Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran pangeran
Lina menahan napasnya rapat-rapat, jantungnya berdegup serasa ingin meloncat keluar dari dada. Tepat di mulut gang, derap langkah kaki yang berat dan terburu-buru mendadak berhenti. Sekelompok pria bertubuh kekar dengan setelan jas serba hitam menoleh tajam ke arah gang remang-remang tersebut. Tatapan mereka yang mengintimidasi langsung tertuju pada dua sejoli yang tengah berpelukan lekat di balik bayangan tembok.
Sensasi bahaya terpancar jelas dari para pria itu. Lina tahu betul, kalau orang-orang itu curiga sedikit saja dan mendekat, penyamaran ini bakal berantakan total!
Dalam situasi kritis seperti ini, otak cerdas dan keahlian improvisasi Lina mendadak bekerja di tingkat maksimal. Tanpa ragu, Lina merangkulkan kedua tangannya ke leher pria jangkung di hadapannya, menariknya makin rapat. Ia memiringkan kepalanya, sengaja menutupi seluruh garis wajah sang pria dari pandangan luar.
Lalu, dengan raut wajah penuh penghayatan, Lina mengeluarkan suara desahan lembut nan manja yang sukses membuat pria di pelukannya membeku kaku.
"Ahh... Sayang, pelan-pelan dong... Nanti ada yang lihat, ih..." cicit Lina dengan nada suara yang dibuat-buat centil, lengkap dengan kerlingan mata nakal dan usapan lembut di bahu tegap pria tersebut. "Malu tahu, main di gang begini... Kamu mah nakal banget..."
Aktingnya begitu natural dan meyakinkan. Salah satu pria kekar di mulut gang terkekeh tipis, mengibaskan tangannya pada anak buahnya dengan wajah rileks.
"Cuma sepasang sejoli lagi dimabuk cinta. Bukan target kita, ayo cari ke jalan sebelah!" seru pria itu, lalu menyuruh rombongannya kembali berlari menjauhi area gedung.
Langkah kaki para pengawal itu perlahan menyenyap, menghilang sepenuhnya di balik kebisingan jalan raya.
Lina menghela napas lega yang sangat panjang. "Huuuh... untung mereka percaya. Akting gue emang kelas pemenang Oscar," gumamnya bangga. Ia perlahan melonggarkan pelukannya dan mendorong pelan dada tegap pria itu untuk memberi jarak. "Mas, udah aman nih. Boleh lepas—"
Pria itu perlahan menegakkan tubuhnya, melangkah mundur satu tapak. Ia membenahi posisi penutup kepala dari hoodie kain katun berkualitas tinggi berwarna kelabu gelap yang ia kenakan. Saat sinar matahari tipis menembus celah gang dan menyinari garis wajahnya, Lina seketika membeku.
Mulut Lina menganga lebar. Manik matanya berkedip tak percaya.
Di hadapannya kini berdiri Pangeran Mahkota Lucien Valdoria. Namun, sangat jauh dari tampilan regalnya di istana, pria itu kini mengenakan kaos hitam santai yang dilapisi hoodie kasual dan celana bahan yang longgar. Gaya rambutnya yang biasanya disisir rapi kini sedikit berantakan tertutup kupluk hoodie, menciptakan pesona yang benar-benar berbeda tampak seperti mahasiswa tampan daripada seorang pewaris takhta.
"P-Pangeran...?!" pekik Lina gagap, menunjuk wajah Lucien dengan jari gemetar. "Buset... ini beneran Pangeran Lucien?! Memakai pakaian santai? Dia menyamar?! Mana pakai hoodie segala lagi... Gila, makin gantengnya gak masuk akal!"
Lucien mengatupkan rahangnya, menatap Lina dengan iris mata birunya yang berkilat tajam dari balik bayangan kupluk hoodie. Suara batin Lina yang heboh, pujian impulsifnya, serta ingatan akan desahan centil nan buatan gadis itu tadi... membuat telinga sang Pangeran Mahkota mendadak merona merah secara tipis.
"Apa yang Pangeran lakukan di sini?" tanya Eliana polos, menatap Lucien dengan mata bulatnya yang berkedip bingung.
Lucien menatap Eliana cukup lama. Manik mata birunya menatap gadis itu dengan intensitas yang begitu tajam hingga suasana di gang sempit itu terasa makin Mencekik. Tentu saja kehadiran Lucien di sini bukan tanpa alasan. Kata-kata dari suara hati Eliana tadi pagi di ruang kerja terus berdengung di kepalanya, merusak fokus dan mendorong rasa curiganya hingga batas maksimal. Ia memutuskan untuk turun langsung dan membuktikannya sendiri secara diam-diam.
Hanya saja... rencana penyamaran sang Pangeran Mahkota tidak berjalan mulus. Siapa sangka, saat berada di kawasan ini, penampilannya yang tertutup malah dikira pencopet oleh sekelompok preman lokal yang merasa wilayahnya diusik.
"Kau..." desis Lucien pelan dengan rahang mengetat, menahan kekesalan atas insiden konyol yang baru saja dialaminya.
"Iya, Pangeran?" sahut Eliana dengan raut wajah tanpa dosa.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lucien balik dengan suara berat menuntut.
Eliana mengusap lehernya, tersenyum canggung. "Saya kan sudah izin cuti hari ini, Pangeran. Kepala saya pusing, jadi mau jalan-jalan cari udara segar sebentar," jawabnya beralasan.
Namun, seperti biasa, 'jalur sihir' di antara mereka langsung membongkar segala isi kepala gadis itu secara jujur.
"Tentu saja gue harus ke sini buat tebar pesona!" jerit Eliana dalam hatinya, dan suara itu meluncur mulus ke dalam pikiran Lucien. "Gue harus cari cara buat kenalan sama Tuan Muda Gerald! Kalau gue bisa bikin dia menganggap gue teman atau sekutu, setidaknya pas dia sama Rosalie ngancurin istana nanti, nyawa gue aman dari pembantaian!"
Lucien mengatupkan bibirnya rapat-rapat, matanya makin menajam mendengar niat murni gadis di hadapannya yang hanya ingin menyelamatkan diri sendiri.
Tetapi, tatapan Eliana mendadak melunak. Ia memperhatikan garis wajah Lucien dari jarak dekat.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi... kasihan juga nih orang," lanjut Eliana meratap dalam batinnya, menatap pangeran di depannya dengan pendar prihatin. "Dia sebenarnya gak punya salah apa-apa. Cuma cowok tulus yang kebetulan lahir jadi pangeran dan dikelilingi penjahat. Apa gue bantu dia aja ya buat bongkar kebusukan Rosalie? Tapi... ah, enggak usah deh! Nanti kalau gue sok pahlawan, malah dikira mau modus lagi sama nih Pangeran galak."
Mendengar keraguan di dalam hati Eliana terutama bagian 'apa gue bantu dia aja ya' otak cerdas Lucien langsung berputar cepat. Gadis pelayan ini adalah kunci utamanya. Eliana tahu masa depan, tahu nama-nama yang terlibat, dan tahu rencana busuk yang bahkan belum sempat dieksekusi oleh musuh-musuhnya.
Lucien tidak boleh membiarkan kunci ini lepas begitu saja, apalagi membiarkannya mendekati Gerald.
"Karena kau sudah berada di sini..." Lucien memotong arus pikiran Eliana, merapikan kupluk hoodie-nya lalu menatap Eliana dengan nada perintah mutlak yang tak bisa dibantah. "...temani saya pergi ke suatu tempat."