perkenalkan namaku Jasmine. Usiaku 34 tahun. aku sudah menikah dan mempunyai dua orang anak yang berusia 7 tahun dan 4 tahun. Kegiatanku hanya seorang Ibu rumah tangga.
Suamiku bekerja sebagai PNS di kelurahan desa.
Simak kisahku yang begitu berat aku jalani . Hanya karena ingin mendapatkan surga dari ridho suamiku.
Tapi ternyata aku tak lebih hanya dijadikan seorang babu berkedok istri.
Simak kisah lengkapku ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirly Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
asisten rumah tangga
Hari sabtu pagi. Akhir pekan bagi Mas Rama dan juga Aldi. Biasanya aku menyibukkan diri untuk berada di dapur mempersiapkan sarapan. Tapi tidak untuk hari ini. Karena waktuku untuk menjalankan aksi.
Jam menunjukkan pukul 06.00 pagi. Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Segera aku menghampirinya. Begitu pintu terbuka, muncul lah seorang wanita paruh baya berdiri di hadapanku dengan senyum ramah dan sopan.
" Selamat pagi, Bu Jasmine. Maaf saya sedikit terlambat" Sapa wanita tersebut.
" Selamat pagi juga, Mbak. Tidak apa-apa. Mari masuk." Jawabku sambil mempersilahkannya masuk.
Wanita tersebut bernama Mbak Tini. Beberapa hari lalu aku menghubungi jasa penyalur asisten rumah tangga dan meminta sesorang yang bisa dipercaya, rajin, serta cekatan untuk membantu pekerjaan rumah. Dan akhirnya aku mendapatkan Mbak Tini.
" Ayo Mbak saya jelaskan dulu beberpa hal dirumah ini. O,ya Mbak Tini sudah sarapan belum?" Tanyaku.
" Belum, Bu. Saya tidak terbiasa sarapan." Jawab Mbak Tini.
" Oh, begitu. Tapi selama Mbak Tini bekerja disini, tolong di usahakan sarapan, ya Mbak. Sedikit juga gak apa-apa. Dengan begitu tenaga Mbak pasti bertambah."
" Baik, Bu . Saya Usahakan untuk sarapan mulai besok."
" Kalau begitu mari ikut saya ke dapur, Mbak."
Mbak Tini mengikuti langkahku menuju dapur. Dari caranya berjalan dan memperhatikan sekeliling, sepertinya Mbak Tini memang sudah cukup berpengalaman bekerja sebagai asisten rumah tangga. Jadi aku tidak perlu menjelaskan semuanya secara mendetail. Aku hanya memberitahukan beberapa hal penting yang perlu Mbak Tini ketahui selama bekerja dirumah ini. Sesampainya di dapur, aku menjelaskan hal yang penting di lakukan setiap hari.
" Untuk tugas utama setiap pagi, Mbak Tini siapkan sarapan untuk kami. Kalau bisa masak agak banyak , karena untuk makan siang sekalian. Dan jangan semua nya pedas. Karena anak-anak saya belum bisa makan pedas." Ucapku menjelaskan kepada Mbak Tini.
" Baik, Bu Jasmine. Saya mengerti." Jawab Mbak Tini.
" Untuk hari ini, manfaatkan dulu bahan makanan yang ada di dalan kulkas. Karena saya belum sempat belanja."
" Saya akan mengerjakannya sekarang, Bu."
Tanpa banyak bicara lagi, Mbak Tini langsung membuka kulkas dan mulai memeriksa persediaan bahan makanan. Tangannya bergerak cekatan, mengambil beberapa sayuran dan bumbu yabg masih tersedia. Sepertinya aku tidak salah memilih Mbak Tini. Kemudian aku meninggalkan Mbak Tini. Sengaja ku biarkan Mbak tini bekerja tanpa mengawasinya, aku ingin memberikannya ruang dan kebebasan untuk bekerja dengan caranya sendiri.
Di lain sisi, aku sudah tidak sabar melihat ekspresi kaget ibu mertuaku dan juga Mas Rama ketika mereka keluar kamar nanti dan bertemu dengan Mbak Tini.
Sambil menunggu, aku memilih bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi lalu menikmati secangkir teh hangat dan biskuit. Rasanya begitu nyaman. Sudah lama sekali aku tidak duduk santai seperti ini.
Saat aku fokus melihat acara televisi, tiba-tiba terdengar suara Ibu mertuaku. Seketika aku menoleh dan melihat beliau berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang. Dari wajahnya, aku sudah bisa menebak kalau beliau pasti sudah melihat Mbak Tini di dapur.
" Jasmine....., siapa perempuan yang ada di dapur itu?" Tanya Bu Lastri tajam.
" Oh, Itu Mbak Tini, Bu. Asisten rumah tangga. Baru hari ini dia mulai bekerja disini." Jawab ku dengan tenang dan sopan.
" Apa kamu sudah gila, Jasmine?" Seru nya sambil melotot ke arah ku.
" Kenapa Ibu bicara seperti itu?" Tanyaku yang sedikit terkejut mendengar kata Gila dari mulut Ibu.
" Memangnya kamu punya banyak uang, hah? Sok-sok an menyewa pembantu segala."
" Ibu tenang saja. Kalau saya berani menyewa asisten rumah tangga, berarti saya sudah mempertimbangkan biaya untuk menggaji nya." Jawabku dengan nada tegas namun tetap sopan.
" Kamu itu memang sudah sangat keterlaluan, Jasmine. Kamu mau memeras suamimu, ya?"
" Keterlaluan bagaimana, Bu? Menurut saya biasa saja."
Aku menjawab santai, bahkan tanpa mengalihkan pandangan dari televisi. Pasti beliau semakin kesal melihat sikapku.
" Dasar menantu kurang ajar. Kamu itu perempuan, Jasmine. Sudah sewajarnya melayani suami dan mengurus rumah tangga. Bukan malah menyuruh pembantu mengerjakan semuanya." Ujar Bu Lastri dengan kesal.
Aku memilih diam. Bukan karena aku tidak mempunyai jawaban, tetapi aku tahu percuma meladeni emosi Ibu Lastri. Jadi, aku kembali menikmati acara televisi seolah tidak terjadi apa-apa. Karena melihat sikapku yang tenang justru membuat beliau semakin geram.
" Kamu benar-benar memang keterlaluan, Jasmine. Untuk apa kalian menjemput Ibu kalau akhirnya kamu hanya membuat Ibu naik darah seperti ini?"
" Lho, kenapa Ibu marah? Tujuan saya memperkerjakan asisten rumah tangga justru supaya dirumah lebih ringan. Ibu juga tidak perlu capek bersih-bersih. Lagi pula, bukankah Ibu pernah bilang kalau saya kurang pintar membersihkan rumah? Pasti masih banyak debu-debu yang menempel di sudut rumah. Niat saya itu baik, Bu. Saya hanya ingin rumah terlihat lebih bersih dan rapi supaya Ibu tidak mengomel lagi." Ucapku menjelaskan dengan lembut.
" Lalu apa pekerjaanmu kalau semuanya dikerjakan pembantu?" Tanya Bu Lastri.
" Ibu, dia asisten rumah tangga namanya Mbak Tini. Ibu jangan menyebutnya dengan kata pembantu." Ralat ku kalem.
" Terserah Ibu mau menyebutnya apa. Kamu itu pintar sekali kalau disuruh menjawab omongan mertua. Lihat saja, nanti kualat kamu." Ucap beliau.
" Hush... Ibu jangan bicara begitu. Ibu kan bukan Gusti Allah. Jadi jangan ngomong begitu."
Aku mengatakannya dengan tenang, tapi tegas. Entah karena tersinggung dengan ucapanku, Bu Lastri langsung melangkah mendekatiku. Kemudian tangannya menggebrak meja di hadapanku.
Braakkkk !!!
Aku terkejut. Cangkir teh yang berada di atas meja ikut berguncang. Sebagian isinya mencuat dan tumpah membasahi permukaan meja. Aku tetap berusaha bertahan dan tenang dengan bersikap santai.
" Astaghfirullah, Ibu.... Masih pagi lho ini. Kalau Ibu gebrak meja seperti ini, nanti tetangga dengar. Bisa-bisa mereka mengira ada KDRT dirumah ini." Ucapku santai. Kemudian aku pun bangkit dari sofa, dan berjalan menuju arah dapur.
" Dasar menantu kurang ajar!!! Ibu tidak sudi punya mantu seperti kamu, Jasmine." Teriak Bu Lastri.
Beliau benar-benar terlihat sangat emosi kepadaku. Padahal semua yang kulakukan mempunyai niat yang baik. Tapi karena pada dasarnya Ibu tidak menyukai ku, pastinya apapun yang aku lakukan akan di anggapnya selalu salah.
...****************...
Terimakasih sudah membaca 🙏
Next ke episode selanjutnya yaa, makin seru 😘