Alexa Lily, gadis yang di Adopsi oleh salah satu ketua klan mafia sejak usia enam bulan. Alexa hidup di dalam kemewahan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya.
Tapi dibalik itu, Alexa tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Hingga suatu hari Alexa mendapatkan misi dari ayah angkatnya, dan misi itu berhasil ia selesaikan dengan mulus. Terlepas dari itu, Alexa mendapatkan sebuah informasi tentang siapa ayah kandungnya.
Berawal dari Informasi yang ia dapatkan, Alexa mendatangi kediaman ayah kandungnya itu.
Apakah ayah kandungnya itu akan menerima dan mengakui Alexa sebagai anak kandungnya? Atau justru ayahnya hanya menjadikannya sebagai pion untuk keuntungan pribadinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Ancaman
Disebuah ruangan kosong dan gelap. Hanya ada pantulan cahaya lampu dari luar. Asisten Lily dan Cendi di seret masuk oleh seorang pria ke dalam ruangan gelap itu. Dengan wajah takut dan gemetar.
Di dalam ruangan itu ternyata sudah ada dua orang pria yang menunggunya. Dari kegelapan wajah kedua pria itu samar-samar. Hanya suara benturan bilah pisau yang terdengar yang ia mainkan di tangannya. Sementara pria yang satunya lagi sedang memutar-mutar pistol.
Gideon dengan tatapan tajam, menghentakkan pemukul kasti yang selalu ia bawah.
Asisten Lily dan Cendi kaget. Kedua wanita itu mundur perlahan, wajahnya pucat dan lututnya sudah gemetaran dari tadi.
BRUUKK.
Punggung kedua wanita itu menabrak tembok di belakangnya. Langkahnya terhenti. Wajahnya kelihatan gugup ketakutan. Cendi memegang lengang Asisten Lily.
"Apa yang mau kalian lakukan disini?" tanya Cendi ketus. Keringat membasahi pelipisnya. Ia menggenggam ujung bajunya.
Asisten Lily memperbaiki kacamatanya. Tatapannya tajam menantang. Ia melihat ke arah pria berjas putih itu. "Kalian dari divisi mana?" Tanyanya dengan nada suara cukup keras.
Asisten Lily menunjuk ke arah Pria berjas hitam yang melangkah mendekat ke arahnya. Asisten Lily tidak bisa bergerak, punggungnya sudah mentok menabrak tembok di belakangnya.
"Dengar ya, aku sekertaris Presdir Zayn! Jangan sentuh seujung jari! Rasain! Kalian nggak akan bisa lari." Jelas Asisten Lily lagi.
Tek Tek Tek.
Suara langkah Pria berjas hitam itu semakin terdengar. ia mendekat ke arah kedua wanita yang sedang berdiri di depannya itu. Pantulan cahaya lampu menerpa wajahnya. Terlihat jelas pria itu adalah Damian, Kakak angkat Alexa.
Damian memutar-mutar pisau di tangannya. Pantulan cahaya lampu dari luar membuat bilah pisau itu mengkilat.
Damian mengangkat pandangannya. "Kalian berani ganggu adikku? Aku mau kalian mati!" Bentak Damian dengan suara tinggi. Wajahnya penuh amarah. Ia tidak ingin siapapun menyentuh adik kesayangannya.
SREKKK.
Damian melempar pisau tajam dari tangannya itu hingga menancap tepat di dinding beton samping wajah Asisten Lily. Wajah Asisten Lily pun tergores dan mengeluarkan darah.
"Aahhh,,,," Asisten Lily menjerit kesakitan. Ia kaget dan memegangi wajahnya. Nafasnya memburuh naik turun.
Pria satunya lagi yang mengenakan jacket hitam, melangkah maju dengan memainkan pistol di tangannya. Wajah pria itu terlihat jelas. Dia adalah Leonard, kakak ketiga Alexa.
Leonard menodongkan pistol kearah wanita itu. "Gimana Kak? Gimana kalau kepalanya ini kita jadikan bola?" Leonard tertawa pelan.
Gideon mengetuk-ngetukkan pemukul kastinya. Lalu ia mengangkat pemukul kasti itu di depannya dan mengusap ujung pemukul kasti itu. Seolah-olah ia akan memukul kepala kedua wanita itu. "Menurutmu gimana?" tanya Gideon tersenyum sinis.
"Bakal terbang sejauh mana ya?" ucap Gideon lagi. Ia kembali menatap tajam ke arah Asisten Lily dan Cendi yang sudah ketakutan.
Cendi yang melihat tatapan tajam dari ketiga pria itu, ia langsung menunduk di depannya dan memohon. Ia sudah sangat ketakutan.
"Kakak." ucap Cendi dengan suara terbata-bata. Dadanya naik turun. Ia begitu ketakutan melihat Damian melempar pisau tepat mengenai wajah Asisten Lily. Tubuh Cendi gemetar ketakutan.
Asisten Lily memegang pipinya yang terluka itu. Ia sangat ketakutan.
"A-ampun Tuan, aku salah. Aku kapok. aku nggak berani lagi!" ucapnya dengan nada memohon. Kacamatanya sudah turun. Rambutnya berantakan. Keringat kembali membasahi pelipisnya.
Cendi bersujud dan memohon di depan ketiga pria itu. "Tolong, aku tahu aku salah. Aku salah."
Plak.
Plak.
Plak.
Cendi memukul wajahnya sendiri. Dengan rasa takut dan menyesal telah menindas Alexa. Ia menampar pipinya sampai merah. Air matanya keluar membasahi pipinya.
Damian semakin mendekat ke arah Asisten Lily. Asisten Lily begitu ketakutan. Ia menahan nafasnya karena Damian semakin mendekat ke arahnya. Jarak mereka semakin dekat.
"ARGGGKK,,," Nafas Asisten Lily memburu.
"Aku rasa, kamu bukannya sadar kalau kamu salah. Kamu itu hanya tahu rasa takut." Deruh nafas Damian terdengar jelas di telinga Asisten Lily. Damian mencabut pisau yang menancap di samping pipih Asisten Lily.
Damian menodongkan pisau itu ke wajah Asisten Lily. Tatapannya tajam.
"Salah, aku salah." Asisten Lily sangat ketakutan. Ia keringat dingin.
Sementara itu di lain tempat, Alexa bersama semua karyawan sedang sibuk bekerja di depan layar komputer.
Seorang karyawan wanita yang duduk di samping Alexa pun menoleh ke arah Alexa. Ia menatap Alexa dengan wajah khawatir.
"Alexa, mending kamu pergi saja dari sini. Takutnya dia panggil orang. Nanti kamu bisa celaka." Karyawan wanita itu memperingatkan Alexa dengan wajah cemas.
Alexa menoleh dan tersenyum. "Tenang, aku nggak apa-apa." ucapnya meyakinkan.
"Tapi mereka bisa lakuin apa saja." jelas Karyawan wanita itu lagi. Jelas terlihat sangat khawatir kepada Alexa.
Tiba-tiba saja dari arah pintu, Asisten Lily dan Cendi berjalan sempoyongan. Asisten Lily memegangi wajahnya yang terluka. Kakinya pincang. Sementara Cendi membantu Asisten Lily memapah tubuhnya untuk berjalan.
Semua mata tertuju pada kedua wanita itu. Kedua wanita itu berlutut di samping kursi kerja Alexa dengan wajah memohon.
"Aku,,,, aku minta maaf... Kami yang salah. Maafkan kami!" ucap Asisten Lily dengan suara lembut dan masih ketakutan.
Karyawan wanita yang duduk di samping Alexa pun menatap kedua wanita itu penuh tanya. "Asisten Lily kok bisa-bisanya minta maaf?" tanyanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Ini ada apa sih?" tanyanya lagi.
"Ah, maaf. Maafkan saya. Maafkan saya." ucap Asisten Lily lagi.
"Saya salah." begitupun dengan Cendi.
Plak.
Plak.
Plak.
Kedua wanita itu kembali menampar wajahnya sendiri di depan Alexa.
Alexa yang sudah muak pun menoleh. "Cukup! Kalau mau ribut, pergi sana. Jangan ganggu aku ketemu klien." ketus Alexa. Ia berdiri dengan membawa berkas ditangannya.
"Aku mohon jangan pergi! Kalau tidak di maafkan, kami bisa mati!" Asisten Lily memegang kaki Alexa dan kembali memohon.
"Iya, kalau tidak memaafkan kami, besok kami mati." Cendi menatap Alexa berharap gadis itu bisa memaafkannya.
Langkah Alexa terhenti. Ia terdiam dan memikirkan sesuatu. "Sikap mereka berdua beda jauh dari tadi. Sebenarnya ada apa? Jangan-jangan, ketiga kakakku?" batin Alexa curiga.
Setelah melihat Alexa di tindas oleh keluarga aslinya sendiri, Damian dan kedua adiknya itu sengaja mengawasi Alexa diam-diam. Ia tidak ingin ada lagi yang menindas adik angkatnya itu.
Alexa sudah muak mendengar dan melihat kedua wanita licik itu. "Cukup! Aku ngerti. Aku nggak mau lihat kalian lagi. Pergi!" ucap Alexa dengan suara tegas.
Asisten Lily dan Cendi kembali bersujud dan berterima kasih kepada Alexa. "Terima kasih sudah memaafkan kami! Kami pergi sekarang!" Ucapnya.
"Kami pergi!" Lanjut Cendi.
Kedua wanita itu langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Alexa menghela nafas panjang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Happy Reading teman-teman, semoga kalian suka ya🤗🤗
Jangan lupa ninggalin jejak....🥰🥰
anak angkat di sayang anak kandung dibenci alur cerita begini udah basi..... aku kira menarik cih...