Indonesia
NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Harap bijak dalam membaca area 21+

Langkah kaki Aurelia terasa jauh lebih berat dari sebelumnya saat ia menaiki tangga melingkar menuju kamar utama di lantai dua. Cerita yang dituturkan oleh Bi Lastri di dapur tadi masih berputar-putar di kepalanya, menciptakan gelombang rasa prihatin dan iba yang mendalam di dada mungilnya. Ia kini melihat sosok Grayson bukan sekadar sebagai monster atau suami yang kejam dan posesif, melainkan sebagai seorang pria patah arang yang tumbuh besar dalam dekap kesunyian mutlak.

Begitu pintu kamar utama dibuka perlahan, lampu tidur bercahaya temaram menyambutnya.

Grayson sudah berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah halaman depan rumah. Pria itu sudah menanggalkan kemeja seragamnya, menyisakan kaos hitam pas badan yang mencetak lekuk otot dada bidangnya dengan sempurna. Begitu mendengar suara pintu berderit, kepala Grayson menoleh. Sebuah senyuman tipis—senyuman langka yang sarat akan rasa ingin memiliki—terbit di bibirnya.

Sebelum Aurelia sempat melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, tangan kokoh Grayson sudah meraih pergelangan tangannya dengan gerakan halus namun cepat. Tanpa memberikan kesempatan bagi sang istri untuk bersuara, pria itu menarik Aurelia lembut menuju sofa beludru hitam yang terletak di sudut ruangan.

*Bruk.*

Tubuh Aurelia dijatuhkan secara perlahan namun pasti ke atas pangkuan lebar suaminya. Grayson langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping gadis itu, mengurungnya dalam dekapan yang tidak memberi ruang untuk melarikan diri.

"Dari mana saja, *Wife*? Lama sekali," bisik Grayson tepat di samping telinga Aurelia. Hembusan napas hangat pria itu bercampur dengan aroma parfum maskulin yang memabukkan, langsung meremang kan bulu kuduk di sekujur tubuh sang gadis. "Temani aku bersenang-senang malam ini."

Aurelia meremang ketakutan, kedua tangannya secara refleks mencengkeram lengan kokoh Grayson. "Jangan, Grayson... Aku belum siap. Jangan lakukan ini..." lirihnya memohon dengan suara bergetar hebat, membayangkan kengerian malam sebelumnya.

Grayson terkekeh pelan—suara bariton yang terdengar begitu seksi dan menghanyutkan di ruang yang sunyi itu. Ia menunduk, menciumi leher jenjang Aurelia dengan lembut, memberikan kecupan-kecupan hangat yang membuat pertahanan mental sang gadis langsung goyah seketika.

"Sssst... tenanglah, Sayang," bisik Grayson menenangkan, jemarinya mengusap pipi Aurelia dengan penuh kelembutan yang sangat kontras dengan ancamannya tadi. "Aku hanya ingin bermain-main saja. Aku tidak akan menyentuhnya jauh... tidak malam ini. Kita hanya akan melakukannya seperti kemarin, karena aku sangat menyukainya."

Grayson menjeda kalimatnya, menyunggingkan senyuman miring yang menggoda. "Apa kamu tidak menikmati saat tangan ku bermain-main di bawah sana, hm?"

Wajah Aurelia berubah merah padam seketika. Suara itu begitu jujur, telak menghantam akal sehatnya. "Grayson!" protesnya tertahan dengan napas mulai memburu.

Tanpa memperdulikan protes malu-malu dari sang istri, tangan besar Grayson yang hangat mulai meraba kancing seragam Aurelia satu per satu, membukanya dengan gerakan lihai namun lembut. Sementara itu, bibir panas pria itu kembali menelusuri lekuk leher jenjang Aurelia, memberikan isapan-isapan mantap yang meninggalkan sensasi terbakar di kulit putih mulus tersebut.

"Jangan diberi tanda..." cicit Aurelia panik saat merasakan bibir Grayson mulai menekan lebih dalam di kulit lehernya. "Nanti orang-orang di sekolah melihatnya..."

Grayson tidak menjawab. Pria itu justru semakin gencar melanjutkan kegiatannya. Dengan satu gerakan cepat, ia membuka kaitan bra yang dikenakan Aurelia dan membuangnya ke lantai. Sepasang bukit kembar yang padat dan ranum itu kini terekspos sepenuhnya di bawah terpaan cahaya temaram.

Tanpa rasa sabar, Grayson langsung melahap salah satu puncaknya dengan rakus, meremas bongkahan lembut itu dengan cengkeraman tangan kasarnya hingga Aurelia mendesah tertahan, meloloskan pekikan kenikmatan yang tidak mampu ia bendung.

"Ah... Grays... pelan..." jerit Aurelia tertahan, jemarinya meremas rambut hitam suaminya dengan kuat, kepalanya terdongak ke belakang menikmati gelombang nikmat yang merambat ke seluruh saraf tubuhnya.

Hatinya menolak, akal sehatnya berteriak bahwa ini salah. Namun tubuhnya... tubuhnya justru berkhianat, merespons setiap sentuhan beringas namun memuja itu dengan kepatuhan yang luar biasa. Ini adalah kali kedua Grayson memperlakukannya seperti ini—sebuah permainan erotis penuh gairah yang memanjakan indra tanpa melakukan penetrasi penuh. Sentuhan-sentuhan asing itu membakar kewarasannya.

"Itu sakit... jangan digigit di situ..." adu Aurelia saat gigi tumpul Grayson mengemil lembut kulit sensitif di dadanya seolah tengah menikmati makanan penutup yang lezat.

Grayson mengabaikan bisikan protes itu. Tangannya yang bebas tidak tinggal diam; jemari panjangnya meraba turun, menelusup ke balik kain rok abu-abu dan menyingkirkan celana dalam terakhir gadis itu hingga sepenuhnya bersih.

"Buka kakimu, Sayang," bisik Grayson serak, memerintah dengan otoritas mutlak yang membuat Aurelia tidak punya keberanian untuk membantah.

Aurelia membuka kedua pahanya selebar titah sang suami. Seketika itu juga, dua jari tangan Grayson merangsek masuk ke dalam lubang intimnya yang basah dan sempit.

*Slat... shhh...*

"Ahhh...!" Aurelia memejamkan matanya rapat-rapat, punggungnya melengkung ke depan, menerima masuknya jari-jari itu dengan desahan panjang yang teramat nyaring.

"Kamu sangat sempit, Sayang," bisik Grayson di sela-sela deru napasnya yang memburu, menggerakkan jari-jarinya masuk dan keluar dengan ritme yang teratur dan memabukkan. "Kalau saja boleh... kalau saja hukum dan keadaan mengizinkan, aku ingin memasukimu sekarang juga. Menjadikanmu milikku seutuhnya di atas ranjang ini."

Aurelia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, air mata kenikmatan dan kepasrahan menggenang di pelupuk matanya. Entah dorongan dari mana, naluri liar di dalam tubuhnya justru membuat Aurelia semakin melebarkan pahanya, memberikan akses lebih longgar kepada sang suami.

Melihat respons patuh dan menggoda itu, senyuman penuh kemenangan terbit di bibir Grayson. Tangan pria itu semakin lihai memainkan jarinya, mempercepat tempo hingga gelombang peledak kenikmatan itu merambati sekujur tubuh Aurelia.

*“Grayson... aku... ahhh...!”* jerit Aurelia tertahan saat puncak kenikmatan itu akhirnya menghantam kesadarannya, membuat seluruh tubuhnya lemas terkulai di pelukan sang suami dengan napas tersengal-sengal.

Belum sempat Aurelia memulihkan kesadarannya sepenuhnya, Grayson melepaskan jarinya dan mengubah posisi.

"Sekarang giliranmu," bisik Grayson dengan mata menggelap penuh nafsu. Pria itu berdiri sejenak dari sofa, membuka celana panjang dan pakaian dalamnya dalam beberapa gerakan kasar, hingga kejantanannya yang sudah menegang sempurna terekspos di hadapan Aurelia.

Aurelia terperanjat hebat, matanya membelalak lebar melihat ukuran benda asing di hadapannya. Ia belum pernah melihat hal seperti itu seumur hidupnya. Wajahnya langsung merona merah hingga ke telinga, tubuhnya menegang kaku karena rasa kaget dan takut yang bercampur baur.

"G-Grayson... a-apa ini..." cicit Aurelia gugup, hendak menarik mundur tangannya.

Namun Grayson dengan cepat meraih pergelangan tangan mungil sang istri, menuntun telapak tangan itu untuk menyentuh langsung kejantanannya yang panas dan berdenyut keras.

"Lakukan seperti apa yang aku lakukan padamu tadi," perintah Grayson dengan suara berat yang tidak bisa dibantah.

"T-tapi aku tidak tahu caranya... kumohon jangan..." bisik Aurelia malu-malu setengah mati, air mata rasa malu menggenang di sudut matanya.

"Begini, Sayang," bujuk Grayson lembut namun tegas.

Pria itu menuntun tangan mungil Aurelia menggenggam miliknya, lalu menggerakkan tangan itu naik dan turun dengan ritme lambat dan konstan.

*“Ahhh... ya, begitu, Sayang... Good girl...”* erang Grayson kenikmatan, kepalanya mendongak ke belakang dengan mata terpejam merasakan gesekan lembut dari tangan istrinya.

Meskipun tangannya gemetar hebat karena rasa canggung yang luar biasa, Aurelia merasakan sensasi asing yang mendebarkan. Di saat yang sama, tangan Grayson yang lain tidak tinggal diam; pria itu kembali memasukkan jarinya ke dalam lubang intim Aurelia, melakukan gerakan ritmis yang sama persis untuk menjaga gairah istrinya tetap berada di puncak, meskipun gadis itu baru saja mencapai pelepasan beberapa menit yang lalu.

"Nikmat, Sayang? Rasakan milikku..." bisik Grayson serak, membimbing gerakan tangan Aurelia agar semakin cepat.

Aurelia menggigit bibir bawahnya, mengangguk kecil dengan wajah tertunduk malu karena tidak sanggup menatap mata suaminya. Kejujuran menghantam batinnya: ia menyukai kedekatan ini. Sentuhan-sentuhan liar dan intim ini membuatnya merasa diinginkan, dipuja, dan sepenuhnya menjadi pusat dunia sang suami iblis.

Ini tidak salah—mereka sudah sah menjadi suami istri di mata hukum dan agama. Hanya saja, di balik rasa nikmat yang membakar kewarasannya, ketakutan terbesar Aurelia tetap bersemayam di dalam dada: ketakutan akan kehamilan yang belum ia siap hadapi di usia rekam medis mereka, serta teror tersembunyi terhadap obsesi dan kekejaman mutlak yang sewaktu-waktu bisa kembali meledak dari diri pria di hadapannya ini.

Di dalam ruangan yang temaram, di atas sofa beludru hitam rumah utama keluarga Balindra, malam itu kembali menjadi saksi bisu bagaimana rasa takut, cinta, dan gairah kelam melebur menjadi satu dalam pelukan erat sang suami iblis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!