Indonesia
NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18. RAPAT DIREKSI

Bab 18

Kini, untuk pertama kalinya sejak rapat dimulai, Hagia meletakkan tabletnya di atas meja lalu mengangkat pandangan ke arah seluruh jajaran direksi.

"Tuan Danu."

Suasana rapat mendadak berubah hening. Semua orang menunggu penjelasan wanita yang sejak awal hanya duduk sebagai pendamping CEO itu.

Danu tidak segera mengalihkan pandangannya. Ia memang sedang menunggu momen itu.

Sejak awal rapat, Hagia hanya duduk mendampingi Kalandra tanpa banyak berbicara. Namun, Danu mengetahui betul bahwa rancangan tersebut merupakan hasil pekerjaan wanita itu. Karena itulah ia sengaja mengajukan pertanyaan yang tidak tercantum dalam materi presentasi.

Jika Hagia tidak mampu menjawab, kepercayaan Kalandra terhadap asistennya akan dipertanyakan. Sebaliknya, jika Hagia mampu menjawab terlalu baik, semua orang akan mulai bertanya-tanya bagaimana seorang pegawai baru memiliki kemampuan sedemikian jauh.

Bagaimanapun juga, Danu merasa dirinya tetap berada di posisi yang menguntungkan.

Hagia menarik napas pelan. "Pertanyaan yang sangat bagus, Pak Danu."

Nada suaranya tenang. Tidak terlalu keras, tetapi cukup terdengar jelas ke seluruh ruangan.

"Sejak awal, rancangan ini memang tidak dibuat sebagai desain yang kaku."

Ia menyentuh layar tabletnya sekali. Denah tiga dimensi segera muncul di layar besar.

"Beban struktur utama tetap menggunakan grid yang sudah ada sehingga perubahan fungsi ruang masih memungkinkan dilakukan pada tahap pelaksanaan."

Beberapa direksi mulai memperhatikan layar dengan lebih saksama. Hagia melanjutkan penjelasannya. 

"Misalnya, apabila nantinya pihak pemasaran menginginkan perluasan area komersial atau perubahan komposisi tenant, penyesuaian dapat dilakukan tanpa mengubah struktur utama bangunan."

Ia berhenti sejenak.

"Artinya, biaya perubahan tetap dapat dikendalikan."

Direktur keuangan yang sejak tadi hanya menyimak mulai menganggukkan kepala.

"Itu berarti risiko pembengkakan anggaran juga lebih kecil."

"Betul, Pak."

Jawaban Hagia singkat. Ia tidak berusaha memperpanjang penjelasan yang sebenarnya sudah dipahami lawan bicaranya.

Danu kembali membuka map di depannya.

"Lalu bagaimana kalau nanti investor meminta perubahan fasad?"

Hagia tidak langsung menjawab. Ia justru memandang gambar bangunan beberapa detik sebelum kembali mengangkat kepala.

"Kalau perubahan hanya terjadi pada fasad, struktur utama tidak perlu diubah."

Ia menggeser gambar berikutnya.

"Panel luar memang dirancang modular."

Ruangan mulai sunyi. Beberapa orang yang sebelumnya hanya melihat presentasi sebagai proyek renovasi biasa kini mulai memahami bahwa setiap keputusan dalam rancangan tersebut telah dipikirkan jauh ke depan.

"Itu sebabnya," lanjut Hagia, "kami memilih sistem tersebut meskipun biaya awal sedikit lebih tinggi."

"Tetapi keuntungan jangka panjangnya lebih besar," sambung direktur keuangan.

Hagia mengangguk. "Benar, Pak."

Tidak ada sedikit pun kesan bahwa ia sedang berusaha menunjukkan kepintarannya. Setiap jawaban keluar seperlunya. Tepat. Ringkas. Dan langsung mengenai inti persoalan.

Kalandra hanya duduk memperhatikan dari samping. Tanpa sadar, sudut bibirnya nyaris membentuk senyum tipis. Inilah alasan ia bersedia membiarkan Hagia berbicara. Bukan untuk menggantikannya. Melainkan karena memang hanya Hagia yang memahami setiap detail dari rancangan itu.

Beberapa pertanyaan lain kembali bermunculan. Seluruhnya dijawab secara bergantian oleh Kalandra dan Hagia tanpa saling memotong. Ketika pertanyaan menyangkut investasi, strategi bisnis, dan keputusan perusahaan, Kalandra mengambil alih.

Namun, saat pembahasan mulai memasuki aspek teknis desain, Hagia menjawab seperlunya sebelum kembali diam. Pergantian itu berlangsung begitu alami hingga hampir tidak ada yang menyadarinya. Justru di situlah kekuatan mereka terlihat. Seolah keduanya telah bekerja bersama jauh lebih lama daripada kenyataannya.

Vanessa yang duduk tidak jauh dari posisi mereka diam-diam memperhatikan. Kemarin ia masih mengira perhatian Kalandra kepada Hagia hanya karena statusnya sebagai asisten pribadi. Namun, pagi itu ia melihat sesuatu yang berbeda. Sebuah kepercayaan.

Kalandra tidak pernah menyela jawaban Hagia. Tidak pula mencoba mengambil seluruh perhatian rapat. Sebaliknya, ia membiarkan wanita itu berbicara ketika memang diperlukan. Sementara Hagia juga tidak pernah berusaha menonjolkan diri. Ia selalu mengembalikan jalannya rapat kepada Kalandra begitu penjelasannya selesai. Secara logika, hubungan kerja seperti itu tidak mungkin dibangun hanya dalam hitungan hari.

Di ujung meja, Danu perlahan menutup mapnya. Ekspresinya tetap tenang. Namun, di balik wajah tanpa perubahan itu, ia sedang menyadari satu hal. 

Tidak ada lagi pertanyaan yang langsung dilontarkan setelah Danu menutup map di hadapannya. Beberapa anggota direksi justru mulai membuka kembali dokumen presentasi masing-masing. Mereka mencocokkan penjelasan Hagia dengan gambar-gambar yang terpampang di layar besar. Semakin lama mereka membaca, semakin jelas bahwa setiap keputusan desain memang saling berkaitan. Tidak ada bagian yang dibuat sekadar untuk memperindah tampilan bangunan.

Direktur operasional akhirnya mengangkat tangan.

"Pak Kalandra."

"Silakan."

"Saya ingin memastikan satu hal." Pandangannya bergantian mengarah kepada Kalandra dan Hagia. "Kalau rancangan ini disetujui hari ini, berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai proyek benar-benar siap dikerjakan?"

Kalandra membuka map di depannya.

"Persiapan administrasi sekitar dua minggu. Setelah itu proses tender ulang untuk beberapa pekerjaan penunjang." Ia berhenti sejenak.

"Kalau seluruh proses berjalan sesuai jadwal, pekerjaan fisik bisa dimulai bulan depan."

Direktur operasional mengangguk pelan.

"Berarti target pembukaan kembali Arshaka Mall tetap sesuai rencana."

"Itu target kita."

Beberapa orang kembali mencatat.Kini perhatian mereka tidak lagi tertuju pada siapa yang menyusun rancangan tersebut, melainkan pada peluang proyek itu sendiri. Danu memperhatikan perubahan suasana rapat tanpa memperlihatkan reaksi apa pun. Ia tahu, jika terus mengajukan pertanyaan teknis, hasilnya hanya akan semakin menguntungkan Hagia. Setiap jawaban yang diberikan perempuan itu justru semakin memperkuat posisi Kalandra. Karena itu, ia memilih diam. Bukan menyerah. Hanya menunggu kesempatan berikutnya.

Di sisi lain meja, Hagia diam-diam menarik napas lega. Sejak beberapa menit terakhir, ia ikut merasakan tekanan yang memenuhi ruang rapat. Namun, alih-alih gugup, Hagia justru menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, tanpa pernah terdengar ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih pintar daripada siapa pun. Sikap itu justru membuat beberapa direksi semakin menghargainya. 

Direktur keuangan menutup mapnya lebih dulu. "Saya rasa seluruh pertanyaan saya sudah terjawab."

"Saya juga," sahut direktur operasional.

Seorang direktur lain ikut mengangguk.

"Dari sisi teknis maupun investasi, konsep ini jauh lebih matang dibanding tiga rancangan sebelumnya."

Suasana ruang rapat perlahan berubah. Jika pada awal pertemuan sebagian besar masih datang dengan keraguan, kini pembicaraan mulai beralih kepada langkah-langkah pelaksanaan proyek. Kalandra menangkap perubahan itu. Tanpa banyak bicara, ia menekan tombol kecil pada mikrofon di depannya.

"Kalau tidak ada pertanyaan tambahan, saya akan meminta keputusan."

Seluruh ruangan kembali tenang. Satu per satu tangan para direksi mulai terangkat sebagai tanda persetujuan. Direktur operasional. Direktur keuangan. Direktur pemasaran. Disusul direktur-divisi lain. Hanya Danu yang masih belum bergerak. Beberapa pasang mata sempat melirik ke arahnya. Pria itu tersenyum tipis sebelum akhirnya mengangkat tangannya perlahan.

"Saya setuju."

Keputusan itu langsung dicatat oleh sekretaris rapat.

"Seluruh peserta rapat menyetujui rancangan renovasi Arshaka Mall."

Kalimat tersebut menjadi penutup yang disambut anggukan hampir seluruh peserta. Hagia mengembuskan napas pelan tanpa disadari. Beban yang sejak semalam memenuhi pikirannya akhirnya sedikit terangkat. Ia menoleh sekilas ke arah Kalandra. Pria itu tetap mempertahankan ekspresi datarnya, seolah hasil tersebut memang sudah diperkirakan sejak awal. Namun, ketika semua orang mulai merapikan dokumen masing-masing, jemarinya bergerak pelan menutup map presentasi milik Hagia yang masih terbuka. Gerakan sederhana itu nyaris tidak diperhatikan siapa pun.

"Kamu sudah cukup."

Kalimat itu diucapkan sangat pelan. Hanya Hagia yang mendengarnya. Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruang rapat, ia benar-benar merasa bisa mengembuskan napas lega. 

Namun, di sudut ruangan yang lain, Danu masih duduk di tempatnya. Tatapannya sempat berhenti beberapa detik pada Hagia sebelum akhirnya beralih kepada Kalandra. Hari ini ia memang kalah langkah. Tetapi satu hal berhasil ia pastikan. Perempuan itu lebih dari sekadar asisten pribadi.

Next--->

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!