Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pagi itu, rumah Kaizar kembali dipenuhi kesibukan. Sejak matahari belum terlalu tinggi, beberapa pelayan sudah membawa perlengkapan pernikahan keluar-masuk ruang keluarga. Ada yang memeriksa kain dekorasi, ada yang membawa contoh undangan, sementara dua orang lainnya sibuk mencatat kebutuhan yang masih harus diselesaikan.

Amira baru saja turun dari lantai atas ketika seorang pelayan menghampirinya. "Nona, Kak Alika sudah datang."

Amira yang masih memegang ujung rambutnya langsung menoleh ke arah pintu. "Kak Alika?"

"Iya, Nona. Beliau menunggu di ruang keluarga."

Amira mengangguk. Ia kemudian mempercepat langkah menuju ruang keluarga. Alika berdiri di dekat meja panjang yang dipenuhi berbagai contoh dekorasi. Ia mengenakan pakaian sederhana, tetapi tetap terlihat rapi. Beberapa kotak kecil berada di atas meja, sementara seorang pelayan sedang membantu membukanya.

Begitu melihat Amira datang, Alika langsung tersenyum. "Akhirnya pengantinnya muncul juga."

Amira mendekat sambil mengusap matanya yang masih terasa berat. "Aku baru bangun, Kak. Jangan panggil aku pengantin dulu. Rasanya masih aneh."

Alika tertawa kecil. Ia kemudian meraih tangan Amira dan mengajaknya duduk. "Sebentar lagi kamu memang akan menjadi pengantin. Jadi mulai sekarang harus terbiasa."

Amira duduk di sampingnya. "Makanya aku bilang pernikahan itu merepotkan."

"Kalau begitu, biar Kakak bantu."

Alika membuka salah satu kotak yang dibawanya. Di dalamnya terdapat beberapa contoh kartu undangan dengan desain berbeda.

"Aku membawa beberapa pilihan. Kemarin aku sudah melihatnya, dan menurutku ada beberapa yang cocok untukmu."

Amira mengambil salah satu kartu lalu memperhatikannya. "Ini bagus."

"Kamu suka?"

Amira mengangguk. "Warnanya tidak terlalu ramai."

"Memang sengaja aku pilih yang seperti itu. Kamu kan tidak suka sesuatu yang berlebihan."

Amira tersenyum. "Kakak masih ingat?"

"Tentu saja. Aku kakakmu."

Jawaban itu membuat Amira kembali melihat kartu di tangannya. Ada rasa hangat yang muncul di dalam dada. Bagaimanapun juga, di antara banyak hal yang membuat hidupnya berantakan beberapa waktu terakhir, Alika tetap orang yang sejak kecil tumbuh bersamanya.

Mungkin itu sebabnya Amira sulit membayangkan kakaknya memiliki niat buruk terhadap dirinya. Alika mengambil satu kartu lainnya.

"Kalau yang ini bagaimana?"

Amira memperhatikannya beberapa saat sebelum menggeleng. "Terlalu ramai."

"Kenapa? Padahal kelihatannya lebih mewah."

"Aku ingin yang sederhana."

Alika tersenyum dan mengangguk. "Baik. Kita pilih yang tadi."

Amira mengembalikan kartu tersebut ke meja. "Terima kasih sudah mau membantu."

Alika mengusap punggung tangan Amira. "Jangan bicara seperti itu. Aku ingin pernikahan adikku berjalan baik."

Amira menatapnya. "Kakak tidak marah aku menikah lebih dulu?"

Alika sempat terdiam. Kemudian ia tersenyum.

"Tentu saja tidak."

"Serius?"

"Kenapa Kakak harus marah?"

Alika menatap Amira cukup lama. "Kakak cuma ingin kamu bahagia."

Amira tidak menjawab. Entah kenapa, kalimat itu membuat hatinya sedikit sesak. Ia teringat bagaimana selama ini dirinya selalu merasa menjadi anak yang tidak benar-benar diinginkan. Tetapi pagi itu, setidaknya ia ingin mempercayai bahwa kakaknya memang tulus.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Beberapa saat kemudian, Alika membuka sebuah map berwarna cokelat. "Ini daftar tamu."

Amira langsung mengambilnya. "Daftar dari pihak Abraham?"

"Iya."

Amira membuka lembar pertama dan mulai membaca nama-nama yang tercantum. Beberapa nama terasa asing baginya. Ia membalik halaman berikutnya.

Kemudian berhenti. Alisnya berkerut. "Kak."

Alika yang sedang memeriksa contoh dekorasi menoleh.

"Kenapa?"

"Nama ini siapa?" Amira menunjuk salah satu nama di daftar.

Alika mengambil kertas tersebut dan membacanya. "Oh, dia salah satu kenalan keluarga."

"Kenapa dia diundang?"

"Memangnya tidak boleh?"

"Bukan begitu."

Amira kembali melihat daftar tersebut. "Setahuku Kaizar tidak pernah menyebut nama ini."

Alika tersenyum. "Mungkin karena urusan tamu lebih banyak ditangani orang-orang rumah."

Amira mengangguk pelan. "Begitu."

Ia kembali membaca. Namun beberapa detik kemudian, ia menemukan nama lain.

"Yang ini juga aku tidak kenal."

Alika mendekat untuk melihat. "Itu kerabat jauh."

"Kerabat jauh siapa?"

"Keluarga Abraham." Jawabannya terdengar begitu yakin.

Amira kembali menatap daftar tersebut. "Bagaimana Kakak bisa tahu?"

Alika tersenyum. "Aku sudah beberapa kali membantu mengurus acara keluarga. Wajar kalau ada beberapa nama yang aku kenal."

Amira mengangguk. Ia tidak memperpanjang pertanyaan. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal. Bukan karena Alika tidak boleh mengetahui nama-nama tersebut. Melainkan karena sebelumnya Kaizar mengatakan kepadanya bahwa daftar tamu masih diperiksa.

Kalau begitu, kenapa daftar ini sudah ada di tangan Alika?

Amira menutup map. "Kak, daftar ini nanti harus dicek lagi dengan Kaizar."

Alika terlihat sedikit terkejut. "Kenapa?"

"Supaya tidak ada kesalahan."

Alika tersenyum. "Baiklah. Kalau kamu mau begitu."

Amira meletakkan map di meja. Ia tidak tahu bahwa perubahan kecil dalam sikapnya tadi membuat Alika mulai berhati-hati.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Pintu ruang keluarga terbuka. Kaizar masuk dengan kursi rodanya. Tatapannya langsung tertuju kepada Amira dan Alika.

"Sudah selesai?"

Amira menoleh. "Belum. Kak Alika baru membantu memilih undangan."

Kaizar mengangguk. Alika berdiri. "Tuan Kaizar, maaf saya datang tanpa banyak memberitahu sebelumnya."

"Tidak masalah."

Kaizar mengarahkan pandangan kepada meja. "Apa itu?"

"Daftar tamu," jawab Amira sambil mengambil map tadi.

"Aku ingin memastikan beberapa nama."

Kaizar menerima map tersebut dari tangan Amira. Ia membaca beberapa halaman. Tidak lama kemudian, wajahnya berubah sedikit.

"Siapa yang memberikan daftar ini?"

Alika menjawab lebih dulu. "Saya mendapatkannya dari staf yang mengurus persiapan."

Kaizar mengangkat pandangan. "Staf siapa?"

Alika terdiam sesaat. "Saya tidak begitu ingat namanya."

Kaizar tidak langsung menjawab. Amira memperhatikan perubahan kecil pada wajah pria itu. Ia tahu Kaizar bukan orang yang mudah menunjukkan kecurigaan. Kalau sampai ia diam seperti itu, berarti ada sesuatu yang tidak sesuai.

"Memangnya ada masalah?" tanya Amira.

Kaizar menggeleng. "Ada beberapa nama yang tidak ada dalam daftar yang diberikan kepadaku."

Amira langsung menoleh kepada Alika. Alika tampak sedikit terkejut. "Benarkah?"

Kaizar mengangguk. "Aku akan meminta orang memeriksanya lagi."

Alika segera tersenyum. "Kalau begitu mungkin saya salah mendapatkan daftar."

Amira hendak mengatakan sesuatu, tetapi Kaizar lebih dulu menutup map tersebut. "Tidak perlu dipermasalahkan."

Alika mengangguk. "Baik."

Percakapan beralih kepada hal lain. Mereka membicarakan jadwal fitting, dekorasi, dan beberapa kebutuhan menjelang pernikahan.

Tidak ada pertengkaran. Tetapi Amira mulai memperhatikan. Ada sesuatu yang berbeda, ia seperti menyadari bahwa beberapa hal yang dibawa Alika kepadanya ternyata tidak sepenuhnya cocok dengan informasi yang diberikan Kaizar.

Belum cukup untuk menuduh siapa pun. Tetapi cukup untuk membuatnya berhenti menerima semuanya begitu saja.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Menjelang siang, Alika akhirnya berpamitan. Amira mengantarnya sampai depan pintu.

"Hati-hati, Kak."

Alika memegang kedua tangan Amira. "Kamu juga."

Kemudian Alika tersenyum. "Jangan terlalu memikirkan urusan kecil seperti tadi."

Amira mengerutkan kening. "Aku tidak memikirkannya."

"Bagus."

Alika mengusap rambut Amira seperti kebiasaannya sejak dulu. "Pokoknya fokus saja pada pernikahanmu."

Amira mengangguk. "Iya."

Alika kemudian masuk ke mobil. Amira berdiri di depan pintu sampai mobil itu meninggalkan halaman. Setelah kendaraan tersebut tidak terlihat lagi, Amira kembali masuk ke rumah.

Kaizar masih berada di ruang keluarga. Ia sedang membaca kembali daftar tamu yang tadi dibawanya.

Amira mendekat. "Kamu juga merasa ada yang aneh?"

Kaizar mengangkat wajah. "Apa maksudmu?"

"Daftar tadi."

Amira duduk di hadapannya. "Aku tidak menuduh Kak Alika."

Kaizar memperhatikannya. "Aku tahu."

"Tapi aku merasa beberapa hal belakangan ini seperti berubah sendiri."

Kaizar meletakkan berkas di meja. "Kalau begitu, jangan langsung mengambil kesimpulan."

"Aku tidak akan." Amira menatapnya dengan serius. "Aku cuma ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."

Kaizar mengangguk. "Itu lebih baik."

Amira kemudian mengambil ponselnya. "Aku mau menghubungi orang yang mengurus daftar tamu."

Kaizar tidak melarang. "Silakan."

Amira mengetik sebuah pesan. Kali ini ia tidak bertanya kepada Alika. Ia memilih memastikan semuanya sendiri.

Beberapa menit kemudian, balasan masuk. Amira membaca pesan tersebut. Wajahnya perlahan berubah. Kaizar memperhatikannya.

"Apa jawabannya?"

Amira mengangkat wajah. "Katanya daftar yang diberikan kepadaku tadi bukan daftar resmi."

Kaizar tidak mengatakan apa-apa. Amira menatap layar ponselnya sekali lagi. Ada rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh. Bukan karena ia sudah tahu siapa pelakunya. Justru karena ia belum tahu.

Dan, Amira merasa bahwa pernikahannya mungkin sedang dipersiapkan oleh seseorang yang tidak benar-benar menginginkan pernikahan itu berjalan lancar.

Ia menatap Kaizar.

"Kaizar..."

"Aku di sini."

Amira menggenggam ponselnya. "Sepertinya kita harus lebih hati-hati mulai sekarang."

Kaizar menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk.

"Baik."

Kali ini, mereka tidak lagi hanya mempersiapkan sebuah pernikahan. Mereka mulai mencari tahu siapa yang diam-diam berusaha mengacaukannya.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!