Dia bukan pahlawan. Dia adalah bencana yang berjalan.
Terlahir kembali di dunia yang hancur oleh perang kuno, Arlen membawa ingatan dari kehidupan sebelumnya sebagai Aster Valerius-sang ksatria legendaris. Tapi kali ini, dia tidak terikat oleh kode kehormatan yang rapuh. Dia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya: Aether, sumber kekuatan asli yang mampu memotong sejarah dan menghancurkan realitas itu sendiri.
Dari hutan terlarang hingga takhta dewa, Arlen akan menginjak siapa pun yang menghalanginya. Monster? Dia akan menyerap darahnya. Dewa? Dia akan meremukkan takhtanya. Manusia yang berkhianat? Dia akan mengajarkan mereka arti ketakutan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arian verse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Menyatu Dengan Aliran Bumi
Saat Arlen kembali, dia mendapati ayahnya tengah berdiri kaku di tepi ladang gandum yang terancam gagal panen. Batang-batang tanaman di sana tumbuh kurus dan menguning meranggas, seolah kehabisan daya hidup akibat tanah yang gersang dan musim kemarau yang berkepanjangan."
Cedric menghela napas berat, jemarinya yang kasar mengusap batang gandum yang rapuh hingga patah. "Jika terus begini, kita tidak akan punya cukup simpanan makanan untuk bertahan hingga musim hujan berikutnya... apalagi untuk upeti kerajaan."
Arlen berdiri diam di kejauhan, memandang ayahnya. Dia ingin sekali membantu ladang itu juga, tapi ladang ini terlalu dekat dengan rumah. Jika ia melakukan sesuatu di sini, perubahannya akan terlihat jelas oleh siapa pun yang lewat. Arlen hanya bisa menahan diri.
Namun dia mendekati ayahnya dan bertanya, "ayah... apakah ada bagian lain di tanah kita yang tanahnya lebih dalam dan jarang dilewati orang orang?"
Cedric menoleh sedikit terkejut melihat putranya yang tiba-tiba bertanya begitu. Cedric tersenyum sedih sambil mengelus kepala Arlen. "Selain bukit tandus itu, hanya ada hutan kecil di sisi timur. Tanahnya lembap tapi penuh akar pohon besar, tidak cocok untuk bertani."
Arlen mengangguk paham. Hutan kecil itu mungkin bisa menjadi tempat persembunyian lain nanti.
Malam harinya, saat Arlen sedang duduk merenung di kamarnya, dia teringat kembali buku-buku peninggalan ibunya yang belum selesai ia baca. Ada satu hal yang belum dia coba: memahami sifat energi dingin yang ada di dalam bukit itu dan menggabungkannya sedikit saja dengan kekuatannya sendiri.
Arlen kembali ke ruang kerja ibunya dan mengambil sebuah buku berjudul Sifat-Sifat Energi Bumi. Di sana tertulis jelas bahwa energi yang terperangkap lama di dalam tanah yang gelap dan tertutup biasanya bersifat dingin, padat, dan berhubungan dengan ketahanan serta penyimpanan. Itulah sebabnya tanaman Daun Perak Dingin bisa tumbuh di sana—ia menyukai sifat energi semacam itu.
Arlen berpikir jauh ke depan. Jika dia bisa memanfaatkan energi alami bukit itu dan membiarkannya mengalir melalui tubuhnya yang diperkuat Aura, bukankah itu akan membuatnya semakin kuat? Ia tidak akan mengambilnya seperti cara penyihir menyerap Mana, melainkan hanya meminjam alirannya untuk melatih ketahanan tubuhnya.
Keesokan paginya dia langsung mencoba melakukannya. Arlen duduk di puncak bukit, menempelkan kedua telapak kakinya ke tanah hitam itu. Dia a membiarkan kesadarannya turun jauh ke bawah, menyentuh aliran dingin yang stabil itu.
Seketika itu juga rasa dingin yang tajam menyusup naik ke kakinya, hampir membuatnya menggigil hebat. Rasanya seperti diduduki bongkahan es besar. Tulang-tulangnya terasa nyeri seolah-olah ingin membeku.
Arlen tidak berhenti. Dia membiarkan rasa dingin itu masuk, lalu melingkari alirannya dengan selubung Aura keemasan yang hangat miliknya sendiri. Kedua kekuatan itu bertemu, saling mendesak namun tidak saling menghancurkan. Arlen melatih tubuhnya untuk bertahan di tengah pertentangan dua suhu yang berbeda itu.
Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, napasnya memendam berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa. Namun dia terus bertahan. Di masa lalu, Arlen pernah berlatih di tengah badai salju abadi dan kawah gunung berapi yang meletus. Ini hanyalah ujian kecil baginya.
Setelah berjam-jam di tempa oleh energi dingin itu, hingga matahari mulai condong ke barat, Arlen merasakan perubahan lagi. Rasa dingin tajam itu kini terasa lebih lembut, menyatu dengan aliran kehangatan di dalam dirinya. Tubuhnya terasa lebih padat, lebih kokoh. Lapisan Aura Perunggu yang melingkari jiwanya kini terasa lebih tebal dan stabil bahkan ada samar samar akan menerobos ke tingkat ke 3 Silver aura.
Arlen tidak hanya menjadi lebih kuat, tapi dia juga perlahan-lahan menjadi penghubung antara permukaan tanah dan energi yang tersembunyi jauh di dalamnya.
Saat Arlen berdiri, dia melihat ke bawah ke arah telapak tangannya. Di sana, di bawah kulitnya, terlihat samar ada urat-urat halus berwarna perak gelap yang menyatu dengan cahaya keemasan Aura-nya.
"Kombinasi ini..." gumamnya takjub. "Belum pernah ada yang melakukannya sebelumnya. Aku tidak menyerapnya, tapi aku menjadi bagian dari alirannya."
Arlen menyadari bahwa ia sedang menciptakan sesuatu yang baru, sesuatu yang bahkan tidak ada di ingatannya dari ribuan tahun lalu. Arlen memadukan kekuatan jiwanya sendiri dengan sifat alam tempat ia berpijak.
Namun momen indah itu terganggu saat dia mendengar suara gesekan ranting dari arah bawah bukit. Arlen seketika memadamkan semua cahaya di tubuhnya, lalu berbalik waspada.
Dari balik semak berduri, muncul seekor serigala berukuran sedang berbulu kelabu kusam. Matanya menatap tajam ke arah Arlen, sedikit menyipit seolah terganggu oleh perubahan yang terjadi di tempat itu. Taringnya terlihat saat ia menggeram pelan. Hewan itu tampak kurus dan buas, kemungkinan besar datang karena merasakan adanya energi baru yang menarik di sini.
Bagi anak seusia Arlen, pemandangan ini pasti sangat menakutkan. Namun Arlen hanya berdiri diam menatap balik hewan itu tanpa mundur selangkah pun.
Dia tidak berniat melukainya. Sebaliknya, ia perlahan mengangkat satu tangannya ke depan dada, telapak tangan terbuka ke arah serigala itu. Arlen memancarkan rasa damai dan ketenangan melalui getaran halus Aura-nya.
Serigala itu terdiam sejenak, mengendus udara. Awalnya masih curiga, namun perlahan geraman ancamannya hilang. Serigala itu melangkah maju satu langkah ragu-ragu, lalu duduk diam di tempatnya seolah merasakan sesuatu yang akrab namun lebih kuat darinya.
"Kau juga merasakannya ya?" ucap Arlen pelan pada hewan itu. "Tempat ini sedang berubah. Datanglah lagi jika kau mau, tapi jangan mengganggu tanaman yang sedang kujaga."
Serigala itu hanya mengangguk kecil seolah mengerti, lalu setelah beberapa saat berbalik menghilang kembali ke dalam bayang-bayang pepohonan.
Arlen tersenyum tipis melihatnya. Bahkan makhluk buas pun bisa merasakan niat baik dari kekuatan yang tulus.
Hari itu Arlen pulang dengan hati yang lebih ringan. Arlen telah menemukan cara untuk mempercepat pertumbuhan tanaman berharganya, dia menjadi lebih kuat, dan bahkan lingkungan di sekitarnya mulai berubah mengikuti kehadirannya.
Namun Arlen sadar, enam bulan itu waktu yang singkat. Dia harus memastikan tanaman Daun Perak Dingin itu tumbuh cukup banyak, siap dipanen, dan dijual tanpa ada yang tahu dari mana asalnya.
Masalah baru muncul di benaknya: Siapa yang akan membelinya? Dan bagaimana caranya aku menjualnya tanpa memancing pertanyaan tentang asal-usul tanaman langka ini dari anak berumur enam tahun?
Aku harus memikirkan strategi berikutnya dengan matang.
Beberapa minggu telah berlalu sejak hari Arlen pertama kali melihat pertumbuhan ajaib tanaman Daun Perak Dingin itu. Kini, di sebidang tanah kecil yang Arlen bersihkan di puncak bukit, sudah tumbuh puluhan tanaman serupa—setiap helai daunnya tampak tebal, berwarna hijau gelap pekat dengan urat keperakan yang bersinar samar saat terkena cahaya matahari pagi.
Tanaman itu tumbuh rapi dan sehat, jauh lebih besar dibandingkan tanaman induk yang Arlen temukan pertama kali. Arlen tahu, jika dia membiarkannya tumbuh lebih lama lagi, orang yang lewat dari kejauhan pun akan melihat perbedaan mencolok di bukit yang dulunya tandus itu. Sudah Saatnya untuk memanen sebagian, namun masalah terbesarnya kini bukan lagi menumbuhkannya, melainkan bagaimana cara memberikannya kepada kedua orang tuanya tanpa menimbulkan kecurigaan berlebihan.
Arlen duduk bersila di samping hamparan tanaman itu, menatap daun-daun berharga itu sambil berpikir keras.
Jika aku langsung berkata: "Aku yang menanamnya dengan kekuatanku," tentu saja itu terdengar mustahil bagi anak seusianya. Bukan hanya itu, dia takut menimbulkan bahaya yang lebih besar. Jika rahasia Aura-nya terbongkar terlalu dini, Gereja Suci yang sedang mencari jejak kekuatan kuno itu pasti akan datang mencarinya.
Namun jika aku diam saja, tanaman itu akan layu atau dicuri orang lain, dan aku akan kehilangan satu-satunya cara untuk menyelamatkan tanah keluargaku.
Arlen terus memikirkan berbagai kemungkinan penjelasan.
Apakah aku bilang aku menemukannya tumbuh begitu saja? Tapi mereka akan bertanya mengapa tidak pernah ada sebelumnya.
Apakah aku bilang aku mendapat petunjuk mimpi? Terlalu lemah sebagai alasan.
Arlen menghela napas panjang. Aku harus membuat penjelasan yang masuk akal, sesuatu yang bisa diterima akal sehat namun tidak membuka rahasia terbesarnya.