Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Jika dia menggunakan voucher diskon sembilan puluh sembilan persen yang baru didapatkannya, harganya akan anjlok menjadi tepat lima puluh koin emas saja.
Itu berarti dia masih akan memiliki sisa lima puluh koin emas di saldonya setelah transaksi.
"Melihat menembus benda padat..."
Pikiran Jiang Ming mulai berputar sangat cepat, menyusun berbagai skenario dan rencana pragmatis di kepalanya.
Dia tidak berniat sedikit pun menggunakan kacamata ajaib ini untuk memuaskan nafsu mesum seperti mengintip orang mandi di pemandian umum.
Itu adalah pemikiran dangkal dari orang-orang bodoh yang tidak tahu cara memanfaatkan peluang emas dalam hidup mereka.
"Tiket undian gosok di toko kelontong Paman Zhao," ucap Jiang Ming dengan mata berbinar terang.
Setiap pagi saat dia lewat, toko kelontong kecil di depan gang selalu memajang ratusan tiket undian gosok seharga sepuluh yuan per lembarnya.
Hadiah utamanya bisa mencapai sepuluh ribu yuan tunai, sementara hadiah hiburannya bervariasi dari lima puluh hingga lima ratus yuan.
Jika dia bisa melihat menembus lapisan perak pelindung di atas tiket itu sebelum membelinya, dia bisa memborong semua tiket yang sudah pasti menang tanpa harus membuang uang.
Ini adalah cara paling cepat, paling efisien, dan paling masuk akal untuk mendapatkan modal uang tunai besar pertamanya tanpa memancing kecurigaan polisi.
"Persetan dengan keraguan, aku beli sekarang," putus Jiang Ming tanpa membuang waktu sedetik pun.
Dia menekan tombol keranjang belanja di samping gambar kacamata tersebut.
[Gunakan Voucher Diskon 99%?]
"Ya, gunakan semuanya," jawab Jiang Ming mantap.
[Transaksi Berhasil! 50 Koin Emas telah dipotong dari saldo Anda. Barang sedang dikirimkan ke lokasi pengguna.]
Sring.
Sebuah gumpalan cahaya putih seukuran kepalan tangan keluar menembus layar ponselnya dan melayang di udara selama dua detik.
Cahaya itu kemudian jatuh dengan lembut ke atas kasur tepat di sela-sela kedua lutut Jiang Ming.
Ketika cahaya putih itu meredup dan menghilang, sebuah kacamata berbingkai hitam klasik benar-benar tergeletak di sana.
Bentuk fisiknya sangat biasa, persis seperti kacamata minus murahan yang banyak dijual di emperan jalan kota Jinhai.
Jiang Ming menahan napasnya dalam-dalam.
Tangannya sedikit gemetar saat dia perlahan menjangkau dan menyentuh gagang kacamata hitam itu.
Benda ini nyata, sangat nyata.
Suhu bingkai plastiknya terasa dingin saat bersentuhan langsung dengan ujung jari telunjuknya.
Aplikasi tidak masuk akal di ponselnya ini benar-benar mengirimkan barang fisik dari antah berantah langsung ke dunia nyata menembus hukum fisika.
"Dunia ini ternyata jauh lebih gila dan kacau dari yang pernah kupikirkan selama ini," bisik Jiang Ming dengan suara serak yang tertahan.
Dia memegang kacamata itu tetapi tidak langsung memakainya ke wajahnya.
Sistem menyebutkan bahwa durasi pakai benda ini hanya tiga jam terhitung sejak kacamata ini diaktifkan di depan mata.
Jadi dia harus menyimpannya dan menggunakannya dengan sangat bijak pada jam operasional toko Paman Zhao besok pagi.
Jiang Ming membungkus kacamata itu dengan kaus bersih dan menyimpannya hati-hati ke dalam bagian paling dalam di tas ranselnya.
Dia kemudian kembali menatap layar ponselnya yang kini terasa berkali-kali lipat lebih berharga daripada nyawanya sendiri.
Masih ada sisa lima puluh koin emas bertengger indah di saldonya.
Malam ini, di tengah pengapnya kamar yang menunggak sewa, untuk pertama kalinya Jiang Ming merasakan darahnya mendidih oleh sebuah ambisi.
Dia tidak tahu entitas agung mana yang menciptakan Toko Dewa Tiga Alam ini dan menjatuhkannya ke tangannya.
Dia juga tidak peduli jika pada akhirnya dia harus berurusan dengan dewa, iblis, ataupun monster penguasa alam semesta.
Selama toko ini memberinya jalan untuk menyelamatkan harga dirinya dan memberikan kehidupan yang layak untuk adiknya, dia akan memanfaatkannya sampai titik darah penghabisan.
Sementara itu, di waktu yang sama pada belahan kota yang berbeda.
Di sebuah ruangan VIP kelab malam paling mewah di pusat kota Jinhai, Wang Hao sedang duduk bersandar dengan angkuh di atas sofa kulit asli.
Di depannya, berdiri seorang pria paruh baya berjas hitam yang terus menundukkan kepala dengan sikap patuh.
"Jadi, kau yakin proyek pembebasan lahan di kawasan pinggiran selatan itu akan berjalan lancar tanpa hambatan warga?" tanya Wang Hao sambil memutar perlahan gelas winenya.
"Benar, Pak Manajer. Perusahaan sudah menyiapkan preman bayaran untuk berjaga-jaga. Semua penghuni kontrakan kumuh di sana akan diusir paksa akhir bulan ini jika mereka menolak kompensasi murah kita."
Pria berjas itu menelan ludah sebelum melanjutkan laporannya.
"Termasuk lingkungan tempat tinggal teman lama Anda yang tadi siang Anda temui, Pak."
Wang Hao tersenyum sinis hingga memperlihatkan giginya.
"Bagus sekali. Aku paling benci melihat orang-orang miskin yang sok kuat dan tidak tahu diri seperti si Jiang Ming itu."
Wang Hao meneguk habis sisa wine di gelasnya dalam satu tarikan napas kasar.
"Biarkan saja buldoser kita meratakan tempat tinggalnya, biar dia menggelandang di jalanan agar dia tahu betapa kejam dan realistisnya dunia ini jika kau tidak punya uang."
Wang Hao tertawa pelan, merasa dirinya adalah raja yang bisa mengendalikan nasib orang-orang kecil di bawah telapak kakinya.
Namun dia sama sekali tidak tahu, bahwa pemuda miskin yang baru saja dia hina dan rencanakan kehancurannya itu, malam ini telah menggenggam kunci untuk membalikkan seluruh tatanan dunia.