Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Ceklek.
Aldo mendorong pintu ganda berwarna putih gading itu dengan sisa tenaganya.
Hawa dingin dari pendingin ruangan raksasa langsung menusuk pori-pori kulitnya yang masih basah kuyup akibat air hujan.
Di hadapannya kini terbentang sebuah ruangan auditorium yang sangat luas dan terang benderang.
Ratusan orang dengan celemek putih tampak berkumpul di berbagai sudut ruangan tersebut.
Ada yang sedang mengasah pisau, ada yang menata bahan makanan, dan ada yang sekadar mengobrol santai.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak hening sejenak saat melihat kedatangan Aldo.
Puluhan pasang mata langsung menatap sinis ke arah pakaian kasual Aldo yang lepek dan meneteskan air ke karpet merah.
"Hei, lihat anak itu. Apa dia tidak salah masuk ruangan?" bisik seorang pria paruh baya yang membawa kotak pendingin besar.
"Mungkin dia kurir pengantar bahan makanan yang tersesat mencari pintu belakang," jawab wanita di sebelahnya sambil tertawa meremehkan.
Aldo mencengkeram erat tali tas ranselnya dan mengabaikan semua tatapan merendahkan itu.
Dia sudah terbiasa dihina dan diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya sejak ibunya jatuh sakit.
Langkah kaki Aldo terasa berat saat dia berjalan mencari sudut ruangan yang masih kosong.
Tes tes tes.
Air hujan dari ujung rambutnya terus menetes setiap kali dia melangkah maju.
Aldo akhirnya menemukan sebuah meja panjang kosong di bagian paling pojok belakang ruangan.
Dia meletakkan tas ransel bututnya di atas meja itu lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan detak jantungnya.
Srek.
Aldo membuka resleting tasnya dan mulai mengeluarkan peralatan tempur miliknya satu per satu.
Trang.
Sebuah wajan aluminium tipis yang bagian pantatnya sudah menghitam karena kerak api kompor diletakkan di atas meja.
Disusul dengan sebuah pisau dapur bergagang kayu yang sudah sedikit pudar warnanya.
Lalu ada sebuah ulekan batu berukuran sedang yang terlihat sangat berat dan kuno.
"Cuma ini yang aku punya, tapi ini sudah cukup untuk membuat mereka semua tutup mulut nanti," batin Aldo menyemangati dirinya sendiri.
Dia juga mengeluarkan beberapa kantong plastik berisi bumbu dapur sederhana seperti bawang merah, cabai, dan kunyit.
Bahan-bahan itu sisa dari belanjaan ibunya bulan lalu yang masih dia simpan dengan sangat hati-hati di kulkas kosan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari arah depan mejanya.
Tap tap tap.
Suara sepatu kulit mahal beradu dengan lantai marmer terdengar sangat mengintimidasi.
Aldo mendongakkan kepalanya dan melihat seorang pemuda seusianya berdiri dengan gaya sangat arogan.
Pemuda itu memiliki kulit putih bersih, rambut ditata rapi dengan pomade, dan memakai celemek koki berbahan kain premium.
Di belakang pemuda itu, berdiri dua orang pria berbadan besar yang membawakan dua koper berbahan aluminium.
"Permisi, gembel. Meja ini sudah aku pesan sejak tadi pagi," ucap pemuda itu dengan nada suara sangat sombong.
Aldo mengerutkan dahinya karena merasa tidak ada tanda atau nama di meja tersebut.
"Meja ini kosong sejak aku datang, dan panitia di depan bilang kita bebas memilih meja mana saja," jawab Aldo dengan tenang.
Pemuda itu mendecakkan lidahnya lalu tertawa pelan seolah mendengar lelucon yang sangat bodoh.
"Kamu anak baru di dunia kompetisi ya? Namaku Kevin Wijaya, pewaris tunggal jaringan restoran Wijaya Group."
"Aku tidak peduli siapa namamu dan dari mana asalmu."
"Wah, nyalimu boleh juga untuk ukuran anak miskin yang bau selokan."
Kevin melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap jijik ke arah wajan aluminium milik Aldo.
"Lihat wajan rombengmu itu, apa kamu memungutnya dari tempat pembuangan sampah akhir?" ejek Kevin dengan suara keras.
Beberapa peserta audisi di meja sebelah yang mendengar ucapan Kevin langsung tertawa terbahak-bahak.
Aldo mengepalkan tangan kanannya di bawah meja namun wajahnya tetap terlihat sedingin es.
"Wajan ini lebih sering menghasilkan makanan enak daripada panci mahal yang tidak tahu cara menggunakannya," balas Aldo tajam.
Senyum sombong di wajah Kevin perlahan menghilang digantikan dengan raut wajah marah.
Dia tidak terbiasa ada orang berani membantah atau melawan kata-katanya.
"Buka kopernya sekarang!" perintah Kevin kepada dua asisten di belakangnya.
Klak klak.
Kedua asisten itu membuka koper aluminium di atas meja yang bersebelahan dengan meja Aldo.
Mata Aldo sedikit melebar saat melihat isi koper pertama yang ternyata berisi satu set pisau berbahan baja damaskus.
Gagang pisau-pisau itu terbuat dari kayu eboni hitam yang sangat langka dan mahal.
Sedangkan koper kedua berisi balok es kering yang menjaga suhu sebuah daging sapi berwarna merah cerah.
Guratan lemak putih pada daging itu membentuk pola marmer yang sangat indah dan sempurna.
"Itu daging Wagyu A5 dari Jepang," batin Aldo yang mengenali bahan mewah itu dari buku pelajaran sekolahnya dulu.
Kevin menyeringai puas melihat reaksi diam dari Aldo saat melihat bahan masakannya.
"Ini baru yang namanya bahan masakan kelas dunia, harganya sepuluh juta rupiah per potong."
"Hanya seorang amatir yang mengandalkan bahan mahal untuk menutupi kekurangan teknik memasaknya," sindir Aldo tanpa ragu sedikitpun.
Brak.
Kevin memukul meja dengan sangat keras hingga membuat beberapa peserta lain terkejut dan menoleh.
"Jaga mulut kotormu itu, gembel! Kamu bahkan tidak pantas bernapas di ruangan yang sama denganku."
"Kalau begitu silakan kamu keluar dari ruangan ini, pintunya ada di sebelah sana," usir Aldo sambil menunjuk pintu keluar dengan santai.
Wajah Kevin memerah padam menahan amarah karena dipermalukan di depan puluhan peserta lainnya.
"Tunggu saja pembalasanku di dalam galeri nanti. Aku akan membuatmu menangis memohon ampun."
"Aku menunggunya dengan sangat antusias, Tuan Muda Kevin," jawab Aldo dengan nada mengejek.
Kevin mendengus kasar lalu membalikkan badannya dan berjalan menjauh menuju meja kosong di sudut lain ruangan.
Kedua asistennya buru-buru menutup koper dan mengekor di belakang majikan mereka yang sedang murka.
makasi crazy up nya