Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Le Nom du Traître
Aku menatap Henri.
Lalu Élodie.
Lalu kembali kepada Henri.
"Ulangi."
Henri menghela napas.
"Gabriel Delacroix."
Nama itu kembali menghantam kepalaku.
Gabriel.
Nama yang baru beberapa menit lalu diberikan Élodie sebagai nama samaran ayahku.
Sekarang Henri mengatakan...
Dialah orang yang membunuh ibuku.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena semuanya terlalu gila.
"Jadi..."
Aku menunjuk Élodie.
"Menurut dia, ayahku masih hidup."
Lalu menunjuk Henri.
"Menurut kau, ayahku membunuh ibuku."
Aku menatap keduanya.
"Bagus."
Aku mengangkat kedua tangan.
"Bagus sekali."
"Ini keluarga paling kacau yang pernah aku punya."
Léo mengangkat tangan.
"Aku setuju."
Aku menatapnya.
"Kenapa kau ikut setuju?"
"Karena aku juga bingung."
── Maël kepada kalian ──
Aku punya teori.
Kalau suatu hari kalian ingin mengetahui kebenaran tentang keluarga kalian...
Jangan tanya terlalu banyak orang.
Karena setiap orang akan memberikan versi berbeda.
Dan akhirnya...
Kalian malah butuh konseling.
── Kembali ke cerita ──
Élodie melangkah maju.
"Henri berbohong."
Henri menatapnya tajam.
"Jaga ucapanmu."
"Aku tahu apa yang terjadi."
"Kau masih terlalu muda."
"Aku ada di sana!"
Suara Élodie meninggi.
"Aku melihat semuanya!"
Ruangan langsung sunyi.
Aku menatapnya.
"Kau melihat apa?"
Élodie menggigit bibir.
Kemudian berkata,
"Malam ibumu meninggal."
Dadaku langsung sesak.
"Jelaskan."
Élodie memejamkan mata.
"Rumah itu terbakar."
"Aku dibawa keluar oleh Adrien."
"Dia menyuruhku berlari."
"Lalu?"
"Aku melihat ibumu."
"Dia masih hidup."
Aku menahan napas.
"Berapa lama?"
"Beberapa menit."
"Dan ayahku?"
"Dia kembali ke dalam."
"Untuk menyelamatkannya?"
Élodie mengangguk.
Aku menatap Henri.
"Jadi?"
Henri diam.
"Kenapa kau bilang Gabriel membunuhnya?"
Henri akhirnya menjawab.
"Karena orang yang masuk ke rumah itu..."
"...menggunakan nama Gabriel."
Aku membeku.
"Orang itu bukan Adrien?"
"Tidak."
"Siapa?"
Henri menatapku.
"Adiknya."
Aku mengernyit.
"Adrien punya saudara?"
Henri mengangguk.
"Seorang saudara laki-laki."
"Namanya Gabriel Delacroix."
Aku terdiam.
Jadi...
Gabriel bukan nama samaran ayahku.
Gabriel adalah...
pamanku.
Aku mundur beberapa langkah.
Semua potongan mulai tersusun.
Adrien.
Gabriel.
Ibuku.
Orphée.
Lucien.
Henri.
Semuanya terhubung.
Tapi masih ada satu pertanyaan.
"Kalau Gabriel membunuh ibuku..."
"...kenapa Élodie bilang ayahku menggunakan nama Gabriel?"
Élodie menatapku.
"Aku tidak pernah bilang dia menggunakan nama Gabriel."
Aku langsung terdiam.
"Kau tadi bilang..."
"Aku bilang ayahmu menggunakan nama lain."
"Namanya..."
"Gabriel."
Aku menggeleng.
"Tidak."
Élodie menatapku.
"Namanya bukan Gabriel."
Aku merasa kepala mulai pusing.
"Lalu kenapa kau bilang begitu?"
Ia mengambil foto lama dari sakunya.
Foto Adrien.
Di bagian belakang foto terdapat tulisan.
GABRIEL.
Aku membaliknya.
"Ini tulisan ayahku?"
Élodie mengangguk.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena Gabriel..."
"...adalah nama yang digunakan Adrien untuk menyembunyikan identitasnya."
Aku menutup mata.
Jadi ada dua orang.
Dua bersaudara.
Dua nama yang sama-sama digunakan sebagai identitas rahasia.
Sial.
Aku mulai memahami kenapa semua orang bisa salah mengira.
Henri duduk.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari biasanya.
"Ada sesuatu yang belum kau ketahui."
Aku menatapnya.
"Apa lagi?"
"Adrien dan Gabriel..."
"...bukan sekadar saudara."
"Mereka kembar."
Aku membeku.
Léo langsung berbisik,
"Oh, tidak."
Aku menoleh.
"Kenapa?"
"Kalau mereka kembar..."
"...berarti masalahnya makin rumit."
Aku mengangguk.
"Terima kasih atas analisis mendalamnya."
"Sama-sama."
Henri melanjutkan.
"Mereka membangun Orphée bersama."
"Adrien ingin menyelamatkan anak-anak."
"Gabriel..."
"...ingin mengendalikan jaringan itu."
"Kenapa?"
"Kekuasaan."
Aku tertawa hambar.
"Tentu saja."
Henri mengangguk.
"Ketika mereka berselisih..."
"...Orphée terpecah menjadi dua."
"Kelompok Adrien."
"Dan kelompok Gabriel."
"Lucien berada di tengah."
Aku mengerutkan dahi.
"Lucien bekerja untuk siapa?"
Henri diam cukup lama.
"Aku tidak tahu."
Aku menatapnya.
"Kau pasti tahu."
"Aku tidak."
"Henri."
"Aku benar-benar tidak tahu."
Untuk pertama kalinya...
Aku percaya padanya.
Bukan karena kata-katanya.
Tapi karena matanya.
Ia benar-benar terlihat takut.
Tiba-tiba Élodie mendekati jendela.
Ia membuka tirai sedikit.
Wajahnya langsung berubah.
"Kita harus pergi."
Aku menoleh.
"Kenapa?"
"Mobil."
"Berapa?"
"Tiga."
Aku berjalan mendekat.
Dari celah tirai...
Aku melihat tiga mobil hitam berhenti di ujung jalan.
Pintu-pintu terbuka.
Orang-orang mulai turun.
Aku mengenali pin di kerah mereka.
Rubah hitam.
Aku menghela napas.
"Mereka lagi."
Léo menatapku.
"Kenapa hidupmu tidak pernah normal?"
Aku tersenyum tipis.
"Karena aku menarik orang-orang bermasalah."
Henri berdiri.
"Jangan lewat pintu depan."
Élodie menunjuk lantai.
"Ada jalan bawah tanah."
Aku langsung menoleh.
"Ke mana?"
"Stasiun tua."
"Seberapa jauh?"
"Sepuluh menit."
Aku mengambil jaketku.
"Kalau begitu..."
"...lari."
Kami turun ke ruang bawah rumah.
Élodie membuka papan lantai.
Di bawahnya terdapat tangga batu.
Aku melihat ke bawah.
Gelap.
Sangat gelap.
Léo menelan ludah.
"Aku mulai rindu Paris."
Aku menatapnya.
"Kita masih di Paris."
"Maksudku Paris yang punya lampu."
Aku tertawa.
"Bienvenue dans ma vie."
Kami mulai turun.
Satu per satu.
Henri paling belakang.
Aku paling depan.
Élodie berjalan di sampingku.
"Maël."
"Hm?"
"Kalau kita berhasil keluar..."
"...aku harus memberitahumu sesuatu."
"Apa?"
"Rahasia tentang ibumu."
Aku menoleh.
"Rahasia apa?"
Élodie menggeleng.
"Nanti."
Aku mendengus.
"Kalian semua senang sekali bilang 'nanti'."
Ia tersenyum.
"Karena kalau aku memberitahumu sekarang..."
"...kau mungkin tidak akan percaya."
Kami terus berjalan.
Namun baru beberapa meter...
Suara tembakan terdengar dari atas.
BANG!
Semua langsung berhenti.
Debu jatuh dari langit-langit.
Henri berteriak,
"CEPAT!"
Kami berlari.
Lorong itu semakin sempit.
Suara pengejar mulai terdengar.
"Turun!"
"Jangan biarkan mereka lolos!"
Aku menggenggam tangan Léo.
"Jangan tertinggal!"
"Aku tidak akan!"
Kami terus berlari.
Sampai akhirnya...
Cahaya muncul di depan.
Kami keluar melalui pintu besi.
Dan tiba di sebuah stasiun bawah tanah tua yang sudah tidak digunakan.
Rel tua membentang dalam kegelapan.
Aku menatap ke kiri.
Kemudian kanan.
"Ada dua jalur."
Élodie menunjuk kanan.
"Yang kanan menuju jalan keluar."
Henri menunjuk kiri.
"Yang kiri menuju pusat kota."
Aku menatap keduanya.
Lalu...
Terdengar suara langkah dari belakang.
Mereka sudah dekat.
Aku harus memilih.
Kanan.
Atau kiri.
Aku menatap Léo.
Ia menatapku balik.
"Maël?"
Aku menarik napas.
Kemudian tersenyum.
"Kita ambil kiri."
Élodie terkejut.
"Itu jalan buntu!"
"Aku tahu."
"Kenapa?"
Aku menunjuk rel tua di depan.
Di sana terdapat sebuah kereta kecil.
Tua.
Berkarat.
Tapi masih memiliki mesin.
Aku tersenyum lebar.
"Karena..."
"...kita tidak selalu harus berjalan."
Aku membuka pintu kereta.
"Kadang-kadang..."
"...kita harus mencuri kendaraan."
Léo langsung tersenyum.
"Nah."
"Ini Maël yang kukenal."
Mesin tua itu menyala.
BRRROOOM...
Dan saat para pengejar muncul di ujung lorong...
Kereta kecil itu melaju ke dalam kegelapan.
Membawa kami menuju bagian Paris yang bahkan tidak diketahui kebanyakan orang.
Namun aku tidak tahu...
Di ujung terowongan itu...
Seseorang sudah menunggu.
Seseorang yang memegang sebuah foto lama.
Foto ayahku.
Dan di belakang foto itu tertulis:
"Jika Maël datang, jangan biarkan dia tahu siapa sebenarnya ibunya."