Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Perlakuan Buruk Yang Dianggap Biasa

Keesokan pagi yang sama, bahkan sebelum Sion turun ke ruang makan. Para pelayan sudah saling bertukar tatapan penuh arti. Beberapa pura-pura sibuk membersihkan meja. Beberapa menahan senyum. Dan beberapa lainnya bahkan sudah memasang taruhan diam-diam tentang satu pertanyaan yang sama, Apakah sebentar lagi Tuan Sion dan Raina akan kembali menjadi suami istri?

Tak seorang pun berani menanyakan langsung. Setidaknya, belum. Sampai suara langkah Sion terdengar dari tangga. Seketika seluruh ruang makan menjadi sunyi. Sion turun dengan wajah dinginnya seperti biasa. Akan tetapi, kali ada yang berbeda dari pagi sebelumnya. Dimana Sean berada didalam gendongannya dengan penampilan yang hampir sama persis seperti Papahnya itu.

Sion memandang sekeliling, begitu juga Sean. Seolah bocah itu sedang menirukan versi mini dirinya. Para pelayan menundukkan kepala serempak. Namun sudut bibir salah satu pelayan terlihat bergetar menahan tawa. Entah apa yang mereka tertawakan… entah tentang kejadian semalam atau tingkah menggemaskan Sean yang menirukan dirinya.

Sion menyipitkan mata merasa aneh dengan para pelayan itu. “Apa?”

“Tidak ada, Tuan.”

“Benarkah?”

“Benar, Tuan.”

Hening beberapa detik. Kemudian dari belakang terdengar bisikan sangat pelan. “Dia benar-benar mencium Nyonya Raina semalam... dan lihatlah, Tuan kecil sangat mirip dengan Tuan muda Sion.”

Sion berhenti dan seketika itu juga seluruh pelayan menahan napas. Untuk pertama kalinya pagi itu, ketua mafia yang terkenal dingin tersebut tampak seperti seorang ayah pada umumnya yang tengah memamerkan anaknya sebagai versi mini dirinya sendiri.

“Selamat pagi Kakak pelayan semuanya,” ucap Sean dengan nada penuh ceria.

“Selamat pagi, Tuan muda kecil!” balas para pelayan seraya menunduk memberi hormat.

Sementara, Sion terus berjalan menuju ruang makan mengabaikan para pelayan itu. Dan dapat Sion dengan jelas para pelayan itu tengah memuji putra kecilnya, “Astaga… Tuan muda kecil kita manis sekali.”

Setibanya di meja makan, Kakek Edwin, Calista dan ketiga anaknya rupanya sudah berada di sana. Dapat Sion lihat dengan ekspresi kesal Calista, Leon dan Lea berbeda jauh dengan Kakek Edwin yang menyambut kedatangan cicit laki-lakinya dengan senyum bahagianya.

“Selamat pagi, Kakek Buyut!” ucap Sean yang meronta untuk turun dari gendongan Papahnya.

Kemudian, Sean langsung berlari menuju Kakek Edwin dan memeluknya dengan erat. “Selamat pagi juga, Cicitku yang manis.”

“Ouhya, Sion! Dimana Raina dan Shia?” sambung Kakek Edwin menanyakan keberadaan Raina dan Shia yang belum muncul juga.

“Shia di sini, Kakek Buyut!”

Belum sempat Sion menjawabnya, seruan gadis itu sudah terdengar. Langkah kecilnya yang setengah berlari membuat perhatian mereka teralihkan padanya. Para pelayan kembali berbisik, memuji kecantikan dan betapa menggemaskannya putri kecil Tuannya.

Sementara dibelakangnya, Raina berjalan santai dengan senyum manisnya yang menawan.

“Astaga, cicit perempuanku cantik sekali hari ini,” puji Kakek Edwin.

“Tentu saja, Shia ‘kan sejak lahir sudah cantik,” balas Shia dengan penuh percaya diri.

“Maaf, Kek! Kami sedikit terlambat untuk turun,” ucap Raina yang merasa tidak enak hati membuat Kakek Edwin menunggu.

“Tidak masalah. Karena sekarang semua sudah ada di meja makan, maka ayo mulai sarapannya,” ujar sang Kakek yang tak mempermasalahkannya sama sekali.

Pagi itu, meja makan keluarga kembali dipenuhi aroma roti panggang, telur, dan kopi yang baru diseduh. Kini untuk sekian kalinya setelah sekian lama, Raina duduk di meja yang sama dengan mereka. Bukan sebagai tamu dan bukan pula sebagai seorang istri yang harus menundukkan kepala di hadapan keluarga Sion.

Namun, rupanya Calista masih belum terbiasa melihat perubahan itu. Di tengah acara sarapan mereka tiba-tiba Calista memanggilnya, "Raina."

Suara Calista terdengar datar dari ujung meja. Raina yang sedang mengoleskan selai pada rotinya mengangkat wajah. "Apa?"

Calista mengerutkan kening, seolah tidak menyukai cara Raina menjawab. "Ambilkan aku air hangat."

Raina menatap gelas kosong di depan Calista. Lalu menatap dirinya sendiri. "Ada banyak pelayan di belakangmu. Lalu untuk apa kau memerintahku? Lagipula teko airnya sudah berada tepat di depanmu. Apakah tanganmu tidak seberguna itu sampai tidak bisa mengambil air minummu sendiri? "

Calista terdiam, ia sungguh tidak menyangka Raina akan menolaknya dengan tegas sekaligus menyindirnya secara langsung. Leon, yang duduk di sebelah ibunya, langsung menyela. "Yakh, Mamahku menyuruhmu mengambilkannya."

Raina tersenyum tipis. "Kalau begitu aku menolak."

Seketika suasana meja makan berubah. Lea meletakkan sendoknya dengan keras. "Kamu sekarang berani sekali."

Raina mengangkat alis. "Kenapa memangnya? Kau tidak suka? Itu urusanmu, bukan urusanku."

Leon mencibir. "Dulu kamu jauh lebih patuh."

"Dulu aku mungkin bodoh." Jawaban itu membuat Leon kehilangan kata-kata. Raina kembali memotong rotinya seolah tidak terjadi apa-apa.

Calista menatapnya tajam. "Kau tinggal di rumah ini. Setidaknya tahu diri sedikit."

Raina menghentikan gerakan tangannya. "Menarik."

"Apa?"

"Setiap kali kau ingin menyuruhku melakukan sesuatu dan menjadikanku pelayanmu, kalimat 'tinggal di rumah ini' selalu keluar." Raina menatap Calista lurus-lurus. "Seolah karena aku tinggal di sini, aku otomatis menjadi pelayan kalian."

“Sion! Kakek, apakah kalian mengijinkan aku dan anak-anakku di sini hanya untuk menjadi pelayannya?” lanjut Raina melibatkan Sion dan Kakek Edwin secara langsung.

Wajah Calista berubah panik, ketika Sion dan Kakek Edwin langsung melayangkan tatapan tajam ke arahnya. "Kapan aku pernah menganggap mu sebagai pelayan?"

Raina terkekeh pelan. "Benarkah bukan itu niatmu?" Ia menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kalau begitu, aku bisa menyebutkan satu per satu bagaimana kalian memperlakukanku dulu."

Leon mendengus. "Jangan mulai membuat drama, Raina!"

Raina langsung menoleh kepadanya. "Drama?"

"Ya. Kamu selalu suka membuat dirimu terlihat sebagai korban."

Raina tersenyum. "Dan kamu selalu suka menyebut sesuatu sebagai drama ketika tidak ingin mengakui bahwa itu memang pernah terjadi."

Leon terdiam, tapi Lea buru-buru menyela. "Kalau memang tidak mau membantu, setidaknya ambilkan selai itu untukku."

Raina melirik tangannya. "Ambil sendiri."

"Apa?"

"Selainya juga tepat di depanmu. Apakah tanganmu seperti Mamahmu itu?"

Lea menatap toples selai yang memang hanya berjarak beberapa sentimeter dari tangannya. Wajahnya memerah seraya bergumam, "Dulu kau tidak pernah seperti ini."

Raina mengangguk. "Benar."

"Jadi kenapa sekarang berubah?"

"Karena sekarang aku tahu harga diriku jauh lebih mahal untuk kalian injak-injak seperti pelayan." Kalimat itu jatuh begitu saja. Sederhana, namun cukup untuk membuat meja makan kembali sunyi.

Sion yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajahnya. Ia memperhatikan Raina. Wanita itu seolah bukan Raina yang dulu. Perempuan yang dulu selalu duduk di sudut meja, menunggu perintah. Perempuan yang akan segera berdiri setiap kali Calista memanggil namanya. Perempuan yang bahkan meminta maaf ketika orang lain memperlakukannya dengan buruk. Rupanya semua itu menyimpan banyak hal buruk yang Raina terima selama menjadi istrinya.

Bersambung….

1
Budhe Satryo
memang orang jahat g akan sadar mau digimanapun tetap JHT
Budhe Satryo
memulai dr hal kecil dulu y Sion
Budhe Satryo
Sion penyesalan memang datangnya belakangan
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!