"Satu tahun lagi kita cerai. Hati aku cuma buat Rosa"
Di malam pertama, Fitri dibuang demi wanita lain. Ia pergi membawa luka... dan rahasia besar di rahimnya. Tiga tahun kemudian, pernikahan Adam hancur oleh pilihan hatinya sendiri. Saat penyesalan datang, ia justru bertemu kembali dengan Fitri yang kini menjadi 'Dokter Cantik' sukses bersama seorang anak yang sangat mirip dengannya.
"Fitri... anak siapa yang kamu pangku itu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Diary
Kata-kata Rosa telak menghantam Adam. Pria itu bungkam, tenggorokannya mendadak tercekat. Rosa benar. Kesalahan terbesar dalam hidupnya adalah keputusannya sendiri.
Adam memegangi dadanya yang terasa disetrum. Napasnya tersengal, tenggorokannya mendadak kering kerontang.
"Lima puluh juta kamu habiskan cuma buat gaya hidup sama konten liburan beberapa hari?!" bentak Adam, matanya membelalak tak percaya. "Kamu tahu nggak, itu uang hasil keringatku yang kumpulin bertahun-tahun sebelum kenal kamu?!"
"Aduh, Mas! Jangan kekanak-kanakan deh!" potong Rosa dengan nada tinggi melengking yang bikin sakit telinga. "Kamu itu suami! Sudah kewajibanmu membiayai semua kebutuhanku! Kalau uang lima puluh juta aja kamu perhitungkan sampai membentak-bentak kayak gini, berisik banget tahu nggak! Aku kira kamu pria mapan yang bisa menjamin hidupku, ternyata cuma modal gengsi!"
"Cukup, Rosa!" Adam maju beberapa langkah, memotong jarak di antara mereka. "Aku udah nurutin semua kemauanmu dari hari pertama kita nikah! Aku beliin barang mahal, aku bayari semua gaya hidup sosialita mu sampai tabunganku ludes! Tapi apa yang kudapat?"
Adam menunjuk sekeliling ruang tamu. "Rumah kayak kapal pecah! Kamu nggak pernah mau masak, bahkan bajuku pun harus ku urus sendiri! Kamu cuma manfaatin aku!"
Rosa bukannya merasa bersalah, malah tertawa sinis.
Brak! Dia melemparkan tas mewahnya ke atas sofa.
"Kalau tahu kamu bakal kere dan rewel kayak gini, dari awal aku juga nggak bakal mau nikah sama kamu!" sembur Rosa santai. "Kamu pikir aku sungguhan cinta sama kamu? Lucu banget! Dulu aku mau sama kamu karena kamu royal dan kelihatan banyak uang. Tapi kalau ujung-ujungnya aku harus hidup melarat begini, mending aku cari cowok lain yang jauh lebih kaya dari kamu!"
Kata-kata itu menghantam mental Adam sampai hancur berkeping-keping. Kejujuran jahat dari mulut Rosa jadi bukti nyata kalau pengorbanannya selama ini cuma sia-sia. Dia sudah mempertaruhkan segalanya, melepaskan wanita tulus yang mencintainya tanpa syarat, hanya demi mengejar kepalsuan.
"Apa maksud kamu rosa!"
"Pikir aja sendiri!" Ucap Rosa.
Tanpa peduli sama Adam yang berdiri mematung, Rosa menyambar kunci mobil di atas meja lalu berbalik cepat.
Brak!
Suara pintu dipukul dan dibanting keras. Rosa pergi, meninggalkan Adam sendirian di dalam kegelapan malam yang menyesakkan.
Keheningan langsung melingkupi ruangan. Adam melangkah gontai, lalu ambruk terduduk lemas di atas lantai dingin di dekat meja. Tatapannya kosong memandangi sudut-sudut rumah yang hampa. Rasa bersalah dan penyesalan yang membakar dadanya makin menjadi-jadi, merayap ganas meremukkan sisa-sisa harga dirinya.
***
Keesokan harinya, sinar matahari menembus jendela ruang tengah yang berdebu. Adam terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Rasa kantuknya belum benar-benar hilang, tapi dia sudah disambut pemandangan rumah yang jauh dari kata layak huni.
Sisa makanan semalam masih tergeletak di meja, bau tidak sedap menyeruak dari tumpukan sampah yang belum dibuang. Rosa bahkan tidak pulang semalaman sejak pertengkaran itu.
Dengan langkah gontai dan perasaan hampa, Adam mulai memunguti sampah-sampah itu satu per satu. Dia meraih sapu dan mulai membersihkan lantai kayu yang kusam. Saat dia bergeser ke sudut ruangan di belakang lemari mahoni besar warisan ibunya, matanya menangkap sesuatu yang ganjil.
Di celah sempit antara kaki lemari dan dinding, terselip sebuah buku catatan bersampul kulit biru tua berdebu tebal. Adam merogoh dan meraih buku itu. Tangannya gemetar saat menyapu debu di sampulnya, lalu perlahan membuka halaman pertama.
"Apa ini?" Ucap Adam memungut buku kecil itu. "Ini diary nya fitri? Kenapa ada di sini?" Ucap Adam.
Adam terpaku seketika. Dulu dia sering mengabaikan buku ini tergeletak di atas nakas dan menganggapnya barang tak penting. Sekarang, setiap kata yang tertulis di sana terasa seperti jarum-jarum tajam yang menusuk jantungnya.
‘Hari ini Mas Adam pulang dengan wajah lelah banget. Dia nggak bicara sepatah kata pun, mungkin pekerjaannya di kantor lagi berat. Aku udah siapin air hangat sama makan malam kesukaannya. Semoga masakanku bisa ngobatin rasa capeknya... meskipun aku tahu, di dalam hatinya dia masih sangat mencintai Rosa.’
Adam memegang dadanya yang mendadak sesak. Dia membalik halaman berikutnya. Tulisan tangan Fitri yang rapi tampak di sana.
‘Ibu tadi batuk parah lagi. Mas Adam lagi tidur nyenyak banget, aku nggak tega ngebangunin dia karena besok pagi dia harus berangkat kerja subuh. Aku bakal jaga Ibu sepanjang malam di ruang tengah. Semoga Tuhan selalu ngelindungin Mas Adam, kasih dia kesehatan, dan ngebuka pintu hatinya buat liat betapa tulusnya doaku untuk dia.’
"Kenapa kamu nggak pernah bilang sama aku, Fit..." bisik Adam serak, air matanya mulai menetes.
Langkahnya melemah. Dia terduduk pasrah di lantai, punggungnya bersandar pada lemari. Pikirannya melayang kembali ke masa itu. Dia ingat malam-malam di mana dia sering berpura-pura tidur biar nggak perlu bicara dengan Fitri. Dia ingat bagaimana dia sering beralasan lembur kerja, padahal dia menghabiskan waktu bersama Rosa di kafe.
Ternyata, selama ini ada wanita yang berdiri di belakangnya, memikul beban keluarga sekaligus menahan rasa sakit hati yang tak pernah dibalas.
‘Tahun pertama pernikahan kita hampir selesai. Mas Adam tadi sore udah ngasih surat perjanjian cerai itu ke aku. Hatiku rasanya remuk dan sakit banget... tapi aku sadar, mungkin memang bukan aku wanita yang bisa bikin dia bahagia. Tapi aku berjanji, sampai detik terakhir aku di sini, aku bakal pastiin rumah ini tetap jadi tempat yang paling nyaman buat dia pulang. Itu satu-satunya baktiku yang tersisa.’
Napas Adam tercekat. Tangisnya pecah di dalam ruangan yang sepi itu. Air mata meluncur deras membasahi kertas diari yang menguning.
Selama ini, dia mengira Fitri adalah cewek dingin yang cuma peduli pada status pernikahan. Dia bahkan menuduh Fitri sebagai cewek matre yang tidak tahu diri. Ternyata, selama satu tahun itu, Fitri adalah malaikat tanpa sayap yang selalu dia injak-injak harga dirinya dengan kebencian buta.
"Maafin aku, Fit... maafin aku..." bisik Adam lirih sambil meremas lembaran diari itu ke dadanya.
Dia menatap sekeliling rumah yang kini berantakan. Tidak ada lagi kehangatan. Tidak ada lagi masakan rumah yang aromanya selalu menyambutnya. Yang tersisa hanyalah debu, perabotan kotor, dan fakta pahit bahwa dia telah membuang permata demi segenggam kerikil yang sekarang meremukkan jalannya sendiri.
Rumah yang dulu terasa hangat karena kehadiran Fitri, kini berubah jadi penjara yang dingin. Dan di tengah kesunyian itu, Adam menyadari satu hal pahit: dia bukan hanya kehilangan seorang istri, tapi juga kehilangan satu-satunya orang yang pernah benar-benar mencintainya tanpa syarat.
Setelah membaca itu, Adam dengan kemeja kusut nya beranjak dan pergi ke kantor nya.
Jika Adam berharap pada Fitri ,itu berarti Adam sudah putus urat malunya.
jng mau balikan nnti apa lagi demi anak. jijik banget.
sekarang ngemis ngemis dulu sombong.