Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pukul tiga tiga puluh pagi. Udara dingin masih membungkus perkampungan saat Dayang bersiap pergi.
Jaket kulit hitam melekat di tubuhnya, dan dengan gerakan luwes ia menaiki motor sport gagah berwarna hitam legam miliknya.
Mesin motor meraung halus membelah heningnya jalanan subuh.
Kuda besi itu melesat lincah, memotong angin pagi yang menusuk hingga akhirnya tiba di pelataran parkir Pasar Matahari.
Begitu mematikan mesin, Dayang menyapa beberapa tukang parkir dan pedagang yang baru tiba.
Tanpa membuang waktu, ia menuju bedaknya. Pasokan ikan segar dari Bang Jaka sudah diantar oleh kuli pelabuhan—tertata rapi di dalam kotak-kotak stereofoam berisi es batu.
Dayang membuka terpal tebal penutup lapak, lalu mulai menyusun dagangannya di atas meja seng.
Cumi-cumi bening yang segar, udang vaname gemuk, hingga deretan ikan tengiri dan barakuda disusun presisi.
Setelah merapikan celemek plastik hitam di pinggangnya, Dayang menarik napas panjang dan berteriak dengan suaranya yang khas, lantang membelah keriuhan pasar yang baru mulai bergeliat.
"Ayo, ikan! Ikan segar! Udang, cumi, tengiri, barakuda! Pilih-pilih, baru turun dari kapal ini! Ayo, bu!"
Suaranya yang nyaring disambut senyum oleh para pedagang sekitar. Pasar Matahari kembali hidup.
Namun, beberapa puluh meter di luar lorong pasar, sebuah mobil hitam legam terparkir samar di balik kegelapan.
Di dalam mobil, Dio menyerahkan selembar pakaian lusuh—kaos oblong kumal yang sedikit robek di bagian bahu dan celana kain tua yang pudar.
"Pak Rimba, yakin mau melakukan ini?" tanya Dio ragu, menatap sang CEO yang biasa mengenakan setelan jas Armani puluhan juta rupiah.
Rimba tak menjawab. Wajah tampannya yang biasa bersih kini sengaja diusap sedikit jelak dan debu.
Rambut klimisnya diacak-acak kasar hingga berantakan.
Ia menanggalkan jam tangan mewahnya dan melemparkannya ke jok mobil.
"Tunggu di sini. Jangan menampakkan diri sebelum aku menghubungi," perintah Rimba dingin.
Dengan langkah yang disengaja tertatih-tatih, sang bos besar Suryo Group melangkah masuk ke dalam Pasar Matahari yang becek dan berbau amis.
Sepatu mewahnya telah berganti sandal jepit tipis yang hampir putus.
Rimba menahan mual saat kakinya menginjak genangan air pasar, namun ego dan ambisinya untuk menundukkan sang "preman pasar" mengalahkan rasa jijiknya.
Dari kejauhan, matanya mengunci sosok Dayang yang sedang sibuk melayani pembeli.
Rimba menarik napas dalam-dalam, mengatur raut wajahnya agar terlihat pucat, pasrah, dan merana.
Ia melangkah perlahan menyusuri lorong, berpura-pura memegangi perutnya yang kempis.
Begitu jaraknya tinggal dua meter di depan meja seng tempat Dayang berdiri.
BRUGH!
Rimba menjatuhkan tubuh kekarnya secara dramatis tepat di atas lantai semen yang basah di depan lapak Dayang.
Tubuhnya tergeletak miring, matanya terpejam rapat, dan napasnya diatur sepelan mungkin seolah ia hilang kesadaran akibat kelaparan yang hebat.
"Astaghfirullah!"
Suara kaget memecah ketenangan lorong. Pak Mat yang dadanya masih sedikit nyeri akibat insiden kemarin lusa, terlonjak dari kursinya.
Beberapa pedagang dan pembeli yang melintas langsung mengerubungi tubuh Rimba yang tergeletak tak berdaya.
"Kenapa itu? Pingsan ya?"
"Walah, kasihan banget, pucat gitu mukanya!"
"Siapa ini? Bukan orang sini kayaknya."
Dayang yang sedang memegang pisau pemotong ikan seketika menghentikan kegiatannya.
Meletakkan pisaunya, ia bergegas melompati meja seng dan menerobos kerumunan.
"Awas, awas! Kasih jalan dulu, jangan dikerumuni biar ada udara!" seru Dayang tegas, meminta warga yang berkerumun mundur beberapa
langkah.
Dayang berlutut di samping Rimba. Ia menepuk-nepuk pipi pria itu pelan.
"Mas, bangun, Mas!" panggil Dayang.
Rimba tak bergeming, tetap mempertahankan akting pingsannya dengan sempurna, walau dalam hati ia sedikit terkejut merasakan sentuhan jemari Dayang yang dingin dan sedikit kasar di pipinya.
Melihat pria itu tak merespons dan tubuhnya terasa dingin, Dayang langsung mengambil keputusan cepat.
Ia tidak bisa membiarkan orang tergeletak di lorong becek tempat lalu lalang pembeli.
"Jamal! Bantu aku!" teriak Dayang memanggil tukang parkir langganannya yang sedang berdiri tak jauh dari sana.
Jamal berlari mendekat. "Kenapa, Mbak Dayang?"
"Bantu angkat pria ini ke lapak belakang milikku! Yang kering, jangan di sini," perintah Dayang sigap.
Dengan sigap, Jamal bersama seorang kuli angkut memapah tubuh Rimba yang lumayan berat menuju area belakang bedak Dayang—sebuah ruangan kecil berdinding papan kayu tempat Dayang biasa menyimpan barang dan beristirahat, yang terbebas dari cipratan air amis.
Rimba dibaringkan di atas bale-bale kayu beralas terpal bersih.
Dayang menatap pakaian Rimba yang basah di bagian bawah dan kaos lusuhnya yang berdebu.
Ia menoleh pada Jamal yang berdiri di ambang pintu.
"Mal, kamu bawa pakaian ganti nggak di motor? Aku pinjam kalau kamu bawa," ujar Dayang.
"Bawa, Mbak! Ada kaos polos sama celana pendek bersih di jok," sahut Jamal cepat.
"Ambilkan ya. Kasihan kalau dia kelamaan pakai baju basah," kata Dayang.
Jamal mengangguk lalu berlari cepat menuju area parkiran.
Sementara menunggu Jamal, Dayang dengan sigap mengambil botol kecil minyak kayu putih dari dalam tas pinggangnya.
Ia duduk di sisi bale-bale, meneteskan minyak beraroma hangat itu ke telapak tangannya, lalu mulai menggosokkan telapak tangan dan pergelangan tangan Rimba yang dingin.
Dengan telaten dan tanpa prasangka sedikit pun, Dayang mengusapkan minyak hangat itu ke tengkuk dan pelipis Rimba.
Rimba yang masih berpura-pura memejamkan mata merasakan sensasi hangat membelai kulitnya.
Di balik kepura-puraannya, hatinya berdesir aneh saat mencium aroma minyak kayu putih berpadu dengan wangi alami dari tubuh gadis di dekatnya—sebuah kehangatan tulus yang sama sekali tak pernah ia dapatkan dari orang-orang berkemeja
mahal di dunia korporatnya.
"Kasihan, pasti belum makan berhari-hari," gumam Dayang pelan, menatap raut wajah pria yang sebenarnya sang CEO raksasa yang amat dibencinya itu.
Tak lama kemudian, langkah tergesa Jamal terdengar kembali.
Pria itu masuk ke ruangan belakang sembari menyodorkan selembar kaos oblong warna biru yang mulai pudar dan celana kain longgar.
"Ini, Mbak Dayang. Kebetulan saya selalu bawa baju ganti di jok motor," ujar Jamal.
"Matur nuwun ya, Mal," sahut Dayang.
Di saat bersamaan, Pak Mat melangkah masuk dengan napas sedikit terengah.
Pria tua itu menatap sosok pria asing yang terbaring kaku di atas bale-bale dengan raut iba.
"Pucat sekali wajahnya, Nduk. Biar Pak Mat saja yang bantu ganti bajunya. Kamu ndak enak kalau lihat, bukan muhrim," tawar Pak Mat cekatan.
"Iya, Pak Mat. Tolong ya," sahut Dayang mengerti. Ia lalu menoleh ke arah Jamal.
"Mal, aku pesan teh hangat manis dulu ke warung Bu Uma di depan. Biar badannya hangat pas bangun nanti."
Dayang bergegas keluar dari area belakang bedaknya, melangkah cepat menuju warung Bu Uma yang letaknya hanya terpisah beberapa lapak sayur.
Di dalam ruangan kayu, Pak Mat dengan perlahan melepas kaos lusuh yang dikenakan Rimba.
Saat kain itu terangkat, Pak Mat sempat mengernyit heran.
Walau bajunya kumal dan kotor, kulit pria ini bersih dan bertubuh tegap berotot—sama sekali tak terlihat seperti pengemis jalanan yang biasa kekurangan gizi.
Namun, menyingkirkan rasa curiganya, Pak Mat sigap mengenakan kaos biru milik Jamal ke tubuh Rimba.
Rimba yang masih harus memejamkan mata menahan napas, berusaha sebisa mungkin tidak menggerakkan otot-ototnya agar penyamarannya tak terbongkar.
Setelah selesai mengganti pakaian dan memastikan pria itu berbaring nyaman, Pak Mat menepuk pelan bahu Rimba.
"Kasihan, semoga cepat sadar," gumamnya lalu berjalan keluar untuk kembali menjaga lapak daging ayamnya.
Tak lama, Dayang kembali sembari membawa segelas teh hangat yang uapnya masih membumbung harum.
Dari ambang pintu, ia melihat lapaknya di depan masih membutuhkan penanganan karena beberapa pembeli mulai berdatangan.
Ia menatap Jamal yang berdiri menjaga lorong. "Mal, kamu tolong jualin dulu ikan-ikanku di depan ya. Nanti, aku kasih bonus" pinta Dayang.
Jamal tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya sigap.
"Beres, Mbak Dayang! Serahkan sama Jamal, dijamin laris manis!"
Dengan lapak depan yang sudah ditangani Jamal, Dayang membawa gelas teh hangat itu masuk dan meletakkannya di atas meja kayu kecil di samping bale-bale.
Ia duduk kembali di tepi pembaringan, mengambil kembali botol minyak kayu putih dari tas pinggangnya.
Dayang menuangkan beberapa tetes minyak hangat itu ke telapak tangannya.
Matanya menatap raut wajah Rimba yang masih terpejam erat dengan napas yang sengaja dibuat lemah.
"Maaf ya, aku buka sedikit pakaianmu." bisik
Dayang pelan, meminta izin pada pria yang disangkanya tak sadarkan diri itu.
Dengan jemari yang cekatan namun lembut, Dayang menyingkap sedikit bagian bawah kaos biru milik Jamal, menyingkapkan perut Rimba.
Ia meneteskan minyak kayu putih, lalu perlahan mengusapkan telapak tangannya yang hangat ke atas perut pria itu.
Sentuhan telapak tangan Dayang yang halus namun tegas di atas perutnya seketika membuat seluruh tubuh Rimba tegang.
Sensasi usapan lembut berpadu rasa hangat minyak kayu putih menjalar cepat, membuat jantung sang CEO raksasa itu mendadak berdetak tidak karuan.
Benteng kesombongannya yang biasa dingin seolah terguncang hebat hanya oleh perhatian tulus seorang perempuan yang beberapa jam lalu sangat ingin ia hancurkan.
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂