Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Arka memindahkan kepala Kinanti secara sangat perlahan dari dadanya ke atas bantal empuk. Ia menarik selimut tebal menutupi tubuh istrinya hingga sebatas leher, lalu mendaratkan kecupan lembut di dahi Kinanti yang masih terlelap lelah.
Tanpa menimbulkan suara, Arka mengenakan celana kain hitam dan kaus polos ketat yang melekat pas di tubuhnya. Pria itu menyelinap keluar lewat pintu belakang, menembus gerimis dingin yang membasahi rumput halaman.
Di jalanan tanah depan rumah, mobil SUV hitam itu berhenti. Tiga orang pria berbadan tegap keluar dari dalam mobil. Mereka adalah kelompok gengster lokal dari pinggiran kota yang disewa oleh jaringan The Black Dragon untuk melakukan pengintaian dan perusakan.
Pemimpin mereka, seorang pria bertato di leher yang memegang balok kayu, meludah sembarangan ke tanah basah dengan wajah beringas.
"Woy! Nu mana imah si tukang cilok teh?!" bentak pimpinan geng itu dengan suara serak bergaya preman Sunda. (Woy! Yang mana rumah si tukang cilok itu?!)
"Anu eta, Kang! Imah kayu nu deukeut gawir!" sahut anak buahnya yang membawa rantai besi, menunjuk ke arah rumah Arka. (Yang itu, Kang! Rumah kayu yang dekat jurang!)
Pimpinan geng itu menyeringai licik. "Aing hayang ngancurkeun gerobakna, terus siksa jalmana di dieu, terus cokot pamajikan na nu geulis eta!" (Gua mau hancurin gerobak ciloknya, terus siksa orangnya di sini,trus ambil istrinya yang cantik itu)
Namun sebelum mereka sempat melangkah tiga tapak ke halaman rumah, sebuah bayangan hitam turun dari balik kegelapan pohon pinus tanpa suara sedikit pun.
Arka mendarat tepat di antara ketiga preman itu.
"Saha maneh, euy?!" bentak pimpinan geng kaget, mengarahkan balok kayunya ke wajah Arka. (Siapa kamu, woy?!)
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya menatap dingin, memancarkan aura pemangsa puncak yang mematikan.
Brak!
Dalam satu gerakan melingkar yang secepat kilat, Arka menangkis balok kayu tersebut dan menghantamkan sikunya tepat ke rahang pimpinan geng. Pria itu langsung tersungkur ke tanah basah. Sebelum ia sempat berteriak, Arka menekan titik saraf di lehernya hingga pria itu pingsan seketika.
"Ulah gandeng," bisik Arka dalam bahasa Sunda yang amat dingin dan berwibawa. "Istri aing keur sare." (Jangan berisik. Istri gua lagi tidur.)
Dua anak buahnya membelalak horor, ketakutan setengah mati melihat bos mereka yang beringas Tumbang tanpa perlawanan dalam hitungan detik. Salah satu dari mereka mencoba kabur seraya berteriak panik.
"S-sétan! Aya setan di dieu!" jeritnya gagap. (S-setan! Ada setan di sini!)
Arka melompat maju, menyambar tengkuk pria itu lalu melumpuhkannya dengan satu pukulan presisi di bahu. Pria terakhir yang membawa rantai besi langsung jatuh berlutut gemetar di atas tanah basah, menyembah-nyembah minta ampun.
"A-ampun, A! Ampun! Urang cuma dititah ku orang kota!" tangisnya pecah karena ketakutan yang mencekam. (Ampun, A! Ampun! Kita cuma disuruh sama orang kota!)
Arka menatap pria itu dari atas dengan tatapan yang sanggup membekukan darah.
"Gotong teman-temanmu ke dalam mobil. Bawa mereka keluar dari desa ini," perintah Arka dengan suara amat rendah. "Sampaikan pada orang kota yang menyuruhmu... jika ada yang berani mendekati rumah ini lagi, aku sendiri yang akan menghancurkan markas mereka."
"S-siap, A! Siap!" jerit preman itu gemetar.
Dengan tangan menggigil hebat, preman itu menyeret tubuh dua rekannya yang tak sadarkan diri masuk ke dalam SUV, lalu memutar balik mobilnya dan tancap gas meninggalkan desa dengan kecepatan tinggi.
Sepuluh menit kemudian.
Arka kembali ke kamar tidur setelah memastikan area luar rumah aman. Udara kamar masih terasa sangat hangat dan menenangkan.
Arka menyelinap kembali ke bawah selimut tebal, merengkuh tubuh istrinya rapat-rapat ke dalam dekapannya. Kinanti mengeliat pelan dalam tidurnya, menyandarkan kepalanya di dada Arka seraya memeluk pinggang suaminya semakin erat.
"Mas Arka... hangat," gumam Kinanti serak dalam tidurnya, menyunggingkan senyum manis yang amat damai.
Arka tersenyum sangat lembut, mengecup puncak kepala istrinya penuh kehangatan dan perlindungan mutlak.