"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."
"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."
Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.
Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.
Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.
Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.
Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.
Namun Diandra sudah terlanjur terluka.
Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Rak Buku
“Lagi ngapain kalian?”
Suara itu membuat Diandra seketika terdiam. Ia menoleh dan mendapati Bastian berdiri di tangga, menatapnya bersama Sean dengan sorot mata penuh kecurigaan.
Sean yang menyadari situasi langsung bergerak cepat. Ia mengambil berkas dari tangan Diandra, kemudian menyelipkannya ke bagian belakang celananya dan menutupinya dengan jaket.
Aman.Setidaknya untuk sementara.
Sean menarik napas lega sebelum memasang senyum santainya.
“Halo, Bang Bastian,” sapanya sambil mengangkat kedua tangan.
Bastian turun beberapa anak tangga. Tatapannya tidak lepas dari Sean.
“Kamu ngapain di sini?”
“Ya nemenin istri kamu. Memangnya boleh?” Sean menjawab enteng. “Kamu sendiri sibuk terus sama Serly. Kasihan Diandra kalau ditinggal sendirian.”
Wajah Bastian seketika mengeras.
“Jaga ucapanmu, Sean. Jangan sampai aku kehilangan kesabaran.”
Sean justru terkekeh kecil.
“Aku cuma mengatakan kenyataan.”
“Diandra masih istriku. Jadi jangan bertindak seolah-olah kamu punya hak atas dia.”
“Lucu juga dengarnya.” Sean menggeleng pelan. “Istri, tapi diperlakukan seperti orang asing. Punya suami, tapi berkali-kali harus menghadapi semuanya sendirian.”
“Sean!”
“Sudah, Mas.”
Diandra segera berdiri di antara mereka. Ia tahu, jika dibiarkan, pertengkaran itu bisa berubah menjadi perkelahian.
Bastian menatap istrinya dengan kecewa.
“Kamu membela dia?”
“Aku hanya menghentikan kalian sebelum semuanya semakin jauh.”
“Dia jelas-jelas melewati batas, tapi kamu malah membelanya.”
Diandra menarik napas panjang.
“Kalau begitu, coba kamu tanyakan hal yang sama kepada dirimu sendiri.”
“Apa maksudmu?”
“Selama ini, setiap aku berselisih dengan Serly, siapa yang selalu kamu bela?”
Bastian langsung terdiam.
Ia tahu jawabannya.
Setiap kali Diandra dan Serly berselisih, Bastian memang hampir selalu berdiri di pihak Serly. Alasannya selalu sama—Serly dianggap sedang lemah, terluka, atau membutuhkan perlindungan.
Namun, tanpa disadarinya, setiap pembelaan itu justru membuat Diandra merasa semakin sendirian.
“Pernahkah kamu benar-benar membelaku, Mas?”
“Tentu pernah.”
Bastian berusaha mempertahankan dirinya.
“Baru-baru ini aku bahkan meminta Om Abian untuk meminta maaf kepadamu. Aku juga membelamu di depan keluarganya. Apa itu masih belum cukup?”
Diandra tersenyum tipis, tetapi tidak ada kebahagiaan di sana.
“Baru sekali kamu membelaku, lalu kamu menjadikannya alasan untuk membungkam semua luka yang selama ini aku rasakan?”
Bastian terdiam.
“Melindungi istri bukan sesuatu yang seharusnya kamu lakukan hanya ketika keadaan sudah buruk, Mas. Itu seharusnya menjadi sikapmu sejak awal.”
Diandra menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.
“Selama ini siapa yang menjaga harga diriku? Aku sendiri.”
Bastian mengepalkan tangannya.
“Kalau kamu memang ingin melindungiku, kamu seharusnya tidak membiarkan Serly dan keluarganya datang ke rumah ini lalu bertindak seolah-olah mereka masih memiliki tempat yang sama seperti dulu.”
“Aku juga tidak pernah meminta mereka tinggal di sini.”
“Lalu kenapa mereka masih ada?”
Bastian terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Kamu tahu sendiri alasannya. Azzura menangis dan memohon agar mereka tetap tinggal.”
Diandra menggeleng.
“Kalau sejak awal kamu memang tidak menginginkan mereka di rumah ini, seharusnya kamu mengatakannya dengan tegas.”
Bastian menatap Diandra.
“Kalau begitu, katakan sekarang. Kalau kamu benar-benar tidak ingin mereka berada di sini, aku akan meminta mereka pergi.”
Diandra menatap suaminya lama.
Untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah Bastian benar-benar sedang berusaha mempertahankan pernikahan mereka—atau hanya takut kehilangan sesuatu yang selama ini ia anggap akan selalu menunggunya.
“Sampai kapan aku harus menjelaskan hal yang sama, Mas?”
Suara Diandra bergetar menahan emosi yang sejak tadi memenuhi dadanya.
“Sejak awal Serly datang ke rumah ini, aku sudah bilang kalau aku tidak nyaman dengannya. Aku juga sudah berkali-kali mengatakan kalau dia berbohong dan sengaja ingin merusak rumah tangga kita.”
Diandra menatap Bastian dengan mata berkaca-kaca.
“Aku juga pernah bilang kalau Serly dan Aretha sering merendahkan aku. Tapi apa yang kamu lakukan?”
Ia tertawa hambar.
“Kamu justru berdiri di pihak mereka.”
Bastian terdiam.
“Aku capek, Mas. Capek harus meminta suamiku sendiri untuk membelaku. Capek harus terus-menerus menjelaskan bahwa aku juga punya harga diri.”
Diandra menarik napas dalam-dalam, tetapi air matanya akhirnya jatuh.
“Yang paling melelahkan adalah memperjuangkan sesuatu yang sejak awal mungkin memang tidak pernah menjadi milikku.”
“Apa maksudmu?”
“Hati kamu.”
Kalimat itu membuat Bastian terpaku.
Diandra memejamkan mata sambil memijat pelipisnya. Kepalanya terasa berat, seolah semua permasalahan yang selama ini ia tahan akhirnya menumpuk menjadi satu.
Dulu ia masih bisa memaklumi.
Dulu ia masih bisa meyakinkan dirinya bahwa Bastian hanya sedang bingung.
Namun sekarang, Diandra sudah tidak memiliki tenaga untuk terus memahami seseorang yang tidak pernah benar-benar berusaha memahami dirinya.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Diandra berbalik dan berlari menuruni tangga.
Bastian hanya mampu menatap kepergiannya.
Sean yang sejak tadi menyaksikan semuanya akhirnya mengembuskan napas panjang.
“Gila, Bang…”
Ia menepuk bahu Bastian pelan.
“Cuma dengar Diandra ngomong seperti itu saja hati gue ikut sakit. Gue bahkan nggak bisa bayangin kalau gue yang ada di posisi dia.”
Bastian tetap diam.
“Kalau boleh gue ngomong jujur,” lanjut Sean, “lebih baik lo berhenti menahan Diandra. Kalau memang selama ini lo nggak bisa memberikan kebahagiaan yang dia cari, lepaskan dia.”
Bastian menoleh tajam.
“Biarkan dia menemukan hidup yang lebih tenang. Lo masih bisa bahagia dengan orang lain. Dengan Serly, mungkin.”
Rahang Bastian mengeras. Kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Jangan pernah suruh aku melepaskan Diandra.”
Sean menatapnya serius.
“Kenapa?”
Bastian menjawab dengan suara rendah dan penuh keyakinan.
“Karena sampai kapan pun aku tidak akan menyerah pada istriku.”
Di taman belakang, Diandra berdiri di tepi kolam renang.
Kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya kosong menatap permukaan air yang tenang.
Namun ketenangan taman itu sama sekali tidak mampu meredakan kekacauan dalam pikirannya.
Semuanya terasa rumit.
Pernikahannya, Bastian, Serly, keluarganya, bahkan dirinya sendiri.
“Ck, ck, ck…”
Sebuah suara terdengar dari belakang.
“Kasihan sekali. Sendirian di sini seperti orang yang tidak punya siapa-siapa.”
Diandra memejamkan mata sejenak.
Ia bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa pemilik suara itu.
Serly.
Perempuan yang selama ini menjadi sumber luka terbesar dalam rumah tangganya.
Diandra memilih diam.
Ia tidak ingin memberikan kepuasan kepada Serly dengan menunjukkan bahwa kata-katanya berhasil menyakitinya.
Namun Serly justru berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Kenapa diam?” tanyanya mengejek.
Serly tersenyum sinis.
“Pasti sedang mengadu kepada Tuhan, ya? Bertanya kenapa hidupmu begitu menyedihkan.”
Diandra masih diam.
Serly mengitari tubuhnya perlahan, seolah sedang menikmati setiap detik penderitaan perempuan di hadapannya.
“Sayang sekali, Diandra.”
Ia berhenti tepat di depan Diandra.
“Sepertinya semakin lama, semakin jelas siapa yang sebenarnya akan menang dalam permainan ini.”
Diandra akhirnya mengangkat wajah.
Tatapannya dingin.
Untuk pertama kalinya, Serly melihat sesuatu yang berbeda di mata Diandra.
Bukan ketakutan.
Melainkan tekad yang membuat senyum Serly perlahan memudar.
“Kalau kamu benar-benar ingin hidup bahagia, sebenarnya caranya mudah.”
Serly berdiri di samping Diandra sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Kamu hanya perlu meninggalkan Bastian. Setelah itu, hidupmu pasti jauh lebih tenang.”
Sejak tadi Serly terus melontarkan berbagai perkataan untuk menjatuhkan mental Diandra. Namun, perempuan itu sama sekali tidak memberikan reaksi.
Diandra hanya berdiri tenang di tepi kolam, menatap permukaan air yang bergerak perlahan tertiup angin.
Sikap tenangnya justru membuat Serly semakin kesal.
Ia berharap Diandra marah. Ia bahkan berharap Diandra kehilangan kendali dan menyerangnya.
Dengan begitu, Serly bisa berpura-pura menjadi korban di hadapan Bastian.
“Kenapa kamu diam saja?”
Serly mendengus.
“Takut? Atau memang nggak punya keberanian untuk melawanku?”
Diandra tetap tidak menjawab.
“Dasar menyebalkan!”
Serly akhirnya kehilangan kesabaran. Ia mengangkat tangannya, berniat memberikan tamparan kepada Diandra.
Namun, sebelum tangannya sempat menyentuh wajah Diandra, kakinya tiba-tiba kehilangan pijakan.
“Ah!”
Tubuh Serly terhuyung dan jatuh ke tanah.
“Sial!”
Ia segera berusaha bangkit sambil menahan rasa kesal dan malu.
Diandra akhirnya menoleh.
Tatapannya tetap tenang, tanpa sedikit pun rasa terkejut.
“Kamu lihat sendiri, kan?”
Serly menatapnya tajam.
“Tanpa aku menyentuhmu sedikit pun, kamu sudah jatuh sendiri.”
“Apa maksudmu?”
Diandra tidak menjawab dengan emosi. Ia hanya menatap Serly dengan wajah datar.
“Setiap perbuatan pasti memiliki akibat. Kita mungkin bisa menyembunyikan sesuatu dari manusia, tetapi tidak dari Tuhan.”
Serly terdiam.
“Jadi, berhati-hatilah dengan apa yang kamu lakukan kepada orang lain.”
Diandra berbalik kembali menghadap kolam.
“Tuhan tidak pernah tidur.”
Serly mengepalkan tangannya.
Entah kenapa, kalimat sederhana itu justru membuatnya merasa tidak nyaman.
Diandra tidak berteriak.
Tidak mengancam.
Tidak pula berusaha menyakitinya.
Namun ketenangan perempuan itu justru terasa lebih menakutkan daripada kemarahan.
Serly selama ini menganggap Diandra lemah. Tidak memiliki kekuasaan, kekayaan, ataupun keluarga yang bisa selalu berdiri di belakangnya.
Lantas, mengapa hanya dengan sebuah tatapan, Serly merasa seperti sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak mudah dihancurkan?
“MAMA SERLY!”
Teriakan seorang anak tiba-tiba terdengar dari arah rumah.
Serly menoleh.
Azzura berlari menuju taman dengan wajah panik, lalu langsung menghampiri Serly.
“Mama!”
Serly segera mengubah ekspresinya.
Dalam sekejap, wajah penuh amarah tadi berubah menjadi wajah seolah-olah dirinya baru saja mengalami sesuatu yang menyakitkan.
“Aduh, Sayang… kaki Mama sakit.”
Serly meringis sambil memegangi kakinya.
Azzura yang melihatnya langsung panik. Ia segera meraih tangan Serly.
“Sini, Mama. Azzura bantu berdiri.”
Dengan bantuan Azzura, Serly bangkit perlahan.
“Mama kenapa bisa jatuh?”
Serly langsung melirik ke arah Diandra. Tatapannya berubah penuh kepura-puraan.
“Ya karena dia, Sayang. Mama didorong sama Mommy kamu.”
Azzura menatap Diandra.
“Mommy jahat banget sama Mama Serly.”
Diandra tidak menjawab.
Ia hanya menatap Azzura dalam-dalam.
Tatapan itu membuat Azzura perlahan terdiam. Entah kenapa, ia tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi.
Diandra kemudian memilih pergi. Ia berjalan menjauh menuju sisi kolam, meninggalkan Serly dan Azzura di belakang.
Serly segera berjongkok di hadapan Azzura.
“Sudah, Sayang. Jangan dekat-dekat dengan perempuan itu, ya.”
“Kenapa, Mama?”
“Karena dia suka menyakiti Mama. Kalau Azzura dekat-dekat, nanti Azzura juga bisa disakiti.”
" Kamu mau disakiti juga?"
Azzura langsung menggeleng.
“Nggak mau.”
Serly tersenyum puas.
“Anak pintar. Sekarang ayo masuk. Kita sarapan. Bi Lastri pasti sudah menyiapkan makanan.”
Serly menggandeng tangan Azzura dan membawanya masuk ke rumah.
Begitu sampai di ruang makan, Aretha langsung menoleh.
“Serly, kalian dari mana? Sarapan sudah siap.”
Serly memasang wajah sedih.
“Tadi aku dari taman belakang, Ma. Aku nggak sengaja bertemu Diandra.”
Ia menunjuk pakaiannya yang kotor.
“Entah kenapa dia tiba-tiba mendorong aku sampai jatuh. Lihat, bajuku sampai kotor. Azzura melihat sendiri kejadian itu, kan, Sayang?”
Azzura mengangguk kecil.
Abian yang mendengar cerita tersebut langsung terlihat murka.
“Perempuan itu benar-benar keterlaluan. Sepertinya permintaan maafku kemarin memang percuma.”
“Sudahlah, Pa.”
Serly buru-buru menyentuh lengan Abian, seolah ingin menenangkan pria itu.
“Aku nggak apa-apa. Lebih baik kita sarapan saja.”
Ia tersenyum manis.
“Pa, tolong ambilkan nasi goreng untukku.”
Abian baru hendak mengambilkan makanan ketika suara keras terdengar dari arah pintu.
“Sudah cukup!”
Semua orang langsung terdiam.
“Pergi kalian semua.”
Tangan Serly yang hendak mengambil nasi berhenti di udara.
Ia menoleh.
Begitu pula Abian, Aretha, dan Azzura.
Bastian berdiri di sana dengan wajah dingin.
“Mas…” Serly menatapnya tidak percaya. “Kami bahkan belum mulai sarapan. Kenapa tiba-tiba mengusir kami?”
“Karena aku memang mengusir kalian.”
Suara Bastian tegas.
“Ini rumahku. Kalian tidak berhak datang dan tinggal di sini sesuka hati.”
Serly mulai memasang wajah terluka.
“Mas, kenapa kamu tega bicara seperti itu?”
Ia menghela napas.
“Kami datang dengan niat baik. Bukankah kamu sendiri yang meminta Papa datang ke sini untuk meminta maaf kepada Diandra?”
Bastian tidak menjawab.
“Papa bahkan sudah menurunkan harga dirinya dan meminta maaf. Tapi apa yang kami dapat?”
Serly melirik Abian.
“Diandra sama sekali tidak menghargai permintaan maaf Papa. Dia justru memperlakukan Papa seolah-olah tidak ada harganya.”
Abian mengangguk membenarkan.
“Papa juga sudah menjelaskan bahwa tamparan itu terjadi karena emosi sesaat.”
Serly kembali menatap Bastian.
“Jadi kenapa sekarang kami yang harus pergi?”
Bastian mengepalkan tangannya.
“Karena permintaan maaf tidak menghapus apa yang sudah dilakukan.”
Ruangan itu kembali hening.
Bastian menatap mereka satu per satu.
“Dan mulai sekarang, jangan gunakan Azzura sebagai alasan untuk terus berada di rumah ini.”
“Aku juga datang ke sini karena ingin meluruskan kesalahpahaman antara aku dan Diandra, Mas.”
Serly menarik napas panjang, lalu menatap Bastian dengan wajah penuh kesedihan.
“Aku nggak mau kamu terus memarahi Diandra hanya karena masalah yang terjadi di antara kami. Soal ucapan tentang bunuh diri itu…”
Ia menundukkan kepala.
“Mungkin aku yang terlalu terbawa perasaan. Aku yakin Diandra sebenarnya nggak bermaksud seperti itu. Karena itu, aku ingin menjelaskan semuanya supaya kamu nggak salah menilai dia.”
Bastian menatap Serly tanpa ekspresi.
“Aku nggak salah paham terhadap Diandra.”
Serly perlahan mengangkat wajah.
“Aku justru yakin Diandra tidak pernah bermaksud menyuruhmu melakukan hal seperti itu.”
Serly terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka Bastian akan membela istrinya.
“Tapi, Mas… Diandra memang pernah mengatakan hal itu kepadaku.”
Bugh!
Abian tiba-tiba menghantam meja dengan telapak tangannya.
“Sudah cukup, Serly!”
Semua orang terdiam.
“Kamu nggak perlu menjelaskan apa pun kepada pria seperti dia.”
Abian menatap Bastian dengan sorot mata penuh amarah.
“Dengar baik-baik, Bastian. Suatu hari nanti kamu akan menyesal karena menyia-nyiakan perempuan sebaik Serly hanya demi mempertahankan perempuan yang menurutku tidak pantas untukmu.”
Wajah Bastian langsung berubah dingin.
“Jaga ucapan Anda, Om.”
Ia berdiri tegak.
“Perempuan yang Anda hina itu adalah istri saya.”
Bastian menatap Abian tanpa gentar.
“Kalau Anda merendahkan Diandra, berarti Anda juga sedang merendahkan saya sebagai suaminya.”
Abian membalas tatapan tersebut.
Suasana ruang makan seketika berubah tegang.
Dua pria dengan karakter keras itu sama-sama enggan mengalah. Tidak ada yang bersedia menjadi orang pertama yang menundukkan kepala.
“Daddy…”
Suara kecil Azzura terdengar di tengah ketegangan.
“Jangan berantem sama Opa…”
Air mata mulai mengalir di pipinya.
Serly segera menghampiri Azzura dan memeluknya.
“Sudah, Sayang. Jangan menangis.”
Ia mengusap punggung Azzura dengan lembut.
“Mama sebenarnya ingin tetap sering bertemu Azzura.”
Serly terdiam sejenak, lalu memasang ekspresi sedih.
“Tapi sepertinya mulai sekarang Mama nggak bisa sesering dulu datang ke sini.”
Azzura langsung menatap wajah Serly dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa, Ma? Azzura salah?”
“Bukan, Sayang.”
Serly menggeleng cepat.
“Bukan karena Azzura. Mungkin… memang ini yang terbaik untuk kita.”
Suara Serly bergetar.
Satu tetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Serly melepaskan pelukan Azzura dan berlari meninggalkan ruang makan.
“Serly!”
Aretha langsung bangkit dan mengejarnya.
“Serly, tunggu!”
Sementara itu, Bastian tetap berdiri di tempatnya.
Tatapannya kosong mengarah ke pintu yang baru saja dilewati Serly.
Namun kali ini, untuk pertama kalinya, kepergian Serly tidak membuatnya mengejar.
“Puas sekarang kamu sudah membuat putriku menangis?!”
Abian menatap Bastian dengan penuh amarah.
“Puas juga sudah memisahkan seorang ibu dari anaknya?”
Tanpa menunggu jawaban, Abian berbalik dan meninggalkan rumah.
“Mama Serly… hiks! Mama jangan pergi!”
Azzura berusaha berlari mengejar, tetapi Bastian segera menahannya dan menarik putrinya ke dalam pelukan.
“Tenang, Sayang.”
“Kenapa Daddy mengusir Mama? Azzura masih mau sama Mama.”
Bastian mengusap rambut putrinya.
Ia tahu, salah satu alasan dirinya selalu kesulitan menjaga jarak dari Serly adalah Azzura.
Putrinya sangat dekat dengan Serly. Hampir setiap hari Azzura meminta bertemu dengan ibu kandungnya itu.
Sebagai seorang ayah, Bastian tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.
Namun selama ini ia tidak menyadari satu hal.
Keinginannya menjaga perasaan Azzura justru membuat Diandra berkali-kali terluka.
Bastian terlalu sering mengesampingkan perasaan istrinya demi menjaga kebahagiaan anak-anaknya.
“Daddy…”
Azzura melepaskan pelukannya. Wajah kecilnya tampak kesal.
“Kenapa Daddy nggak cerai saja sama Mommy?”
Bastian terdiam.
“Terus menikah sama Mama Serly. Mama Serly kan ibu kandung Azzura.”
Bastian menghela napas panjang.
“Daddy tahu Mama Serly adalah ibu kandung Azzura. Tapi sekarang Daddy sudah menikah dengan Mommy Diandra.”
Ia mengusap pipi putrinya.
“Dan Mommy juga menyayangi Azzura. Kenapa Azzura nggak mencoba menyayangi Mommy?”
Azzura langsung menggeleng kuat.
“Karena Mommy jahat!”
“Sayang…”
“Aku nggak suka Mommy!”
Air matanya semakin deras.
“Pokoknya aku mau Daddy cerai sama Mommy! Hiks!”
Bastian memejamkan mata sesaat, lalu kembali memeluk putrinya.
“Sudah… jangan menangis.”
Namun Azzura masih terus menangis dalam pelukannya.
“Pokoknya Daddy harus cerai sama Mommy…”
Suara kecil itu terdengar semakin sesak.
“Daddy harus menikah sama Mama Serly. Mama Serly itu ibu kandung Azzura…”
Bastian terdiam.
Di dalam hatinya, ia benar-benar berada dalam dilema.
Andai bisa, ia ingin menghapus semua masalah yang muncul sejak Serly kembali ke kehidupan mereka.
Ia ingin kembali pada masa ketika rumahnya dipenuhi tawa.
Saat hanya ada dirinya, Diandra, Azzam, dan Azzura.
Saat ia masih bisa melihat kebahagiaan di mata istrinya.
Namun sekarang, semuanya terasa begitu jauh.
Di sisi lain, Azzam berdiri tidak jauh dari tempat Bastian memeluk Azzura.
Ia memperhatikan adiknya dengan tatapan kecewa.
Azzam tidak mengerti kenapa Azzura begitu mudah percaya pada perkataan orang lain.
Bukankah hati seorang anak seharusnya bisa merasakan siapa yang benar-benar menyayanginya?
Ia paling benci ketika mendengar Azzura menyebut Mommy-nya sebagai perempuan jahat.
Tangannya mengepal.
Rasanya ia ingin menghampiri Azzura dan memarahinya.
Namun Azzam mengurungkan niatnya.
Jika ia membuat Azzura menangis, orang-orang pasti kembali menyalahkan Mommy.
Azzam akhirnya hanya berdiri diam.
Dalam hati, ia berjanji akan selalu berada di pihak Diandra.
Karena baginya, Mommy bukan perempuan jahat.
Mommy adalah orang yang selama ini selalu berusaha menjaga mereka, bahkan ketika dirinya sendiri sedang terluka.
Azzam mengembuskan napas panjang. Ia tidak ingin melihat pertengkaran itu lebih lama.
Ia pun meninggalkan tempat tersebut.
Sebenarnya Diandra sudah memintanya untuk tetap menunggu di balkon lantai dua. Namun hampir setengah jam berlalu dan Diandra belum juga kembali.
Perasaan Azzam mulai tidak tenang.
Ia akhirnya turun dan mencari ibunya ke seluruh penjuru rumah. Setelah bertanya kepada salah satu pembantu, barulah ia mengetahui bahwa Diandra berada di taman belakang, dekat kolam renang.
Azzam berjalan ke sana.
Begitu melihat Diandra berdiri sendirian di tepi kolam, ia berhenti sejenak.
Tatapannya kemudian tertuju pada hamparan bunga di sekitar taman.
“Bunga mawar…”
Azzam tersenyum kecil.
Ia memetik satu tangkai mawar yang sudah mekar, kemudian berjalan perlahan menghampiri ibunya.
“Mommy.”
Diandra yang sejak tadi berusaha menahan tangis segera mengusap sudut matanya sebelum menoleh.
“Azzam…”
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Ini buat Mommy.”
Azzam menyodorkan bunga tersebut.
Diandra menerimanya dengan hati-hati.
“Terima kasih, Sayang.”
Azzam menunduk.
“Maaf ya, Mommy. Azzam nggak menuruti perintah Mommy. Mommy bilang Azzam harus tetap di balkon, tapi Azzam malah mencari Mommy.”
Diandra menggeleng sambil mengusap rambut putranya.
“Nggak apa-apa.”
Ia tersenyum lembut.
“Harusnya Mommy yang minta maaf. Mommy terlalu larut dengan pikiran sendiri sampai lupa kalau Azzam sedang menunggu.”
“Jangan lupa sama Azzam lagi, ya.”
Suara kecil itu membuat dada Diandra terasa sesak.
“Nanti Azzam sedih.”
Diandra mengusap pipinya.
“Iya. Maafin Mommy, ya. Sini.”
Ia duduk di atas rerumputan.
Azzam ikut duduk di sampingnya. Ia kemudian mengambil tangan Diandra dan melingkarkannya di pundaknya.
Setelah itu, ia memeluk ibunya dari samping.
“Mommy…”
“Iya, Sayang?”
Azzam terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya.
“Kalau suatu hari Mommy pergi dari rumah ini…”
Diandra langsung menegang.
“…ajak Azzam, ya?”
Diandra mendongak.
Ia berusaha menahan air mata yang kembali memenuhi pelupuk matanya.
Pertanyaan itu terlalu berat untuk dijawab oleh seorang ibu.
Ia ingin berkata iya.
Namun ia juga takut memberikan janji yang belum tentu bisa ia tepati.
Diandra sendiri tidak tahu seperti apa masa depannya.
Ia bahkan belum tahu apakah dirinya benar-benar mampu melepaskan diri dari Bastian.
Namun satu hal yang mulai ia yakini, ia tidak boleh terus hidup dalam keadaan seperti ini.
Demi dirinya sendiri.
Demi anak-anaknya.
“Mommy?”
Diandra tersentak.
“Kenapa diam?”
Azzam menatap wajah ibunya.
“Mommy nggak mau ajak Azzam? Mommy sudah nggak sayang Azzam?”
“Bukan begitu, Sayang.”
Diandra segera memeluknya.
“Mommy sangat menyayangi Azzam. Tidak ada satu hari pun Mommy berhenti menyayangi Azzam.”
“Kalau begitu jawab.”
Azzam mendongak.
Air mata mulai membasahi kedua pipinya.
“Janji kalau Mommy pergi dari Daddy, Mommy nggak akan meninggalkan Azzam.”
Diandra menggigit bibirnya.
“Azzam…”
“Tolong janji, Mommy.”
Tangis Azzam pecah.
“Kalau Mommy benar-benar harus pergi, ajak Azzam. Azzam janji akan jadi anak baik.”
Ia mengusap air matanya sendiri.
“Azzam nggak akan nakal. Azzam nggak akan bikin Mommy susah.”
Suaranya semakin bergetar.
“Azzam juga akan selalu menemani Mommy.”
Diandra tidak mampu menahan air matanya lagi.
Ia langsung memeluk putranya erat-erat.
“Sayang…”
Diandra mengecup rambut Azzam.
“Jangan pernah berpikir kalau Mommy akan meninggalkan Azzam.”
Azzam menangis dalam pelukannya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Diandra menyadari bahwa keputusan apa pun yang akan diambilnya nanti bukan hanya tentang dirinya dan Bastian.
Ada dua anak yang akan ikut merasakan setiap konsekuensinya.
Karena itu, apa pun yang terjadi, Diandra berjanji dalam hati bahwa ia akan memperjuangkan satu hal:
Azzam dan Azzura tidak boleh kehilangan kasih sayang seorang ibu hanya karena rumah tangga orang tuanya sedang berada di ujung kehancuran.
Diandra tidak memberikan jawaban.
Ia hanya menarik Azzam ke dalam pelukannya dan memeluk putranya erat-erat.
Bagaimana mungkin ia menjanjikan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum tahu?
Diandra tidak sanggup menjanjikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia bahkan belum mampu membuat dirinya sendiri bahagia.
Selama ini Azzam selalu menjadi alasan Diandra untuk tetap kuat.
Namun Diandra tidak ingin menjadikan putranya sebagai alasan untuk terus bertahan dalam kehidupan yang perlahan menghancurkan dirinya.
Mungkin kepergiannya nanti akan membuat Azzam sedih.
Mungkin beberapa hari, beberapa bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun.
Namun Diandra percaya, seiring waktu Azzam akan tumbuh dan menemukan kebahagiaannya sendiri.
Dan jika suatu hari Azzam mengingat masa ini, Diandra hanya ingin putranya tahu bahwa ibunya pergi bukan karena berhenti menyayanginya.
Justru karena terlalu menyayanginya.
“Gue benar-benar nggak habis pikir sama Bang Bastian.”
Sean menggerutu sepanjang perjalanan pulang.
“Kadang gue mikir, otaknya itu sebenarnya dipakai buat mikir atau cuma pajangan?”
Ia menggeleng-gelengkan kepala.
“Kalau orang pintar bisa bertindak sebodoh itu, berarti memang benar cinta bisa bikin seseorang kehilangan akal sehat.”
Dulu Sean cukup mengagumi Bastian.
Pria itu terlihat tegas, berwibawa, dan selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Namun setelah melihat sendiri bagaimana Bastian menghadapi masalah rumah tangganya, penilaian Sean berubah total.
Bastian terlalu mudah bimbang.
Terlalu sering membiarkan orang lain memengaruhi keputusan.
Dan yang paling membuat Sean kesal, Bastian tidak pernah benar-benar tegas terhadap Serly.
Sean mengerti bahwa Serly memiliki hubungan dengan anak-anak Bastian.
Namun menurutnya, semuanya tidak akan menjadi serumit ini jika sejak awal Bastian mampu membuat batas yang jelas.
Apalagi Diandra bukan tipe perempuan yang suka mencari masalah tanpa alasan.
Selama ini, Sean justru melihat Diandra sebagai perempuan yang sabar dan terlalu sering mengalah.
Kalau Serly memang datang dengan niat tulus untuk bertemu anak-anaknya, Sean yakin Diandra tidak akan pernah melarang.
“Yang bikin gue makin emosi…”
Sean mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi.
“Bang Bastian masih saja nggak mau melepaskan Mbak Diandra.”
Ia menghela napas kesal.
“Padahal kalau gue jadi dia, mungkin dari awal sudah gue selesaikan semuanya.”
Sean terkekeh hambar.
“Kalau Mbak Diandra sampai pernah nampar Bastian, gue malah penasaran. Tapi kayaknya nggak mungkin.”
Ia menggeleng.
“Mbak Diandra terlalu sayang sama suaminya. Bahkan setelah diperlakukan seperti itu pun, dia masih mempertahankan pernikahannya.”
Sean mendengus.
“Dua tahun, Bro. Dua tahun!”
Ia tidak habis pikir.
“Kalau gue jadi dia, mungkin sudah lama gue minta cerai. Ambil hak gue, beresin semuanya, lalu pergi jauh-jauh.”
Sean menyisir rambutnya ke belakang.
“Daripada setiap hari sakit hati.”
Ia kemudian terkekeh sendiri.
“Makanya paling aman memang hidup sendirian.”
Mobil terus melaju hingga akhirnya memasuki halaman rumahnya.
Sesampainya di sana, Sean memarkirkan mobil dan turun.
Ia tidak langsung pergi ke apartemen.
Masih ada beberapa barang yang ingin diambilnya, terutama buku-buku yang selama ini ia simpan di perpustakaan.
Mulai hari ini, Sean berencana lebih sering tinggal di apartemen.
Selain ingin memiliki ruang sendiri, ia juga akan membantu mengurus dokumen perceraian Diandra dan Bastian bersama pengacara.
Ia berjalan menuju perpustakaan.
Begitu pintu dibuka, Sean langsung disambut deretan rak buku yang memenuhi ruangan.
“Hmm… buku apa yang enak dibawa?”
Ia berjalan perlahan sambil membaca judul-judul di punggung buku.
Di ruangan itu terdapat sekitar sepuluh rak besar.
Abian memang memiliki kebiasaan mengoleksi buku sejak lama. Tidak mengherankan jika perpustakaan itu dipenuhi lebih dari seribu buku dari berbagai genre.
Kebiasaan tersebut ternyata menurun kepada Sean.
Ia menyukai banyak jenis bacaan, tetapi paling sering memilih buku pengetahuan dan novel fantasi.
“Coba lihat rak sebelah sana.”
Sean berpindah menuju rak yang khusus digunakan oleh Aretha dan Serly.
Ia berhenti di depannya.
Selama ini Sean hampir tidak pernah menyentuh koleksi dari rak tersebut.
Alasannya sederhana.
Sebagian besar buku di sana adalah novel romantis.
“Kayaknya nggak ada salahnya baca satu.”
Sean mengambil salah satu buku secara acak.
Namun baru saja ia menarik buku itu dari rak, sebuah benda kecil yang terselip di antara dua buku ikut jatuh ke lantai.
Sean mengernyit.
Ia membungkuk untuk mengambilnya.
Sebuah amplop berwarna putih.
Dan dari cara amplop itu disembunyikan, Sean langsung merasa bahwa benda tersebut bukan sekadar surat biasa.
“Sekali-sekali gue baca novel romance, deh.”
Sean terkekeh sambil memandangi deretan buku di hadapannya.
“Siapa tahu nanti ada beberapa trik romantis yang bisa gue pakai buat bikin Mbak Diandra tersenyum.”
Ia menyeringai sendiri.
“Lumayan. Daripada cuma bisa kasih nasihat.”
Sean mengambil sebuah novel dari rak.
Namun saat hendak membuka halaman pertamanya, matanya menangkap sesuatu yang aneh.
Sebuah tombol kecil tersembunyi di sisi dalam rak.
Sean mengernyit.
“Ini tombol apaan?”
Rasa penasarannya muncul.
Ia menekan tombol tersebut.
Klik.
Terdengar bunyi mekanis dari dalam dinding.
Sean spontan mundur satu langkah.
“Apaan tuh?”
Tiba-tiba rak buku di hadapannya bergerak perlahan ke samping, memperlihatkan sebuah celah gelap di baliknya.
Sean membelalakkan mata.
“Serius?”
Ia mendekat dengan langkah hati-hati.
“Gila… ternyata ada ruangan rahasia!”
Sean menatap celah tersebut dengan rasa tidak percaya.
Selama bertahun-tahun ia sering berada di rumah ini, tetapi tidak pernah sekalipun mengetahui keberadaan ruangan tersembunyi di balik perpustakaan.
Ia terkekeh kecil.
“Kalau dulu gue lebih sering baca novel romance, mungkin tempat ini sudah gue temukan dari dulu.”
Rasa penasaran mengalahkan keraguannya.
Sean akhirnya melangkah masuk.
Ruangan itu cukup luas dan jauh lebih gelap dibandingkan perpustakaan.
Ia menyalakan lampu yang berada di sisi dinding.
Cahaya perlahan memenuhi ruangan.
Sean mengedarkan pandangan.
“Ini sebenarnya ruangan buat apa?”
Ia kemudian menoleh ke belakang.
Tidak ingin ada orang lain yang melihat celah tersebut, Sean menekan tombol yang berada di sisi dalam dinding.
Rak buku kembali bergerak.
Dalam hitungan detik, pintu rahasia itu tertutup rapat dan kembali tampak seperti rak perpustakaan biasa.
Sean menelan ludah.
Sekarang ia benar-benar sendirian di dalam ruangan tersembunyi itu.
Dan entah kenapa, firasatnya mengatakan bahwa keberadaan tempat ini bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
“Semoga gue nggak salah masuk…”
Sean melangkah lebih dalam, mulai mencari tahu rahasia apa yang sebenarnya disimpan keluarga itu di balik perpustakaan.