Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.
Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 : DI ANTARA DUA SERIGALA
Darah di dalam tubuh Azahra Aletta terasa berhenti mengalir. Dalam keheningan penthouse lantai lima puluh lima yang megah itu, tatapan mata kelabu Ethan Austin menghujam wajahnya tanpa belas kasihan. Cengkeraman jemari pria itu di dagunya tidak menekan keras, tetapi cukup kuat untuk mengunci posisi kepala Azahra agar tak bisa memalingkan pandangan.
Aroma parfum leather dan tobacco milik James Daniel yang menempel di sekitar lehernya seolah menjadi bukti kejahatan yang tak termaafkan.
"Saya bertanya padamu, Azahra," bisik Ethan sekali lagi. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman halus, tetapi sanggup menebarkan aura bahaya yang sangat pekat. "Siapa pria yang baru saja bersamamu?"
Otak Azahra berputar gila-gilaan. Satu kesalahan kecil dalam memilih kata-kata akan menghancurkan segalanya. Denda wanprestasi ratusan juta rupiah dan amukan dari keluarga Austin siap menggulungnya.
Azahra menarik napas panjang, memaksa matanya menatap lurus ke dalam manik mata Ethan tanpa berkedip. Ia harus menggunakan keahlian utamanya: berakting dengan raut wajah keputusasaan yang nyata.
"Saya... saya tadi terburu-buru naik ojek sepeda motor," ujar Azahra, suaranya sengaja dibuat sedikit bergetar karena panik dan lelah. "Jalanan menuju rumah kos saya sangat macet. Pengemudi ojek yang saya tumpangi memakai jaket kulit tebal dan merokok. Dia terus-menerus mendekatkan badannya saat mengemudi di tengah hujan gerimis. Baunya menempel di gaun saya."
Azahra menghentikan kalimatnya, lalu perlahan mengangkat tangannya untuk memegang pergelangan tangan Ethan. "Apakah... apakah itu masalah besar, Ethan? Saya berjuang menembus kemacetan Jakarta hanya agar tidak terlambat satu menit pun menemuimu malam ini. Dan kau justru menuduhku yang tidak-tidak?"
Ethan tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menyisir setiap inci ekspresi di wajah Azahra, mencari celah kebohongan, denyut ketakutan, atau kedipan mata yang tidak natural. Keheningan di antara mereka terasa sangat menyiksa, diiringi desir angin malam yang menerpa dinding kaca raksasa di belakang Ethan.
Perlahan, Ethan melonggarkan cengkeramannya di dagu Azahra. Ibu jarinya mengusap kulit leher Azahra yang halus, menyapu area yang baru saja ia cium aromanya.
"Kau gadis yang cerdas, Azahra," kata Ethan datar, meski tatapan matanya belum sepenuhnya melunak. "Tapi ingat... saya tidak suka diperbodoh. Jika sampai saya tahu ada pria lain yang menyentuhmu, bukan hanya kontrak ini yang hancur. Saya akan memastikan hidupmu dan hidup pria itu tidak akan pernah tenang di kota ini."
Ancaman dingin itu membuat tenggorokan Azahra terasa gatal. Namun sebelum ia sempat merespons, suara langkah kaki yang teratur dan dentukan tongkat kayu berujung perak bergaung dari arah lorong utama penthouse.
Seorang pria tua berpostur tegap dengan rambut putih perak melangkah masuk. Meskipun wajahnya dipenuhi garis-garis usia, sepasang mata kelabunya—yang sangat mirip dengan mata Ethan—masih memancarkan wibawa dan kekuatan yang tak tergoyahkan. Di belakangnya, dua orang pengawal bersetelan hitam berjalan dengan jarak yang sangat diperhitungkan.
Edward Austin. Sang patriarch, pendiri Austin Group yang legendaris.
"Kau selalu saja membuang waktu dengan ancaman bisnismu, Ethan," suara berat Edward memecah suasana tegang di ruangan tersebut.
Ethan langsung mengubah sikapnya dalam sekejap. Aura predasi berbahaya yang tadinya menyelimuti dirinya menguap, berganti dengan kepatuhan dingin seorang cucu yang berhadapan dengan kepala keluarga. Ethan melangkah mundur, lalu mengulurkan tangannya untuk merangkul pinggang Azahra secara posesif—sebuah gerakan halus yang terasa sangat alami di hadapan sang kakek.
"Kakek," sapa Ethan formal. "Terima kasih sudah berkenan hadir malam ini."
Pandangan Edward Austin kini beralih sepenuhnya pada Azahra. Pria tua itu menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, menilai gaun malam biru navy dan kalung berlian yang melingkar di lehernya. Tatapan Edward terasa jauh lebih berat dan berpengalaman daripada Ethan.
"Jadi, ini gadis yang kau sebut-sebut sebagai calon tunanganmu?" tanya Edward, melangkah mendekat dengan bantuan tongkatnya. "Azahra Aletta. Seorang gadis tanpa latar belakang keluarga terpandang, tanpa saham di perusahaan mana pun, dan bekerja sebagai karyawan biasa."
Azahra merasakan cengkeraman tangan Ethan di pinggangnya sedikit mengencang—sebuah sinyal terselubung agar ia memainkan perannya dengan sempurna.
Azahra membungkukkan badannya sedikit dengan sopan. "Selamat malam, Tuan Austin. Sebuah kehormatan besar bisa bertemu dengan Anda."
Edward tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa kehangatan. "Jangan terlalu formal, Gadis Muda. Di dunia kami, kesopanan tanpa status hanyalah topeng murahan. Katakan padaku... apa yang membuat gadis dari kalangan bawah sepertimu berani berdiri di samping cucuku? Apa yang kau cari dari Ethan?"
Pertanyaan itu adalah jebakan murni. Jika Azahra menjawab "cinta", Edward pasti akan menganggapnya pembohong yang licik dan mengincarnya karena harta. Jika ia menjawab hal lain, ia bisa dianggap tak menghargai Ethan.
Azahra menegakkan tubuhnya. Ia menatap mata tua Edward dengan kejujuran pragmatis yang menjadi kekuatannya.
"Saya mencari kestabilan, Tuan Austin," jawab Azahra tenang. "Saya tahu posisi saya. Saya tidak berpura-pura menjadi wanita sosialita yang anggun. Ethan membutuhkan pasangan yang realistis, yang tidak akan mengganggu keputusan bisnismu atau menciptakan drama di media. Dan saya butuh seorang pria yang sanggup memberikan perlindungan dan masa depan yang pasti. Kami memiliki kesepakatan yang saling menguntungkan."
Jawaban itu membuat keheningan melingkupi meja makan selama beberapa detik. Ethan melirik Azahra dari sudut matanya, sedikit terkejut dengan keberanian dan kejujuran gadis itu di hadapan kakeknya.
Edward Austin mengamati Azahra selama beberapa saat, lalu senyum tipis terukir di bibirnya yang keriput. Ia menggetukkan tongkatnya ke lantai satu kali.
"Pragmatis. Jujur. Tidak menjual kebohongan cinta yang picisan," gumam Edward dengan nada yang mulai melunak. "Setidaknya kau lebih memiliki harga diri daripada wanita-wanita kaya yang mengejar Ethan hanya demi nama Austin. Duduklah. Mari kita makan malam."
Makan malam berlangsung dengan suasana yang sangat formal dan penuh tekanan politik keluarga. Edward sibuk menanyakan perkembangan proyek pembangunan pelabuhan dan akuisisi saham yang sedang dijalankan Ethan, sementara Ethan menjawab setiap pertanyaan dengan presisi seorang pengusaha ulung. Azahra menjalankan perannya dengan anggun—menatap Ethan dengan pandangan penuh kekaguman saat pria itu berbicara, melayani minumannya, dan sesekali tersenyum lembut saat Edward meliriknya.
Namun di balik ketenangan itu, batin Azahra berteriak kesakitan. Setiap sentuhan Ethan di tangannya saat berpura-pura mesra terasa seperti sengatan listrik yang mengingatkannya pada bahaya kebohongan ini.
Pukul sembilan malam, jamuan makan malam akhirnya selesai. Setelah mengantar sang kakek menuju mobil limosinnya, Ethan berjalan kembali ke dalam penthouse dan melepas kancing teratas kemejanya dengan kasar.
Pria itu menghampiri Azahra yang sedang berdiri melamun di dekat meja makan. Ethan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah cek bernilai lima puluh juta rupiah, lalu meletakkannya di atas meja di hadapan Azahra.
"Kerja bagus malam ini," ujar Ethan dingin, kehangatan yang tadi ia tampilkan di depan kakeknya sirna tanpa bekas. "Kakek menyukaimu. Itu artinya posisiku dalam keputusan warisan bulan depan makin aman."
Azahra menatap lembaran cek itu, lalu beralih menatap Ethan. "Ini untuk apa?"
"Bonus atas aktingmu yang memukau," sahut Ethan datar. "Besok lusa akan ada acara charity gala yang dihadiri oleh seluruh pengusaha elit kota ini. Kau harus mendampingiku sebagai tunangan resmiku di depan media. Persiapkan dirimu."
Jantung Azahra mendadak berhenti berdetak. Besok lusa?
Bukankah besok lusa adalah jadwal makan malam keluarga dengan ibu James Daniel?
Matahari baru saja terbit di ufuk timur, tetapi Azahra sudah berdiri di depan cermin kamar kosnya dengan lingkar hitam di bawah mata. Sepanjang malam ia tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran gila memikirkan dua acara besar di hari yang sama oleh dua pria dominan yang berbeda membuatnya nyaris gila.
Pukul delapan pagi, Azahra sudah tiba di lantai empat puluh gedung Daniel Corporation. Ia mencoba memfokuskan pikirannya pada tugas-tugas administrasi, berusaha tidak memikirkan masalah Ethan.
Namun, ketenangan sementara itu runtuh ketika pintu ruangan CEO terbuka. James Daniel melangkah keluar dengan raut wajah yang sangat dingin dan tidak bersahabat. Pria itu menatap Azahra dari meja kerjanya.
"Azahra, masuk ke ruangan saya sekarang," perintah James singkat dengan suara yang sanggup membekukan ruangan.
Azahra merapikan rok kerjanya dan melangkah masuk ke dalam ruangan berkaca tebal tersebut. Begitu pintu tertutup, James tidak kembali ke meja kerjanya. Pria jangkung itu menyandarkan tubuhnya di tepi meja, melipat kedua tangannya di dada, dan menatap Azahra dengan pandangan yang sangat menekan.
"Bagaimana dengan masalah pipa bocor di kosmu kemarin sore?" tanya James dengan nada yang sangat datar, tetapi dihinggapi nuansa intimidasi yang tajam.
Azahra menelan ludah, mencoba tersenyum sealami mungkin. "Sudah... sudah diperbaiki oleh pemilik kos, James. Terima kasih sudah mengizinkan saya pulang lebih awal."
James menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Azahra berdiri seketika. Pria itu mengambil sebuah dokumen kecil dari mejanya dan melemparkannya pelan ke arah Azahra.
"Aneh sekali," kata James pelan, langkah kakinya mendekati Azahra dengan perlahan. "Saya menyuruh pengawal saya untuk memeriksa rumah kosmu sepuluh menit setelah kau pergi dari butik kemarin. Dan pemilik kosmu bilang... tidak ada pipa yang bocor. Bahkan, kau sama sekali tidak terlihat kembali ke kosmu hingga pukul sepuluh malam."
Darah Azahra serasa disedot habis dari tubuhnya. Lidahnya mendadak kelu, kakinya terasa lemas seperti jeli. James memata-matai rumah kosnya!
"J... James, saya bisa jelaskan—"
"Kau membohongiku, Azahra," potong James, kini berdiri hanya beberapa sentimeter di hadapan Azahra. Aura otoriter sang CEO terasa begitu menghimpit ruangan. James mengulurkan tangannya, merengkuh dagu Azahra dan mengangkatnya hingga mata mereka saling terkunci. "Kau tahu apa yang paling saya benci di dunia ini? Pengkhianatan dan kebohongan dari orang yang berada di bawah wewenangku."
"Saya tidak bermaksud membohongimu," cicit Azahra, air mata panik mulai menggenang di sudut matanya. "Kemarin sore... saya mendadak panik karena harus mengurus hal pribadi yang sangat memalu... memalukan."
"Hal pribadi apa?" desak James, matanya memicing tajam. "Apakah itu berkaitan dengan pria lain?"
"Bukan!" teriak Azahra spontan, menyuarakan kebohongan paling nekat dalam hidupnya. "Bukan pria lain! Saya... saya terlilit utang dari pinjaman online akibat pengobatan almarhumah ibu saya dulu! Kemarin sore penagih utangnya mengancam akan datang, jadi saya harus menemui mereka di luar untuk menyelesaikan semuanya!"
James mematung sejenak. Tatapan matanya yang tajam mengamati kepanikan di wajah Azahra. Air mata yang akhirnya menetes di pipi Azahra—yang murni lahir dari rasa takut terhalang rahasianya terbongkar—terlihat sangat nyata di mata James.
Ketegangan di wajah James perlahan memudar, berganti dengan rasa kasihan dan dominasi yang kian menguat. James melepaskan cengkeramannya di dagu Azahra, lalu menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air mata yang menetes di pipi gadis itu.
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal?" suara James melunak, meski tetap terdengar berat dan posesif. "Kau ini kekasihku sekarang, Azahra. Sekalipun ini hubungan kontrak, masalah keuanganku adalah wewenangku untuk membereskannya. Kau tidak perlu lari atau berbohong padaku hanya karena hal sepele seperti penagih utang."
Azahra menundukkan kepalanya, pura-pura terisak pelan untuk menyembunyikan rasa leganya yang luar biasa karena James memakan umpan kebohongannya.
"Berapa sisa utangmu?" tanya James tegas. "Saya akan suruh sekretaris saya menyelesaikannya hari ini juga."
"Tidak perlu, James," sahut Azahra cepat-cepat, takut James akan melacak transaksi keuangannya dan menemukan nama Ethan Austin di sana. "Saya sudah melunasinya kemarin dengan uang bonus yang kau berikan. Semuanya sudah selesai."
James menatap Azahra selama beberapa saat, lalu menghela napas panjang. Ia meraih tubuh Azahra, menariknya ke dalam pelukan hangat yang sangat erat. Dada bidang James yang terbungkus kemeja mahal menekan tubuh Azahra, menyebarkan aroma leather dan tobacco yang kini terasa begitu familier sekaligus berbahaya.
"Jangan pernah berbohong padaku lagi, Azahra," bisik James tepat di telinganya, tangannya mengelus rambut panjang Azahra dengan gerakan lembut yang posesif. "Kau milikku sekarang. Apa pun masalahmu, kau harus mengatakannya padaku."
Di dalam pelukan bos besarnya itu, mata Azahra terbuka lebar menatap dinding kaca. Rasa bersalah dan tertekan bertumpuk menjadi satu di dalam dadanya. Ia baru saja berhasil meloloskan diri dari satu jerat serigala, hanya untuk makin terikat di jerat serigala yang lain.
Sebelum Azahra sempat mengurai rasa napas leganya, pintu ruangan kerja James mendadak terdorong terbuka tanpa ketukan.
"James, Sayang! Ibu bilang kau—"
Kalimat itu terhenti di udara. Seorang wanita muda berparas cantik dengan tatanan rambut sempurna dan gaun desainer berwarna merah menyala berdiri di ambang pintu. Di belakangnya, seorang wanita paruh baya berpenampilan sangat anggun dan penuh perhiasan mahal menyusul dengan langkah anggun.
Clarissa Vance, putri tunggal pemilik Vance Enterprise, dan Nyonya Daniel, ibu kandung James.
Mata Clarissa membelalak sempurna saat melihat James sedang merangkul erat seorang gadis berpakaian staf kantor di tengah ruangan. Wajahnya langsung memerah padam karena amarah dan penghinaan.
"Apa-apaan ini, James?!" jerit Clarissa dengan nada melengking. "Siapa wanita murahan ini?!"
James tidak melepaskan pelukannya pada Azahra. Justru, pria itu makin mempererat cengkeraman tangannya di pinggang Azahra, lalu memutar tubuh mereka berdua untuk menghadapi kedua tamu yang tidak diundang tersebut.
"Jaga bisik-bisik dan bahasamu, Clarissa," tegur James dingin, tatapan matanya berubah menjadi sekeras baja. "Kau berada di dalam kantor saya, dan wanita yang kau sebut murahan ini adalah calon istri saya."
Nyonya Daniel melangkah maju dengan raut wajah sangat terkejut. "James! Apa yang kau katakan? Kau menolak perjodohan keluarga kita dengan keluarga Vance hanya demi seorang... seorang sekretaris?"
"Dia bukan sekadar sekretaris, Ibu," sahut James tenang namun sarat akan ketegasan mutlak. "Azahra Aletta adalah wanita yang saya pilih. Makan malam esok lusa tetap berlaku, dan saya akan membawa Azahra secara resmi sebagai pasangan saya."
Clarissa Vance menatap Azahra dengan tatapan benci yang begitu pekat. Kebencian murni terpancar dari mata wanita sosialita itu—sebuah dendam dari seorang wanita kaya yang merasa posisinya direbut oleh seorang gadis dari kalangan bawah.
"Kau akan menyesali keputusanmu ini, James," bisik Clarissa dengan nada penuh racun, matanya terkunci pada wajah Azahra. "Dan kau, Gadis Kecil... kita lihat saja berapa lama kau sanggup bertahan di dunia yang bukan tempatmu ini."
Clarissa membalikkan badan dan melangkah pergi dengan hentakan kaki yang keras, diikuti oleh Nyonya Daniel yang menatap Azahra dengan pandangan dingin sebelum akhirnya menyusul pergi.
Ruangan kerja itu kembali hening. James menghela napas pendek, lalu menatap Azahra yang masih mematung di sampingnya.
"Jangan hiraukan Clarissa," kata James pelan. "Dia tidak akan bisa menyentuhmu selama kau berada di sisiku."
Namun Azahra tahu... ancaman Clarissa Vance bukan sekadar gertakan sambal. Wanita itu memiliki uang, koneksi, dan rasa dendam yang cukup untuk menggali seluruh latar belakang hidup Azahra hingga ke akar-akarnya.
Sore harinya, Azahra duduk di meja kerjanya dengan kepala yang terasa ingin pecah. Di atas mejanya tergeletak dua buah ponsel yang terus bergetar secara bergantian.
Ponsel pertama berisi pesan singkat dari James Daniel:
’Besok malam pukul tujuh. Pengemudi saya akan menjemputmu untuk makan malam keluarga di kediaman utama Daniel.’
Ponsel kedua berisi pesan dari asisten pribadi Ethan Austin:
’Tuan Ethan meminta Anda siap pukul setengah delapan besok malam. Acara Charity Gala Austin Group diadakan di Hotel Grand Ballroom. Gaun dan perhiasan sudah dikirim ke alamat Anda.’
Azahra menatap kedua layar ponsel itu dengan tangan yang gemetar hebat.
Besok malam. Jam yang sama. Tempat yang berbeda. Dua acara raksasa yang melibatkan dua pria dominan yang tidak bisa ia tolak.
Azahra menyandarkan punggungnya di kursi, memejamkan mata rapat-rapat saat rasa dingin menyusup ke seluruh persendian tubuhnya. Bermain api dengan dua bos berkuasa ternyata bukan sekadar permainan kucing-kucingan yang bisa ia kendalikan dengan jadwal. Ini adalah bom waktu yang detaknya makin cepat, dan ia tahu... ketika bom itu meledak, tak ada satu pun dari mereka yang akan membiarkannya keluar dalam keadaan selamat.