Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:651
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIAPA PRIA MISTERIUS ITU?

 BLOK_C 217

kembali dipenuhi suara-suara kecil para tahanan setelah keributan yang terjadi sebelumnya mulai mereda.

Pintu-pintu sel telah kembali tertutup. Para napi kembali pada kesibukan masing-masing, seolah kejadian beberapa menit lalu bukan sesuatu yang perlu dibicarakan terlalu lama.

Namun bagi Reana, kejadian itu masih terus berputar di kepalanya.

Ia berjalan bersama Alesya menuju sel mereka. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, sementara kedua tangannya sesekali saling menggenggam.

Begitu sampai di dalam sel, Reana langsung duduk di tepi ranjang besi. Semua pintu sudah terkunci otomatis.

"Wajahmu kenapa?" Ucap Alesya melihat ketegangan di wajah temannya itu.

Reana mengangkat wajah.

"Tadi... aku dikejar Aldra."

Alesya langsung mendekat.

"Aldra?"

Reana mengangguk.

"Awalnya cuma dia, George, sama Alex."

Alesya mengernyit.

"Mereka bertiga?"

"Iya."

Reana menarik napas sebelum melanjutkan.

"Mereka Terus mengejarku dari belankang"

Alesya duduk di sampingnya.

Reana menunduk, mengingat kejadian itu.

"Sampai di salah satu koridor, aku belok terlalu cepat..."

Ia berhenti sebentar.

"...dan aku menabrak seseorang."

Alesya menatapnya.

"Siapa?"

Reana menjawab pelan.

"Darren."

Alesya terdiam.

"Darren?"

"Iya."

Reana mengangguk.

"Aku benar-benar nggak sengaja, Aku bahkan terjatuh ke atas nya"

"Waktu itu aku baru sadar kalau Aldra ternyata sudah menyiapkan orang lain."

Alesya mengerutkan kening.

"Jadi tiga orang tadi cuma umpan?"

"Mungkin."

Reana mengangguk.

"Aku pikir awalnya mereka cuma mengejarku. Tapi ternyata..."

Ia menatap Alesya.

"...mereka memang sedang mencari Darren."

Alesya terdiam.

Kini semuanya mulai masuk akal.

Aldra tahu Darren akan turun tangan jika Reana berada dalam bahaya. Apalagi dua minggu sebelumnya Darren juga yang menyelamatkan Alesya dan Reana dari mereka.

Kali ini Aldra tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Dia tidak datang hanya untuk menyerang Reana, Dia datang untuk membalas Darren.

"Berarti Aldra sudah merencanakannya?" tanya Alesya.

Reana mengangguk.

"Sepertinya begitu."

"Lalu Darren?"

Reana kembali terdiam.

"Dia..."

Bayangan Darren berdiri di depannya kembali terlintas.

Pria itu hanya berkata singkat,

"Jangan bergerak."

Setelah itu Darren berdiri di depan Reana dan menghadapi mereka semua sendirian.

"Dia melawan mereka?"

"Iya."

"Sendirian?"

Reana mengangguk, Alesya menghela napas pelan. Ia sudah mengetahui kemampuan Darren. Tapi menghadapi sebanyak itu sendirian tetap bukan sesuatu yang kecil.

"Dia terluka?"

"Sedikit."

Reana menyentuh sudut bibirnya sendiri.

"Ada luka kecil di sudut bibirnya."

Alesya menatapnya beberapa saat.

"Kamu khawatir?"

Reana langsung menggeleng.

"Nggak. Maksudku... tentu aku khawatir, Dia sudah menolongku."

Alesya hanya tersenyum tipis. Reana kemudian menunduk.

"Aku cuma masih bingung."

"Kenapa?"

"Kenapa dia selalu datang saat aku dalam masalah?"

Alesya tidak langsung menjawab. Reana sendiri tidak menyadari bahwa jawabannya mungkin jauh lebih sederhana daripada yang ia pikirkan.

Darren tidak selalu datang.

Ia hanya datang ketika Reana berada dalam bahaya.

Dan mungkin, bagi seorang pria sedingin Darren, itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

***

Sementara di tempat lain, Darren berjalan sendirian menyusuri koridor, Wajahnya tetap datar.

Namun pikirannya masih tertinggal pada kejadian tadi, Ia tahu Aldra sengaja melakukan semuanya. Dan ia juga tahu satu hal yang lebih mengganggu.

Reana kembali membuatnya kehilangan kendali.

Padahal sejak kejadian dua minggu lalu di toilet, Darren sudah berusaha menjaga jarak.

Sayangnya, semakin ia menjauh...

semakin sering keadaan justru mempertemukan mereka.

Semua pintu sel telah tertutup.

Lampu-lampu di sepanjang lorong menyala redup, menciptakan bayangan panjang di lantai beton yang dingin. Suasana ADX kembali tenang, tetapi Darren tahu ketenangan seperti ini sering kali justru menjadi saat paling berbahaya.

Ia tidak seharusnya berada di luar.

Namun Darren sudah terbiasa bergerak tanpa diketahui para sipir. Langkahnya terhenti di persimpangan koridor. Matanya bergerak perlahan, mengamati setiap sudut. Sejak beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Beberapa tahanan bergerak terlalu teratur, Beberapa orang terlihat seperti sedang mengamati sesuatu.

Dan yang paling mengganggunya...

ada informasi yang seharusnya tidak diketahui siapa pun di dalam penjara ini, tetapi entah bagaimana bisa sampai ke pihak luar.

Darren memasukkan kedua tangannya ke saku celana, Ia kembali berjalan. Namun baru beberapa langkah, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Di balik sebuah tembok di ujung koridor, terlihat bayangan seseorang.

Darren langsung berhenti, Bayangan itu bergerak Cepat. Darren langsung berbalik.

"Tunggu."

Orang itu berlari, Darren langsung mengejarnya. Suara langkah kaki mereka menggema di lorong kosong. Orang di depan berlari cukup cepat, bahkan beberapa kali berbelok tanpa ragu, seolah sudah hafal setiap sudut ADX.

Darren mempercepat langkah.

Namun ketika sampai di sebuah area yang jauh lebih sepi, langkah orang itu tiba-tiba menghilang.

Darren berhenti, Matanya menyapu seluruh area Kosong. Tidak ada siapa pun, Hanya dinding beton tua dan pintu besi yang tertutup rapat. Darren berjongkok, Di lantai terdapat sesuatu yang membuat tatapannya berubah. Sebuah potongan kecil kain hitam, Ia mengambilnya.

Memeriksanya sebentar, Bukan seragam tahanan. Darren menggenggam kain itu.

"Menarik..."

Ia berdiri kembali, Orang itu bukan sekadar tahanan yang sedang melarikan diri.

Ia tahu jalur-jalur tersembunyi di dalam blok ini. Dan yang lebih buruk...

ia sepertinya tahu Darren sedang mencarinya.

Darren akhirnya memutuskan untuk kembali.

 

Beberapa menit kemudian, Darren berhenti di depan sebuah pintu sel, Bukan selnya, Namun Sel Kael.

Darren membuka pintu tanpa mengetuk, Seperti yang sudah ia duga, pintu itu tidak terkunci. Kael duduk di atas ranjang besi, Punggungnya bersandar pada dinding, sementara tatapannya tertuju ke arah Darren. Seolah pria itu sudah mengetahui kedatangannya sejak beberapa detik lalu.

"Kau terlambat."

Darren menutup pintu.

"saya menemukan sesuatu."

Kael tidak langsung bertanya, Tatapannya turun pada tangan Darren. Darren meletakkan potongan kain hitam tadi di atas meja kecil. Kael mengambilnya, Beberapa detik ia hanya diam. Kemudian bertanya,

"Di mana?"

"Koridor timur."

"Sendirian?"

"Sepertinya."

Kael membalik potongan kain tersebut.

"Ada yang mengejarmu?"

"Tidak."

"Berarti dia sengaja membiarkanmu melihatnya."

Darren terdiam, Kalimat itu membuat suasana sel menjadi lebih berat. Kael meletakkan kain tersebut.

"Sudah berapa lama?"

"Sepertinya sudah Dua minggu."

Kael mengangkat wajah.

"Dua minggu?"

Darren mengangguk, Mata Kael sedikit menyipit.

"Jadi kau pikir orang ini ada hubungannya dengan mereka?"

"Bukan Aldra."

"Yakin?"

"Dendam Aldra terlalu sederhana."

Darren berdiri tegak.

"Dia menyerang karena sakit hati dan ingin membalas. Tapi orang ini berbeda."

Kael diam.

"Dua minggu terakhir," lanjut Darren,

 "saya menemukan beberapa tahanan yang terlalu sering berpindah blok. Mereka tidak punya alasan jelas untuk melakukannya."

"Dan?"

"Mereka bukan orang-orang biasa."

Kael menatapnya.

"Mata-mata?"

"Mungkin."

Kael menyandarkan tubuhnya.

"Paman."

Satu kata itu membuat ruangan kembali hening, Darren mengangguk.

"saya juga berpikir begitu."

Kael tersenyum tipis.

Bukan senyum senang.

Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan jawaban dari sesuatu yang selama ini ia curigai.

"Dia akhirnya mulai bergerak."

"Dia tidak pernah berhenti bergerak," jawab Darren.

Kael menatap pintu sel.

"Yang menjadi pertanyaan..."

Tatapannya kembali kepada Darren.

"...kenapa dia mengirim orang ke sini?"

Darren tidak menjawab.

Kael melanjutkan,

"Kalau tujuannya hanya mengawasi aku, dia tidak perlu mengirim sebanyak itu."

"Benar."

"Berarti ada sesuatu yang dia cari."

Darren mengangguk.

"Atau seseorang."

Kael terdiam.

Untuk beberapa detik, tidak ada suara selain dengungan lampu tua di atas mereka.

Kemudian Kael berkata,

"Periksa semua orang yang masuk ke ADX dalam tiga bulan terakhir."

"Sudah saya periksa"

Kael menatapnya.

"Dan?"

"Empat orang mencurigakan."

"Empat?"

"Yang bisa saya temukan."

Kael terdiam.

Darren melanjutkan dengan suara lebih rendah.

"Ada kemungkinan jumlah sebenarnya lebih banyak."

Kael menatap potongan kain hitam di atas meja.

"Berarti kita tidak sedang menghadapi satu mata-mata."

Darren menggeleng.

"Sepertinya sebuah jaringan."

Kael perlahan berdiri.

"Kalau begitu..."

Ia berjalan mendekati pintu.

"...jangan cari siapa yang paling mencurigakan."

Darren menatapnya.

"Cari siapa yang paling tidak mencurigakan."

Kael membuka pintu sel sedikit.

Namun sebelum Darren pergi, Kael kembali berkata,

"Darren."

"Ya?"

"Mulai sekarang, jangan berjalan sendirian."

Darren menatapnya beberapa detik, tidak menjawab langsung.

Kael kembali buka suara

"Karena orang yang kau temui tadi..."

Ia berhenti sejenak.

"...kemungkinan besar adalah kiriman pamanku" Darren masih menyimak

Kael menatapnya dengan serius.

"Dan aku curiga pamanku sudah mengetahui tentang Alesya."

Darren terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat kekhawatiran tampak jelas di wajah Kael.

pria itu melanjutkan dengan suara rendah,

"Beritahu Dante agar lebih berhati-hati. Jangan biarkan dia bergerak sembarangan"

Darren mengangguk.

"Akan saya sampaikan."

"Jaga dirimu juga," kata Kael.

"Kalau pamanku sudah mengetahui tentang Alesya, maka tidak ada seorang pun dari kita yang benar-benar aman."

Pintu sel kemudian tertutup.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Darren merasa bahwa bayangan yang ia lihat di balik tembok tadi bukanlah sebuah kebetulan.

Seseorang di dalam ADX sedang bermain dalam diam.

Dan permainan itu...

baru saja dimulai.

***

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!