Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Di Bawah Bayang-Bayang Pohon Kamboja
Angin pagi bulan September berhembus lembut, membawa aroma tanah basah dan kelopak bunga kamboja yang berguguran di atas hamparan rumput hijau yang mulai menguning. Di tempat pemakaman umum yang terletak di ujung utara kota, suasana terasa begitu tenang dan terpencil dari hiruk-pikuk deru kendaraan ibu kota. Nisan-nisan batu yang berderet rapi menjadi saksi bisu atas ribuan cerita hidup yang telah berakhir di bawah tanah.
Lin Meiying melangkah pelan menyusuri jalan setapak setapak berkerikil. Tangannya yang mungil menggenggam erat gagang keranjang plastik berisi air mawar segar dan sekantung bunga tabur. Di sampingnya, Chen Anqi berjalan sambil memegang ujung jaket ibunya, matanya yang polos mengamati sekeliling dengan rasa ingin tahu yang khas anak seusianya.
"Ibu, apakah kita akan lama di sini?" tanya Anqi dengan suara kecilnya, mencoba menyesuaikan langkahnya yang pendek dengan langkah cepat Meiying. "Anqi merindukan mainan di rumah."
Meiying menghentikan langkahnya sejenak, berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuh putrinya. Ia merapikan helai rambut Anqi yang tertiup angin pagi, lalu tersenyum tipis—senyum yang menyembunyikan lautan rindu dan kelegaan yang luar biasa di dadanya.
"Sebentar saja, Sayang," jawab Meiying lembut, suaranya sedikit bergetar. "Kita datang untuk menemui Ayah. Kemarin malam, ibu mendapatkan kabar yang sangat penting. Orang-orang jahat yang membuat Ayah tiada sudah ditangkap oleh pihak berwajib. Ayah di sana pasti sedang tersenyum melihat kita."
Bocah enam tahun itu tidak sepenuhnya memahami rumitnya dunia orang dewasa atau arti penangkapan para direktur korup di korporasi raksasa. Namun, mendengar kata "Ayah", binar kerinduan langsung terpancar di mata jernihnya. Ia mengangguk patuh.
Mereka kembali melanjutkan langkah kecil hingga tiba di bawah naungan pohon kamboja tua yang rindang. Di hadapan mereka berdiri sebuah nisan sederhana dari batu marmer putih kusam yang terukir nama: Chen Guowei. Di atas permukaan batu nisan itu, debu tipis dan sisa-sisa kelopak bunga kering menumpuk, menandakan sudah lama tidak ada yang membersihkannya dengan layak akibat himpitan hidup yang terus menghantam keluarga kecil tersebut.
Meiying berlutut di atas tanah basah. Air matanya langsung meleleh begitu saja, menetes pelan tanpa suara ke atas rumput. Ia mengeluarkan sebotol air mawar, menyiram perlahan permukaan batu nisan suaminya, lalu membersihkan debu-debu yang menempel menggunakan selembar kain lap kecil dengan sangat hati-hati.
"Guowei..." bisik Meiying parau, menempelkan telapak tangan kasarnya pada dinginnya batu nisan tersebut. "Maafkan aku baru bisa datang sekarang. Selama setahun ini, hidup kami terasa begitu gelap dan penuh ketakutan. Aku hampir menyerah pada keadaan... aku hampir tidak tahu bagaimana cara melindungi Anqi sendirian."
Ia menarik napas dalam-dalam, menahan isak tangis yang mulai mendesak dadanya.
"Tapi kau tahu? Orang-orang yang merenggut nyawamu di proyek lantai 35 itu... Zhao Tianming dan Haryanto... mereka semua sudah jatuh. Kebenaran yang kau tulis dalam surat rahasiamu akhirnya terbuka di hadapan publik. Surat kabar pagi ini memuat berita besar tentang kejatuhan mereka. Kau tidak mati sia-sia, Guowei. Namamu akhirnya dibersihkan."
Di tengah keheningan pemakaman yang syahdu, suara langkah kaki pelan yang bergesek di atas kerikil terdengar mendekat dari arah belakang barisan pohon kamboja. Langkah kaki itu begitu ringan, namun memiliki wibawa yang membuat bulu kuduk merinding.
Meiying menghentikan kata-katanya. Ia mendongak perlahan, menoleh ke arah jalan setapak di belakang makam.
Beberapa meter dari tempat ia bersimpuh, sesosok pria tinggi berbalut mantel panjang berwarna hitam legam berdiri tegak. Pria itu mengenakan kacamata hitam tipis, dengan seikat bunga krisan putih segar di tangan kanannya. Di bawah pendar cahaya matahari pagi yang menembus rimbunnya dedaunan, sosok itu tampak begitu kontras, bagaikan seorang tamu agung yang sengaja datang diam-diam ke tempat peristirahatan terakhir seorang buruh rendahan.
Lu Jingyan.
Jingyan berhenti melangkah saat manik matanya bertubrukan dengan mata Meiying yang basah oleh air mata. Jantungnya berdegup kencang di balik rongga dadanya—bukan karena takut ketahuan, melainkan karena melihat wanita yang paling dicintainya bersimpuh di hadapan pusaranya sendiri. Menatap batu nisan yang bertuliskan namanya di masa lalu, sementara jiwa raganya yang sekarang berdiri hidup di hadapannya, menciptakan ironi paling menyakitkan sekaligus mengharukan di dunia ini.
"Tuan... Direktur Lu?" gumam Meiying terbata-bata, berdiri perlahan dari lututnya. Ia menatap pria di hadapannya dengan kening berkerut dalam, diliputi oleh kebingungan yang teramat sangat. "Kenapa... bagaimana Anda bisa ada di tempat pemakaman ini?"
Jingyan tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju perlahan, meletakkan seikat bunga krisan putih segar tepat di sebelah gundukan tanah makam Chen Guowei. Gerakannya begitu tenang, penuh penghormatan yang mendalam—penghormatan dari seorang pria kepada dirinya sendiri di masa lalu.
"Aku kebetulan melintas di kawasan perbukitan utara ini," suara Jingyan terdengar sangat berat, dalam, dan sarat akan emosi yang mati-matian ia kendalikan. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam bola mata Meiying. "Dan aku tahu... hari ini adalah hari di mana keadilan kecil akhirnya berpihak padamu."
Mendengar kalimat itu, napas Meiying mendadak tertahan. Jantungnya berdegup tak beraturan. Ada sesuatu di balik cara pria itu memandangnya, sesuatu di balik nada suara berat yang tidak asing di telinganya—sebuah resonansi jiwa yang tidak bisa dibohongi oleh tubuh baru maupun setelan jas mahal.
"Anda tahu segalanya sejak awal, bukan?" suara Meiying bergetar hebat, matanya menatap tajam mencari kejujuran di balik lensa kacamata hitam Jingyan. "Mulai dari tunggakan rumah kontrakan, ancaman di rumah sakit, hingga surat rahasia suami saya... Anda yang mengatur semuanya di balik layar, Tuan Lu. Kenapa? Kenapa seseorang dengan kekuasaan sebesar Anda harus repot-repot melindungi keluarga buruh yang tidak punya apa-apa ini?"
Jingyan perlahan melepas kacamata hitam yang menutupi matanya, memperlihatkan sorot mata tajam yang basah oleh genangan air mata yang tertahan. Ia melangkah lebih dekat, berdiri tepat di hadapan Meiying, membiarkan aroma mahoni khas tubuhnya menguar di udara pagi pemakaman tersebut.
"Karena ada janji yang belum sempat aku tepati semasa hidupku, Meiying," bisik Jingyan pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desiran angin pagi. "Janji untuk menjaga kalian, apapun yang terjadi di dunia ini."
Meiying terpaku di tempatnya. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi senyap. Kalimat itu... kalimat yang sama persis yang pernah diucapkan oleh Guowei di malam terakhir sebelum pria itu pergi bekerja untuk selamanya.
Sebelum Meiying sempat merangkai kata atau menyatukan kepingan teka-teki yang terlalu besar di dalam kepalanya, Sekretaris Han muncul dari ujung jalan setapak membawa payung dan tas kecil, memberi isyarat bahwa waktu kunjungan mereka harus segera berakhir karena jadwal rapat dewan direksi darurat di kantor pusat sudah menanti.
Jingyan menatap Meiying sekali lagi dengan pandangan penuh cinta dan kepedihan yang teramat dalam, lalu membalikkan badan perlahan melangkah pergi meninggalkan area pemakaman.
Meiying berdiri mematung di bawah bayang-bayang pohon kamboja, menatap punggung pria berjas hitam itu yang perlahan menghilang di balik tikungan jalan setapak, sementara ribuan air mata kembali tumpah membasahi pipinya diiringi kepastian baru yang mulai menghangat di dalam dadanya.