"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siluet Dibalik Sudut Ruangan
Lampu kristal melingkar di langit-langit kafe mewah itu memancarkan cahaya keemasan yang hangat, memantul sempurna pada gelas-gelas kristal dan perlengkapan makan berbahan perak. Suasana reuni SMA malam itu sangat meriah, dipenuhi gelak tawa dan denting gelas dari para alumni yang saling memamerkan pencapaian hidup masing-masing. Di salah satu sudut terbaik ruangan, Aura Kirana duduk anggun di kursi berbusa empuk. Gaun malam berwarna marun yang membalut tubuhnya tampak kontras dengan kulit putihnya yang bersih. Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Aura tumbuh menjadi wanita yang memikat, meski tatapannya malam ini terus tertuju pada pemuda di sampingnya.
Sean, pemuda berparas tampan dengan setelan jas kasual, tersenyum manis sembari merangkul pundak Aura. Mereka berdua adalah pasangan yang paling disorot malam itu. Sama-sama berumur 21 tahun dan berasal dari sekolah yang sama, hubungan mereka kerap dianggap sebagai impian banyak orang. Namun, di balik senyum tipisnya, ada rasa lelah yang mengendap di dada Aura akibat sikap dingin Sean beberapa minggu terakhir.
Ketika hidangan utama selesai disajikan dan musik instrumental pelan mulai mengalun mengiringi pesta, Sean membungkuk sedikit ke arah Aura. Nafas hangatnya menyentuh telinga Aura.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika. Tubuhnya membeku. Di sudut lorong yang tertutup bayangan pilar besar, ia melihat dua siluet manusia yang berdiri sangat dekat. Begitu dekat hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.
Mata Aura membelalak saat ketajaman penglihatannya menangkap detail wajah kedua orang itu. Pemuda itu adalah Sean, kekasihnya. Dan wanita yang sedang berada di dalam dekapan erat Sean adalah Lyona. Lyona merupakan mantan kekasih Sean sewaktu SMA, sekaligus wanita yang pernah duduk di bangku kelas yang sama dengan Aura.
"Udah dong, nanti Aura ngelihat..." bisik Lyona dengan nada manja yang dibuat-buat, meski tangannya justru semakin erat melingkar di leher Sean.
Aura menahan nafasnya, dadanya terasa berdenyut nyeri luar biasa. Ia berharap Sean akan mendorong wanita itu dan membela hubungannya. Namun, jawaban yang keluar dari mulut Sean justru menghancurkan seluruh rasa percaya yang telah dibangun Aura selama berbulan-bulan.
"Udah deh, biarin aja. Lagian aku capek sama orang posesif kayak dia," sahut Sean dingin, tanpa ada nada penyesalan sedikit pun sebelum ia kembali mendaratkan ciuman di ceruk leher Lyona.
Kata-kata itu menghantam dada Aura bak godam berat. Posesif? Jadi selama ini perhatian dan rasa cintanya hanya dianggap sebagai beban yang menyiksakan?
Air mata menggenang di pelupuk mata Aura, namun rasa harga dirinya menolak untuk membuat kegaduhan di sana. Ia tidak sudi menangis berlutut di hadapan pengkhianat seperti mereka. Dengan tubuh gemetar dan hati yang remuk redam, Aura membalikkan badan dan memilih melangkah keluar dari lorong terkutuk itu secepat yang ia bisa.
Saat melewati barisan meja bar dekat area pesta, mata Aura yang buram melihat sebuah gelas tinggi berisi minuman beralkohol pekat yang ditinggalkan pengunjung lain. Tanpa berpikir panjang, untuk pertama kali dalam hidupnya, Aura menyambar gelas itu dan meneguk seluruh isinya hingga kandas. Rasa terbakar merambat cepat di tenggorokannya, disusul sensasi panas yang langsung menusuk kepala.
Sensasi alkohol keras itu bekerja sangat cepat pada tubuh Aura yang tak terbiasa. Dalam hitungan detik, pandangannya mulai berbayang. Kepalanya terasa berat luar biasa, dan kedua kakinya mulai melangkah sempoyongan tak tentu arah. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah melarikan diri dari tempat penuh kepalsuan ini.
Dengan langkah memutar dan tubuh yang oleng, Aura memaksakan diri berjalan menuju pintu keluar utama kafe. Tepat saat ia menggeser langkah di depan pintu masuk kaca yang megah—
Brukk!
Tubuh Aura kehilangan keseimbangan sepenuhnya dan membentur dada bidang seorang laki-laki yang baru saja hendak melangkah masuk ke dalam kafe. Aroma parfum woody yang sangat maskulin dan elegan langsung menusuk indra penciuman Aura.
Dada pria itu terasa keras dan kokoh, menahan tubuh Aura agar tidak jatuh terjerembab ke lantai marmer. Dengan pandangan yang samar-samar, kabur oleh pengaruh alkohol dan sisa air mata, Aura mendongak perlahan. Matanya berusaha memfokuskan bayangan sosok tinggi besar yang kini memegangi kedua bahunya.
Wajah pria itu memiliki rahang yang tegas, mata tajam yang memikat, serta paras simetris yang sangat menawan di bawah sorotan lampu jalan. Dalam kondisi kesadaran yang sudah berada di ambang batas, Aura mengulas senyum tipis yang tak sadarkan diri, lalu merancau pelan dengan suara serak.
"Wahh... tampan sekali..."