Indonesia
NovelToon NovelToon
GADISKU SEORANG BAR-BAR

GADISKU SEORANG BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romantis / Komedi
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Icita

GADISKU SEORANG BAR-BAR adalah kisah komedi-aksi romantis tentang dua orang yang terlalu gengsi untuk mengaku saling mencintai, hingga akhirnya harus merobohkan seisi kota demi bisa mengikat janji seumur hidup.
Senja, seorang stuntwoman temperamental berdarah dingin, dan Gala, jurnalis investigasi nekat yang bertarung dengan rasa ingin tahu dan keputusasaan, akhirnya memutuskan hubungan dua tahun mereka yang penuh dengan pertengkaran. Namun, pertengkaran di sebuah kafe itu tidak berakhir begitu saja. Terbelenggu oleh ego yang setinggi langit, mereka menyepakati Taruhan 30 Hari: siapapun yang gagal mendapatkan pacar baru yang lebih baik dalam waktu satu bulan harus mengakui kekalahan, balikan, dan diharamkan mengucapkan kata “putus” selamanya.
Permainan gengsi tersebut dengan cepat lepas kendali dan berubah menjadi kekacauan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sandi Merah dan Jatuhnya Sang Mesin

Deru baling-baling helikopter tempur mengguncang atap kayu Vila Melati. Angin kencang memotong malam, menyapu dedaunan dan memutar asap hitam dari sisa-sisa pertempuran di ruang tamu. Cahaya sorot searchlight dari perut helikopter menerobos masuk melalui celah jendela, memotong kegelapan dengan warna putih menyilaukan.

“Gal! Lari ke belakang!” teriak Senja. Tangannya meraih lengan kemeja Gala, menyentakkannya tepat saat rentetan tembakan peredam suara dari udara menghancurkan atap seng vila.

TAK-TAK-TAK-TAK-TAK!

Serpihan kayu, gipsum, dan genting hujan di sekitar mereka. Senja melompat menerobos pintu belakang yang mengarah ke lereng bukit curam, sementara Gala memeluk erat tablet militer musuh dan tas pinggang berisi dokumen-dokumen penting. Mereka melempar diri ke dalam semak-semak tepat sebelum ledakan sekunder menghancurkan ruang tamu Vila Melati hingga menjadi tumpukan kayu bakar.

“Mobil kita!” Gala menunjuk mobil sedan tua berdiskon yang terparkir di bawah pohon beringin.

“Enggak bisa! Itu target empuk dari udara!” Senja menarik Gala menyusuri jalan setapak tanah yang licin oleh embun malam.

Sebagai mantan stuntwoman yang dilatih menghindar dari ledakan properti film, Senja membaca kontur medan dengan presisi luar biasa. Ia menyeret Gala berlari zigzag menembus pepohonan pinus yang rapat, memanfaatkan batang-batang pohon tebal sebagai perisai alami dari tembakan helikopter di atas mereka.

Namun, kejaran di lereng bukit itu baru saja dimulai. Di jalan raya beraspal yang membelah lereng bukit bawah, dua unit SUV hitam tanpa pelat nomor meluncur deras dengan kecepatan tinggi, mengunci posisi keluar mereka dari dua arah berlawanan.

“Mereka nutup akses ke kota!” bisik Gala terengah-engah. Napasnya memburu, dadanya terasa panas. “Nja, siapa The Architect ini sebenarnya? Kenapa bapak kamu terseret dalam urusan tentara bayaran?”

“Gue nggak tahu!” jawab Senja, beralih ke kata sapaan kasarnya saat adrenalin mencapai puncak. “Bapak gue cuma mantan sersan marinir yang hobi mancing dan pelihara burung berkutut! Dia nggak pernah cerita soal tentara bayaran atau ‘Protokol Broto’!”

Tiba-tiba, dari arah depan mereka di tengah kegelapan jalan setapak, salah satu SUV hitam menerobos semak-semak, memotong jalur lari mereka. Pintu samping SUV terbuka berderit. Tiga pria bersenjata lengkap siap melompat turun.

Gala memegang payung lipat patahnya—satu-satunya benda keras yang tersisa di tangannya—sementara Senja mengambil dua batu jalanan berukuran sebesar kepalan tangan. Mereka terkepung. Di atas ada helikopter yang memutar balik, di depan ada pasukan taktis.

BAMMMM!!

Sebelum tiga pembunuh bayaran di dalam SUV sempat menapakkan kaki di tanah, sebuah hantaman dahsyat meremukkan moncong mobil mereka. Sebuah sedan hitam lapis baja yang penyok di sana-sini menerobos dari arah bukit samping, menabrak SUV tersebut hingga terguling tiga kali dan menghantam tebing batu.

Suara rem berdecit memekakkan telinga. Ban sedan hitam itu memercikkan bunga api di atas aspal.

Pintu pengemudi sedan itu terdorong terbuka dengan kasar. Sesosok tubuh melangkah keluar, namun tidak dengan gaya tegap dan dingin yang biasa terlihat. Sosok itu limbung, memegang pintu mobil untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke tanah.

“Siska?!” Gala dan Senja berteriak hampir bersamaan.

Mata Gala terbelalak. Wajah Siska—wanita yang selama ini mereka anggap sebagai mesin pembunuh abadi tanpa emosi—tampak pucat bagai kertas perkamen. Setelan jas hitam mewahnya yang selalu rapi kini sobek di bagian bahu kiri, bersimbah darah segar yang menetes deras hingga ke jemarinya. Mesin EDC legendaris yang selalu terikat di pinggangnya terbelah dua.

“Siska! Kamu tertembak!” Senja berlari melompati semak-semak, menangkap tubuh Siska tepat saat lutut wanita itu menyerah dan menghantam aspal.

Siska batuk kecil, menyemburkan benang darah tipis di sudut bibirnya. Namun, matanya yang biasa dingin kini memancarkan sesuatu yang belum pernah dilihat oleh Gala maupun Senja sebelumnya: ketakutan yang nyata.

“Waktu… tinggal sedikit,” suara Siska parau, tak lagi menggunakan intonasi mekanisnya. “Lilia… dia sudah masuk ke kota.”

Gala berlutut di sebelah mereka, membuka jaketnya untuk menekan luka tembak di bahu Siska. “Lilia? Siapa Lilia? Kenapa lo bisa hancur kayak gini, Sis?”

“Lilia adalah The Red Reaper,” bisik Siska, napasnya patah-patah. “Dia instruktur senior di Vanguard. Dan dia... ditugaskan langsung oleh The Architect untuk memburu saya atas tuduhan desersi... dan memburu Senja.”

“Kenapa Senja?!” celekit Gala, dadanya bergemuruh oleh amarah dan kebingungan. “Senja ini cuma orang biasa! Dia cuma orang yang sukanya ngomel dan main fisik!”

Siska mengabaikan omelan Gala. Dengan sisa tenaganya yang tersisa, tangan kanan Siska yang berdarah meraih ke dalam lipatan dalam jasnya. Ia mengeluarkan sebuah benda tebal berukuran sebesar kotak perhiasan yang terbuat dari logam titanium hitam legam. Di permukaan kotak itu, terdapat panel pemindai biometrik ganda dan papan tombol sandi yang rumit.

Siska memasukkan kotak titanium itu ke dalam genggaman Gala, lalu memindahkan tangan Senja untuk memegang kotak tersebut bersama Gala.

“Ini… data primer Vanguard generasi pertama,” bisik Siska, suaranya makin melemah. “Ayahmu, Senja… Pak Broto… dia bukan sekadar veteran marinir. Tiga puluh tahun lalu, dia adalah pendiri asli Protokol Broto—sebuah sistem kunci enkripsi darurat yang dirancang untuk mengunci seluruh aset keuangan dan jaringan intelijen Vanguard jika organisasi itu jatuh ke tangan sosiopat.”

Senja membeku. Otaknya mencoba memproses informasi absurd tersebut. Ayahnya—pria tua yang setiap pagi mengenakan sarung, minum kopi hitam, dan marah-marah jika burung berkututnya lupa diberi makan—adalah arsitek di balik organisasi tentara bayaran paling mematikan di Asia?

“The Architect merebut kontrol Vanguard lima tahun lalu,” lanjut Siska, matanya mulai mengabur. “Tapi dia tidak bisa mengakses dana operasional triliunan rupiah dan jaringan satelitnya... karena kunci master-nya tersimpan di dalam DNA keluarga Broto. Di dalam darahmu, Senja.”

DRRRT! DRRRT!

Di kejauhan, lampu helikopter tempur kembali terlihat mendekati posisi mereka. Suara sirine kendaraan taktis tambahan terdengar dari balik bukit.

Siska cengkeram kerah kemeja Gala dengan sisa kekuatannya, menatap jurnalis itu tepat di manik mata.

“Sandi Merah telah aktif… Protokol Broto bukan cuma nama ayahmu… itu adalah nama program penghancuran otomatis,” bisik Siska tajam. “Jangan percaya pada siapa pun di lembaga resmi. Polisi, militer, kementerian... semuanya sudah dibeli oleh The Architect. Hanya ada satu orang di kota ini yang punya jaringan 'hantu' untuk menyembunyikan kalian.”

“Siapa?” desak Gala.

“Detektif Surya… cari dia di kedai remang-remang Pasar Ujung…”

Kepala Siska terkulai lelah. Pegangannya di kerah Gala terlepas. Agen proteksi yang tampaknya tak terkalahkan itu memejamkan mata, kehilangan kesadaran penuh karena pendarahan hebat.

“Siska! Siska! Bangun!” Senja mengguncang bahu Siska, wajahnya memucat.

“Dia masih hidup! Nadi-nya masih ada tapi lemah!” Gala dengan cepat merangkul tubuh Siska, memapahnya ke dalam kursi belakang sedan lapis baja milik Siska yang masih bisa menyala. “Nja! Ambil kemudi! Kita harus keluar dari sini sekarang!”

Senja melompat ke kursi pengemudi, memutar kunci kontak. Mesin V8 sedan lapis baja itu menderu gahar. Senja menginjak pedal gas dalam-dalam, memutar kemudi seratus delapan puluh derajat, dan melindas pembatas jalan, meluncur deras menunju kegelapan jalanan gunung di tengah kejaran helikopter tempur.

Di kursi penumpang depan, Gala memangku kotak titanium hitam itu. Jemarinya yang gemetar tanpa sengaja menyenggol panel biometrik di atas kotak.

BIP.

Layar LCD kecil di kotak itu mendadak menyala merah. Sebuah pesan teks berkedip cepat:

BIOMETRIK TERDETEKSI: KETURUNAN BROTO (SENJA PRAMITA).

WAKTU HITUNG MUNDUR ENKRIPSI: 24:00:00.

PERINGATAN: JIKA KOTAK TIDAK DIBUKA DI LOKASI PENYIMPANAN UTAMA DALAM 24 JAM, PROTOKOL PENGHANCURAN DIRI AKAN MEMICU PELEPASAN DATA RAHASIA KE PUBLIK DAN MERETAS SELURUH SISTEM KEUANGAN KOTA.

Gala menatap timer yang mulai berjalan mundur: 23:59:59... 23:59:58...

Mereka tidak hanya sedang melarikan diri dari pasukan pembunuh bayaran global. Mereka kini memegang bom waktu digital yang sanggup melumpuhkan seluruh negeri dalam waktu kurang dari satu hari.

“Nja…” suara Gala terdengar dingin di tengah raungan mesin mobil. “Kapan terakhir kali kamu telepon bapak kamu?”

Senja menatap spion tengah, tangannya menegang di lingkar kemudi saat melihat dua lampu depan mobil musuh mulai muncul di belakang mereka.

“Tadi sore, Gal. Bapak bilang… dia lagi ikut lomba burung di Garut.”

Gala menelan ludah. “Kurasa bapak kamu nggak lagi di Garut, Nja. Dan kalau kita nggak ketemu Detektif Surya dalam dua jam ke depan, kita semua bakal jadi sejarah.”

Mobil mereka meluncur membelah kegelapan malam, membawa tiga nyawa yang terluka, sebuah kotak titanium misterius, dan misteri besar yang kini mengancam untuk menghancurkan hidup mereka seutuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!