Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.
Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.
Altair Varellion.
Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.
Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.
Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen
Malam menunjukkan pukul delapan tepat.
Lampu-lampu kota berkilauan di balik jendela mobil yang membawa Evelyn menuju salah satu restoran mewah paling eksklusif di pusat kota, kiji gadis itu mengenakan setelah formal berwarna navy yang terlihat elegan namun santai..
Jujur saja... Tangannya sedikit dingin. Bukan karena cuaca. Melainkan karena gugup.
Di kehidupan sebelumnya, rapat terbesarnya hanyalah rapat bulanan yang membahas target penjualan dan tumpukan laporan.
Sedangkan sekarang? Ia akan bertemu langsung dengan petinggi salah satu perusahaan paling berpengaruh di negara ini.
"Aku masih merasa ini gila." gumam Evelyn pelan.
Di sampingnya, Reon yang sedang membaca tablet hanya tersenyum tipis. "Perasaan itu normal, Nona."
"Kalau saya kabur sekarang gimana?"
"Terlambat."
Evelyn langsung pasrah.
Tak lama kemudian mereka tiba. Restoran itu tampak elegan dengan nuansa kayu gelap dan lampu kristal yang menggantung mewah di langit-langit. Seorang staf segera mengantar mereka menuju ruang VVIP di lantai atas.
Ruangan itu jauh lebih privat. Tenang. Kedap suara. Jelas dibuat untuk pertemuan-pertemuan penting.
Evelyn dan Reon datang lebih dulu. Mereka duduk sambil menunggu. Sekitar lima menit kemudian, pintu ruangan terbuka. Dua orang masuk. Seorang pria paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun dengan setelan jas hitam yang sangat rapi.
Di belakangnya berjalan seorang wanita muda membawa tablet dan beberapa dokumen. Sekretarisnya.
Pria itu adalah Leonhardt Weiss. Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis Aurelius Consortium.
Salah satu orang yang memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah investasi perusahaan tersebut. Reon langsung berdiri.
Begitu pula Evelyn.
"Selamat malam, Tuan Weiss."
"Selamat malam."
Pria itu menjabat tangan Reon lebih dulu. Kemudian beralih kepada Evelyn. Tatapannya tajam. Menilai.
Mengukur.
Mempelajari. "Jadi Anda Nona Evelyn Danesha."
Evelyn tersenyum sopan.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Weiss."
"Senang bertemu dengan Anda juga." Meski wajahnya tetap tenang, Leonhardt tampak sedikit terkejut.
Mungkin karena usianya.
Atau mungkin karena ia tidak menyangka pewaris Danesha Group ternyata masih sangat muda.
--------
Setelah semua duduk,
percakapan ringan dimulai.
Membahas kondisi pasar.
Perkembangan proyek. Keadaan ekonomi.
Dan berbagai topik formal lainnya. Sampai akhirnya pembahasan utama dimulai.
Sekretaris Leonhardt bernama Lidya mendorong map kerja sama ke tengah meja.
"Jika tidak ada kendala, kita bisa menyelesaikan tahap final malam ini." kata wanita itu.
Reon mengangguk. Namun sebelum ia sempat berbicara, Evelyn membuka map miliknya. "Kebetulan ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan terlebih dahulu."
Ruangan mendadak sedikit lebih sunyi. Leonhardt mengangkat alisnya tipis.
"Silakan."
Evelyn membuka salah satu halaman yang sudah penuh catatan. "Pada klausul 4.3 mengenai biaya percepatan proyek."
Ia menunjuk bagian tertentu. "Definisi kesalahan operasional tidak dijelaskan secara spesifik. Artinya ruang interpretasinya cukup luas."
"Saya khawatir hal ini bisa menimbulkan perbedaan pemahaman di masa depan." Jelas Evelyn.
Senyum tipis di wajah Leonhardt perlahan memudar.
Sekretarisnya langsung membuka dokumen yang sama.
Evelyn melanjutkan. "Lalu pada lampiran tambahan nomor dua."
"Biaya konsultan eksternal
yang ditunjuk Aurelius dibebankan kepada Danesha Group."
"Namun tidak ada batasan nilai ataupun mekanisme persetujuan bersama."
"Kami ingin poin tersebut diperjelas."
Kini bahkan Reon ikut diam.
Matanya sedikit melebar.
Karena jujur saja... Beberapa poin itu bahkan luput dari perhatiannya.
Leonhardt menyandarkan tubuh ke kursi. Menatap Evelyn beberapa detik. Lalu tersenyum tipis. "Anda membaca dokumen ini dengan sangat teliti."
"Karena saya tidak suka kejutan yang muncul setelah tanda tangan dilakukan." jawab Evelyn tenang.
Untuk sesaat, suasana terasa seperti permainan catur. Tidak ada yang meninggikan suara. Tidak ada yang marah. Namun setiap kalimat mengandung perhitungan.
----
Diskusi berlangsung hampir satu jam. Beberapa kali pihak Aurelius mencoba mempertahankan klausul tertentu.
Beberapa kali Evelyn meminta penjelasan tambahan. Kadang Reon ikut memberikan pendapat. Kadang Leonhardt berdiskusi dengan sekretarisnya.
Bahkan beberapa poin akhirnya direvisi langsung malam itu. Pada akhirnya Leonhardt menutup dokumen yang ada di depannya.
"Jujur saja." katanya.
"Kebanyakan perusahaan yang mendapat kesempatan bekerja sama dengan Aurelius biasanya langsung menandatangani kontrak."
"Saya bisa memahami alasannya." jawab Evelyn.
"Kesempatan seperti ini memang menggiurkan."
"Lalu kenapa Anda tidak melakukan hal yang sama?" Ucap weiss, entah apa maksudnya.
Evelyn tersenyum tipis.
Tatapannya tetap tenang. "Karena kerja sama yang baik bukan tentang siapa yang mendapatkan keuntungan lebih besar."
"Melainkan memastikan kedua pihak bisa berkembang dalam jangka panjang."
"Kalau salah satu pihak terlalu banyak menanggung risiko, cepat atau lambat hubungan itu akan bermasalah."
"Dan saya lebih memilih membangun kemitraan yang sehat daripada mengejar keuntungan sesaat."
Ruangan mendadak hening.
Leonhardt menatap gadis muda di depannya cukup lama. Kemudian... Untuk pertama kalinya malam itu ia benar-benar tersenyum.
"Saya mengerti sekarang." katanya pelan. "Mengapa keluarga Danesha mempercayakan posisi ini kepada Anda."
Bahkan Reon yang duduk di samping Evelyn tampak sedikit terdiam. Jujur saja... Ia datang malam ini dengan ekspektasi harus membantu nona mudanya menghadapi negosiasi.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Evelyn berhasil menemukan celah-celah penting yang bahkan para manajer senior mungkin akan lewatkan.
Sekitar dua jam kemudian.
Pertemuan akhirnya berakhir.
Dengan beberapa revisi.
Beberapa kesepakatan baru. Dan yang terpenting... Kerja sama tetap berlanjut.
Saat berjabat tangan sebelum berpisah, Leonhardt berkata, "Saya berharap bisa bekerja sama dengan Anda lagi, Nona Danesha."
Evelyn membalas senyum profesional. "Saya juga, Tuan Weiss."
Setelah pihak Aurelius meninggalkan ruangan, suasana akhirnya kembali tenang.
Evelyn langsung menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Astaga..." Ia memegangi kepalanya.
"Kaki saya gemeteran dari tadi ternyata."
Reon yang biasanya serius bahkan sampai tertawa kecil. "Kalau saya tidak melihatnya sendiri, saya tidak akan percaya."
Evelyn berkedip. "Hah?"
"Bahwa Nona ternyata memiliki bakat negosiasi." ucap Reon bangga.
Evelyn langsung menatap langit-langit. Kalau saja Reon tahu...Sebagian besar kemampuan itu berasal dari pengalaman bertahun-tahun menjadi karyawan yang sering membaca kontrak, proposal, dan syarat-syarat kecil yang suka menjebak.
Namun untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini... Ia merasa sedikit bangga pada dirinya sendiri. Setidaknya malam ini... Ia berhasil menjaga sesuatu yang berharga bagi keluarga Danesha.
------
Malam semakin larut.
Jalanan kota yang biasanya ramai kini mulai lengang.
Lampu-lampu gedung tinggi memantulkan cahaya ke kaca mobil yang dikendarai Evelyn.
Setelah pertemuan bisnis yang cukup menguras otak, gadis itu akhirnya memutuskan pulang sendiri. Reon sudah lebih dulu pergi karena masih ada urusan lain.
Jujur saja, kepalanya masih penuh dengan dokumen, angka, dan berbagai istilah bisnis yang membuatnya ingin menangis.
Evelyn menghela napas panjang. "Hidup gue beneran lagi speedrun."
Tak lama kemudian mobilnya memasuki area basement apartemen.
Suasananya sepi. Lampu-lampu putih menerangi deretan kendaraan yang terparkir rapi, sementara suara langkah kaki saja bisa terdengar menggema.
Bulu kuduk Evelyn langsung meremang. Entah kenapa akhir-akhir ini ia jadi sensitif terhadap suasana seperti ini.
Apalagi setelah berbagai kejadian mengerikan yang terjadi di sekitarnya.
"Evelyn..."
"Tenang..."
"Ini cuma parkiran."
"Bukan tempat pembuangan mayat."
"...semoga."
Ia mematikan mesin mobil.
Lalu keluar sambil membawa tasnya. Baru beberapa langkah berjalan menuju lift, matanya menangkap sosok seseorang di kejauhan.
Seorang pria. Tubuhnya tinggi.
Berjalan tertatih.
Langkahnya tidak stabil. Seperti sedang menahan sesuatu.
Evelyn mengernyit. Pria itu berjalan beberapa meter.
Lalu-
BRUK!
Tubuhnya ambruk begitu saja ke lantai.
"Astaga!" Refleks Evelyn langsung berlari mendekat.
"Mas?!"
"Pak?!"
"Eh bukan pak-"
Saat wajah pria itu terlihat jelas di bawah cahaya lampu basement, Evelyn langsung membeku.
"K-Kael?!"
Matanya membelalak. Itu benar-benar Kael Reneth. Mahasiswa populer kampus mereka. Orang yang beberapa hari terakhir sering muncul di sekitar kehidupannya. Namun sekarang.... kondisinya mengenaskan.
Sudut bibir Kael tampak pecah. Ada lebam di rahangnya. Napasnya berat. Dan bagian lengan kirinya terlihat berlumuran darah yang mulai mengering.
"Ya ampun... Habis perang sama siapa lo?"
Kael membuka mata
perlahan. Tatapannya tampak kabur.
"...."
Beberapa detik ia hanya menatap Evelyn tanpa bicara.Mungkin sedang mencoba mengenalinya.
Kemudian bibirnya bergerak pelan. "...Evelyn?"
Gadis itu langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Syukurlah masih sadar. Kalau nggak sadar gue udah mau nelpon ambulans."
Kael mencoba bangkit.
Namun tubuhnya langsung limbung. Refleks Evelyn menangkap bahunya.
"Jangan sok kuat. Kondisi lo kayak karakter utama habis final boss."
Kael mengeluarkan tawa kecil yang terdengar serak.
Meski begitu ia tidak menolak ketika Evelyn membantunya berdiri.
---
Perjalanan menuju apartemen terasa cukup menyiksa. Sebagian berat tubuh Kael hampir sepenuhnya bertumpu pada Evelyn.
Dan baru sekarang Evelyn sadar. Pria ini tinggi sekali.
"Buset..."
"Berat juga."
"Gue baru ngerti perasaan kurir galon."
Kael meliriknya sekilas.
Meski wajahnya pucat, sudut bibirnya tampak sedikit terangkat.
"Gue masih bisa jalan."
"Kata orang yang lima menit lalu jatuh kayak pohon tumbang."
Kael memilih diam. Karena tidak bisa membantah. Akhirnya mereka sampai di unit apartemen milik Evelyn.
Pintu terbuka. Lampu menyala. Dan beberapa saat kemudian Kael sudah terduduk di sofa ruang tamu.
Sedangkan Evelyn sibuk membongkar lemari mencari kotak P3K. "Ada di mana sih... Niat beli apartemen miliaran tapi kotak P3K aja ngumpet."
Akhirnya benda yang dicari ketemu. Evelyn segera kembali. Namun langkahnya berhenti sesaat.
Karena Kael masih mengenakan hoodie hitam yang sebagian sudah terkena noda darah. "Ini harus dilepas."
Kael hanya mengangguk pelan. Mungkin terlalu lelah untuk protes. Tanpa banyak bicara Evelyn membantu melepaskan hoodie itu.
Dan.... detik berikutnya. Otak Evelyn langsung loading.
"..."
"..."
"..."
Di balik hoodie tersebut hanya ada kaus dalaman tipis berwarna hitam. Tubuh atletis Kael terlihat jelas. Bahu lebar.
Lengan berotot.
Dan samar-samar garis otot perut yang cukup membuat banyak mahasiswi kampus mungkin menjerit histeris.
Rahang Evelyn hampir terbuka. Namun ia buru-buru menepuk pipinya sendiri.
"Pokus Evelyn."
"Pokus."
"Ini pasien."
"Bukan menu restoran."
Kael yang melihat tingkahnya tampak sedikit bingung. "Kamu kenapa?"
"Tidak kenapa."
"Baik-baik saja."
"Sangat profesional."
Padahal dalam hati Evelyn sudah jungkir balik. Untung masker yang ia kenakan menyembunyikan sebagian ekspresinya.
Ia segera mengalihkan perhatian ke luka di lengan atas Kael. Dan kali ini wajahnya berubah serius.
Luka itu cukup panjang. Meskipun tidak terlalu dalam, tetap saja terlihat mengerikan.
"Ini bukan luka jatuh." Ucap Evelyn pelan.
Kael tidak menjawab.
Evelyn mengangkat alis. "Lo ditusuk?"
"Bukan."
"Disayat?"
"...Mungkin."
"Mungkin gimana?"
Kael menatapnya beberapa detik. Lalu berkata pendek.
"Kecelakaan."
Evelyn langsung memasang wajah tidak percaya.
"Kecelakaan? Lo kecelakaan sama ninja?"
Kael terdiam. Dan itu
membuat Evelyn semakin yakin kalau pria ini sedang berbohong.
Namun ia memilih tidak memaksa.
Setidaknya untuk sekarang.Perlahan ia membersihkan luka itu menggunakan antiseptik.
Begitu cairan menyentuh kulit yang terluka, Kael sedikit mengernyit.
"Perih?"
"Tidak."
"Dusta."
"Kelihatan dari muka lo."
Kael kembali diam.
Sementara Evelyn melanjutkan pekerjaannya dengan teliti.
Meski mulutnya cerewet, tangannya ternyata cukup terampil.
Tak lama kemudian luka itu selesai dibersihkan dan diperban dengan rapi. Evelyn menghela napas lega.
"Nah. Minimal sekarang lo nggak bakal mati gara-gara infeksi." Ucap Evelyn sambil membereskan peralatan ke kotak p3k.
Kael menatap perban di lengannya. Lalu menatap gadis di depannya. Untuk beberapa saat tidak ada yang bicara.
Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar pelan.
Akhirnya Kael membuka mulut. "...Terima kasih."
Evelyn melambaikan tangannya santai. "Santai aja.
Kalau ada orang sekarat depan mata gue terus gue tinggal, nanti dosa gue numpuk."
Kael kembali terdiam.
Namun kali ini tatapannya sedikit berbeda. Lebih lama.
Lebih dalam. Sedangkan Evelyn sama sekali tidak menyadarinya.
Karena saat itu pikirannya hanya sibuk pada satu hal.
'Kenapa setiap kali hidupnya mulai terasa normal... selalu ada orang berdarah yang muncul di depannya?'
curang tauuu😒😒