Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.
Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.
Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN UNTUK INO
# PESAN UNTUK INO #
"Silahkan minum dulu paman..."
Belum juga sempat menandaskan anggur yang beliau minum, Paman Joe sudah lebih dulu tersedak parah. Bukan sekadar anggur, melainkan tersedak oleh balasan menohok dari Axcel yang tepat mengenai ulu hatinya. Ia tertampar oleh fakta tersirat bahwa keluarga besarnya tidak akan bisa berdiri tegak tanpa naungan kekuasaan Pierce Group.
Seketika, atmosfer ruang makan berubah sedingin es. Pandangan para kerabat menusuk tajam ke arah Axcel. Bahkan Paman Joe gagal menyembunyikan kilat kebencian di matanya, tepat di hadapan sang Tetua.
*CLANG!*
Profesor Antony menghela napas berat, lalu meletakkan garpunya ke atas piring porselen. Bunyi dentingan garpu itu bergema tegas di tengah kesunyian, menyadarkan Paman Joe untuk bergegas mengendalikan kembali raut wajahnya.
"Apa kau berniat merusak acara makan malam penyambutan ini?" tegur Prof. Antony dingin. "Jika Pierce Group tidak memiliki Axcel, pihak keluarga lain dari saudara Pierce sudah pasti mengambil alih semuanya. Dan hal pertama yang bakal mereka lakukan adalah menendang bersih semua anggota keluarga Wistlen dari jajaran direksi. Apa otakmu tidak bisa berpikir sejauh itu, Joe?"
Mendengar teguran tajam sang Ayah, Paman Joe seketika berganti peran menjadi sosok paman yang penuh perhatian dan berhati malaikat. Akting kilat itu sukses membuat perut Axcel mual setengah mati. Seluruh nafsu makan yang tersisa mendadak lenyap. Jika bukan demi menjaga perasaan Ibunya, Axcel enggan meladeni drama picisan keluarga ini. Ayahnya telah tiada, beristirahat tenang bersama sang kakak di alam sana, dan mau tidak mau Axcel lah yang harus turun ke medan perang. Meski sedikit terlambat, ia tak akan membiarkan Ibunya bertarung sendirian lagi.
Makan malam pun berlanjut dengan gurauan serta kehangatan palsu. Axcel terpaksa memasang topeng senyum yang amat menyiksa.
(Tenang... sebentar lagi selesai... Tenang, Axcel...) batinnya berulang kali.
Sebisa mungkin ia menahan emosi agar tidak lepas kendali. Ia berdialog dengan dirinya sendiri demi mencegah "monster" yang bersemayam dalam raganya terbangun dan kembali membuat huru-hara.
Ny. Evelyn pernah menceritakan semuanya. Ketika kepribadian yang satu lagi terbangun, ia akan menguasai raga Axcel dalam jangka waktu yang cukup lama. Catatan terlama menunjukkan monster itu pernah menidurkan kesadaran Axcel selama tiga bulan penuh. Kala itu, Ny. Evelyn harus bolak-balik ke luar negeri demi mengawasi sosok lain tersebut, sembari tetap memegang kendali perusahaan di Santosburgh. Namun, Axcel yakin masih banyak rahasia yang disimpan rapat oleh sang Ibu.
_Ino...
Sosok misterius itu selalu memanggil Ny. Evelyn dan Tn. Pierce dengan sebutan "Ino", seolah ia mengidentifikasikan dirinya dengan nama tersebut. Puluhan psikiater telah didatangkan dan aneka terapi telah dijalani, tetapi semuanya nihil. Ino hanya akan menyerahkan kembali kendali raga Axcel sesuai kemauannya sendiri. Terkadang, tingkahnya menyerupai gadis nakal yang manja dan menggemaskan, sekaligus sering kali membuat Ny. Evelyn pusing tujuh keliling.
Setiap kali Ino mengambil alih, selalu saja ada kekacauan yang berujung pada urusan hukum. Namun, orang tua Axcel tidak bisa menghakimi sosok itu begitu saja. Menurut analisis ahli jiwa, Ino muncul sebagai mekanisme pertahanan diri saat Axcel mengalami tekanan emosional hebat. Masalahnya, hingga Axcel menginjak usia 22 tahun, belum ada metode medis yang sanggup melenyapkan jiwa Ino dari tubuhnya.
Kelemahan fatal inilah yang ditutupi rapat oleh Ny. Evelyn. Tak terbayangkan betapa lelahnya sang Ibu menjaga rahasia ini, bahkan beliau tak sempat berduka secara layak saat Tn. Pierce berpulang untuk selamanya.
Axcel selalu dihinggapi rasa iba setiap melihat senyuman Ibunya yang menyembunyikan keletihan mendalam. Wanita mana yang sanggup tetap berdiri tegar setelah kehilangan putri sulungnya secara tragis, lalu tiga tahun kemudian menyusul kehilangan suami tercinta? Axcel percaya, hanya Ibunya yang sanggup melaluinya.
"Axcel, apa steak nya kurang enak? Kenapa cuma ditusuk-tusuk dari tadi?" tegur Ny. Evelyn lembut. "Sini, Mama gantikan dengan seafood kesukaanmu."
Axcel tersentak dari lamunannya, lalu menyunggingkan senyum hangat pada wanita paruh baya di sisinya. Ia menerima piring seafood yang disodorkan sang Ibu.
"Pelan-pelan makannya, Sayang. Hati-hati ngupas cangkangnya," pesan Evelyn perhatian.
Seafood adalah makanan favorit Axcel. Namun, hidangan laut inilah yang dulu menjadi bukti utama bagi Ny. Evelyn dan Tn. Pierce tentang keberadaan dua jiwa berbeda dalam satu raga. Berbeda 180 derajat dari Axcel, Ino alergi parah terhadap seafood. Pertama kali Evelyn menyuapkan udang pada Ino, sosok itu langsung dilarikan ke IGD dengan kulit memerah, bentol-bentol hebat, hingga muntah tanpa henti.
Aneh, tetapi nyata. Kehilangan putri sulung memang menyisakan luka mendalam bagi keluarga Pierce, tetapi dengan adanya Ino, mereka seolah membesarkan dua anak sekaligus, seorang putra dan seorang gadis manja. Bahkan tak jarang, Evelyn menganggap keberadaan Ino sebagai manifestation dari arwah almarhumah Selena.
---
Acara ramah-tamah penuh kepalsuan itu akhirnya usai. Axcel kini bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang sudah lama merindukan pemiliknya. Ruangan ini selalu memberinya rasa aman. Aroma terapi kesukaan sang Ibu menyeruak lembut, membawa ketenangan tersendiri.
Ia memejamkan mata sejenak, masih mengenakan setelan jas resminya. Benaknya sibuk memikirkan cara untuk bisa berkomunikasi dengan sosok yang mendiami tubuhnya. Bagaimana caranya? Mereka tidak bisa saling bertatap muka secara langsung. Jika Ino terbangun, kesadaran Axcel akan tertidur, begitu pula sebaliknya.
Pernah di suatu masa, Axcel merasa sangat putus asa dan menganggap dirinya sendiri sebagai benalu. Rasanya ia ingin menghilang saja daripada harus terus-terusan membereskan kekacauan yang diperbuat Ino, belum lagi menanggung kebencian dari orang-orang sekitar akibat ulah alter egonya itu.
Dulu, mendiang Ayahnya selalu pasang badan. Mau seberat apa pun skandal yang ditimbulkan Ino, Tn. Pierce selalu sanggup menyumbat mulut korban dengan gebokan uang atau tawaran pekerjaan. Amplop-amplop tebal melayang mulus ke tangan aparat demi menjamin kebebasan Ino dari jeratan hukum. Namun kini sang Ayah telah tiada, dan Axcel tidak mau membuat Ibunya makin terbebani.
"Tunggu... kalau tidak bisa bicara langsung, aku kan bisa meninggalkan pesan tertulis!"
Sebuah gagasan cemerlang mendadak melintas di kepalanya. Axcel langsung terduduk tegak, menyambar sebuah notebook dan pena di atas meja belajar.
"_Hai Ino\, ini aku\, Axcel. Aku ingin kita bicara. Kita memang tidak bisa bertemu langsung\, tapi kau bisa membalas pesan di buku ini. Aku ingin tahu apa maumu dan kenapa kau terus menempel di tubuhku. Mau sampai kapan kita begini?_"
Axcel menghentikan jemarinya. Sebenarnya ada ribuan kalimat tegas yang ingin ia tumpahkan agar Ino berhenti mengacaukan hidupnya. Namun, ia khawatir teguran keras justru akan memicu emosi Ino dan membuat sosok itu mengambil alih raganya secara permanen.
Menurut penjelasan dokter, Ino hanya akan mengembalikan kendali tubuh jika ia sendiri yang menginginkannya. Axcel harus mencari cara membujuknya secara halus. Jika dulu ia sangat membenci kemunculan Ino, kini situasinya berbalik, Axcel sangat berharap Ino mau muncul sebentar saja untuk membaca pesan di buku ini.
Axcel membiarkan notebook itu tetap terbuka di atas meja. Nanti, ia akan meminta tolong sang Ibu untuk mengarahkan Ino agar mau membaca dan membalas pesannya.
---
Keesokan Harinya, Kelas Bisnis Internasional Universitas Santosburgh.
"Perhatian semuanya! Hari ini kita kedatangan mahasiswa baru yang akan bergabung di kelas ini. Silakan, Axcel... perkenalkan dirimu," ujar Dosen pengajar di depan kelas.
"Namaku Axcel," ucapnya singkat.
Axcel sengaja menyembunyikan nama marganya agar tidak ada yang menyadari bahwa ia adalah si troublemaker dari keluarga Pierce. Dosen kemudian memintanya memilih tempat duduk. Ruang kuliah yang berdesain tribun berundak itu memberi Axcel kebebasan memilih spot mana saja.
Seketika, hampir seluruh mahasiswi di kelas itu melambaikan tangan dengan antusias. Ketampanan Axcel yang menyerupai idol papan atas sukses menyedot perhatian seketika.
*BRUKKK!*
"Maaf! Maaf sekali! Aku nggak sengaja!"
Axcel menoleh ke belakang saat sebuah benturan menabrak punggungnya. Seorang gadis berkacamata tampak membungkuk berkali-kali memohon ampun. Namun, saat gadis itu mendongak sejenak, Axcel menangkap sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman misterius. Axcel pun menyunggingkan miring bibirnya.
"Audry... kenapa kau sering sekali terlambat?" cibir seorang mahasiswa dari barisan tengah. "Apa gara-gara kau harus kejar-kejaran lagi sama bus?"
*HAHAHAHAHA!* Seisi kelas meledak dalam tawa.
"Makanya, kalau tahu miskin, bangun lebih pagi supaya bisa naik bus! Bukan malah busnya yang kau kejar-kejar dari belakang! Dasar aneh!" celetuk mahasiswa lainnya yang disambut gelak tawa riuh, sampai-sampai Bu Megan, dosen yang mengajar, harus memukul meja dengan buku tebalnya.
*TAK! TAK!* "Harap tenang!" tegur Bu Megan.
Audry tidak memedulikan ejekan teman-temannya. Ia melangkah mendekati Axcel dengan raut penuh kemenangan. "Kak Axcel, kan? Kebetulan aku sudah membawakan jaket Kakak yang kemarin. Aku terlambat karena sibuk mencarimu dulu."
Gadis itu berbicara dengan nada keras, sengaja memamerkan pada seisi kelas seolah-olah mereka sudah sangat akrab. Pengabaian Audry terhadap teguran dosen membuat Axcel menatapnya dengan sudut pandang berbeda.
"Audry, cepat duduk! Ibu tunggu surat pernyataan maaf tertulis sebanyak 10 lembar dari kamu, tulis tangan!" tegas Bu Megan penat. "Dan ajak Axcel duduk di sampingmu, pinjamkan catatanmu padanya. Mari kita lanjutkan materi."
Tanpa membuang waktu, Audry menyambar lengan Axcel dan menariknya menuju bangku paling belakang, bukan tempat duduk biasanya. Niatnya untuk duduk berduaan saja dengan sang mahasiswa baru terbaca sangat jelas, memancing kasak-kusuk iri dari mahasiswi lain. Axcel tidak menolak. Ia bisa melihat Audry memiliki banyak penjahat yang membencinya seperti halnya kutu buku pada umumnya. Namun, Axcel juga tahu pasti... gadis berkacamata ini sama sekali bukan nerd biasa.
"Wah, sepertinya nerd kita sudah mulai kegatalan," bisik seorang mahasiswa senior di barisan depan sambil menoleh sinis. "Hei, Axcel... hati-hati kalau nanti ada senior yang mendatangimu!"
*KLEKKK!*
"Auw... *shssss!*" Gadis itu meringis kesakitan dengan ceceran setetes darah dimeja.
⭐⭐⭐⭐⭐
*WADUH! Audry ini sebenarnya siapa sih?! Kok tingkahnya kelihatan polos tapi punya senyuman misterius yang bikin Axcel penasaran?!*
*Kira-kira Axcel bakal jatuh hati sama tipe gadis misterius seperti Audry\, atau malah Sora yang bakal ngamuk kalau tahu Axcel makin dekat sama si cewek berkacamata ini? Coba tebak di kolom komentar ya! 💬👇*
*Kiravers...Jangan lupa:*
1. TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat dukung perjalanan Axcel!
2. SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY supaya kamu tidak ketinggalan Notifikasi Bab selanjutnya 🕗✨
3. FOLLOW PROFILKU untuk dapat update karya-karya seru lainnya!
*Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di bab berikutnya! Happy reading! 🚀🔥*