Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTRI KECIL DAN TAKDIR DARI MASALALU
Beberapa hari setelah kekalahan memalukan pasukan Granvalia untuk kedua kalinya, aula utama Kerajaan Solaria dipenuhi suasana santai.
Alan duduk di atas takhtanya, mendengarkan laporan berkala dari Zero, Akami, dan Kayy mengenai pertahanan perbatasan. Yumi berdiri di samping takhta dengan senyuman anggun seperti biasa, menyajikan secangkir teh sihir beraroma menenangkan.
"Pertahanan luar wilayah Hutan Larangan kini sudah sepenuhnya aman, Tuan Alan," lapor Zero seraya membungkuk. "Pasukan Granvalia tidak menunjukkan tanda-tanda pergerakan lagi setelah kekalahan mereka."
"Baguslah," sahut Alan lega sambil menyeruput tehnya. "Aku cuma mau tempat ini tenang tanpa perlu ada perang setiap hari—"
WUSHHH!
Belum sempat Alan menyelesaikan kalimatnya, tekanan sihir di dalam aula utama mendadak berubah secara drastis. Ini bukan gelombang sihir biasa dari dunia Solaria, melainkan sebuah getaran energi yang sangat murni dan asing.
Di tengah-tengah aula batu marmer, sebuah pusaran cahaya putih keemasan meledak secara tiba-tiba!
TAK!
Zero dan Kayy secara refleks mencabut pedang mereka, melangkah ke depan takhta untuk melindungi Alan. Akami mengangkat tongkat sihir zamrudnya, mengumpulkan energi pelindung di sekitar ruangan. Yumi pun langsung pasang posisi siaga penuh.
"Siapa yang berani meretas ruang dimensi istana Tuan Alan?!" seru Kayy dengan mata emas menyala.
Namun, pusaran cahaya putih itu tidak memancarkan hawa membunuh sedikit pun. Cahaya itu perlahan-lahan menyusut, mengkristal, dan akhirnya memudar lembut meninggalkan kepulan uap hangat di atas lantai.
Begitu uap cahaya surut, seluruh pasang mata di aula utama membelalak lebar.
Tidak ada pasukan raksasa, monster kegelapan, ataupun musuh ber-level tinggi. Yang berdiri di tengah aula adalah seorang anak perempuan kecil berumur sekitar lima tahun. Anak itu mengenakan gaun merah muda berenda dengan sepatu kain kecil—pakaian khas dunia modern yang sama sekali tak asing di mata Alan.
"E-Eh...?" Kayy mengedipkan matanya bingung, perlahan menurunkan pedang sucinya.
Zero memiringkan kepala besarnya. "Anak kecil...?"
Anak perempuan berambut hitam pendek itu berdiri mengucek matanya yang masih sembab. Ia celingukan menatap sekeliling aula megah yang asing baginya. Namun, begitu matanya menangkap sosok Alan yang duduk di atas takhta emas, wajah mungil anak itu mendadak berseri-seri.
Dengan langkah kaki kecilnya yang belum terlalu stabil, anak itu menunjuk lurus ke arah Alan.
"A... A-Ayah!" serunya dengan suara serak khas anak kecil yang bicaranya belum lancar.
BRUKK!
Mendengar satu kata itu, seluruh orang di ruangan—Zero, Akami, Kayy, bahkan para menteri di barisan belakang—refleks berlutut dengan wajah syok bukan main!
Yumi yang biasanya sangat tenang sampai hampir menjatuhkan nampan tehnya. Matanya membelalak menatap Alan. "T-Tuan Alan... A-Apakah beliau adalah... putri rahasia Anda?!"
"BUKAN! BUKAN SAMA SEKALI!" jerit Alan panik setengah mati, sampai refleks berdiri dari takhtanya. "Demi apa pun, aku belum pernah menikah apalagi punya anak! Jangan berpikiran yang aneh-aneh!"
Anak perempuan itu tidak peduli dengan kegaduhan di ruangan. Ia berlari kecil melintasi aula, melewati Zero dan Kayy yang masih membatu, lalu menubruk dan memeluk erat kaki Alan.
"Ayah...!" cicit anak itu menduselkan wajah mungilnya di jubah kebesaran Alan.
Alan tertegun. Hatinya yang tadinya panik mendadak luluh merasakan kehangatan dari pelukan kecil itu. Ia perlahan berlutut, menyamakan tingginya dengan sang anak, lalu mengusap rambut hitamnya yang lembut.
"Siapa namamu, manis?" tanya Alan sehalus mungkin.
Anak itu menengadah, mengedipkan matanya yang bulat. "S... Sena. Sena..." jawabnya terputus-putus seraya tersenyum manis.
"Sena..." gumam Alan. Nama itu terasa begitu familier di telinganya.
[Memulai pemindaian jiwa murni entitas baru...] suara Melodina mendadak bergema di kepala Alan, disusul layar transparan keemasan yang hanya bisa dilihat oleh Alan.
[Analisis selesai. Tuan Alan, anak ini bernama Sena. Ia berasal dari dunia asal Anda (Bumi/Jepang).]
Alan tersentak pelan di dalam hati. "Dari duniaku?! Kenapa dia bisa sampai ke sini?!"
[Hasil pelacakan memori jiwa: Sena sebenarnya adalah keponakan kandung Anda—anak dari kakak perempuan Anda di kehidupan sebelumnya.]
Mendengar penjelasan Melodina, dada Alan terasa sesak. Memori masa lalunya berputar kembali. Di kehidupan sebelumnya sebelum bertransmigrasi ke dunia ini, Alan memiliki seorang kakak perempuan. Namun, hubungan mereka terpisah oleh jarak dan waktu.
[Setelah Anda berpindah dunia, kakak perempuan Anda meninggal dunia akibat sakit parah. Sena hidup sendirian tanpa orang tua maupun kerabat lain yang mau menampungnya,] lanjut Melodina dengan nada lembut. [Dewa Pencipta dari dunia asal Anda melihat kepedihan anak ini. Karena Anda adalah satu-satunya kerabat berdarah yang tersisa bagi Sena, Dewa memindahkan jiwa dan raga Sena secara khusus melintasi batas dimensi untuk diserahkan ke dalam perlindungan Anda di Solaria.]
Air mata hampir menetes dari sudut mata Alan. Ia menatap wajah mungil Sena yang kini tertidur lelap di pangkuannya karena kelelahan setelah melintasi dimensi. Anak kecil ini telah kehilangan segalanya di dunia sana, dan takdir membawanya kembali ke dekapan Alan.
Alan mengangkat Sena ke dalam pelukannya, memeluk tubuh mungil itu dengan erat dan hangat.
"Jadi begitu..." bisik Alan pelan. Ia menoleh menatap para pengikutnya yang masih menanti kejelasan. "Dengar Semuanya. Sena bukan putri kandungku... tapi dia adalah keponakanku dari dunia asalku. Dia adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa."
Mendengar penjelasan tulus sang Penguasa, aura ketegangan di ruangan sirna seketika, berganti menjadi suasana haru yang mendalam.
Yumi melangkah maju, menangkupkan kedua tangannya di dada seraya menatap Sena dengan pandangan penuh kasih sayang. "Jika anak ini adalah satu-satunya keluarga berdarah bagi Tuan Alan... maka mulai hari ini, Nona Sena adalah Putri Kecil Kerajaan Solaria."
Zero mencabut pedangnya kembali, menancapkannya ke tanah lalu berlutut tegak. "Hamba, Zero, beserta seluruh Pasukan Abadi bersumpah akan mempertaruhkan nyawa untuk melindungi keselamatan Putri Sena!"
Kayy dan Akami ikut membungkuk hormat. "Kami akan memastikan tidak ada satu pun bahaya yang sanggup menyentuh rambut Nona Sena."
Alan tersenyum hangat melihat kesetiaan pasukannya. Ia mengelus pipi Sena yang terlelap tenang di dadanya.
Meskipun statusnya di dunia ini adalah penguasa overpower setingkat dewa, bagi Alan, kehadiran Sena memberi makna baru dalam hidupnya. Solaria bukan lagi sekadar kerajaan impian tempatnya bersantai, melainkan sebuah rumah tempat ia akan melindungi keluarga kecilnya dari ancaman mana pun di semesta ini.