Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKANAN DI BALIK MEJA HIJAU
Udara di dalam ruang kerja utama Markas Besar TNI Angkatan Darat terasa begitu rapat dan sarat akan ketegangan. Sinar matahari pagi menembus celah tirai venetian, menyoroti deretan plakat penghargaan dan bendera pataka yang berdiri megah di sudut ruangan. Di balik meja jati berukuran besar, Letnan Jenderal Gibran Mahendra duduk tegap dengan seragam PDU lengkap. Raut wajahnya yang tegas memancarkan ketenangan yang terukur, meski di seberang mejanya berdiri seorang pria setengah baya dengan aura diplomatik yang kuat dan napas yang tertahan oleh amarah.
Bramantyo Adriana meletakkan kedua telapak tangannya di atas permukaan meja jati tersebut, menatap lurus ke dalam manik mata hitam sang Jenderal tanpa kejap.
"Saya datang ke sini bukan sebagai mantan pejabat diplomatik, Jenderal," suara Bramantyo menggema rendah namun sarat ancaman yang tegas. "Saya datang sebagai seorang ayah yang kehilangan putrinya selama hampir satu bulan. Ziva tidak pernah menghilang tanpa sebab sejak kepulangannya dari London. Dan insting saya mengatakan, keluarga Mahendra tahu betul di mana anak saya berada."
Gibran menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit, menopang dagunya dengan jemari yang saling bertaut. Tatapannya tidak goyah sedikit pun menghadapi desakan Bramantyo.
"Pak Bramantyo," sahut Gibran dengan nada tenang, dingin, dan tertata rapi. "Saya memahami kepanikan Anda dan Ibu Ajeng sebagai orang tua. Namun, menuduh markas ini atau keluarga saya atas hilangnya Ziva adalah sebuah kekeliruan besar. Keponakan saya, Aris, saat ini sedang memimpin penugasan strategis BUMN di Eropa Timur. Jika Ziva memutuskan untuk mengambil jeda dari kesibukan atau membatasi komunikasi, itu adalah urusan pribadi mereka berdua."
"Jangan berlindung di balik nama Aris, Gibran!" potong Bramantyo tajam, membuang sejenak batasan formalitas. "Ziva adalah tunangan Aris, tapi anak saya tidak pernah menyembunyikan keberadaannya dari kami. Satpam apartemennya mengonfirmasi bahwa seluruh barang-barang Ziva diangkut oleh kendaraan pribadi yang tidak terdaftar atas nama Aris. Jika dalam waktu dua puluh empat jam saya tidak mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Ziva, saya tidak akan ragu membawa hal ini ke tingkat kementerian dan media."
Sudut bibir Gibran terangkat tipis sebuah gestur minim yang justru memancarkan bahaya laten. Pria itu berdiri perlahan, merapikan letak tanda pangkat di bahunya, lalu berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke lapangan upacara.
"Anda seorang diplomat senior yang berpengalaman, Pak Bramantyo," ujar Gibran sambil membelakangi tamunya. "Anda tentu paham betapa ringkihnya reputasi dan jaringan bisnis yang telah Anda bangun di Eropa jika sebuah rumor yang tidak berdasar mencuat ke permukaan. Langkah terburu-buru yang Anda ambil hanya akan merugikan karier Anda sendiri dan mengganggu stabilitas proyek nasional yang sedang ditangani Aris di luar negeri."
Bramantyo menegang di tempatnya. Ancaman halus itu tersampaikan dengan sangat presisi. Sebagai pria yang menghabiskan puluhan tahun di dunia diplomasi internasional, ia tahu bahwa Gibran memiliki pengaruh yang cukup luas untuk menutup atau membuka akses-akses penting bagi keluarganya.
"Apakah Anda sedang mengancam saya, Jenderal?" tanya Bramantyo dengan suara yang memendam ketegangan hebat.
Gibran berbalik, menatap Bramantyo dengan pendar mata yang gelap dan tak terjangkau. "Saya hanya mengingatkan agar kita sama-sama bijaksana. Percayakan pencarian ini pada jalur yang tepat. Saya pribadi akan memastikan tim internal saya membantu memantau keberadaan Ziva."
Sementara itu, di kediaman mewah kawasan Dharmawangsa, suasana terasa kian mengimpit. Ziva berdiri di dekat pintu kaca ruang tengah yang menghadap ke taman belakang. Suara rintik hujan gerimis yang mulai turun membahasi dedaunan menyamai dinginnya kehampaan di dada gadis itu.
Sejak insiden penikaman harga diri di ruang kerja Gibran beberapa hari lalu, pengawasan di rumah itu kian diperketat. Mbok Nah hampir tidak pernah membiarkan Ziva sendirian di lantai bawah, sementara dua orang pengawal berbadan tegap berseragam batik selalu berjaga di area gerbang luar.
Namun, pagi itu ada sebuah kejanggalan yang ditangkap oleh kecermatan Ziva.
Seorang petugas perawatan kolam renang dan taman baru saja masuk melalui pintu samping. Ketika Mbok Nah berjalan ke dapur belakang untuk menyiapkan minuman, petugas taman itu bergerak merapikan tanaman di dekat teras tempat Ziva berdiri. Pria paruh baya itu menunduk dalam-dalam, namun tangannya dengan cepat menyelipkan sesuatu ke bawah pot bunga besar di dekat kaki Ziva.
Ziva menahan napasnya. Tanpa menarik perhatian pengawal di kejauhan, ia melangkah pelan dan menyapukan pandangannya ke arah pot tersebut. Di sana tergeletak sebuah gulungan kertas kecil berselotip bening.
Dengan gerakan cepat dan terukur, Ziva berlutut seolah-olah sedang melihat kelopak bunga yang gugur, lalu menyambar gulungan kertas itu dan menyembunyikannya di dalam saku celananya. Jantungnya berdegup kencang, memompa adrenalin yang sudah lama mati di dalam tubuhnya.
Ziva segera berjalan kembali ke kamar utamanya di lantai dua, mengunci pintu kamar mandi, dan membuka lipatan kertas kecil itu dengan tangan yang gemetar hebat. Tulisan tangan di dalamnya sangat tipis, menggunakan tinta hitam yang hampir samar:
"Keyla tahu kamu dalam bahaya. Sahabatmu ini tidak tinggal diam. Cari cara untuk mendekati jendela lantai dua setiap pukul lima sore. Jangan percaya pada siapa pun di rumah ini."
Mata Ziva berkaca-kaca saat membaca nama sahabat terdekatnya itu. Keyla—satu-satunya orang yang tahu betul dinamika rumit hubungannya dengan Aris serta ancaman terselubung yang selalu membayangi dari sosok Jenderal Gibran. Keyla, yang seumuran dengannya dan telah berkeluarga namun belum dikaruniai anak, selalu menganggap Ziva dan segala hal tentangnya seperti keluarganya sendiri. Kehadiran pesan singkat dari Keyla bagaikan secercah titik terang di tengah kegelapan pekat yang mengurungnya.
Ziva meremas kertas itu, lalu membakarnya menggunakan pemantik api dekoratif di atas wastafel dan membiarkan abunya terbuang ke dalam saluran air.
Untuk pertama kalinya dalam satu bulan terakhir, secuil harapan tumbuh di dalam dadanya. Ia sadar bahwa Gibran mungkin memegang kendali penuh atas kekuasaan, hukum, dan orang tuanya di luar sana. Namun di balik dinding tinggi Dharmawangsa yang terisolasi ini, retakan pertama dalam sangkar emas sang Jenderal baru saja tercipta.