Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Rumor Salah Kaprah

Sekar

Dua hari setelah Bu Marlina pulang, ponsel Bu Retno tidak pernah benar-benar diam.

Pesan pertama datang saat sarapan. Bu Retno membaca layar, lalu buru-buru membalik ponselnya di atas meja. Pesan kedua masuk ketika aku menyisir rambut Arka. Pesan ketiga berupa voice note yang sempat berbunyi sebelum beliau mengecilkan volume.

"Retno, maaf aku tanya langsung. Nara itu sebenarnya..."

Suara itu terputus.

Bu Retno memandangku yang berdiri dekat kursi makan. Wajahnya berubah kaku.

"Bawa Arka ke belakang."

Aku menggendong bayi itu dan pergi tanpa bertanya. Namun di dapur, dua pekerja sedang berbisik di dekat bak cuci.

"Katanya Den Nara tidak suka perempuan."

"Jangan sembarangan."

"Itu kata grup keluarga. Bu Marlina cerita sendiri."

Keduanya langsung diam ketika melihatku. Aku menunduk pada Arka, seolah tidak mendengar. Bayi itu menarik ujung jilbabku dan mengoceh tanpa tahu satu kalimat yang salah sedang mengubah udara seluruh rumah.

Menjelang siang, kabar itu sudah memiliki banyak bentuk. Ada yang bilang Den Nara menolak lima perempuan sekaligus. Ada yang mengatakan dia tidak pernah punya pacar karena menyembunyikan sesuatu. Ada pula yang menghubungkan kemarahannya pada acara teh dengan cara dia membelaku.

Namaku mulai ikut disebut.

Salah satu pekerja memperlihatkan tangkapan layar kepadaku dengan ragu. Di grup keluarga besar, seorang tante yang tidak kukenal menulis bahwa rumah semewah Adiwijaya seharusnya lebih hati-hati memilih pekerja perempuan muda. Orang lain membalas dengan emoji tertawa dan bertanya apakah aku sengaja berdandan saat melayani teh. Tidak ada yang menyebut kebaya itu milik Ratih atau bahwa aku sudah meminta untuk menggantinya.

Di grup arisan, ceritanya lebih buruk. Bu Marlina tidak menulis hinaannya kepadaku. Dia hanya mengatakan Den Nara tiba-tiba marah ketika seorang pekerja disebut pembantu, lalu mengaku tidak tertarik pada "urusan perempuan". Dua potongan kejadian itu disambungkan sampai tampak seperti satu pengakuan rahasia.

"Hapus saja dari ponselmu," kata Bu Nah ketika melihat tanganku gemetar.

"Kalau saya tidak tahu yang mereka katakan, bukan berarti mereka berhenti."

"Tapi membaca semuanya juga tidak membuatmu bisa memperbaikinya."

Aku mengembalikan ponsel pekerja itu. Bu Nah benar. Tetap saja, setiap getaran dari ruang depan membuat tengkukku dingin. Aku mulai menghitung langkah orang di koridor, takut ada yang datang membawa tuduhan baru.

Saat memberi Arka makan siang, sendok kecil itu dua kali membentur mangkuk karena jariku tidak stabil. Arka menatapku, lalu menepuk tanganku dengan telapak mungilnya. Aku tersenyum agar dia tidak ikut gelisah.

"Kak Sekar tidak apa-apa," bisikku, lebih untuk meyakinkan diri sendiri.

Ratih menemukanku di ruang cuci sambil membawa ponsel.

"Hebat juga kau," katanya. "Belum jadi siapa-siapa sudah bikin keluarga besar kacau."

"Saya tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun."

"Tapi dia membuat keributan karena kau. Sekarang orang bertanya kenapa lelaki normal lebih memilih membela pembantu daripada mengenal perempuan baik-baik."

Kata normal membuat dadaku sesak. Den Nara hanya menolak perjodohan. Tidak ada yang salah dengannya, juga tidak ada yang salah pada siapa pun yang hidupnya berbeda dari harapan keluarga. Namun rumor tidak mencari kebenaran. Ia mencari bentuk yang paling mudah membuat orang malu.

"Mbak tahu ucapan Den Nara bukan begitu maksudnya."

"Aku tahu dia berubah sejak kau datang."

Ratih mendekat, lalu mengendus pelan seperti pernah dilakukannya di meja makan. Tubuhku langsung menegang.

"Kadang aku berpikir ada yang tidak bersih di rumah ini," bisiknya. "Entah ramuan dari desa, entah cara perempuan tertentu membuat lelaki kehilangan akal."

Jantungku menghantam rusuk. Dia tidak tahu. Dia hanya melempar umpan, berharap ketakutanku memberinya jawaban.

Aku memaksa wajah tetap datar. "Kalau Mbak punya tuduhan, katakan di depan Bu Retno."

"Nanti juga beliau sadar sendiri."

Dia pergi sambil tersenyum.

Sore itu Bu Retno menerima telepon dari seorang kerabat. Aku sedang mengantar teh ke ruang keluarga ketika suara di seberang terdengar cukup keras.

"Kalian perlu bawa Nara konsultasi. Jangan dibiarkan. Siapa tahu cuma pengaruh lingkungan."

Bu Retno memutus sambungan tanpa menjawab. Tangannya gemetar ketika meletakkan ponsel.

"Bu, tehnya."

"Taruh."

Aku melangkah mundur.

"Sekar."

Aku berhenti.

"Sejak kapan Nara sering bicara denganmu?"

Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi sorot matanya membuat lidahku kaku.

"Sejak saya bekerja di sini, Bu. Kalau ada urusan Arka atau pekerjaan."

"Hanya pekerjaan?"

Aku teringat ruang kerja yang pintunya terbuka, janji makan sampai kenyang, sapu tangan, dan cara Den Nara menatapku setelah menolak perjodohan. Tidak semuanya bisa disebut pekerjaan. Namun aku juga tidak berhak memberi nama pada sesuatu yang belum kami sepakati.

"Kami menjaga batas, Bu."

Jawabanku justru membuat wajahnya semakin gelap.

"Saya bertanya hanya pekerjaan atau bukan."

"Saya tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas dengan Den Nara."

Itu benar. Bahkan ketika perasaanku bergerak ke arah yang berbahaya, aku selalu mengingat pintu, jarak, dan siapa yang berada di sekitar kami.

Bu Retno memijat pelipis. "Pergilah."

Malamnya, aku mendengar Ratih berbicara di teras dengan suara rendah.

"Bu jangan marah. Saya cuma khawatir. Di desa kadang orang percaya macam-macam. Ada minyak, ada ramuan, ada cara membuat seseorang terus memikirkan kita."

"Jangan bicara takhayul," jawab Bu Retno, tetapi suaranya tidak tegas.

"Saya juga tidak percaya. Tapi sejak Sekar datang, Nara berubah. Dia membentak tamu, menolak semua calon, mempermalukan keluarga. Kalau bukan karena gadis itu, kenapa?"

Aku berdiri di balik pintu dapur dengan nampan makan malam. Kakiku seolah menempel di lantai.

"Kita tidak boleh menuduh tanpa bukti," kata Bu Retno.

"Kalau menunggu bukti, nama keluarga sudah telanjur rusak."

Aku mundur sebelum mereka melihatku. Bu Nah menerima nampan dari tanganku dan menyentuh lenganku.

"Jangan dengarkan."

"Kalau Bu Retno percaya?"

"Beliau sedang takut, bukan sedang berpikir. Takut bisa membuat orang baik melakukan hal bodoh, tapi bukan berarti selamanya begitu."

Aku ingin percaya. Namun malam itu aku tidur dengan tas kain tua diletakkan di dekat pintu, berjaga-jaga bila rumah ini kembali berhenti menjadi tempat aman.

Keesokan paginya, Bu Retno memanggilku ke dapur sebelum pekerja lain datang. Ratih berdiri di luar, pura-pura memeriksa bunga.

"Saya mau tanya sekali saja," kata Bu Retno. "Jawab jujur."

"Baik, Bu."

"Apa yang kau berikan kepada Nara?"

"Maksud Bu?"

"Makanan, minuman, minyak, apa pun. Apa kau pernah mencampurkan sesuatu?"

Darah di wajahku surut. Pertanyaan itu terlalu dekat dengan luka lama, dengan botol ramuan yang dahulu dipaksakan Mbah Sari, dengan tuduhan orang kampung bahwa tubuhku membawa godaan.

"Tidak pernah."

"Ratih bilang kau punya bau yang aneh."

"Mbak Ratih sudah mencari kamar saya. Tidak ada apa-apa."

"Itu bukan jawaban."

"Saya tidak pernah memberi Den Nara apa pun untuk mengubah pikirannya. Demi Allah, Bu."

Bu Retno terdiam mendengar sumpahku. Aku tidak memakai nama Allah sembarangan. Namun rasa malu telanjur membakar mataku.

"Lalu kenapa dia seperti itu?"

"Tanyakan kepada Den Nara. Saya tidak bisa menjawab isi hati orang lain."

Untuk pertama kalinya, nada suaraku terdengar lebih keras daripada seharusnya. Bu Retno mengangkat kepala. Aku langsung menunduk.

"Maaf, Bu. Tapi saya juga tidak bisa terus dituduh atas ucapan yang bukan keluar dari mulut saya."

Beliau membiarkanku pergi, tetapi masalah tidak selesai.

Hari ketiga, Pak Suryo memanggil Den Nara ke ruang kerja setelah pulang kantor. Mereka berbicara hampir satu jam. Aku hanya melihat Den Nara lewat di koridor, wajahnya tegang, sebelum pintu tertutup.

Pada saat yang sama, Bu Retno menyuruhku datang ke ruang keluarga.

Ratih sudah duduk di sana. Tidak ada Bu Nah, tidak ada Arka, dan tidak ada Den Nara. Tas kainku terasa sangat jauh di kamar.

"Duduk," kata Bu Retno.

Aku duduk di ujung kursi.

"Saya sudah memikirkan ini dua hari. Rumah kita tidak tenang. Nama Nara jadi bahan bicara. Tamu dipermalukan."

"Saya minta maaf kalau keberadaan saya membuat keadaan sulit, Bu."

"Jadi kau mengakui penyebabnya?" sela Ratih.

Aku menatapnya. "Saya mengakui orang memakai nama saya untuk membuat masalah. Bukan berarti saya menciptakan masalah itu."

Senyumnya hilang.

Bu Retno menepuk sandaran kursi. "Cukup. Saya tidak mau berdebat."

"Apa keputusan Bu?"

Beliau memandangku lama. Di matanya ada lelah, malu, dan ketakutan seorang ibu yang merasa tidak memahami anaknya sendiri. Sayangnya, semua itu sedang diarahkan kepadaku karena aku sasaran paling mudah.

"Kau sudah bekerja baik," katanya. "Gajimu akan dibayar penuh. Saya juga beri uang satu bulan supaya kau punya waktu mencari tempat lain."

Udara menghilang dari paru-paruku.

"Bu..."

"Ini bukan soal pekerjaanmu. Ini demi ketenangan semua orang."

Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak punya rumah untuk dituju. Bahwa Sukir sudah menemukan Surabaya. Bahwa keluar dari gerbang ini bukan sekadar kehilangan gaji, melainkan kembali menjadi buruan.

Namun rahangku terkunci. Ratih menunggu aku memohon. Aku tidak akan memberinya kepuasan itu.

Tanganku menggenggam ujung rok di bawah meja. Dalam hati aku menghitung uang tabungan, jarak ke kos Yuni, dan kemungkinan Sukir menunggu di luar gerbang. Semua jawabannya sama buruk, tetapi aku memaksa punggung tetap tegak.

Matanya sempat goyah sebelum kalimat.

Bu Retno menarik napas, lalu berkata dengan suara yang dibuat keras, "Mulai besok kau tak usah..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!