Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Puncak musim dingin melingkupi ibu kota dengan suhu ekstrem yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun. Salju menumpuk tebal hingga setinggi lutut, menyumbat saluran air dan membuat badai es melanda pemukiman. Di tengah cuaca yang membekukan ini, wabah penyakit demam tinggi, napas membiru, dan batuk parah menyebar cepat bagai api menyambar jerami kering. Dari rakyat jelata di pinggiran kota hingga para pejabat tinggi dan bangsawan di dalam dinding istana, tak ada yang luput dari terkaman penyakit tersebut.
Kepanikan melanda seluruh ibu kota. Namun, di tengah penderitaan rakyat, kedai-kedai obat milik para saudagar kaya dan faksi bangsawan termasuk bisnis rahasia milik Keluarga Xiu dan Pangeran Ke-4—melihat ini sebagai kesempatan emas. Mereka memonopoli pasokan bahan baku herbal dan menaikkan harga obat-obatan hingga sepuluh kali lipat.
"Satu bungkus akar ginseng dan tanaman pembersih paru dijual sepuluh tael perak?!" jerit seorang warga miskin di depan sebuah toko obat besar. "Dari mana kami bisa dapat uang sebanyak itu?! Ini sama saja membunuh kami perlahan-lahan!"
Penjaga toko obat itu hanya mengibaskan tangannya angkuh. "Kalau tidak punya uang, pergi sana! Jangan menghalangi jalan! Masih banyak saudagar dan pengawal pejabat yang rela bayar mahal demi obat ini!"
Tangisan warga bersahutan di sepanjang jalanan berlapis es. Keputusasaan membakar ibu kota, memicu amarah rakyat yang berada di ambang pemberontakan.
Di dalam ruang kerja Istana Zhen, suasana terasa hangat dan dipenuhi bau harum rebusan racikan herbal. Xiu Ying berdiri di depan meja kayu besar, meneliti peta rantai pasokan bahan obat kekaisaran bersama Zhen Yu.
Zhen Yu tak lagi mengenakan jubah kekanak-kanakannya. Pria gagah itu dibalut jubah hitam berbordir benang perak, memancarkan wibawa dingin seorang Pimpinan Jaringan Bayangan Mistik.
"Kedai-kedai obat di ibu kota mulai kehabisan stok bahan mentah," ujar Xiu Ying, jari lentiknya menunjuk wilayah Pegunungan Utara pada peta. "Mereka menaikkan harga secara tidak manusiawi karena jalur perdagangan utama tertutup salju tebal. Tapi aku tahu, tanaman Akar Es Salju dan Daun Naga Putih tumbuh subur di lereng Pegunungan Utara dalam cuaca seperti ini."
Zhen Yu melangkah mendekat, menyandarkan jemarinya di tepi meja dan menatap istrinya dengan pendar rasa kagum yang amat dalam.
"Pegunungan Utara berada di bawah pengawasan jalur perbatasan yang sulit tembus," sahut Zhen Yu, suaranya berat dan seksi. "Kereta kuda biasa tidak akan sanggup menembus badai es di sana. Tapi bagi Jaringan Bayangan... itu bukan halangan."
Xiu Ying menoleh, tersenyum memikat menatap suaminya. "Apakah Pimpinan Jaringan Bayangan bersedia mengerahkan ribuan agen rahasianya untuk menjadi pengangkut bahan obat demi istrinya?"
Zhen Yu terkekeh rendah, memajukan wajahnya dan mencium singkat bibir peach Xiu Ying yang manis. "Bukan hanya pengangkut obat, Istriku. Seluruh prajurit bayangan di perbatasan akan kukerahkan untuk membuka jalan dan membawa puluhan ton bahan herbal itu ke hadapanmu sebelum fajar."
"Terima kasih, Suamiku," bisik Xiu Ying hangat. "Sudah saatnya kita mengubah krisis ini menjadi panggung kemenangan mutlak. Kita tidak hanya akan menekan ketakutan lawan, tapi juga memenangkan hati seluruh rakyat kerajaan ini."
Keesokan harinya, saat matahari fajar menyingsing di atas langit ibu kota yang dingin, sebuah kejutan besar mengguncang seluruh kekaisaran.
Di alun-alun pusat ibu kota, dibangun sepuluh paviliun kayu raksasa berlapis kain tebal yang hangat. Di atas gerbang utamanya, terbentang kain merah megah bertuliskan: Cabang Utama Kedai Obat dan Teh Kebajikan.
Ratusan tungku tembaga raksasa dinyalakan bersamaan, merebus ton-tonan obat herbal yang memancarkan aroma harum segar dan menenangkan ke seluruh sudut kota.
Di depan paviliun, Susu dan Paman Lin berdiri bersama puluhan pekerja yang membagikan Sup Herbal Imunitas dan Obat Penawar Paru secara gratis kepada warga miskin, sementara untuk kalangan berada dan pengawal pejabat, obat dijual dengan harga biasa yang sangat murah dan terjangkau!
"T-Toko Obat Kebajikan membuka pelayanan gratis?!"
"Astaga! Obat racikan ini sangat ampuh! Napas ayahku langsung lega setelah meminumnya!"
"Harganya bahkan tidak sampai seperseratus dari harga toko obat lain!"
Kerumunan jutaan warga berbondong-bondong membanjiri alun-alun kota dengan tangis haru dan rasa syukur yang meluap-luap.
Namun, kejutan terbesar belum berakhir.
Di tengah riuk-pikuk kerumunan, sebuah kereta kencana mewah berlapis lambang Istana Zhen berhenti di depan cabang utama. Pintu kayu terbuka, dan Xiu Ying melangkah turun dengan gaun sutra ungu melapisi jubah bulu putih yang sangat anggun. Di sampingnya, Pangeran Zhen Yu berjalan tegap, memegang tangan istrinya dengan raut wajah hangat dan penuh perlindungan.
Paman Lin dan seluruh pekerja segera berlutut hormat. "Hamba menyambut kedatangan Pemilik Sejati Toko Obat Kebajikan, Yang Mulia Istri Pangeran Ke-7, Xiu Ying!"
GASPS!
Pernyataan Paman Lin bergema nyaring di alun-alun kota yang mendadak hening seketika. Seluruh warga, para saudagar, hingga para pengawal pejabat yang sedang mengantre terbelalak kaget setengah mati!
"Apa?! Pemilik rahasia Kedai Obat Kebajikan yang legendaris itu... adalah Istri Pangeran Ke-7?!"
"Nyonya Xiu Ying dari Istana Zhen?!"
"Astaga! Jadi pahlawan yang menyelamatkan nyawa kita dari penindasan toko obat lain adalah Nyonya Xiu Ying?!"
Xiu Ying melangkah anggun ke atas panggung utama, berdiri di samping tungku obat yang membara. Wajah cantiknya memancarkan aura ketegasan dan ketenangan yang tak tergoyahkan.
"Seluruh warga ibu kota yang saya cintai," buka Xiu Ying, suaranya jernih dan berwibawa membelah hembusan angin dingin. "Obat-obatan dan herbal ciptaan Tuhan bukanlah alat bagi para saudagar serakah untuk memperkaya diri di atas penderitaan rakyat! Selama Istana Zhen masih berdiri, tidak akan ada satu pun rakyat di ibu kota ini yang dibiarkan tewas karena tidak mampu membeli obat!"
Seketika, sorak-sorai yang menggelegar dan tangis haru pecah di seluruh alun-alun ibu kota!
"Hidup Nyonya Xiu Ying!"
"Hidup Dermawan Ibu Kota!"
"Semoga Yang Mulia Istri Pangeran Ke-7 dan Pangeran Ke-7 panjang umur dan selalu diberkahi Langit!"
Ratusan ribu rakyat berlutut bersamaan di atas salju, memberikan penghormatan tertinggi kepada Xiu Ying dengan rasa pengabdian dan cinta yang murni.
Sementara itu, di dalam Tenda Istana Utama, Pangeran Ke-4 dan Nyonya Besar Xiu sedang duduk bersama dengan wajah pucat pasi dan mata melotot Horor saat mendengar laporan dari para pengawal.
"T-Tidak mungkin!" bentak Pangeran Ke-4 murka hingga membanting cangkir tehnya ke lantai hingga pecah berantakan. "Dari mana wanita sialan itu mendapatkan puluhan ton bahan obat langka dari Pegunungan Utara?! Jalur perdagangan kan sudah ditutup salju!"
Nyonya Besar Xiu gemetaran hebat, memegang dada tangannya yang sesak. "Putra Mahkota... toko obat milik Keluarga Xiu rugi total! Seluruh pembeli dan pejabat beralih ke toko Xiu Ying! Bahkan toko-toko kita dituduh serakah dan dilempari batu oleh warga yang marah!"
Xiu Mei yang berdiri di sudut ruangan mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih, matanya dipenuhi kedengkian yang amat sangat. "Bagaimana bisa gadis buangan dari Halaman Barat itu... kini disanjung bagaikan dewi oleh seluruh rakyat kekaisaran?!"
Pangeran Ke-4 mengepalkan tangannya rapat-rapat, meremas meja kayunya dengan amarah membara. "Tarik seluruh pasukan untuk menyerang kedai itu! Aku akan menghancurkan cabang utamanya!"
"Jangan, Yang Mulia!" potong kepala pengawal Putra Mahkota dengan wajah ketakutan. "Jika kita menyentuh sehelai rambut Nyonya Xiu Ying atau mengganggu kedainya saat ini... jutaan rakyat ibu kota akan memberontak! Bahkan para menteri senior di istana saat ini sedang memuji kebaikan Nyonya Xiu Ying di hadapan Kaisar!"
Pangeran Ke-4 terduduk lemas di kursinya. Nama Xiu Ying kini dilapisi oleh perlindungan opini publik yang amat kokoh. Menyentuh Xiu Ying secara terang-terangan sama saja dengan memicu kemarahan seluruh rakyat kekaisaran dan menghancurkan legitimasinya sebagai Calon Kaisar.
Malam harinya, di kamar utama Istana Zhen.
Suasana kamar terasa begitu tenang, hangat, dan intim. Pendar emas dari lilin memantulkan bayangan dua insan yang sedang duduk berpelukan di atas pembaringan empuk berlapis beludru.
Xiu Ying menyandarkan kepalanya di dada bidang Zhen Yu, menikmati detak jantung suaminya yang teratur. Zhen Yu merengkuh pinggang ramping istrinya, mengelus rambut hitam panjang Xiu Ying yang harum aroma Bunga Melati.
"Hari ini... namamu resmi menjadi legenda di seluruh ibu kota, Istriku," bisik Zhen Yu lembut di dekat telinga Xiu Ying, menyapu leher halus istrinya dengan kecupan-kecupan hangat.
Xiu Ying tersenyum manis, membalikkan tubuhnya dan menatap mata pekat suaminya yang sarat akan cinta dan kebanggaan. Ia melingkarkan jemari lentiknya di leher kokoh Zhen Yu.
"Kemenangan hari ini tidak akan pernah terjadi tanpa bantuan Pimpinan Jaringan Bayangan yang secara rahasia mengangkut ton-tonan obat menembus badai es," goda Xiu Ying dengan senyuman memikat.
Zhen Yu terkekeh rendah, suara beratnya menggetarkan dada bidangnya. "Lalu... hadiah apa yang akan diberikan oleh Sang Dermawan Ibu Kota kepada Pimpinan Jaringan Bayangan atas jasanya?"
Xiu Ying mendekatkan wajahnya, menatap bibir tegas suaminya dengan Binar gairah yang tak lagi tersembunyi. "Bagaimana kalau... seluruh jiwa dan ragaku malam ini?"
Zhen Yu tidak menunggu lebih lama lagi. Pria gagah itu menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang mendalam, panas, dan sarat akan dominasi murni seorang pria yang memuja wanitanya. Dalam naungan malam musim dingin yang membeku di luar, kehangatan dan gairah cinta mereka kembali menyatu dengan sempurna, mengukuhkan ikatan tak terpisahkan dari pasangan penguasa kekaisaran tersebut.
(Bersambung)