Indonesia
NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:895
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 32] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Saat berada di ruangan yang sepi, privat dan sunyi di sana Anisa menyesap air putih itu, Barbara menatap Anisa dengan binar mata bangga.

"Tadi itu luar biasa. Vivienne sengaja menyerang latar belakangmu karena dia tahu kamu berbeda dari mereka. Tapi caramu menjawabnya... teguh, santun, dan tidak merendahkan dirimu sendiri. Suamimu dan Kakak Iparmu pasti akan sangat bangga mendengarnya jika mereka ada di sini."

Anisa menjawab dengan nada rendah hati, "Saya hanya takut mempermalukan nama keluarga, Kak. Aturan-aturan ini... dan tatapan mereka, terasa sangat asing bagi saya."

Barbara mendekat di samping Anisa, menggenggam tangan nya hangat.

"Pakaianmu, cadarmu, dan prinsipmu bukan kelemahan, Nis. Justru itulah perisaimu. Mulai sekarang, jika ada pria asing,atau wanita luar yang mendekat untuk bersalaman, cukup letakkan tanganmu di dada dan menunduk hormat. Biar aku yang mengalihkan pembicaraan mereka. Kita adalah keluarga sekarang, kamu tidak berjalan sendirian di dunia ini."

Pintu ruang rias privat terbuka ketukan lembut terdengar. Suami Anisa—Tuan Muda Kedua—berdiri di sana.

Wajahnya yang semula tegang karena negosiasi bisnis langsung melembut begitu melihat Anisa. Di belakangnya, berdiri sang Kakak edward selaku Kepala Keluarga.

"Apakah semuanya berjalan lancar di sini?" tanya Edward kepada istrinya

Barbara tersenyum bangga sambil melirik ke arah Anisa yang sudah merapikan cadar kembali. "Lebih dari lancar. Adik iparmu adalah wanita paling tangguh dan anggun di aula tadi. Dia berhasil membuat Vivienne mati kutu dengan cara yang sangat berkelas."

Oscar menatap Anisa dengan binar mata yang penuh rasa kagum dan bersalah karena telah meninggalkan Anisa di situasi asing tersebut.

Dia berjalan mendekat, menjaga jarak yang sopan namun tatapannya begitu melindungi.

"Terima kasih sudah bertahan demi aku. Kamu pasti lelah. Pesta ini belum selesai, tapi urusanku sudah rampung. Mari kita pulang."

Namun, sebagai wanita yang berwibawa dan tahu aturan, Anisa tidak langsung pergi begitu saja. Anisa melihat ke arah Barbara dan kak edward.

"Kak, apakah tidak apa-apa jika kami pulang lebih dulu? Saya tidak ingin kehadiran kami yang kurang optimal di akhir acara justru menyinggung Tuan Rumah," ucap Anda lembut di balik cadar.

Sang Kepala Keluarga mengangguk setuju, menghargai kepekaan Anisa. "Itu keputusan yang benar. Seorang wanita berhak menjaga energinya. Biar aku dan istriku yang tinggal sedikit lebih lama untuk mewakili keluarga besar kita. Temui Tuan Rumah di dekat pintu keluar, ucapkan terima kasih dengan singkat, lalu kalian bisa langsung ke mobil."

Saat menuju pintu keluar, Anisa dan suaminya berpapasan dengan selaku istri Tuan Rumah tak lain adalah Direktur Chika

Oscar kemudian mengambil alih pembicaraan dengan sangat sopan, sementara Anisa mendukungnya di samping.

"Direktur Chika, pesta malam ini benar-benar luar biasa dan sukses besar. Terima kasih banyak atas undangan terhormat ini."

"Oh, Tuan Muda Kedua! Acaranya bahkan belum sampai di dansa utama, apakah Anda sudah mau pergi?"

"Sayang sekali, iya. Istri saya baru saja pulih dari kurang enak badan, dan saya tidak ingin memaksanya berdiri terlalu lama. Saya harus mengutamakan kesehatannya malam ini."

Ini adalah alasan wanita klasik aristokrat yang paling aman menggunakan alasan kesehatan kenyamanan istri. Ini membuat suami Anisa terlihat sebagai pria yang sangat penyayang.

"Pesta Anda sangat indah, Madam Elena. Suatu kehormatan bagi saya bisa hadir di sini. Semoga sisa malam ini berjalan menyenangkan bagi Anda."balas Anisa

"Ah, begitu rupanya. Sayang sekali. Tapi tentu saja, kesehatan istri Anda adalah yang utama. Hati-hati di jalan, Tuan Muda. Senang bisa mengenal istri Anda yang anggun."balas direktur Chika tersenyum kagum

Begitu berbalik, Oscar dengan protektif menuntun Anisa menuju mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu di lobi. Di dalam mobil yang tenang, barulah Anisa dan suaminya bisa menghela napas lega dan berbicara dari hati ke hati.

Setidaknya sampai... senyuman Oscar mulai terasa di hiasi kegelisahan

.

.

.

.

Anisa menepuk-nepuk tumpukan majalah bisnis di pelukannya, lalu menatap foto pernikahan siri mereka di meja. Senyumnya mengembang, tetapi sedetik kemudian matanya mengerjap-ngerjap.

(haduh, jadi nya kepikiran foto nikah, sih? Tapi... janji Mas Oscar manis banget waktu itu. Katanya nanti kalau kontraknya selesai, mau bikin pesta yang sah, yang ramai. Duh, jadi gak sabar...) Anisa menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang makin lebar.

(Membayangkannya saja sudah bikin merinding bahagia!)

Namun, entah sirkuit otaknya konslet di bagian berganti dengan ingatan tadi malam. Saat Oscar baru saja melangkah masuk ke kamar sepulang kerja.

Anisa menatap langit-langit kamar, sementara pipinya perlahan mulai memanas. Bayangan Oscar yang kelelahan langsung berputar otomatis di kepalanya. Pria itu melempar jas, lalu dengan satu tangan melonggarkan simpul dasinya.

(ahhh!, urat-urat di punggung tangan Mas Oscar waktu ngelonggarin dasi... kenapa bisa se-seksi itu, sih?! kalau kemejanya digulung sampai siku tuh emang beda auranya!)Anisa meremas majalah di pelukannya lebih erat. Ingatannya belum mau berhenti.

Sekarang, memorinya malah memutar adegan saat Oscar mendongak untuk melepas kancing teratas kemejanya, lalu meneguk air putih.

Anisa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba menghapus visualisasi HD di otaknya.

"Ahhh! Pikirin apa sih kamu, Anisa?!" pekik Anisa frustrasi pada diri sendiri.

Ia langsung menendang-nendang udara dengan gemas.

"Sadar, Anisa, sadar! Mas Oscar itu baru pulang, capek, bukan lagi tebar pesona buat bikin kamu jantungan!" gumamnya dari balik majalah, suaranya teredam.

Meskipun sudah berstatus sebagai istri (meski siri), tetap saja memikirkan betapa menawannya sang suami dalam kondisi acak-acakan sepulang kerja selalu berhasil membuat Anisa salah tingkah setengah mati sendirian di rumah.

"...bukan lagi tebar pesona buat bikin kamu jantungan!" gumamnya dari balik majalah, suaranya teredam.

Kriing! Kriing! Kriing!

Bunyi alarm bernada ceria dari ponsel Anisa yang tergeletak di atas meja kerja seketika memutus paksa sirkuit lamunan di kepalanya. Tubuhnya langsung menegak kaku. Anisa buru-buru meraih ponselnya dan menatap layar yang menampilkan tulisan

15 Menit Menuju waktu sholat Magrib!

Netra Anisa membelalak. Hilang sudah semua bayangan urat tangan, jakun seksi, dan suara serak Oscar yang tadi berputar memenuhi otaknya. Berganti dengan kepanikan spiritual yang nyata.

(Ya Allah, Anisa! Malah asyik melamunkan suami sampai hampir kehabisan waktu!) batinnya menjerit panik.

Ia langsung menepuk dahinya sendiri, merasa bersalah sekaligus malu luar biasa. Bisa-bisanya ia terjebak dalam pikirannya saat waktu ibadah sudah di depan mata.

"Astagfirullahaladzim... sadar, Anisa. Istigfar," bisiknya cepat sambil mengusap dadanya yang masih berdegup kencang—kali ini bukan karena ketampanan Oscar, melainkan karena dikejar waktu.

Anisa terlalu bersemangat hingga harus kembali fokus pada pekerjaan nya, karena jika terus menerus begitu belum tentu cepat selesai.

Namum tiba tiba!

Di balik gamis longgar yang masih menutupi rapat tubuhnya, Anisa bisa merasakan kehangatan dada bidang Oscar yang menempel lekat di punggungnya.

"Ehhk!,si...siapa?!"

"hah!?...mas Oscar!"

Pelukan bos mafia itu begitu posesif, di mana kedua lengan kekarnya melingkar maju ke depan, menangkup dan membelai dada Anisa dengan remasan yang sarat akan hasrat terpendam yang menggebu-gebu.

(kenapa pelukan nya tiba tib - ... tidak!, kenapa mas Oscar tiba tiba begini?) batin Anisa mencelos keluar.

Anisa memejamkan mata di balik cadarnya, detak jantungnya berpacu liar. Logika dan prinsipnya menuntutnya untuk menolak, namun kenyataan bahwa pria yang mendekapnya ini adalah suaminya membuat tubuh kaku Anisa perlahan kehilangan daya untuk Bingung bagaimana harus menjelaskan nya,sebab kini Oscar terasa seperti di didorong sesuatu.

"M...Mas Oscar tunggu!"

Dengan gerakan yang pelan dan penuh kehati-hatian, Oscar menuntun jemari Anisa yang gemetar, dengan nafasnya yang menghembus membawa nya turun ke bawah. Ia memposisikan telapak tangan istrinya untuk menyentuh area di balik celananya—sesuatu yang sudah tegang sempurna dan berdenyut kuat di balik kain.

"hah!?,Te...Tegang!"Anisa tersentak, napasnya tertahan di tenggorokan karena tidak menyangka akan menyentuh bagian seintim itu.

Oscar membalikkan tubuh Anisa secara perlahan, membuat mereka kini saling berhadapan. Ia menunduk, memberikan kecupan dalam dan lama di kening Anisa sebelum menatap langsung ke dalam mata istrinya yang berkaca-kaca karena panik dan bingung.

"Anisa..." bisik Oscar, suaranya luar biasa serak dan berat. "...Jika malam ini aku benar-benar melanjutkan semuanya... apakah besok kamu akan membenciku setengah mati? Atau... kamu bisa menerima monster seperti diriku sepenuhnya?"

Pertanyaan itu membuat Anisa terdiam seribu bahasa, emosinya berkecamuk di dalam dada. Di tengah kebingungan Anisa yang perlahan menurunkan lengannya, Oscar yang sudah tidak sabar karena gairah yang membakar langsung bergerak.

Lengan kirinya menyambar bagian intim bawah Anisa dari luar kain pakaiannya.

"uggh...mas!,tangan mu mas!"

"hah~,Ya - Ya ampun mas.Ahk~"

Tanpa membuka selembar baju pun, genggaman tangan Oscar yang besar pas menangkup area sensitif itu, merasakan tekstur kain yang ternyata sudah terasa basah di dalam genggamannya. Anisa membelalak panik, miliknya yang di sentuh itu ternyata sudah sama sama tegang dan basah, sentuhan Pria kekar itu membuat tangannya reflek mencengkeram bahu jas Oscar saat suaminya mulai menggerakkan jemarinya pelan di bawah sana, seperti mencari sesuatu...atau berusaha menyentuh semuanya.mengirimkan gelombang panas yang membuat seluruh tubuh Anisa gemetar hebat.

Di tengah kebingungan dan pasrahnya Anisa yang mengira saat-saat penyerahan dirinya telah tiba, desah napas Oscar mendadak tercekat.

"An...ak...aku!"Oscar menatap wanita itu yang menggelap oleh hasrat. Rahangnya mengeras, menahan dorongan brengsek yang menuntutnya untuk melangkah lebih jauh.

Logika dan rasa paranoid yang pekat tiba-tiba menghantam kepala bos mafia itu. Menatap mata Anisa yang murni dan polos di balik cadar, sebuah ketakutan besar mencengkeram dadanya.

Ia takut. Ia takut jika ia melangkah lebih jauh malam ini, kekasaran dunia mafia yang melekat pada dirinya akan menodai dan merusak kesucian wanita ini. Ia takut ketagihan yang tidak terkendali akan membuat Anisa membencinya dan melarikan diri darinya.

Dengan sentakan napas yang memburu liar, Oscar mengerahkan seluruh sisa kewarasannya untuk menahan gejolak yang nyaris meledak. Ia menarik tangannya keluar dari balik pakaian Anisa secara mendadak.

"Mas tu... tunggu!..." bisik Anisa, suaranya nyaris tenggelam oleh detak jantung mereka yang saling berpacu. "Demi Allah... jika malam ini takdir saya harus menjadi milikmu sepenuhnya... saya ikhlas mas!. Jangan tersiksa lagi. Sentuh saya sebagai seorang suami, bukan karena kontrak itu..."Mau bagaimana pun Anisa meyakinkan Oscar dan tentang bagaimana wanita itu tahu betul rasanya tersiksa dari banyaknya malam hanya untuk menahan diri

Oscar tertegun. Kata-kata istrinya itu seperti hantaman telak di dadanya. Pergolakan batin di tubuhnya terasa begitu kuat. Dia menundukkan wajahnya, menyembunyikan ekspresi emosinya yang memburu di dekat Anisa. Tangan kasarnya bergerak gemetar, memegang bahu Anisa dengan kekuatan yang tertahan—takut menyakitinya, namun terlalu enggan untuk melepaskan tanggung jawabnya.

"Ak... aku minta maaf,tapi.kamu sungguh tidak tahu apa yang kamu ucapkan, Anisa," kata Oscar serak, menahan getaran suaranya di dekat wanita itu. "Jangan membuat keputusan terburu-buru sekarang..."

"saya tidak sedang terburu-buru, Mas," sahut Anisa, setitik air mata cemas namun tulus lolos dari sudut matanya. Kedua tangannya yang kecil perlahan bergerak, memberanikan diri menyentuh dada Oscar, menahan pria itu agar tidak menjauh. "sa... saya memang takut karena tidak tahu banyak hal. Tapi saya ini istrimu, Mas. Jika mas menghendaki... saya akan berserah. saya menghormati setiap keputusan mu.Mas."

Mendengar kepasrahan mutlak itu, tubuh Oscar menegang hebat. Konflik di dalam kepalanya berkecamuk seperti badai. Sisi egoisnya berbisik untuk mengambil apa yang sudah menjadi haknya berdasarkan ikatan mereka. Namun, sisi hatinya yang mulai menghargai wanita ini justru menjerit menolak cara yang salah.

(aghh Kaka silalan!...dia yang sudah mencampur minuman itu!...dan sekarang aku tidak boleh terus di sini... bagaimana jika nanti aku malah merusaknya)

Oscar mengangkat wajahnya, menatap Anisa dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebingungan yang menyiksa dan rasa frustrasi yang mendalam.

"N-nggak, Anisa... b-bukan seperti ini," suara Oscar tercekat, terbata-bata menahan gejolak emosinya. Dia memegang pergelangan tangan Anisa yang berada di dadanya, menghentikan sentuhan istrinya dengan lembut namun tegas. "Aku hampir kehilangan kendali atas diriku, tapi tidak dengan cara yang egois begini!"

"Mas Oscar..."

"Kumohon, anisa.aku sungguh minta maaf tapi...aku benar-benar tidak bisa..." Oscar memejamkan mata erat-erat, rahangnya mengetat hingga urat-urat di lehernya menegang. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya saat dia berjuang keras menarik logikanya kembali. "Kamu terlalu tulus untuk tahu hal rumit ini sekarang. Aku sudah berjanji... aku sudah janji akan menjagamu dengan benar, menghormatimu dengan cara yang tepat. Bukan mengambil keputusan di kamar ini hanya karena aku sedang hilang kendali atas emosiku."

Anisa menatap mata Oscar yang memerah, melihat kerapuhan yang luar biasa dari seorang pria yang biasanya tampak tak tersentuh. "Tapi saya ikhlas, Mas..., tolong jangan begini mas!"

"Cukup Anisa..." potong Oscar dengan suara baritonnya yang bergetar menahan emosi, "...justru itu membuatku merasa harus lebih bertanggung jawab untuk melindungimu. Aku tidak bisa."

Dengan satu sentakan napas berat yang terdengar menyakitkan, Oscar akhirnya mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya. Dia menarik tubuhnya mundur secara perlahan—menjauhkan dirinya dari posisi semula. Dia menarik dirinya sendiri mundur dengan tubuh yang masih gemetar hebat karena menahan beban emosional yang besar.

Meningalkan Anisa sendiri di sana... hanyut dalam keheningan kamar mereka Tanpa jawaban jelas yang berarti

Di sana terdengar suara pintu kamar sebrang tertutup dengan keras!

Brrak!

Namun bagi Oscar, suara itu terdengar seperti vonis yang memekakkan telinga. Ia menyandarkan punggungnya pada daun pintu luar, mencengkeram rambutnya sendiri saat napasnya memburu tak terkendali.

Sialan.

Tubuhnya masih membakar, menuntut pelepasan yang nyaris membuatnya gila.

Dengan langkah terhuyung, Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi ruang kerjanya. Ia menyalakan keran, meraup air dingin sebanyak mungkin dan membasuh wajah serta lehernya yang tegang. Namun, air es sekalipun tidak mampu memadamkan api di dalam dirinya. Setiap kali ia memejamkan mata, suara lembut Anisa kembali terngiang.

“Jika mas menghendaki... saya akan berserah.”

Kata-kata itu berputar seperti kutukan sekaligus berkah di kepalanya.

Oscar menatap pantulan dirinya di cermin yang buram oleh uap napasnya. Rahangnya mengetat. Menatap tangannya yang tadi sempat menyentuh keintiman Anisa, ada rasa bersalah yang pekat. Gadis itu terlalu suci untuk monster seperti nya,

batinnya menjerit. Ia sangat menginginkan Anisa, tetapi rasa takutnya jauh lebih besar—takut jika kegelapan dunianya akan menodai ketulusan istrinya. Menahan diri malam ini adalah bentuk perlindungan tertinggi yang bisa ia berikan untuk Anisa, meski taruhannya adalah kewarasannya sendiri.

Kehangatan yang tertahan di balik celananya kini terasa menyiksa, berdenyut menuntut hak yang sengaja ia kekang. Menyadari tubuhnya tidak akan bisa diajak berkompromi malam ini, Oscar mengunci pintu kamar mandi. Ia menepis sisa pakaiannya, bersandar pada dinding keramik yang dingin untuk menopang kakinya yang mulai lemas.

Dengan mata terpejam erat dan rahang yang mengeras hingga urat lehernya menegang, tangannya sendiri bergerak turun menggantikan apa yang seharusnya terjadi di kamar tadi. Oscar bergerak dengan intensitas yang kasar dan penuh frustrasi, melampiaskan seluruh gairah yang membakar pada dirinya sendiri. Setiap gerakan jemarinya adalah bentuk pelarian dari rasa sesak di dadanya. Udara kamar mandi dipenuhi deru napasnya yang bising, berkejaran dengan detak jantung yang berdentum liar.

"ahhhk!,bajingan... Kenapa semua ini bisa terjadi seperti ini!"

terus mengocok di bawah sana dengan dorongan frustasi berat dan saat momentum itu akhirnya pecah!

"AGGHRH!"Oscar mengerang kuat—sebuah desahan sarat kepuasan sekaligus kepedihan yang menggema di keheningan ruangan.

Tubuhnya gemetar hebat sebelum akhirnya terkulai pasrah, membiarkan sisa gairahnya luruh bersama rasa lelah yang teramat sangat.

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!