalan melewati pepohonan, daun-daun jatuh perlahan mengikuti tiupan angin, seolah menyambut perubahan yang terjadi di antara kami berempat.

Suatu sore setelah pelajaran selesai, aku berjalan menuju taman sekolah untuk mengambil buku yang tertinggal di bangku kayu. Dari kejauhan, aku melihat dua sosok yang berdiri di bawah pohon maple yang daunnya berwarna merah menyala. Itu Mark dan Elena. Mereka berdiri berhadapan satu sama lain, dan suasana di antara mereka terasa berbeda—tidak seperti teman biasa. Mark tampak gugup, tangannya meremas ujung seragamnya pelan, sementara Elena menunduk dengan wajah yang memerah samar.

Aku berhenti di balik batang pohon besar, tidak berniat menguping, tapi kata-kata Mark yang terdengar pelan membuatku tertegun.

"Elena… selama ini aku pikir hatiku hanya milik satu orang. Tapi semakin lama aku mengenalmu, semakin sering kita bercanda, bekerja sama, dan berbagi cerita… aku sadar ada perasaan lain yang tumbuh. Perasaan yang hangat, tenang, dan membuatku merasa utuh lagi. Aku takut mengakuinya karena takut mengkhianati perasaan lama… tapi aku tidak bisa lagi menyembunyikannya."

Elena mendongak perlahan, matanya berbinar lembut di bawah cahaya matahari sore yang meredup. "Mark… aku juga merasakannya. Aku tahu kau butuh waktu, dan aku tidak berani berharap terlalu banyak. Tapi setiap kali kau tersenyum padaku, setiap kali kau mendengarku bercerita… hatiku berdebar. Aku tidak mau menjadi pengganti, tapi kalau… kalau ada tempat di hatimu untukku… aku mau mencobanya bersama-sama."

Mark terdiam sejenak, lalu perlahan mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Elena dengan lembut. "Kau bukan pengganti, Elena. Kau adalah awal yang baru. Dan aku… aku ingin mencintaimu dengan caraku sendiri. Pelan-pelan, asal bersamamu."

Elena tersenyum bahagia, dan air mata kebahagiaan menetes di pipinya saat ia meletakkan tangannya di atas tangan Mark. Di bawah pohon itu, di antara daun-daun merah yang jatuh, mereka berdua saling memahami tanpa perlu banyak kata. Aku tersenyum haru melihat itu dari kejauhan, lalu berjalan perlahan pergi tanpa mengganggu momen berharga mereka. Ternyata takdir memang sudah menyiapkan jalan terbaik untuk semua orang—bahagia satu sama lain, tanpa ada yang terluka.

Sore itu juga, saat aku berjalan pulang dengan hati yang ringan, aku melihat Ethan berdiri di depan gerbang sekolah sambil menungguku. Begitu melihatku, ia tersenyum dan melambaikan tangan. Saat aku sampai di hadapannya, ia menyadari wajahku yang penuh kebahagiaan.

"Kau terlihat sangat bahagia sore ini," ucapnya lembut, merapikan helai rambutku yang tertiup angin. "Ada kabar baik?"

"Ya," jawabku antusias. "Mark dan Elena… mereka saling menyukai satu sama lain, Ethan. Akhirnya mereka menemukan bahagia mereka juga."

Ethan tersenyum tulus, matanya penuh kegembiraan mendengar kabar itu. "Benarkah? Itu kabar terbaik yang kudengar hari ini. Aku senang untuk mereka. Persahabatan kita tidak akan pernah retak, justru semakin kuat karena kita semua bahagia."

Kami berjalan berdampingan menuju rumahku, langkah kaki kami serentak di atas daun-daun kering yang berderit pelan. Tangan kami saling bergandengan, hangat dan penuh keyakinan. Di sepanjang jalan, kami bercerita tentang banyak hal—masa lalu, masa kini, dan rencana-rencana kecil untuk masa depan. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi kegelisahan. Yang ada hanyalah keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, kami akan menghadapinya bersama.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!