Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Semangkuk Mi di Tengah Malam

Orang yang berhenti di depan pintuku malam itu tidak pernah mengetuk.

Aku baru mengetahuinya dari bayangan sepatu di bawah celah. Besar, hitam, diam beberapa detik, lalu pergi menuju tangga. Bukan sandal perempuan. Bukan pula langkah Adi yang selalu tergesa.

Aku tidak punya waktu menebak. Sena terbangun dan menangis, perutku ikut melilit karena sejak siang hanya terisi sepiring nasi dan sayur bening.

Setelah menyusu, Sena kembali tidur. Aku membaringkannya di tengah ranjang, menyusun dua gulung kain di kedua sisinya, lalu menutup kelambu.

Jam dinding menunjukkan hampir tengah malam.

Dari arah dapur satuan, lampu kecil masih menyala.

Aku menelan ludah. Di tasku tidak ada biskuit. Jatah makan malam habis sejak magrib, sementara rasa lapar membuat tanganku gemetar. Tubuh menyusui tidak bisa diajak berhemat seperti dompet.

Aku membawa mangkuk dan berjalan turun.

Lorong kompleks sunyi. Hanya suara serangga dari kebun belakang dan dengung lampu di pos jaga. Aku melewati lapangan apel dengan langkah cepat, membungkus tubuh memakai selendang agar tak dikenali orang.

Pintu belakang dapur tidak dikunci. Di dalam, panci-panci besar sudah dicuci dan ditelungkupkan. Bau abu kompor bercampur minyak goreng menempel di udara.

Aku membuka lemari bahan. Ada sebungkus mi telur, stoples bawang goreng, garam, lada, dan margarin. Semua milik satuan.

Tanganku berhenti di udara.

Mengambil tanpa izin tetap mengambil. Namun kalau aku kembali ke kamar dengan perut kosong, besok susuku berkurang dan Sena yang menanggung akibatnya.

"Besok kuganti," bisikku.

Aku mengambil satu genggam mi, tidak lebih. Air kutaruh di panci kecil. Sambil menunggu mendidih, kutumbuk bawang putih dengan sedikit garam, lalu memanaskan sesendok margarin sampai berbuih. Bawang masuk dan langsung mendesis.

Aromanya mengubah dapur gelap menjadi rumah.

Aku mencampur bawang harum dengan kecap asin, sedikit air rebusan, lada, dan bawang goreng. Mi yang masih kenyal kuangkat, kutiriskan, lalu kuaduk cepat sampai setiap helainya mengilap.

Aku menyisakan satu sendok air panas untuk melarutkan garam. Kalau garam ditabur langsung, sebagian helai akan terlalu asin dan sebagian lain hambar. Kebiasaan kecil itu kupelajari setelah berkali-kali menjual nasi bungkus dengan modal pas-pasan. Bumbu yang rata membuat bahan murah terasa diperlakukan dengan hormat.

Di dasar mangkuk, minyak bawang membentuk lapisan tipis. Tidak mewah, tetapi aromanya cukup untuk membuat siapa pun yang belum makan menoleh.

Sederhana. Mi bawang yang dulu sering kubuat ketika Wahyu pulang jaga malam.

Aku duduk jongkok di samping tungku. Suapan pertama terasa panas dan gurih. Suapan kedua membuat perutku menghangat.

Pada suapan ketiga, aku teringat Nala.

Apakah malam ini ia terbangun mencari susu? Apakah Mbah Wagiyem sempat menanak bubur? Apakah uang yang kutinggalkan cukup untuk membeli formula sampai kiriman pertamaku tiba?

Mi di mulutku mendadak sulit ditelan.

Air mata jatuh ke punggung tanganku.

"Maaf, Nduk," bisikku. "Mama makan enak sendirian."

Pintu belakang berderit.

Aku tersentak. Mangkuk hampir terlepas.

Sosok tinggi masuk dari kegelapan. Kaus lengan pendek berwarna hitam membungkus bahunya, celana lapangan masih melekat rapi, tetapi ia tidak memakai topi. Rambutnya sedikit berantakan.

Bram.

Ia berhenti ketika melihatku jongkok di dekat tungku dengan mata basah dan mangkuk di tangan.

"Sedang apa?"

Aku berdiri terlalu cepat. Pandanganku berkunang-kunang.

"Makan, Pak."

"Saya bisa lihat."

Wajahku panas. "Saya ambil mi satu genggam, margarin satu sendok, bawang goreng sedikit. Besok saya lapor Pak Darman dan ganti dari uang bulanan."

Tatapannya berpindah dari mangkuk ke panci. "Kenapa makan jam segini?"

"Lapar."

Jawaban itu terlalu jujur. Aku menunduk.

"Jatah malam?"

"Sudah habis. Tubuh saya..." Aku meremas ujung selendang. "Sena minum banyak."

Bram tidak mengatakan apa-apa. Diamnya membuat suara jam dinding di ruang depan terdengar jelas.

"Kalau Bapak mau menghukum saya, besok saja. Sena tidur sendirian."

Aku bergerak hendak mencuci mangkuk.

"Siapa bilang saya mau menghukummu?"

Langkahku berhenti.

***

Aku, Bram, sudah tiga malam tidak tidur dengan benar.

Laporan tentang Laras tergeletak di meja sejak sore. Putri keluarga buruh tani. Menikah dengan Serda Wahyu. Suami gugur dalam tugas tujuh bulan lalu. Satu anak perempuan. Tidak pernah tersangkut perkara. Pernah berjualan nasi bungkus dan lauk rumahan.

Bersih.

Adi berdiri di depan meja ketika laporan itu pertama kali kubaca.

"Sena tidur hampir dua jam setelah minum, Komandan," katanya. "Popoknya sudah basah dua kali. Mbak Laras bikin catatan dan suruh kami tulis semua yang masuk sama keluar."

"Bagus. Jalankan."

"Siap."

Ia tidak segera pergi. Aku mengangkat mata.

"Ada lagi?"

"Soal pintu kamar, Komandan. Engselnya memang rusak. Kunci selotnya juga longgar. Besok pagi saya bawa alat."

"Malam ini."

"Sekarang?"

"Ada perempuan dan bayi di dalam. Pintu itu harus bisa dikunci."

"Siap, Komandan."

Adi berbalik, lalu menoleh lagi seperti orang yang belum puas jika belum menghabiskan seluruh isi kepalanya.

"Anak Mbak Laras di kampung masih kecil sekali, ya, Komandan?"

Aku mengetuk bagian laporan yang mencantumkan nama Nala. "Enam bulan."

"Pantas tadi Mbak Laras nangis waktu Sena tidur."

Kepalaku terangkat. "Kamu mengintip?"

"Nggak, Komandan. Saya mau antar air panas. Pintunya belum tertutup rapat. Saya dengar sedikit."

"Kalau begitu belajar mengetuk dan jangan dengarkan urusan orang."

"Siap."

Kali ini ia benar-benar pergi.

Aku membaca halaman kedua. Rumah Laras berjarak sekitar dua puluh kilometer. Mertuanya mengalami stroke dan tidak punya penghasilan tetap. Bantuan keluarga terbatas. Uang muka dari logistik belum dikirim karena berkas rekening belum selesai.

Di bagian bawah, ada catatan petugas desa: kebutuhan mendesak berupa susu bayi dan obat rutin lansia.

Tanganku berhenti pada kalimat itu.

Aku bisa memerintahkan Hendra mempercepat administrasi. Itu wajar. Aku bisa meminta Adi memastikan bantuan keluarga prajurit gugur disalurkan. Itu juga bagian dari tanggung jawab.

Namun dorongan untuk mengambil dompet sendiri dan menyelesaikannya malam itu bukan lagi sekadar prosedur.

Aku menutup map lebih keras dari seharusnya.

Aku seharusnya menutup map itu dan mengurus puluhan persoalan lain yang lebih pantas menyita perhatian seorang Danyon.

Namun pikiranku terus kembali pada kamar sempit, daster bertambal, dan cara Laras memeluk Sena seolah anak itu miliknya.

Sena menolak empat pengasuh. Menendang botol sampai bibirnya pecah. Menangis setiap malam sejak Ratih tidak ada.

Lalu Laras datang, dan dalam tiga hari anak itu mulai mencatat waktu tidur yang teratur.

Aku mengatakan pada diri sendiri bahwa penyelidikan latar belakangnya murni prosedur. Aku berdiri di depan pintunya malam tadi juga untuk memeriksa Sena.

Kebohongan yang buruk.

Aku sudah menerima laporan tertulis tentang kondisi Sena. Tidak ada alasan untuk datang sendiri. Tetap saja kakiku membawaku ke lantai dua.

Aku melihat bayangan Laras di balik tirai tipis. Ia duduk membungkuk, menjahit daster yang sama dengan yang dikenakannya saat aku memergokinya menyusui. Lampu kamar redup, tetapi jarum di tangannya terus bergerak.

Aku mengangkat tangan untuk mengetuk.

Lalu ia menyebut nama Nala.

Aku mendengar Laras menyebut nama Nala dari dalam. Suaranya pelan, tetapi rasa bersalah di dalamnya menembus daun pintu. Aku tidak mengetuk karena tidak tahu apa yang bisa kukatakan.

Malam ini aku keluar dari kantor karena aroma bawang goreng menyusup sampai lorong. Aku mengikutinya tanpa berpikir panjang.

Sekarang perempuan itu berdiri di depanku, siap menerima hukuman karena segenggam mi.

Ada bekas air mata di pipinya.

"Duduk," kataku.

Ia menatapku curiga. "Pak?"

"Kamu hampir jatuh tadi. Duduk."

Laras kembali ke bangku pendek, bukan ke lantai. Mangkuknya masih setengah penuh.

"Habiskan."

"Kalau saya makan di depan Bapak, rasanya seperti sedang diperiksa."

Aku menarik kursi dari dekat meja persiapan dan duduk berseberangan. "Sekarang tidak berdiri."

Ia memandangku seolah aku baru berbicara dalam bahasa asing.

"Bapak memang selalu begini?"

"Begini bagaimana?"

"Menyuruh orang makan dengan wajah seperti mau mengumumkan hukuman."

Untuk sesaat aku tidak menemukan jawaban. Sudut bibir Laras bergerak, hampir tersenyum. Lalu ia cepat menunduk dan melanjutkan makan.

Aku memperhatikan tangannya. Jari-jarinya kurus. Ada bekas tusukan jarum di telunjuk dan kulit memerah di sekitar kuku. Ia makan pelan, tetapi tidak menyisakan setetes bumbu.

"Mulai besok, jatahmu ditambah."

Sendoknya berhenti. "Jangan."

"Itu bukan pertanyaan."

"Kalau mendadak saya dapat perlakuan khusus, orang akan makin banyak bicara. Tambahkan atas nama kebutuhan Sena dan catat lewat klinik."

Aku menatapnya.

Di tengah lapar, malu, dan takut dihukum, ia masih memikirkan prosedur dan omongan orang. Perempuan ini bukan lemah. Ia hanya sedang berdiri di tempat yang tidak memberinya banyak pilihan.

"Baik," kataku. "Lewat klinik."

Bahunya turun sedikit.

***

Aku, Laras, menghabiskan suapan terakhir di bawah tatapan Bram.

Lelaki itu tidak bertanya mengapa aku menangis. Aneh sekali, justru karena ia tidak bertanya, rasa malu di dadaku menjadi lebih ringan.

Aku bangkit dan membilas mangkuk. "Terima kasih karena tidak langsung menyeret saya ke logistik."

"Saya belum bilang urusannya selesai."

Tanganku membeku di bawah air.

Bram melirik panci kecil. "Masih ada?"

"Air rebusan? Ada."

"Mi."

"Bahan mentah masih banyak, tapi yang saya masak cuma satu porsi."

Ia menarik kursi lebih dekat ke meja, lalu duduk dengan tenang, seolah dapur satuan tengah malam memang tempat wajar bagi seorang komandan.

"Buatkan aku satu juga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!