Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenius Sang Miliarder

Benih Jenius Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / CEO / Mafia
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Lima tahun lalu, Clara Jasmine melarikan diri dari sebuah malam penuh gairah di daratan Swiss, meninggalkan secarik pesan usang dan membawa pergi rahasia besar yang mengubah hidupnya selamanya.
​Kini, Clara kembali ke Jakarta sebagai single mother yang berjuang membesarkan anak kembarnya, Ken dan Key. Namun, si kembar bukanlah balita biasa. Di balik wajah polos mereka, Ken dan Key adalah peretas cilik jenius dengan sepasang mata abu-abu yang sangat tajam.
​Takdir seolah mempermainkan Clara ketika ia tak sengaja bekerja di Van Der Berg Group.

Alexio Van Der Berg, sang CEO dingin dan tak tersentuh penguasa perusahaan tersebut.
​Melihat sepasang mata abu-abu yang menatapnya dengan berani, dunia Alexio berhenti berputar. Pria yang selama lima tahun nyaris gila mencari pemilik surat di dompetnya itu akhirnya menemukan buruannya.

​"Lima tahun kau berlari membawa darah dagingku, Clara. Mulai hari ini, kau dan anak-anak tidak akan bisa pergi ke mana-mana lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Dua bulan berlalu sejak malam bersejarah di Jakarta Fashion Week. Kehidupan Clara Jasmine Van Der Berg benar-benar berada di puncak. Butik The Phoenix cabang Paris dan Milan yang baru dibuka dua bulan lalu mencetak rekor penjualan gaun haute couture tertinggi di Eropa.

Nama Clara tidak lagi sekadar menempel pada suaminya; ia kini diakui sebagai salah satu desainer paling berpengaruh di dunia.

Namun, di balik kegemilangan kariernya, pagi ini di kediaman utama Van Der Berg justru diwarnai oleh kepanikan level tertinggi.

"Reno! Panggil dr. Wijaya sekarang juga! Siapkan helikopter medis jika kita harus membawanya ke rumah sakit pusat!"

Suara bariton Alexio yang menggelegar dan sarat akan kepanikan memecah keheningan mansion. Para pelayan berlarian, sementara Reno, yang biasanya setenang air di danau, tampak mengetik sesuatu di tablet-nya dengan kecepatan kilat sambil setengah berlari menaiki tangga pualam.

Di dalam kamar mandi utama yang berlapis marmer Italia, Clara duduk lemas di lantai, menyandarkan kepalanya di tepi wastafel. Wajahnya sedikit pucat, dan ia baru saja memuntahkan seluruh isi perutnya untuk yang ketiga kalinya pagi ini.

Alexio berlutut di sampingnya, memegang tengkuk istrinya dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyodorkan segelas air hangat dengan gemetar. Sang penguasa dunia bisnis, pria yang bahkan tidak berkedip saat menghancurkan musuhnya, kini tampak seolah dunianya baru saja kiamat hanya karena melihat istrinya pucat.

"Alexio... aku tidak apa-apa," bisik Clara lemah, menerima gelas itu dan menyesapnya sedikit.

"Hanya masuk angin. Mungkin karena aku terlalu lelah merevisi sketsa gaun musim gugur semalaman."

"Masuk angin apanya?!" geram Alexio, matanya memancarkan kecemasan yang luar biasa. Ia mengangkat tubuh Clara dengan mudah ke dalam dekapannya, membawanya kembali ke ranjang king-size dan menyelimutinya hingga sebatas leher.

"Kau pucat, tubuhmu dingin, dan kau belum bisa menelan makanan apa pun sejak semalam. Aku bersumpah, Clara, jika ini karena kau terlalu sibuk bekerja, aku akan membakar seluruh butikmu hari ini juga."

Clara hanya bisa tersenyum pasrah mendengar ancaman suaminya yang sangat berlebihan itu.

Tak lama kemudian, dr. Wijaya, dokter pribadi keluarga Van Der Berg tiba dengan napas terengah-engah, dikawal langsung oleh Reno. Pria paruh baya itu segera melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Clara, sementara Alexio berdiri mondar-mandir di ujung ranjang layaknya singa yang terkurung dalam sangkar.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, dr. Wijaya akhirnya melipat stetoskopnya. Bukannya terlihat tegang, dokter itu justru tersenyum lebar dan menunduk hormat kepada Alexio.

"Tuan Muda, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap dr. Wijaya sopan.

"Gejala mual, pusing, dan kelelahan ekstrim ini sangat wajar. Nyonya Muda Clara tidak sakit... beliau sedang mengandung. Usia kehamilannya sudah memasuki minggu ketujuh."

Hening.

Selama lima detik penuh, tidak ada suara apa pun di dalam kamar tidur utama itu selain detak jam dinding. Clara terbelalak, secara refleks menyentuh perut ratanya yang masih terbalut selimut. Hatinya mencelos hangat, sebuah ledakan kebahagiaan menyebar ke seluruh aliran darahnya.

Alexio membeku di tempatnya. Iris abu-abunya menatap dr. Wijaya, lalu beralih menatap perut Clara, dan akhirnya menatap mata istrinya.

"M-mengandung?" ulang Alexio, suaranya yang biasa tegas kini terdengar nyaris serak dan parau. Pria kejam yang ditakuti seluruh benua itu tiba-tiba saja terlihat seperti pria biasa yang baru saja memenangkan lotre terbesar di alam semesta.

"Benar, Tuan. Selamat. Nyonya Clara dan janinnya sangat sehat," konfirmasi dr. Wijaya sebelum mengundurkan diri dari kamar, diikuti oleh Reno yang diam-diam tersenyum lega.

Begitu pintu tertutup, Alexio melangkah perlahan menghampiri ranjang. Ia berlutut di sisi tempat tidur, menyandarkan wajahnya di atas perut Clara. Tangan besarnya yang biasa memegang pena untuk menandatangani kontrak bernilai triliunan, kini mengusap perut istrinya dengan kelembutan yang luar biasa rapuh.

"Kau mendengarnya, Clara?" bisik Alexio, mendongak menatap mata istrinya. Ada genangan air mata yang tertahan di pelupuk mata pria itu.

"Buah cinta kita... ada di sana."

Clara mengangguk, mengusap rahang tegas suaminya dengan air mata haru yang akhirnya menetes.

"Iya, Alexio. Ken dan Key akan segera memiliki adik."

Alexio bangkit, mencium kening Clara dalam dan lama, sebelum menangkup wajah istrinya.

"Mulai detik ini, aku melarangmu menginjakkan kaki di ateliar. Pekerjaanmu hanya makan, istirahat, dan bermanja-manja padaku. Mengerti, Nyonya Van Der Berg?"

Clara terkekeh pelan. "Bos tiran ini mulai berulah lagi."

Di saat momen haru itu sedang berlangsung, pintu kamar mendadak terbuka lebar. Ken dan Key berdiri di ambang pintu. Ken menatap tablet di tangannya, sementara Key melompat-lompat kegirangan.

"Tingkat hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) Mama melonjak pesat dari hasil tes urin yang Mama buang pagi ini dan aku retas datanya dari alat lab dr. Wijaya,"

lapor Ken dengan gaya profesionalnya, membetulkan kacamatanya. "Probabilitas mendapatkan adik perempuan adalah 51%, namun gen Van Der Berg memiliki kecenderungan mutasi dominan. Apapun itu, aku sudah menyiapkan sistem keamanan level tujuh untuk kamar bayi nanti."

Key berlari menaiki ranjang dan memeluk leher Clara. "Asyik! Key akan punya boneka hidup yang bisa didandani! Key akan ajarkan dia meretas satelit saat usianya tiga tahun!"

Alexio tertawa lepas, sebuah tawa yang sangat jarang terdengar. Ia merengkuh keluarga kecilnya itu ke dalam satu pelukan yang hangat dan sempurna. Semuanya terasa begitu utuh.

Namun, di dunia mafia dan konglomerat, kedamaian adalah barang mewah yang tidak pernah bertahan lama.

Malam harinya, di saat seluruh mansion terlelap, laboratorium bawah tanah Ken dan Key masih beroperasi. Dua anak kembar itu sedang merancang algoritma pengawasan baru untuk kamar adik bayi mereka kelak.

Tiba-tiba, tanpa ada peringatan, seluruh layar monitor raksasa di laboratorium mereka mendadak berkedip. Suara glitch statis memenuhi ruangan. Lampu merah tanda bahaya menyala, namun sistem alarm diam membisu, sebuah tanda bahwa ada yang memotong kabel sirkuit virtual mereka dari jarak jauh.

Ken menghentikan ketikannya seketika. Sorot mata bocah lima tahun itu mendadak menajam, dingin dan penuh kewaspadaan.

"Key," panggil Ken dengan nada rendah.

"Seseorang baru saja menembus firewall lapis pertama kita. Dan mereka tidak meninggalkan jejak alamat IP."

Key, yang tadinya sedang mengantuk, langsung duduk tegak. Ia menarik keyboard di hadapannya dan mulai mengetik dengan kecepatan tidak masuk akal.

"Tidak mungkin. Pertahanan lapis pertama kita menggunakan sandi enkripsi kuantum. Hanya ada tiga peretas di seluruh dunia yang bisa menembusnya tanpa memicu alarm, dan dua di antaranya adalah kita," desis Key, matanya menyipit menatap layar yang kini sepenuhnya berubah menjadi hitam.

Di tengah kegelapan layar monitor tersebut, sebuah lambang mulai terbentuk dari barisan kode berwarna hijau neon. Bukan logo singa Van Der Berg, melainkan logo seekor ular kobra berbisa yang melilit sebuah mahkota hitam.

Di bawah logo tersebut, muncul sebuah pesan teks dalam bahasa Rusia:

"Van Der Berg telah menikmati kedamaian terlalu lama. Bersiaplah, Pewaris. Masa lalu ayahmu datang untuk menagih hutang darah."

Ken dan Key saling berpandangan. Tidak ada rasa takut di mata kedua bocah jenius itu, yang ada justru seringai tertantang yang sangat berbahaya.

"Sepertinya," gumam Ken pelan, membetulkan letak kacamatanya yang memantulkan cahaya hijau dari layar.

"Kita mendapat mainan baru untuk menemani masa kehamilan Mama."

"Dan kali ini," balas Key, lesung pipinya muncul membentuk senyum mematikan.

"Mainan ini terlihat jauh lebih pintar dari tikus-tikus sebelumnya. Mari kita tunjukkan siapa penguasa sebenarnya, Kak."

Bersambung...

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, penerbangan Alexio berhasil diselamatkan dan Clara juga selamat, semua karena ke jeniusan si kembar.... bravo Ken dan key

asli part ini bacanya seru
Umi Zein
waalaikumsalam... Alhamdulillah baik kak Ri🤗 sehat2 selalu juga buat kak othornya 🥰Ok ka siaap 🫡😄
Rani R.I
gpp byk musuh tapii jgn biarkan si terkalahkan,,membaca sambil bersitegang 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
sgtt Seruuu dan menegangkan thourr 🤣🤣🤣🤣🤣,, terimakasih thourr 👍💪🔥,, semangat up thourr dan sehat slalu 🤲🤲🤲🔥🔥🔥
Siti Nurhayati
cerita y sangat menarik sprti d film
Ariany Sudjana
waduh kok bisa Alexio kecolongan dan pergi ke eropa? semoga si kembar bisa menangani kejadian di mansion dan menangkap pelakunya
Siti Nurhayati
hebat bner si kembar bsa melindungi keluarga y Mantappp
Umi Zein
kak maaf kyanya kalo umur 4th agak aneh klo anak seusia mereka bisa mengendalikan komputer seorang hacker suhu. walau cm Novel, klo usia 7th masuk akal😄😄
Rani R.I
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 duhhh Dimitri nama mu bagus tapii syg harus jadi musuh yang harus di musnah kan oleh si kembar,,hmmm Baru permulaan yea 🤣🤣🤣,,, kita lihat sampai mana kemampuan mu tuan Dimitri 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Munas Tuti
gaaaaass teroooos 💪💪
Munas Tuti
buseeeet...dasar bocil genius
Rani R.I
wowww musuh sudah mulai mendekat,, Ayuk ken dan key jgn biarkan siapapun mendekati mama dan adek kalian 🔥🔥🔥🔥💪💪💪💪
Rani R.I
wowww kerennn ken dan key,, lindungi mamah dan adek bayi 💪💪💪💪🥰🥰🥰🥰
Munas Tuti
perang pewaris di mulaiii
Munas Tuti
👍👍👍👍👍
Ariany Sudjana
puji Tuhan, si kembar bisa mengatasi gangguan di rumah sakit. fixed mereka keturunan Alexio yang sangat jenius dan calon mafia masa depan. tapi kok Alexio Dan Reno bisa kecolongan ya?
Bu Kus
sih kembar emang ada aja akalnya cerdas dan jenius
Bu Kus
senangnya bisa berkumpul dan hidup penuh kebahagian semoga semakin bahagia Clara
neny
keren cerita nya,,seru banget
Rani R.I
Wihh seperti nya ini lawan yg tangguh,,ken dan key harus hati-hati,, thourr gpp byk musuh tapii jgn buat si kembar kalah dan lengah,,biar SERUUU
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!