Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

SETELAH AKU MATI, AKU MENJADI TUAN MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Bapak rumah tangga / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:259
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.

Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.

Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.

Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Bayangan di Balik Meja Direksi

Bab 4: Bayangan di Balik Meja Direksi

Matahari pagi menembus kaca jendela gedung pencakar langit Lu Group yang menjulang di pusat distrik finansial kota. Di ruang rapat utama lantai 50, ketegangan yang pekat menyelimuti udara, membuat pendingin ruangan seolah gagal meredakan hawa panas yang dirasakan oleh para dewan direksi. Di hadapan mereka terbentang meja rapat oval terbuat dari marmer hitam. Namun, tidak ada satu pun yang berani menatap ke arah ujung meja. Kursi utama di ujung sana—singgasana kekuasaan tertinggi perusahaan—masih kosong, menunggu pemilik sahnya yang selama satu tahun penuh terbujur kaku di ranjang rumah sakit akibat koma panjang.

Tiba-tiba, suara dengung elektrik yang menandakan penguncian otomatis pintu utama berbunyi pelan. Klik.

Pintu ganda berukir kayu mahoni tua terbuka lebar. Seluruh pasang mata di meja rapat langsung terarah ke ambang pintu.

Lu Jingyan melangkah masuk dalam setelan hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya. Tidak ada lagi jejak pasien koma yang setahun lalu bahkan membutuhkan bantuan untuk bernapas. Dasi perak gelap melingkar rapi di kerahnya, dan langkah kakinya yang tegas bergemetar di atas lantai marmer. Tatapan matanya dingin, menghujam siapa saja yang berani bersitatap dengannya walau hanya sedetik. Aura dominasi yang berat menguar dari setiap gerakannya. Di belakangnya, Sekretaris Han mengikuti dengan sigap, membawa portofolio dokumen perusahaan terbaru.

Semua orang di ruangan itu berdiri secara serempak. Beberapa direktur senior tampak pucat, sementara yang lain memasang wajah netral penuh perhitungan. Selama satu tahun belakangan, di saat Jingyan tak berdaya, kekuasaan di perusahaan ini memang mengalami pergeseran senyap. Sebagian saham telah digeser secara administratif, dan Dewan Direksi sempat mempertanyakan kelayakan mental sang pewaris untuk kembali memegang kendali.

Jingyan berjalan tanpa ragu menyusuri panjangnya meja rapat. Ia berhenti sejenak, lalu menarik kursi utamanya ke belakang dan duduk dengan gerakan tenang. Ia menautkan kedua tangannya di atas meja, menatap sekeliling dengan senyum tipis.

"Selamat pagi, para dewan direksi yang terhormat," suara Jingyan memecah keheningan, berat dan mengintimidasi. "Kelihatannya kalian terkejut melihatku kembali duduk di tempat ini."

Suasana rapat senyap seketika. Tidak ada yang berani membuka suara, kecuali seorang direktur senior berambut ubanan—Tuan Wang, salah satu pemegang saham mayoritas yang memegang kendali atas divisi pengembangan properti. Dengan tangan sedikit bergetar, ia mengangkat tangan untuk mencairkan suasana.

"T-Tuan Muda Lu... tentu saja kami sangat bersyukur atas kesembuhan Anda," ujar Tuan Wang dengan senyum kaku yang terpaksa. "Tapi kondisi kesehatan Anda baru saja pulih. Perusahaan dikelola di bawah transisi darurat... mungkin ada baiknya Anda istirahat dulu di rumah, sementara kami mengurus operasional harian."

Jingyan menyeringai dingin. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam tepat ke mata Tuan Wang. Jemari tangannya mengetuk pelan permukaan meja marmer mewah itu.

Tok... tok... tok.

Setiap ketukan terdengar bagaikan dentuman palu hakim.

"Istirahat?" Jingyan mendengus pelan. "Bagaimana aku bisa tenang di rumah, Tuan Wang... sementara ada hal-hal masa lalu yang belum terselesaikan di proyek lantai 35?"

Deg!

Senyum di wajah Tuan Wang seketika membeku.

Proyek lantai 35.

Sudah setahun tak seorang pun berani menyebut angka itu di hadapannya. Jantung Tuan Wang seolah copot dari tempatnya. Wajah direktur senior itu berubah pucat pasi, butiran keringat dingin langsung membanjiri pelipisnya. Insiden di lantai 35 adalah tragedi kelam yang selama ini diredam rapat-rapat oleh laporan internal perusahaan sebagai kecelakaan murni. Namun, reaksi gugup Tuan Wang di hadapan seluruh direksi sudah cukup menjadi bukti bisu bagi siapa pun yang mengamatinya.

Sekretaris Han, yang berdiri di belakang Jingyan, mengamati gerak-gerik para direktur dengan jeli. Di sudut lain meja, beberapa direktur tampak benar-benar lega melihat Jingyan kembali, sementara sebagian lainnya menunduk ketakutan karena pernah ikut ambil bagian dalam penyelewengan wewenang selama setahun kebelakang. Peta kekuatan di dalam Lu Group ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar hitam dan putih; Jingyan tidak hanya menghadapi satu musuh, melainkan sekumpulan serigala yang saling mengintai di dalam selimut yang sama.

Jingyan sendiri sebenarnya tahu batas pengetahuannya. Semasa hidupnya sebagai buruh, ia hanya mengingat kejanggalan pada baut pengunci dan bayangan seseorang berjas di lantai atas sebelum baja menimpanya—ia belum tahu pasti siapa dalang di balik layar yang memberi perintah. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat para tikus berdasi ini kehilangan ketenangan mereka.

Jingyan perlahan berdiri dari kursinya. Ia melangkah mendekati Tuan Wang yang gemetar di tempat duduknya, lalu menepuk pelan bahu pria tua itu dengan sebelah tangan.

"Setahun lalu kalian mengira seorang buruh mati dan semua urusan selesai," bisik Jingyan tepat di telinga Tuan Wang dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Sayangnya, Tuan Wang... ada orang mati yang belum selesai menagih utangnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!