Di sebuah lembah tersembunyi yang jarang dikunjungi siapa pun, hiduplah sebuah keluarga kecil yang tampak biasa saja — seorang ibu lemah yang bekerja keras sebagai pembantu, seorang paman nelayan yang ramah, dan seorang putri kecil bernama Angel. Tidak ada yang tahu siapa mereka sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon catsickle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Kembali ke Masa Sekarang
Suara Ellion perlahan memudar, dan seketika itu juga bayangan masa lalu lenyap dari pandangan. Kembali ke ruangan kerja Kepala Akademik yang tenang, namun suasana di antara mereka terasa berbeda — lebih hangat dan penuh makna setelah mendengar kisah yang begitu dalam.
Ellion menarik napas panjang, menatap Angel dengan tatapan lembut. Ia hendak melanjutkan pembicaraannya, ingin menjelaskan mengapa selama ini ia menganggap Paman Kael sebagai kakaknya sendiri. Namun belum sempat kata-kata itu terucap...
Wusss...!
Sebuah aura yang sangat kuat dan mencekam tiba-tiba melanda seluruh area akademik. Udara di dalam ruangan itu berubah menjadi berat dan dingin, dinding-dinding seakan bergetar pelan. Wajah Ellion berubah seketika — ia merasakannya dengan sangat jelas. Aura itu bukan hal biasa. Sesuatu yang besar dan mengerikan sedang terjadi di luar sana. Kerusakan besar akan segera menimpa akademik ini.
"Ada sesuatu yang buruk sedang terjadi..." ucap Ellion dengan suara serius, lalu menatap Angel. "Ikutlah bersamaku, kita lihat apa yang terjadi."
Angel mengangguk dengan wajah cemas, dan di saat itu pula kesadaran menyambarnya seketika. Ia lupa sepenuhnya — ibu dan pamannya pasti sudah menunggu lama di luar gerbang. Mereka tidak tahu ke mana ia pergi, dan tidak ada yang memberi kabar.
"Tunggu, Tuan Ellion!" seru Angel. "Ibu dan pamanku... mereka pasti sudah sangat khawatir menungguku. Bolehkah saya meminta izin? Bisakah Anda mengantarku menemui mereka? Mereka pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak kunjung keluar..."
Ellion mengangguk mantap. "Tentu saja. Pegang tanganku erat-erat."
Angel segera meraih tangan Ellion.
"Kita akan berpindah dengan sihir teleportasi," ucap Ellion dengan cepat. "Perjalanannya sangat cepat, efeknya mungkin akan membuatmu merasa mual. Bertahanlah ya."
Belum sempat Angel mengucapkan apa-apa, cahaya putih menyilaukan memancar dari tubuh Ellion. Dalam sekejap, tubuh mereka terasa ditarik oleh kekuatan yang luar biasa, seakan seluruh dunia di sekitar mereka berputar dengan kecepatan tak terbayangkan. Angel menahan rasa mual yang melonjak di perutnya, kepalanya terasa pening luar biasa, namun ia tetap mencengkeram tangan Ellion dengan erat.
Dan dalam sekejap mata, mereka sudah berada di tempat tujuan — di depan gerbang utama akademik, tepat di tengah keributan yang memanas.
Angel segera melepaskan tangan Ellion dan berlari sekuat tenaga, melihat sosok yang dicarinya di tengah kerumunan.
"Ibu! Paman!" teriaknya dengan suara lantang. "Ibu... aku di sini!"
Di saat itu juga, Rebeca yang sudah berada di ambang puncak kemarahannya — bola mata kirinya merah gelap, kekuatan dahsyat sedang berkumpul di telapak tangannya siap meledak menghancurkan segala yang ada di hadapannya — seketika membeku. Kekuatan yang hampir meledak itu lenyap seketika. Tubuhnya yang tadi membungkuk menahan amarah perlahan tegak, dan sepasang matanya menatap ke arah suara itu.
Sebutan itu... suara itu... memanggilnya dengan sebutan Ibu.
Angel langsung menghambur ke pelukan Rebeca, memeluknya erat-erat seakan takut akan kehilangan wanita itu.
"Ibu... maafkan aku..." isak Angel dengan suara gemetar. "Maafkan aku sudah membuat Ibu khawatir begitu lama. Aku tidak bermaksud membuat Ibu cemas..."
Rebeca memeluk balik putri kandungnya itu dengan erat, air mata bahagia menetes di pipinya. Segala amarah dan kekuatan mengerikan yang tadi meledak seketika lenyap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang meluap-luap.
Sementara itu, para pengawal yang tadinya berdiri dengan pedang terhunus siap menghadang, kini seketika mengubah sikap. Melihat sosok yang berdiri di samping Angel — Kepala Akademik sendiri — mereka segera menegakkan tubuh dengan hormat, menurunkan senjata, dan membungkuk dalam dengan sikap penuh penghormatan, seolah menyambut seseorang yang paling terhormat di tempat itu.
Ellion menatap Rebeca dan Kael dengan mata yang berbinar, penuh kehangatan dan kerinduan yang tak terucapkan.
"Selamat datang," ucap Ellion dengan lembut namun berwibawa. "Ajaklah kalian bertiga ke ruanganku. Ada banyak hal yang perlu kita bicarakan."
Angel melepaskan pelukannya sebentar, lalu menatap Ellion dengan wajah memohon.
"Tuan Ellion... bolehkah saya meminta satu hal lagi?" tanyanya dengan sopan. "Bolehkah Rey ikut bersama kami? Dia adalah teman pertama yang aku temui di akademik ini, dan dia selalu menemaniku setiap hari. Aku tidak ingin meninggalkannya sendirian di sini."
Ellion tersenyum lembut, lalu mengangguk. "Tentu saja. Panggillah dia. Dia juga diundang bersama kita."
Sesampainya di ruangan Kepala Akademik, suasana segera terbagi dua. Angel dan Rey diantar untuk beristirahat dan disuguhkan makanan, ditemani oleh istri Kepala Akademik yang ramah dan penuh kehangatan. Sementara itu, di ruang kerja utama, hanya tersisa tiga orang: Rebeca, Kael, dan Ellion.
Keheningan menyelimuti ruangan itu begitu pekat. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membuka suara duluan. Ketiganya saling berdiam diri, seakan ada beban berat yang menggantung di udara — pertemuan yang seharusnya sudah lama terjadi, namun selalu tertunda. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang berirama pelan, menambah kesunyian yang menegangkan.
Hingga akhirnya, Ellion menarik napas panjang dan memecah keheningan itu.
"Bagaimana kabarmu, Kakakku... Kael?" tanyanya lembut namun penuh kerinduan.
Kael tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap pemuda yang selama ini ia anggap seperti adik kandungnya sendiri. "Kabar baik, Ellion. Semua baik saja."
Ellion kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rebeca, tatapannya penuh hormat sekaligus penuh rasa sayang yang mendalam.
"Dan kabar Anda, Ibu..." suaranya terdengar pelan namun jelas. "Saya sudah mengetahui segalanya. Bahwa Anda adalah ibu kandung dari Angel, sekaligus ibu angkatku dan juga ibu angkat Kael. Siapa pun yang dijadikan keluarga oleh Yofaith, Sang Dewa Penghancur, otomatis menjadi anak angkat Beliau — dan sekaligus menjadi anak angkat Anda juga, Rebeca, Sang Pembunuh Langit..."
Rebeca tertegun mendengar kata-kata itu. Matanya melebar sedikit, menatap Ellion dengan tatapan bingung sekaligus tak percaya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa pemuda di hadapannya ini pernah sedekat itu dengan suaminya sendiri, Yofaith. Bagaimana mungkin ia mengenal setiap orang yang pernah dijadikan keluarga oleh suaminya? Selama ini Yofaith telah menjadikan begitu banyak orang sebagai miliknya, sekaligus anak angkatnya — hal itu sudah terjadi berkali-kali sejak lama.
Ellion menunduk dalam, wajahnya tampak penuh dengan rasa bersalah.
"Saya mohon maaf..." suaranya terdengar bergetar. "Saya memohon maaf atas segala kejadian yang kalian alami — mulai dari saat mendaftarkan Angel ke sekolah ini, hingga apa yang terjadi hari ini di gerbang. Semua kesulitan, rasa khawatir, dan perlakuan yang tidak pantas kalian terima... itu semua karena saya tidak segera mengenali kalian dan menyambut kalian dengan layak. Maafkan saya..."
Namun Rebeca menggeleng pelan, tatapannya lembut namun tegas.
"Jangan meminta maaf untuk hal itu, Ellion," ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh wibawa. "Hal itu sudah wajar. Saya sengaja tidak menunjukkan jati diri saya kepada siapa pun. Walaupun sejujurnya... berkali-kali hati ini ingin sekali menampakkan siapa saya sebenarnya, terutama saat melihat Angel ditindas dan diperlakukan tidak adil. Namun saya menahannya. Karena saya tahu, waktu belum tiba..."
Ellion mengangguk paham, namun seketika wajahnya berubah menjadi lebih serius.
"Karena itu, izinkan aku mengajukan sesuatu," ucapnya dengan nada tegas namun penuh perhatian. "Angel akan mendapatkan perlindungan dari seseorang yang terkenal dan dihormati di seluruh akademik ini. Selain itu, dia juga akan menjadi murid yang dilatih secara langsung olehku sendiri — tidak ada murid lain yang mendapatkan perlakuan istimewa seperti dia."
Belum selesai kata-kata itu terucap, pintu ruangan terbuka. Angel masuk ke dalam ruangan, dan sepertinya ia sempat mendengar sebagian percakapan itu. Langkahnya berhenti sejenak, lalu ia menatap Ellion dengan tatapan yang teguh dan mantap.
"Tunggu, Tuan Ellion..." seru Angel, menyela pembicaraan itu. "Saya mohon... jangan lakukan itu. Saya menolak perlindungan khusus seperti itu."
Ketiga orang di ruangan itu — Ellion, Rebeca, dan Kael — terdiam serempak, menatap Angel dengan wajah penuh keheranan.
"Angel..." gumam Rebeca pelan, tak menyangka putrinya akan berkata demikian.
Angel menarik napas dalam, lalu melanjutkan dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan.
"Saya ingin menjalani hidup yang normal, sama seperti murid lainnya. Jika saya selalu dilindungi dan diperlakukan istimewa, bagaimana saya bisa tumbuh dan menjadi lebih kuat? Saya tidak ingin menjadi orang yang lemah yang selalu bergantung pada orang lain. Saya ingin maju dengan kekuatan saya sendiri."
Keheningan melanda ruangan itu sejenak. Namun di balik keheranan itu, mata ketiganya perlahan bersinar terang — bukan karena marah, melainkan karena bangga. Bangga melihat keteguhan hati dan kemandirian yang ada pada diri Angel.
Ellion tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca. "Baiklah, Angel. Aku mengabulkan permintaanmu. Namun ada satu syarat..."
Ia menatap Angel dengan tatapan penuh makna.
"Setiap murid yang aku latih sendiri, mereka akan mengawasimu secara diam-diam, hanya untuk memastikan keselamatanmu tanpa mengganggu langkahmu."
Angel tersenyum lega dan mengangguk setuju. "Terima kasih, Tuan Ellion. Saya setuju."
Mereka pun kembali berbincang-bincang dengan hangat, membicarakan banyak hal — tentang masa depan Angel, tentang kehidupan di akademik, dan tentang hal-hal yang selama ini terpendam. Hingga suatu saat, di tengah percakapan yang asyik itu, Angel tiba-tiba menepuk jidatnya pelan.
"Astaga..." serunya pelan. "Kita sudah mengobrol begitu lama, tapi saya baru sadar... Tuan Ellion belum selesai bercerita. Kenapa Tuan Ellion menganggap Paman Kael sebagai kakak sendiri?"
Ellion tertawa pelan mendengar pertanyaan itu, lalu menatap Angel dengan tatapan bercanda namun lembut.
"Kenapa tidak kau tanya saja pada pamanmu sendiri?" katanya sambil tertawa. "Bukankah kau sudah dekat sekali dengan kakakku itu?"
Namun seketika itu juga, Ellion melirik jam dinding dan wajahnya berubah menjadi sedikit bersalah.
"Ah... tapi ini sudah terlalu malam. Kalian harus pulang," ucapnya dengan nada lembut. "Maafkan aku membuat kalian harus menunggu sampai larut malam seperti ini. Aku akan segera menyiapkan teleportasi untuk mengantar kalian pulang — dan Rey juga, temanmu itu akan aku antar langsung ke rumahnya."
Tanpa menunggu lama, Ellion melangkah ke tengah ruangan dan mengangkat kedua tangannya. Sebuah portal besar terbuka di hadapan mereka — berbeda dengan teleportasi saat pertama kali Angel datang ke sini. Saat itu, sihirnya menempel pada tanah, memindahkan tubuh mereka seketika dari satu tempat ke tempat lain. Namun kali ini, portal itu bersinar lembut dengan cahaya yang mengalir, membentuk seperti lorong yang membentang melintasi ruang dan waktu.
"Ini adalah teleportasi yang bekerja seperti lorong waktu," jelas Ellion pelan. "Pulanglah... Rey akan sampai di rumah ibunya, dan kalian bertiga — Angel, Kael, serta Ibu — akan langsung sampai di rumah kalian."
Mereka pun melangkah masuk ke dalam portal itu. Cahaya menyelimuti tubuh mereka, dan seketika itu juga mereka lenyap satu per satu menuju rumah masing-masing.
Ketika keheningan kembali menyelimuti ruangan itu, hanya tersisa Ellion dan istrinya. Ellion tersenyum hangat, matanya memancarkan kebahagiaan yang dalam. Sudah begitu lama sejak saat itu — sejak Sang Dewa Penghancur, Yofaith, meminta anak-anak dan orang-orang terdekatnya untuk berpisah, pergi mencari kehidupan masing-masing di tempat yang berbeda, menunggu waktu yang tepat hingga mereka perlahan-lahan dipertemukan kembali satu sama lain. Dan hari ini... akhirnya mereka mulai berkumpul kembali.