Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 17
Begal itu terkejut karena Pria yang baru saja ia serang masih berdiri tegak seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya bahkan terlihat santai.
“Ini sama sekali tidak sakit.”
Darah terus mengalir dari luka di dadanya. Cairan merah itu membasahi pakaiannya, lalu menetes satu per satu ke lantai. Begal tersebut menatapnya dengan wajah tak percaya.
“Apa-apaan ini?”
begal mundur selangkah karena ia merasakan firasat tidak enak dengan pria itu
“Tidak... tidak mungkin.”
“Pasti... dirimu anomali!”
Begitu kata anomali terucap, kedua bola mata pria itu seketika berubah merah.Tatapannya yang sebelumnya tenang berubah menjadi sesuatu yang sulit dijelaskan.
Pria itu memang seorang anomali. Namun, berbeda dari kebanyakan anomali lainnya, ia tidak memiliki kemampuan untuk mengubah bentuk tubuhnya, Ia tetap terlihat seperti manusia biasa hanya saja, ada sesuatu yang jelas-jelas tidak manusiawi dalam dirinya.
Pria itu mulai berjalan mendekati begal secara perlahan Satu demi satu wajahnya kemudian perlahan membentuk senyum lebar yang terasa mengerikan. Giginya berubah menjadi taring-taring panjang, sementara lidahnya menjulur keluar, menyerupai lidah seekor ular.
Ia terus menatap begal itu tanpa berkedip.Tatapan intimidatifnya membuat begal tersebut semakin terpojok.
Dalam keadaan panik, begal itu segera menarik Eva ke arahnya. Ia mencengkeram kedua tangan Eva dengan erat, lalu menempelkan golok besarnya di dekat leher gadis itu.
"ka-kamu anomali!” (ujar begal ketakutan)
“JANGAN MENDEKAT!! Kalau kamu berani mendekat, aku akan membunuh gadis ini di depanmu!”
Ancaman itu menggema di ruangan. namun pria tersebut hanya diam Ia bahkan tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan.
Pakaiannya sudah berlumuran darah, tetapi ekspresinya tetap santai. Kemudian, di luar dugaan, ia justru berkata,
“Bunuh saja gadis itu.”
“Huh?”
“Apa...? Tidak mungkin... Bagaimana seseorang bisa tega melihat--”
Tanpa disadari oleh begal tersebut, darah yang menetes di lantai mulai bergerak. Cipratan darah yang menempel pada golaknya pun perlahan ikut bergerak.
Eva menyadari pergerakan itu namun, ia memilih tetap diamb Begal tersebut masih sibuk menatap dan berbicara pria di hadapannya.
“Gadis ini yang aku ancam untuk dibunuh, bukannya kamu... Tunggu.”
" apa-apaan ini?”
Pria itu tidak menjawab.
Begal tersebut kembali berbicara, berusaha memahami situasi yang menurutnya tidak masuk akal.
“Apakah dirimu memang seorang anomali yang tidak memiliki empati sama sekali?”
Pria tersebut hanya mendengarkan dengan tenang.
“Makanya kamu sama sekali tidak merasa takut melihat gadis ini dibunuh?”
Ia tetap diam sementara itu, darah yang tadi berada di lantai perlahan mengumpul di belakang bahu Eva Darah tersebut bergerak naik dan menggeliat.
Kemudian bentuknya mulai berubah Perlahan, darah itu membentuk seekor ular kecil.Ular tersebut tampak seperti makhluk hidup, dengan gerakan yang begitu tenang saat merayap mendekati begal.
Begal itu sama sekali tidak menyadarinya ular darah tersebut terus mendekat...
hingga akhirnya berada tepat di belakang lehernya.
Lalu menggigit leher begal tersebut.
“AARGH!”
Refleks, genggamannya pada tangan Eva melemah dan golok yang berada di tangannya terlepas.
Eva tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.Ia segera melepaskan kedua tangannya dari cengkeraman begal tersebut, memutar tubuh, lalu menendangnya sekuat tenaga.
BRAK!!!
Tubuh begal itu terjatuh keras ke lantai Eva langsung meraih golok besar yang terlepas dari tangannya.
Tanpa membuang waktu, ia mengayunkan golok tersebut ke arah begal namun, begal itu berhasil menghindar Ia menggulingkan tubuhnya ke samping sebelum segera bangkit berdiri.
Dengan napas memburu, tangannya langsung meraih ular kecil yang masih menggigit lehernya Ia menariknya paksa. Kemudian melemparkan ular itu ke arah tembok.
BRUKK!!!
Tubuh ular kecil tersebut pecah menjadi cipratan darah di dinding. Begal itu terdiam sesaat saat melihat cipratan itu namun, sebelum sempat memahami apa yang terjadi, cipratan darah tersebut kembali bergerak.
Darah itu perlahan menyatu Kemudian mengalir turun dari tembok Begal tersebut menatapnya dengan wajah kebingungan.
“Apa...?”
Perhatiannya teralihkan dan itu adalah kesalahannya
Seketika Golok besar miliknya melesat ke arahnya.
Eva telah mengayunkannya Begal itu segera melompat ke samping.
DUK!!
Tiba-tiba Jantungnya berdetak keras terlalu keras Segera begal itu refleks memegang dadanya.
DUK!!
sekali lagi detak berikutnya terasa semakin kuat.
DUK!!
Begal tersebut mulai terengah-engah.
“Apa... yang terjadi...?”
Rasa sakit tiba-tiba menjalar dari dalam tubuhnya dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menggerogoti tubuhnya dari dalam.
Eva melihat kesempatan itu Ia kembali mengangkat golok.
“Ini saatnya!”
Eva mengayunkan golok tersebut namun Sebuah tangannya tiba-tiba tertahan pria itu telah berdiri di sampingnya dengan satu tangan kanannya, ia menahan ujung golok tersebut.
“Hentikan.”
“Begal itu sebentar lagi mati. Tidak perlu menyerangnya lagi.”
Eva terdiam perlahan, ia menurunkan golok tersebut Kemudian melepaskannya dan menjatuhkannya.
CLANG!
Kini perhatian Eva dan pria tersebut tertuju pada begal yang tergeletak tidak jauh dari mereka.
DUK!!
Detak jantungnya semakin keras.
DUK!!
Semakin cepat. Semakin berat.
DUK!!
Tubuh begal tersebut tiba-tiba ambruk jatuh kelantai karena tidak kuat menahan rasa sakitnya Dengan posisi meringkuk, tubuhnya gemetar hebat, serta batuknya semakin terdengar keras.
BRUK!!
“Uhuk...! Uhuk...!”
Tak lama kemudian, ia memuntahkan darah dari mulutnya.
“Huek...”
Napasnya tersengal-sengal.Rasa sakit yang menyerangnya membuat seluruh tubuhnya melemah. Ia bahkan mulai mengalami kejang-kejang, air mata mengalir dari sudut matanya.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak lagi menunjukkan keberanian yang tersisa hanyalah ketakutan.
“T-tolong...”
Eva terdiam melihat penderitaan yang di alami begal tersebut rasa iba yang muncul di dalam hatinya. namun, di sisi lain, ia masih mengingat apa yang baru saja dilakukan begal tersebut kepadanya.
*Aku merasa kasihan kepadanya...*
Eva menatap bahunya yang terluka.
*...tapi aku tidak boleh menolongnya. Apa yang dia lakukan padaku sampai bahuku terluka separah ini?*
Eva kemudian menoleh kepada pria di sampingnya rasa penasaran mulai memenuhi pikirannya.
“Hey... kamu.”
Pria itu menoleh.
“Apa yang kamu lakukan pada begal itu?”
“Aku hanya menyuntikkan racun ke tubuhnya.”
“Racun?”
Eva kemudian teringat pada ular kecil tadi.
“Jangan-jangan... ular kecil milikmu tadi?"
“Oh, kamu melihatnya?”
Eva mengangguk
“Iya. Aku menyuntikkan sedikit darahku yang beracun melalui taring ular buatanku."
Sementara itu, darah yang sebelumnya menempel di tembok mulai bergerak kembali Darah tersebut perlahan menghampiri pria itu.
Pria tersebut menundukkan tubuhnya dan mengulurkan tangan mendekati darah tersebut.
Ajaibnya, darah itu bergerak menuju telapak tangannya kemudian pria tersebut mengangkat tangannya dan mendekatkannya ke luka di dadanya.
Darah tersebut perlahan masuk kedalam tubuhnya dalam sekejap, luka di dadanya mulai menutup luka yang sebelumnya mengeluarkan banyak darah kembali sembuh seperti semula.
Eva menatap itu semua dengan takjub.
“Kamu... anomali yang kemampuan utamanya mengendalikan darah, bukan?”
Tanpa di sadari Begal itu sudah tidak bergerak Kedua bola matanya mengarah ke ata beberapa saat kemudian, kelopak matanya perlahan menutup.
Pria tersebut menoleh ke arahnya menanyakan apakah begal tersebut sudah mati
“Sudah mati?”
“Iya.”
“Hehehe... Kamu tadi menanyakan kemampuan utamaku yang berkaitan dengan darah?”
“Ya. Itu benar sekali.”
Perlahan, kedua bola matanya kembali normal taring-taring panjang di mulutnya pun menghilang, kembali seperti gigi manusia biasa.
Pria tersebut kemudian mengulurkan tangan kanannya kepada Eva.
“Perkenalkan. Aku Nathan.”
Nathan tersenyum
“Seorang anomali.”
Eva sempat menatap tangan tersebut sebelum akhirnya menjabatnya.
“Senang bertemu denganmu, Nathan. Aku Eva."
“Mulai saat ini... kita akan menjadi teman.”
...****************...