Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 Cinta yang Semakin Dalam

Hari-hari berlalu dengan perlahan, seolah waktu sengaja berjalan lebih lambat hanya untuk membiarkan mereka menikmati setiap detik kebersamaan.

Naira dan Mikael kini menjadi pemandangan yang tak terpisahkan. Di mana ada satu, di sanalah yang lain berada. Seperti dua sisi dari satu mata uang, seperti langit dan bumi yang saling melengkapi, seperti ceri dan batangnya yang tidak bisa dipisahkan.

Setiap pagi, tepat pukul tujuh lewat sepuluh, mobil Mikael akan berhenti di depan pagar rumah Naira. Ia tidak pernah terlambat.

Naira akan keluar dengan senyum yang seketika mekar begitu melihatnya, dan Mikael akan membukakan pintu mobil untuknya, menatapnya dengan mata yang berbinar penuh kekaguman, seolah setiap pagi ia menemukan keindahan baru pada perempuan di hadapannya.

"Selamat pagi, sayangku" sapa Mikael setiap kali, dan kalimat itu selalu membuat hati Naira berdebu bahagia.

"Selamat pagi, Mikael," jawabnya, dan itu sudah cukup untuk membuat hari mereka terasa sempurna sejak awal.

*****

Perjalanan menuju kantor bukan sekadar perjalanan. Mereka berbicara tentang segalanya. Tentang mimpi, tentang kenangan masa kecil, tentang hal-hal konyol yang mereka lihat di jalan, tentang rencana masa depan yang perlahan mulai terbentuk jelas di mata mereka.

Tidak ada keheningan yang canggung. Setiap detik terasa berharga. Mikael sesekali akan menyanyikan potongan lagu pelan dengan suara rendahnya yang merdu, dan Naira akan tertawa, ikut bernyanyi bersama.

Saat jam istirahat siang tiba, mereka selalu bersama. Kadang di kantin kantor, kadang di taman kecil di belakang gedung, kadang hanya duduk di ruang kerja Mikael dengan bekal sederhana yang dibawa Naira dari rumah.

Naira biasanya membawa nasi hangat dengan lauk sederhana yang dibuat ibunya, dan mereka akan berbagi, menyuapi satu sama lain dengan tertawa.

Mikael tidak pernah malu makan makanan sederhana itu di depan siapa pun. Baginya, makanan apa pun akan terasa lezat jika dimakan bersama Naira.

Orang-orang yang lewat hanya akan melihat mereka berbagi makanan, tertawa lepas, saling menatap dengan tatapan yang begitu lembut, seolah dunia luar tidak ada artinya bagi mereka.

Mereka yang dulu mengenal Mikael Arsen tahu betul perubahan yang terjadi. Pria yang dulu dingin, kaku, dan jarang tersenyum kini berubah menjadi pria yang matanya selalu bersinar, yang tawanya terdengar paling keras di ruangan, yang berjalan dengan langkah ringan sepanjang hari. Dan semua itu hanya karena satu alasan: Naira.

*****

Suatu sore, saat mereka berjalan menyusuri jalan setapak di taman, Naira berhenti sejenak dan menatap Mikael yang sedang bercerita dengan antusias. Pria itu berhenti seketika, sedikit bingung namun tetap tersenyum lembut.

"Ada apa, Sayang? Kenapa menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?" tanyanya sambil tersenyum, tangannya otomatis menyentuh pipinya sendiri.

Naira tertawa pelan, lalu menyentuh wajah pria itu dengan lembut, ujung jarinya menelusuri garis rahangnya yang tegas namun lembut.

"Tidak ada apa-apa. Aku hanya... berpikir. Dulu aku hanya berani memimpikan hal-hal sederhana seperti ini, berjalan bersama seseorang yang aku cintai. Dan sekarang, semua itu ada di depanku. Dan itu nyata. Terlalu indah untuk menjadi mimpi."

Mikael menatapnya dalam-dalam, lalu senyumnya melebar, begitu tulus dan penuh kasih sayang. Ia menggenggam tangan Naira yang ada di pipinya, mencium telapak tangan itu perlahan, dengan penuh rasa sayang dan kekaguman.

"Setiap hari kebersamaan kita akan semakin indah dari hari sebelumnya. Karena cintaku padamu tidak pernah berhenti tumbuh. Semakin aku mengenalmu, semakin aku mencintaimu. Semakin aku melihat senyummu, semakin aku tahu bahwa kamu adalah takdir yang aku syukuri setiap detik dalam hidupku."

Ia menarik Naira ke dalam pelukannya, membiarkan kepala perempuan itu bersandar nyaman di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berdetak tenang dan kuat.

Mata Naira berkaca-kaca, tapi ia tersenyum bahagia, air mata itu jatuh perlahan di pipinya namun ia tidak menyekanya. Ia memeluk pinggangnya erat, seolah ingin menyatu dengan pria itu.

"Terima kasih... terima kasih karena tidak pernah menyerah pada kita, bahkan saat aku sendiri ragu, bahkan saat aku merasa tidak pantas berdiri di sisimu."

Mikael mengusap punggung Naira dengan lembut, "Aku akan selalu ada untukmu. Tidak peduli apa pun yang terjadi. Tidak peduli siapa yang berkata apa. Tidak peduli rintangan apa yang datang. Karena kamu adalah pilihanku, Naira. Dan aku tidak pernah menyesal memilihmu. Tidak sedetik pun."

Mereka berdiri begitu dalam pelukan satu sama lain, di bawah langit sore yang berwarna jingga keemasan, di antara dedaunan yang berdesir tertiup angin sepoi-sepoi.

Saat matahari akhirnya terbenam dan lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, Mikael perlahan melepaskan pelukannya namun tetap menggenggam tangan Naira erat, tidak pernah melepaskannya.

"Ayo pulang, Sayang. Hari sudah mulai gelap. Dan aku tidak suka kamu berada di luar sendirian saat langit sudah gelap."

"Iya," jawab Naira lembut, melangkah beriringan dengannya menuju mobil. "Ayo pulang."

*****

Di dalam mobil, perjalanan pulang terasa singkat karena obrolan mereka yang tak pernah habis.

Mereka bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari, tentang rekan kerja yang lucu, tentang desain baru yang Naira buat, tentang rencana Mikael yang akan datang.

Mikael sesekali meliriknya saat berkendara, dan setiap kali tatapan mereka bertemu, mereka akan tersenyum penuh kasih sayang, penuh janji tanpa kata.

Tidak perlu banyak bicara. Tatapan itu sudah mengatakan segalanya: Aku di sini. Aku milikmu. Dan aku tidak akan ke mana-mana.

Saat mobil berhenti di depan rumah Naira, mereka tidak langsung turun. Mereka duduk dalam keheningan yang hangat, menikmati momen sebelum perpisahan sementara untuk tidur malam.

Naira menyentuh liontin ceri di lehernya, sentuhan yang sudah menjadi kebiasaan setiap kali ia ingin merasa dekat dengan Mikael. Mikael memperhatikannya dengan senyum lembut yang tak pernah lepas dari wajahnya.

"Kamu memakainya setiap hari," katanya, lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan.

"Tentu saja. Ini bagian dari diriku sekarang. Dan setiap kali aku menyentuhnya, aku selalu merasa kamu ada di dekatku."

Mikael mendekat, menyentuh dagu Naira dengan lembut, menatap matanya lekat-lekat seolah ingin mengingat setiap inci wajah perempuan itu.

Ia mencium kening Naira dengan lembut dan penuh sayang, menahannya sejenak sebelum melepaskannya.

"Tidurlah nyenyak, cintaku. Dan ingatlah, kamu adalah anugerah terindah yang pernah kuterima. Sampai jumpa besok pagi. Di tempat yang sama, di waktu yang sama, dengan cinta yang sama besarnya."

Naira tersenyum, hatinya penuh dan meluap-luap hingga ia merasa tidak sanggup menampung semua kebahagiaan itu sendirian.

"Sampai jumpa besok pagi, Mikael."

Naira turun dari mobil, melangkah masuk ke rumah sambil sesekali menoleh ke belakang setiap beberapa langkah.

Mikael menunggu sampai pintu tertutup dan lampu di kamar Naira menyala, baru kemudian ia melaju perlahan meninggalkan halaman rumah itu.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!