[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]
Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Ke Barak
Sinar matahari pagi menyusup di antara bangunan-bangunan batu di kota Brent, membawa kehangatan yang kontras dengan udara pegunungan yang biasanya dingin.
Simon melangkah santai menyusuri jalanan utama kota.
Tanpa topeng gagak dan jubah hitam pembunuhnya, ia terlihat seperti pemuda bangsawan yang sangat tampan dengan rambut hitam legam dan sepasang mata merah
Di pinggir jalan berbatu, suasana kehidupan rakyat jelata terasa begitu tenang.
Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima tahun berlari riang melewati kerumunan, mengejar seekor anak kucing. Namun, kakinya tersangkut pada ubin batu yang tidak rata.
Gubrak!
Bocah itu tersungkur ke tanah, tangisnya mulai pecah saat melihat lututnya yang lecet.
Tak lama kemudian, seorang wanita dengan pakaian linen sederhana berlari menghampirinya dengan raut wajah cemas. Ia segera mengangkat bocah itu dan mendekapnya erat.
"Hati-hati, sayang. Jangan berlari terlalu kencang," bisik ibunya sambil mengusap air mata di pipi sang anak dengan penuh kasih sayang.
Simon, yang menyaksikan pemandangan itu dari jarak beberapa meter, tanpa sadar tersenyum, ekspresi yang jarang terlihat di wajahnya.
Pemandangan kemanusiaan yang sederhana seperti ini adalah kemewahan yang langka di dunia ini.
Simon melanjutkan langkahnya menuju sebuah kedai buah yang familiar.
Pemiliknya adalah seorang lelaki tua yang pernah Simon temui saat ia pertama kali datang ke kota ini.
"Tuan... oh, bukankah kau pemuda yang dulu pernah mampir ke sini?" tanya pemilik toko apel itu, menyipitkan mata tuanya untuk mengenali wajah tampan Simon.
Simon mengangguk pelan.
"Benar, Pak tua, aku pernah membeli buahmu waktu itu" kemudian di melanjuti.
"Hanya saja dulu aku hanya orang biasa, sekarang aku adalah ksatria di bawah naungan Baron. Kata Simon dengan bangga.
Mata pemilik toko itu membelalak senang, dia tidak menyangka bahwa pemuda lusuh kemarin sore sekarang sudah menjadi ksatria yang di impikan anak-anak.
"Luar biasa! Seorang ksatria! Aku sudah menduga saat itu bahwa kamu bukan pemuda biasa saat pertama kali melihatmu. Dan ternyata itu benar!"
"Selamat atas kesuksesanmu, Tuan Ksatria!" ucap pemilik toko dengan tulus.
"Terimakasih!"
"Aku butuh sepuluh apel terbaikmu," kata Simon.
"Baiklah ku carikan yang segar untuk kamu ."
Pemilik toko itu dengan cekatan memilih apel-apel merah yang paling segar dan memasukkannya ke dalam kantong kain.
Simon merogoh saku zirahnya dan mengeluarkan beberapa koin emas hasil "panen"-nya belakangan ini].
Ia meletakkan koin yang nilainya jauh melebih harga sepuluh apel tersebut ke atas meja kayu.
"Simpan sisanya untukmu, dan keluargamu" ucap Simon dengan santainya.
Pemilik toko itu tertegun, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh koin emas tersebut.
"Terima kasih banyak, Tuan Ksatria! Semoga Bapa Surgawi memberikan rezeki yang lebih banyak lagi padamu!" doanya dengan wajah yang berseri-seri.
Simon hanya menggelengkan kepalanya perlahan sembari melangkah pergi meninggalkan kedai tersebut.
Di balik sikap tenangnya, Simon sedang memikirkan perkataan pemilik toko buah itu di benaknya.
'Rezeki, ya?' pikir Simon dengan sinis.
'Jika Pak tua itu tahu bahwa emas ini didapat dari menjarah mayat yang telah aku bunuh selama ini, aku penasaran bagaimana ekspresi wajahnya yang religius itu nanti.'.
Bagi Simon, di dunia yang munafik ini, tidak masalah dari mana kekuatan dan kekayaan itu berasal, selama itu untuk tujuannya dan tidak merugikannya, dia akan melakukan apa saja!
Simon berjalan secara perlahan menuju gerbang barak militer Baron Brent.
Begitu mendekat, indra penciumannya yang telah dipertajam langsung menangkap bau khas yang sangat familiar, campuran aroma keringat asam dari ratusan pria yang berlatih keras, bau oli pembersih pedang yang tajam, jerami lembap dari barak tidur, serta sedikit sisa bau anyir darah yang menempel pada baju zirah tua di gudang senjata.
Di luar barak, deretan prajurit biasa sedang melakukan latihan rutin dengan tombak dan perisai kayu. Saat Simon lewat dengan rambut hitam legam dan mata merah yang mencolok, suasana di lapangan sedikit berubah.
"Siapa pemuda tampan itu? Apakah dia putra bangsawan dari pusat kota? Tapi lihat matanya... merah seperti predator yang segera melahap. Auranya membuat bulu kudukku berdiri meskipun dia hanya berjalan."
"Oi, bukankah itu Simon Blake? Sial, dia sudah kembali dari cutinya! Lihat cara dia berjalan, dia tampak jauh lebih tegap dan berbahaya dari sebulan yang lalu. Jagoan kita akhirnya pulang!"
Simon terus melangkah tanpa memedulikan bisikan di belakangnya, memasuki area dalam barak tempat pelatihan khusus kavaleri.
Di sana, ia melihat teman-temannya ada Gogo, Jack, Shade, dan Senior Tomi sedang mandi keringat di bawah pengawasan ketat Kapten Jon.
"Aku kembali," sapa Simon dengan suara yang datar namun tenang
Semua gerakan di lapangan seketika berhenti.
Gogo menjatuhkan perisainya, sementara Jack menyeka keringat dengan kasar.
"Simon? Kau sudah kembali?!" seru Jack dengan wajah berseri-seri.
"Bro! Kami pikir kau diculik oleh roh jahat di hutan!" Di ikuti oleh Gogo sembari tertawa lebar.
Kapten Jon melirik Simon dengan niat untuk menegurnya karena gangguan latihan, namun saat matanya bertemu dengan sosok Simon, pupil matanya melebar tak karuan.
Ia merasakan tekanan yang memancar dari tubuh Simon, tekanan ini yang hanya dimiliki oleh mereka yang mencapai ksatria magang tingkat 3.
"Simon... apakah ini benar kamu?" tanya Kapten Jon dengan nada tidak percaya.
"Apa maksudmu, Kapten? Ini jelas saya, Simon Blake, calon ksatria Baron. Apa ada yang salah?" jawab Simon dengan ekspresi wajah yang tenang.
"Kau... Kau telah menjadi Ksatria Magang Tingkat 3!!" seru Kapten Jon dengan suara menggelegar.
Seperti yang di harapkan, dia tidak bisa menyembunyikan apapun di hadapan ksatria formal, seakan tubuhnya telah di telanjangi.
Seketika, lapangan itu hening sebelum akhirnya meledak dalam kegaduhan.
"Apa?! Simon, kau sudah menjadi tingkat 3? Kau baru saja melampauiku... aku merasa sangat malu sebagai seniormu," ucap Senior Tomi dengan senyum pahit dan kecewa namun juga terselip rasa bangga.
"Simon, apakah kau benar-benar manusia? Bagaimana bisa pertumbuhanmu secepat ini?!" Gogo memandangi otot Simon yang kini sepadat baja.
"Dunia sudah gila," gumam Jack sambil menggelengkan kepala. "Tapi seperti yang diharapkan dari orang yang pernah mengalahkanku, kau memang monster!"
"Ini... bagaimana mungkin secepat ini?" tambah Shade dengan tatapan kosong, seolah logika dunianya baru saja runtuh.
Kapten Jon melangkah mendekat, menatap Simon dengan serius. "Bagaimana bisa kamu mencapai Tingkat 3 secepat ini? Berapa banyak latihan gila yang kau lakukan selama cuti?"
Simon berpura-pura berpikir sejenak, memasang wajah yang seolah-olah ia sedang mengenang perjalanannya.
"Ini...hmmm....."
"Sebenarnya, selama perjalanan aku menemukan sebuah warisan secara tidak sengaja di reruntuhan gua."
"Di sana aku mendapatkan 5 ramuan ksatria tingkat tingg. Setelah meminum semuanya dan berlatih siang-malam tanpa henti, hasilnya seperti yang kalian lihat," kata Simon
Jelas ini adalah kebohongan yang telah ia rancakan dari hari sebelumnya, memang tidak salah Simon dapat berlatih cepat karena ramuan ksatria tapi mereka hanya tau Simon itu hanya bocah miskin dari Utara.
Mana mungkin ia mempunyai duit yang banyak,kan? Gak mungkin dia blak-blakan ngomong bajwa uang itu ada karena dia merampok orang lain, itu tidak enak di dengar jadi lebih baik buat alasan yang lain saka yang masuk akal.
"Secara tidak sengaja menemukan warisan dan ramuan tinggi?" Kapten Jon bergumam heran, namun mengingat keberuntungan beberapa ksatria besar di masa lalu, ia hanya bisa mendesah.
"Walaupun sulit dipercaya, mungkin keberuntunganmu memang sangat baik, Simon."
Simon mengalihkan pandangan ke arah teman-temannya. Menurut tebakannya, ia secara samar bisa merasakan kepadatan otot mereka yang meningkat.
"Kalian juga nampaknya telah meningkat pesat ya?"
Ia bisa melihat bahwa mereka semua telah menerobos menjadi Ksatria Magang Tingkat 2, dan Senior Tomi tampaknya hanya butuh satu langkah lagi menuju Tingkat 3.
"Kami tidak ada apa-apanya dibandingkan monster seperti kamu!" seru Gogo, diikuti anggukan setuju dari yang lain.
"Baiklah bro, apakah masih ada ramuan ksatria yang tersisa? Bagikanlah sedikit pada kawan lamamu ini," goda Jack sembari merangkul bahu Simon.
"Sayang sekali, ramuannya telah kuhabiskan sendiri untuk memastikan terobosan ini berjalan dengan lancar hehehe," jawab Simon dengan tawa kecil yang jarang diperlihatkannya.
"Simon, kau tidak kasihan dengan saudaramu? Kami juga ingin merasakan ramuan tingkat tinggi walau cuma sekali!" Tomi memprotes dengan nada bercanda, sementara Shade mengangguk setuju di sampingnya.
Melihat anak buahnya mulai ribut, Kapten Jon segera menengahi.
"Baiklah, hentikan semuanya! Simon, terutama kamu, pergilah ke mesmu dan beristirahatlah. Aku tahu tubuhmu butuh penyesuaian setelah terobosan besar itu."
Kapten Jon menepuk bahu Simon dengan mantap.
"Nanti selesai latihan aku akan datang menemuimu. Kita akan bertemu Baron Brent. Dengan orang berbakat sepertimu, nampaknya tidak lama lagi wilayah ini akan bertambah satu Ksatria Formal dalam beberapa tahun ke depan."
Simon membungkuk hormat. "Terima kasih, Kapten." Ia kemudian berjalan menuju baraknya, meninggalkan teman-temannya yang masih menatap punggungnya dengan takjub dan iri.